
Adiba mulai mengerjapkan kedua matanya, mendapati Arsen yang duduk disampingnya. Beberapa saat kemudian ia memalingkan wajahnya, membelakangi Arsen.
Ia sengaja membelakangi Arsen, ia tidak dapat berpura-pura sakit atau marah. Ia sebenarnya sudah sadar sejak tadi ketika Arsen mengungkapkan perasaannya. Ia juga masih menaruh harapan untuk cinta pertamanya. Ralat, cinta yang selama ini ia pendam diam-diam walaupun tak mampu menggapainya lagi karena kebencian Arsen terhadapnya.
"Adiba maafkan aku," lirih Arsen dengan sedikit menguncang lengan Adiba agar mau menatap dirinya.
Adiba kamu harus tahan, kamu harus lihat bagaimana perjuangan Arsen. Walaupun kamu merindukan dia, kamu harus buat dia berjuang meluluhkan hatimu. Pikirnya di dalam hati.
"Adiba mana yang sakit?" tanya Arsen kini mulai berjalan mengitari brangkar untuk menatap Adiba yang berlama-lama memalingkan wajahnya. "Adiba, jangan buat aku khawatir! Kamu terluka karena ulahku, tapi kamu jangan salah paham. Aku melakukan ini karena aku ngak ingin masuk penjara atas laporan kamu," ucap Arsen dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Kamu itu ngak berubah Adelio, kenapa sich ngak mau menyampingkan egomu sekali saja demi cinta kamu. Itu juga ngak akan membuat kamu rugi, lihat saja aku juga bisa jual mahal umpat Adiba.
"Aku baik-baik saja tuan Arsen, tenang saja aku bukan orang yang egois atau orang yang tidak memiliki belas kasih. Anda tidak perlu takut, aku tidak akan membuat ada di dalam penjara. Karena aku melapor juga percuma, ada tahu kenapa?" ucap Adiba sengaja memotongnya.
Arsen menaikkan alisnya, dengan wajah masih seperti semula tidak ada senyum hanya wajah datar yang terlihat sangat garang.
Adiba yang tidak mau kalah segera memasang wajah juteknya, jika Arsen terlihat dingin itu sudah biasa karena sejak dulu memang begitu sikapnya.
"Kenapa menatapku?!" Adiba menghardik Arsen yang menatapnya tanpa berkedip. "Kagum dengan kecantikanku atau jangan-jangan kamu masih mencintaiku," ledek Adiba. Ia sengaja menyombongkan dirinya ia tidak mau terlihat lemah walaupun hatinya sangat rapuh.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu denganmu, ternyata kamu sungguh luar biasanya," sindir Arsen. Ia sebenarnya ingin berbaikan tapi ia terlalu gengsi itu mengalah.
"Dari dulu aku memang sungguh luar biasa. Luar biasa cantik, pintar pastinya kamu tahu kalau aku juga luar biasa menggoda para laki-laki kaya yang bisa aku manfaatkan," sinis Adiba. Ia sengaja mengatakan apa yang dikatakan Arsen dulu. Padahal tidak pernah terlintas dibenaknya untuk menggoda laki-laki, baginya memikirkan hidupnya saja sudah rumit apa lagi harus memikirkan banyak laki-laki hanya akan membuatnya sengsara dan terluka.
"Sudah berapa banyak laki-laki yang sudah kamu manfaatkan dan kamu pacari?" geram Arsen yang merasa dirinya berkecambuk menahan cemburu.
Adiba memainkan jari lentiknya, sambil berlaga menghitung mangsanya. Mantan saja cuma satu yaitu cuma kamu batin Adiba.
"Hem, masih sepuluh sepertinya. Masih ada sepuluh target lagi, atau mungkin bisa lebih. Maklum aku ini cantik, jadi dengan mudah bisa mencari mangsa dengan waktu yang sangat dekat," ketus Adiba.
__ADS_1
Ternyata kamu sungguh murahan, percuma aku berharap kita bisa kembali umpat Arsen merasa jijik.