
"Nak Adiba, papa tinggal bentar ya. Kalain ngobrol dulu sama mama Asha, papa mau shalat bentar," pamit Ega yang tidak mau wudhunya batal karena bersentuhan yang bukan muhrimnya.
"Iya, Pah," ucap Adiba tersenyum.
Kini tinggal Asha, Adiba dan Arsen yang berada di ruang keluarga.
"Adiba, mama titip Arsen ya. Bimbing dia menjadi imam yang baik buat keluarga, tegur dia jika tak beribadah. Mama percaya jika kamu mampu mengubah gaya hidup Arsen yang buruk ini," ucap Asha dengan merangkulnya membawa dalam dekapannya.
Nyaman. Itu satu kata yang ada di pikiran Adiba mendapatkan pelukan hangat dari sosok wanita yang ada disampingnya. Ia merasakan dapat pelukan dari sosok ibu. Berharap ia bisa terus memeluknya seperti ini.
Asha yang melihat bulir bening dari sudut mata menantunya, dengan cekatan menghapusnya lembut.
"Nak, kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak bahagia?" tanya Asha.
Adiba menggeleng. Ia tidak bersedih tapi ia sangat bahagia hingga tanpa ia sadari kebahagiaannya justru mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Lalu kenapa menangis? Apa putraku membuat kamu menderita, katakan pada mama. Kalau mama tahu Arsen berbuat dzolim padamu, mama tidak akan memberi ampun, pasti mama memarahinya habis-habisan," ucap Asha dengan membawa Adiba dalam dekapannya kembali.
"Terimakasih, Mah. Mas Arsen orang yang sangat baik, dia tidak akan menyakitiku karena aku tahu dia menyayangiku setelah ia menyayangi mama. Aku menangis bahagia, apa kau boleh menganggap mama sebagai mamaku sendiri. Aku sangat merindukan ibuku," lirih Adiba.
Apa aku tidak salah dengar dia memanggilku 'mas' sungguh panggilan yang mengemaskan. Makin cinta aku sama kamu sayang batin Arsen menatap wajah Adiba yang memeluk erat mamanya.
"Hai, kalian ini berpelukan lama sekali membuat aku iri. Mama lepaskan calon istriku, kalau mama peluk terus besok aku kebagian apa?" ketus Arsen.
Asha dan Adiba tertawa.
Adiba terdiam mengangga menatap Arsen.
"Benar lo, Adiba yang mama katakan. Kamu harus bisa mengubah gaya berpikir Arsen itu," imbuh Asha lagi.
"Mama, itu beda. Pasti Arsen akan berbagi pada mereka, dia kan butuh ibunya," sela Arsen dengan mencabik.
__ADS_1
"Seru banget lagi bahas apa?" tanya Ega yang baru datang.
Asha menoleh, menepuk sofa kosong samping kanannya agar suaminya duduk disampingnya. "Sini, Pah. Ini biasa bahas anak kamu yang ngak mau berbagi."
Arsen mendelik menatap mamanya yang masih saja membahas itu. Semua itu hanya masa lalu saat ia belum mampu berpikir dewasa, kini ia sudah kepala tiga gaya pikirnya sudah berubah. Buktinya ia mampu membangun perusahan sendiri tanpa ikut campur orangtuanya.
"Mama jangan meledek putramu didepan menantu kita dong, putramu pasti akan kehilang muka. Lagi pula papa yakin Arsen itu sudah tidak seperti dulu, dia sudah dewasa. Umurnya tidak muda lagi, dia sudah bisa berpikir bijak," tegur Ega.
"Mama tadi hanya menggoda saja, Pah," elak Asha.
"Ah menyebalkan," runtuk Arsen.
"Gimana persiapan pernikahan kalian apa sudah matang? Ada pesan yang ingin papa sampaikan pada kamu, Sen. Papa harap kamu mendengarkannya dengan bijak," ucap Ega.
Bersambung..
__ADS_1
Tinggal 4 bab lagi tamat ya.. doai aja smg hari ini bisa update 4 bab lagi..🤭🤭🤭