
Adiba melihat Arsen tidak kunjung berbicara, pikirannya semakin dilema keraguan akan hubungannya.
"Sen," lirih Adiba hingga pemilik nama mendongakkan kepala menatap dirinya. "Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan. Katakanlah! Aku akan mendengar dengan senang hati, dan apapun itu aku akan menerimanya," jelas Adiba.
Arsen melihat wajah tegang Adiba, merasa bersalah. Pasti wanitanya itu sedang berpikir yang tidak-tidak.
"Adiba, kenapa kamu tegang seperti itu. Yang ingin aku bicarakan itu tentang pernikahan kita," jelas Arsen meraih tangannya. Ia dapat merasakan betapa cemasnya Adiba melalui tangan yang begitu dingin berkeringat.
"Iya aku tahu, pasti orang tua kamu tidak merestui hubungan kita,'kan?" tebak Adiba dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Arsen melihat mata berembun itu, segera memeluk Adiba dengan erat memenangkannya jika apa yang ia pikirkan salah.
"Adiba, orangtuaku merestui kita. Mereka ingin kita segera menikah, sebenarnya yang ingin aku katakan adalah ini. Aku akan menghalalkan kamu minggu depan," jelas Arsen dengan mengusap punggung Adiba.
Adiba melepas pelukan Arsen, ia menatap laki-laki didepannya. Meneliti dengan seksama matanya, untuk melihat kejujuran atas apa yang barusan dia ucapkan.
__ADS_1
"Kamu hanya ingin membuat aku tak bersedihkan? Sudahlah, katakan yang sebenarnya! Insyaallah aku kuat mendengar berita buruk itu, karena aku sudah biasa dengan kabar buruk atau penderitaan," ucap Adiba dengan tersenyum getir.
"Aku serius, aku berkata yang sebenarnya. Kalau mama dan papa merestui kita. Kamu istirahatlah! Saat makan siang aku akan pulang menjemput kamu untuk memilih gaun pengantin yang pas untuk kita," kata Arsen dengan mengengam kedua tangan Adiba.
Apa ini mimpi?! Kemarin pagi aku dilamar dan sekarang dia ingin segera menghalalkan aku. Batin Adiba tak percaya dengan kebahagian yang datang silih berganti.
Adiba mencubit pipinya untuk memastikan jika semua ini nyata.
"Aauw," pekik Adiba merasakan sakit pada pipinya, ia segera mengusapnya.
"Sakit?" tanya Arsen. "Ngapain sich melukai diri sendiri? Jangan lakukan itu lagi, aku merasa sakit jika kamu sakit," ucap lagi.
"Ini nyata apa mimpi sich?"
"Ini itu nyata sayang, apa kamu ingin memastikan dengan pasti?" tanya Arsen.
__ADS_1
Adiba mengangguk.
Arsen dengan segera mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka saling bertemu. Melihat Adiba menutup mata, ia dengan segera mendaratkan bibirnya untuk beberapa detik. Tidak ada tanda-tanda penolakan, ia segera melanjutkan aksinya.
Ia segera menyapu bersih setiap inci bibir Adiba, entah darimana keberaniannya datang. Ia terus menikmati dengan memberikan sentuhan lembut agar tidak menyakiti wanitanya. Ia sedikit mengigit bibir bawah Adiba agar sedikit terbuka, setelah mendapati terbuka lebar ia mengekspos masuk lidahnya.
Sedangkan Adiba merasakan gelenyar panas dan asing untuk kedua kalinya itu ia memejamkan matanya. Hatinya ingin memberontak tapi tubuhnya meminta lebih. Ia meruntuki dirinya yang bodoh itu, kenapa ia harus membalas setiap sentuhan Arsen yang jelas mereka belum halal.
"Maafkan," lirih Arsen melepas tautannya. "Aku ngak bisa menahan diri saat bersamamu, aku terlalu merindukan kamu. Kamu jangan salah paham dengan sikapku, aku hanya melakukannya denganmu saja," jelas Arsen.
"Aku juga minta maaf, harusnya aku tidak menumpang disini agar kamu tidak khilaf lagi."
"Tidak ini salahku," tegas Arsen.
Bersambung
__ADS_1
Yang punya aplikasi baca si kuning n0v3lm3 bantu sub karya aku ya dg judul Perfect Hot Single Mother dengan nama pena suke