Wedding Agreement

Wedding Agreement
81. Buatkan cucu!


__ADS_3

Asha yang melihat dua lelaki yang amat ia hargai dan ia sayangi sedang sama-sama tegang, ia segera mendekati sang papa untuk meluluhkan hatinya.


"Pah, ada yang ingin Asha sampaikan pada Papa," kata Asha dengan memeluk pria yang pertama ia sayang.


"Masalah apa? Nanti saja lah! Waktu denganmu masih banyak," pungkas Raka. "Papa ingin melihat kejujuran suamimu, biar dia bicara dulu. Aku ingin dengar kebohongan apa yang disimpan menantuku ini," tegas Raka memberikan tatapan membunuh pada Ega.


Asha yang melihat sikap dingin Papanya tambah garang merasa sangat khawatir dengan suaminya.


"Biar Asha yang menjelaskan, Pah." Asha segera menyahut perkataan Papanya yang dilontarkan untuk Ega.


"Suamimu itu punya mulut! Kenapa harus kamu yang menjelaskan? Sebenarnya apa kamu sembunyikan, Ega?" Raka memberi penekanan pada nama Ega jika sudah seperti itu tandanya ia sudah sangat kesal dan murka.

__ADS_1


"Papa itu lebih baik jaga emosi! Nanti darah tinggi Papa naik lagi, biarkan mereka bicara dengarkan! Jika sikap kamu marah-marah gimana mereka bicara melihat wajah kamu saja mereka merinding," tegur Aira.


"Bunda seharusnya berpihak pada Papa! Bukan pada Ega yang notabenenya hanya menantu dan pendatang baru pada keluarga Wijaya," hardik Raka.


Ega yang merasa bersalah karena menimbulkan perdebatan antara tiga orang dalam satu keluarga itu pun segera buka suara karena semua permasalah yang timbul gara-gara dirinya.


"Maaf, selama ini aku telah membohongi Papa dan Bunda tentang jati diriku sebenarnya. Aku sebenarnya bukan bekerja sebagai ob, aku ceo di perusahan Albram dan aku pemegang saham terbanyak disana. Aku melalukan semua ini karena berbagai alasan yang sulit untuk dijabarkan. Tapi aku sudah menjelaskan semua pada Asha, istriku. Sekarang aku pasrah menerima hukuman dari kalian asal jangan pernah menyuruhku pisah dengan Asha," ucap Ega.


"Pah, Maafkan Mas Ega. Asha mohon, dia adalah orang yang pernah menyelamatkan Asha waktu di culik, dia Rama kecilku. Papa bicara! Jangan diam kan kami seperti ini," Asha menggoyangkan lengan Raka.


Apa dia kan marah padaku? Apa aku harus menerima kenyataan pahit lagi yang harus kehilangan wanita yang aku cintai. Aku harus berjuang untuk tetap selalu bersama Asha seperti janji yang kita ucapkan tadi. Memperjuangkan cintanya, rumah tangga yang baru saja ia jalanin dengan penuh canda tawa pikir Ega.

__ADS_1


Aira yang melihat sikap dingin suaminya segera menginjak kaki Raka dengan keras hingga sang empunya meringis kesakitan.


"Bunda, kenapa menginjak kakiku?!" pekik Raka yang merasakan sakit pada kakinya karena terkena sepatu hak tinggi yang Aira kenakan.


"Makanya bicara jangan diam saja!" tegas Aira menatap suaminya. "Sudah kamu tenang, Nak Ega. Biar Bunda yang bicara dengan Papa kalian. Asha sudah menceritakan semuanya pada Bunda. Bunda sangat bersyukur bisa memiliki menantu seperti kamu, yang sangat sempurna. Sekarang yang perlu kamu pikirkan adalah bagimana caranya membuat Asha bahagia dan jangan sekali-kali membuat putri kesayangan kami terluka. Masalah Papa serahkan padaku, sebaiknya kalian istirahat saja ini sudah malam! Segera buatkan Bunda cucu!" perintah Aira.


"Tunggu! Bunda bilang buatkan cucu!" hardik Raka saat melihat Asha beranjak.


Bersambung...


Maaf dikit ya... author lagi sibuk..😘😘🤩

__ADS_1


__ADS_2