
Sampai di butik Arsen dan Adiba segera masuk kedalam yang telah disambut oleh para karyawan dengan ramah.
"Siang, tuan, nona. Ada yang bisa kami bantu," sapanya dengan ramah.
"Kami ingin bertemu dengan nona Ket. Aku sudah ada janji dengannya, bilang saja Tuan Arsen tiba."
"Baik, tuan. Kalau begitu silahkan tuan tunggu disana!"
Arsen dan Adiba duduk di ruang tunggu. Arsen mengambil satu album foto untuk desain dekorasi. Ia membuka perlahan-lahan berharap Adiba meliriknya.
"Adiba, kamu ingin yang seperti apa?" tawar Arsen.
"Aku apa aja, terserah kamu. Yang simple, sederhana tidak berlebihan itu sudah cukup. Yang terpenting kita halal dimata Allah juga tercatat di negara," jelas Adiba.
Kenapa setiap aku bertanya jawaban kamu selalu itu aja, Adiba. Apa tidak ada cita-cita ingin yang lain apa. Batin Arsen mengembuskan nafasnya pasrah.
__ADS_1
"Kalau untuk mas kawin, kamu ingin apa?" tanya Arsen lagi sambil menunggu Ket datang.
"Mas kawin?!" tanya Adiba kembali bertanya.
"Ya," ucap Arsen.
"Kamu ngak salah tanya kayak gini padaku," ucap Adiba diiringi dengan tawa kecil.
Seorang wanita cantik datang dengan mengenakan dress berwarna biru, berjalan dengan anggun menghampiri Arsen dan Adiba.
Adiba mendongakkan wajahnya, ia terdiam dengan mata menganga kagum akan ciptaan Allah yang paling sempurna bagaikan bidadari. Cantik itu pujinya ketika melihat wanita didepannya itu tersenyum ramah menatapnya.
"Tidak masalah, Ket. Kami dengan senang hati menungguMu. Kami rela menunggu lama asal bisa mendapat desain kamu yang terkenal kepujuru dunia, itu sungguh membuat kebanggan tersendiri bagi kami," puji Arsen.
Arsen sebenarnya tidak memuji, itu memang kenyataannya. Sebenarnya cukup sulit bisa bertemu dengan seorang pemilik butik Ket'S Fashion apa lagi memiliki barang desainnya yang limited edition dengan harga fantastik tapi selalu diburu oleh orang bahkan hingga mereka rela membeli bersaing dengan harga mahal. Ia beruntung bisa bertemu dengan Ket karena ia kenal baik.
__ADS_1
Ket menempuk bahu Arsen yang berada di sebelahnya.
"Kamu itu, Sen. Kamu ngak pernah berubah selalu memujiku dengan berlebihan, padahal hasil karyaku itu tidak ada harganya sama sekali dimata orang yang aku sayangi," curhat Ket dengan tersenyum getir.
Mereka sepertinya akrab sekali, apa mereka teman. Pikir Adiba melihat kedekatan Arsen dengan wanita yang cantik bagaikan bidadari menurutnya itu.
"Ket, aku ngak memuji kamu. Itu memang kenyataan kali, sungguh orang yang kamu sukai itu tidak tahu diri. Harusnya dia menghargai hasil karya kamu," dengus Arsen menghibur teman lamanya itu.
Ya dia ngak tahu diri. Sangat ngak tahu diri, bahkan dia rela memintaku untuk mendesain gaunnya untuk menikah. Sakit itu yang aku rasakan. Saat laki-laki yang aku cintai mengabaikan cintaku hingga aku mencoba melupakannya justru ia datang dengan membawa luka kembali. Umpat Ket di dalam hatinya merasa menjadi wanita yang bodoh.
Arsen menepuk jidatnya, "Ket, aku lupa. Kenalkan ini calon istriku yang pernah aku bicarakan ditelepon namanya Adiba. Sayang, ini Ket, teman lama aku waktu kuliah dulu."
Oh, teman kuliah. Pantas saja kalian cukup akrab. Batin Adiba tersenyum untuk menyapa Ket sebagai salam perkenalan.
"Wah, Adiba kamu sangat beruntung mendapatkan suami seperti Arsen. Aku jadi iri denganmu," ucap Ket.
__ADS_1
Iri?! Kenapa harus iri? Itulah pertanyaan yang ada dibenaknya saat ini. Ingin bertanya tapi merasa sok akrab.