
Asha segera mengusap punggung belakang suaminya agar tidak terbawa emosi. Sedangkan Ega menatap istrinya sambil tersenyum.
"Aku hanya bercanda dengan dia, sudah kamu tidak perlu khawatir jika aku emosi," bisik Ega lirih.
Alhamdulilah jika suamiku hanya bercanda tap**i kenapa bercandanya berlebihan begitu batin Asha.
"Mas Ega gimana jika Rian kita jodohkan dengan Diana," bisik Asha.
"Hus, jangan jodoh-jodohkan orang kita kan tidak tahu selera orang," ucap Ega lalu menarik tangan Asha untuk keluar lift.
"Bos mau kemana?" teriak Rian mengikuti Asha dan Ega berjalan dari belakang.
Ega melihat sekretarisnya mengikutinya segera membalikkan badan menatapnya dengan mengangkat salah satu matanya hingga tertarik ke atas.
"Ngapain kamu mengikutiku?" tegas Ega.
"Siapa juga yang mau mengikuti si Bos, aku kan cuma mau pulang. Kalau aku ngak lewat sini lalu aku lewat mana arah ke parkiran jalannya juga cuma ini," jawab Rian santai karena mereka memang sahabat dari Ega belum memiliki apa-apa hingga menjadi kaya seperti ini.
Ega tidak menjawab ia segera berjalan kembali sambil menggenggam jari-jemari istrinya ia ingin menunjukkan pada semua karyawannya jika ia sudah memiliki wanita yang amat sempurna disampingnya.
"Mas Ega lepaskan tangannya dong, semua karyawan kamu menatap kita," lirih Asha.
"Biarkan saja, aku ingin mereka tahu kalau aku memiliki istri cantik seperti kamu. Sudah ikuti saja balas sapaan mereka dengan senyum."
Asha pun menuruti semua perintah suaminya ia berjalan sambil tersenyum ramah kepada setiap orang yang menyapa mereka di setiap koridor.
Ternyata suamiku walaupun kaya tidak pernah sombong, dia selalu menghargai karyawannya bahkan dia tidak pernah membedakan semua karyawannya batin Asha.
"Mas Ega aku tadi kok tidak lihat asisten kamu siapa itu namanya Mbak Wulan dia kemana?"
__ADS_1
"Sudah aku pindahkan ke kantor cabang, aku tidak ingin istriku cemburu. Ayo silahkan masuk tuan putri," ucap Ega membukakan pintu mobilnya.
"Tuan Putri!" ucap Asha menirukan ucapan Ega. "Aku putrinya kamu pengawalnya atau pangerannya?" tanya Asha sambil tersenyum.
"Terserah kamu mau menganggap aku apa! Yang terpenting di hatimu cuma ada namaku, walaupun aku hanya jadi pengawal Tuan Putri aku akan mencuri hatinya agar dia mencintaiku, jika Tuan Raja tidak merestui hubungan kita maka aku akan membawa kabur Tuan Putri agar menjadi istriku," tawa Ega sambil sedikit membungkukkan tubuhnya di pintu mobil dengan menatap istrinya yang sudah duduk di kursi penumpang.
"Sudahlah cepat masuk sana! Makin lama nanti bicaranya makin ngelantur, kamu itu sudah jadi pangaren buatku."
Ega pun segera mengitari mobilnya lalu duduk di kursi pengemudi, lalu memakai sabuk pengamannya. Melihat istrinya sudah memakai sabuk pengaman ia segera menyalakan mesin mobilnya menuju pesantren.
Hampir satu jam mereka melakukan perjalan menuju kediaman Abah Jafar mereka tiba menjelang magrib.
Asha dan Ega segera turun berjalan sekitar 30 meter menuju pendopo Abah dan Umi.
"Sayang, berat ngak? Jika berat letakkan saja disitu nanti biar aku ambil lagi," tanya Ega yang merasa kasihan dengan istrinya saat melihatnya membawa satu parcel buah dengan ukuran jumbo sedangkan ia juga membawa parcel sembako.
"Tidak, ini juga ringan kok. Sudah ayo jalan."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu," sapa Asha dan Ega.
Umi Syarah yang mendengarkan suara salam yang menurutnya tidak asing itu pun segera berdiri menuju ruang tamu.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu," jawab Umi Syarah. "Cucuku datang, lama ngak kesini, Nak." Umi berjalan memeluk Ega yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri karena umi tidak memiliki cucu laki-laki.
Umi Syarah kemudian merangkul Asha pembimbingnya untuk duduk disampingnya.
"Umi ini ada sedikit bingkisan dari kami, maafkan kami tidak pernah datang berkunjung," ucap Asha.
"Kenapa kalian selalu repot-repot, kalian datang kesini saja umi sangatlah senang. Kalian tidak perlu membawa seperti ini, kamu Nak Asha sama seperti Bunda kamu kalau kesini selalu saja bawa-bawa padahal Umi selalu menolaknya," jelas Umi.
__ADS_1
"Umi terimalah, kami mohon," sahut Ega. "Umi Abah mana? Apa sudah pergi ke masjid?" tanya Ega clingu'an mencari sosok yang selalu ia anggap petuanya karena dari Abah lah ia bisa menjadi sesukses ini karena amalan yang selalu diberinya.
"Abah di masjid, kamu salat magrib jamaah sama istrimu apa di masjid?"
"Aku ke masjid saja Umi, istriku biasa sedang kedatangan tamu," kata Ega kikuk.
"Kita sama, ya sudah kamu ke masjid sana! Biar Asha disini sama Umi," perintah Umi.
Setelah kepergian Ega, Umi segera mengambilkan beberapa sajian serta teh hangat buat ia dan Asha.
"Adanya cuma ini, ayo di makan Nak Asha. Ini buahnya juga kamu sendiri tadi yang bawa, disini adanya cuma pisang. Kalau buah mangga sama alpukat kalau sudah buah ya anak-anaklah yang memanen."
"Asha malah suka pisangnya Umi. Umi gimana kabarnya?"
"Seperti yang kamu lihat saat ini Umi sangat baik. Oya gimana ta'aruf kalian apa berjalan lancar? Apa kamu sudah mencintai suami kamu?"
"Sangat berjalan dengan bagus, kami saling mencintai Umi. Aku baru mengerti maksud Umi dulu jika Mas Ega adalah suami idaman, bahkan tanpa aku mengetahui status Mas Ega pun aku sangat mencintai dia apa adanya," jelas Asha.
"Umi senang mendengarnya, Ega menyukai kamu dari dulu. Buatlah Ega bahagia ya. Ega dari kecil selalu menderita, berjuang sendiri untuk hidupnya. Umi senang jika kamu menyukai Ega apa adanya, pesan Umi jika suatu saat Ega di uji dengan hartanya maka kamu harus setia dengannya selalu mendampingnya, jangan pernah meninggalkan dia," mohon Umi.
"Maksudnya Umi? Dia di uji dengan hartanya jadi di antara kita ada wanita penggoda?"
"Bukan itu, Umi yakin Ega bukan tipe laki-laki yang suka berganti pasangan buktinya dia selalu setia dengan cinta masa kecilnya yaitu kamu. Maksud Umi, kita tidak tahu kalau dunia itu berputar. Sekarang suami kamu sedang di atas dengan semua apa yang dia punya saat ini harta yang melimpah kedudukan yang tinggi tapi jika Allah mengizinkan maka dengan hitungan detik itu akan habis entah dengan cara apa Allah menghancurkannya. Maka di saat itu kamu jangan jadi orang yang berkhianat pergi meninggalkan dia dalam keterpurukan, aku tidak ingin luka Ega kembali lagi," jelas Umi.
"Asha tidak akan melakukan hal sejahat itu, aku mencinta Mas Ega tanpa embel-embel. Apa maksud Umi itu berhubungan dengan Ibu Mas Ega?" tanya Asha menyelidik.
"Benar, kamu harus hati-hati dengan ibunya suami kamu."
Hati-hati maksud Umi, apa Umi tahu tentang ibu Mas Ega. Tapi, kenapa Mas Ega tidak tahu bagaimana wajah ibunya batin Asha.
__ADS_1
Bersambung..