
Di dalam kamar Asha yang baru saja melakukan salat ashar segera duduk di depan cermin untuk merias sedikit wajahnya. Merasakan jenuh hidup di apartemen tanpa orang yang ia kenal, sedangkan pembantunya hanya datang dua hari sekali untuk bersih-bersih dan terkadang untuk membuatkan menu makan malam jika Ega memintanya.
Asha yang menunggu kepulangan suaminya ia duduk di ruang tamu sambil membuka laptopnya untuk mengerjakan ujian skripsi yang akan berlangsung satu bulan lagi. Ia berharap ujian skripsinya lancar hingga ia segera lulus dengan gelar dokter. Walaupun terkadang ada rasa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengabdikan diri untuk orang banyak tapi disisi lain ia tidak bisa mengabaikan kondratnya sebagai wanita yang akan menjadi ibu juga istri yang harus mengurus mereka.
Hampir satu jam ia memandangi layar laptopnya dengan jari-jemari menari-nari di atas keyboard melaksanakan tugasnya hingga suara salam dari arah pintu membuyarkan pandangan matanya.
"Assalamualaikum," sapa Ega dengan melepas sepatunya lalu menganti dengan sandal rumahan.
Asha mendengar suara salam yang tidak asing segera menoleh dan menjawabnya, "Waalaikumsalam, Mas Ega sudah pulang?"
"Iya, maaf ya sayang. Gara-gara ketemu klien kita ngak jadi nonton, pasti kamu marah dan kecewa denganku," jelas Ega.
Ega segera berjalan menghampiri Asha sambil melepas kancing jas yang ia kenakan. Ia melepas jasnya lalu melemparnya ke atas sofa. Sedangkan Asha melihat raut wajah suaminya yang terlihat lesu, lelah seharian kerja, menepuk sofa kosong disampingnya memberi kode agar Ega duduk disebelahnya.
"Aku tidak marah, buat apa kecewa? Asal kamu pulang bekerja dengan selamat tanpa kurang apa pun, aku sudah cukup senang. Kita bisa nonton di rumah itu justru lebih asyik tanpa ada suara bising dari orang lain. Kita lelah, tidak perlu naik mobil untuk perjalanan pulang," jelas Asha.
Asha mengambil alih tangan suaminya yang melonggarkan dasi di kerah kemeja yang dikenakan Ega.
"Ide bagus itu, Sayang. Aku mandi dulu ya, sebentar lagi adzan magrib kita berjama'ah habis itu kita nonton ya. Kamu cari film yang bagus," saran Ega.
"Drakor apa drama Cina?"
"Yang lokal aja," jawab Ega.
"Ngak seru Mas jika lokal kurang greget romantisnya."
"Kurang romantis ya kita bikin aja adegannya sendiri gimana?" goda Ega dengan senyum mesumnya.
"Mas Ega! Sudah cepat mandi sana!" usir Asha.
****
__ADS_1
Di tempat lain Naila dan Rizki sedang sibuk melalukan dinner di cafe tempat nongkrongnya anak muda trend ig yang backgroundnya bagus untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka.
"Riz, aku boleh tanya sesuatu padamu?" tanya Naila.
"Katakan saja, jika aku bisa jawab pasti aku jawab dengan jujur."
Naila ingin tahu alasan Rizki mau menerima perjodohan kedua kakeknya sedangkan ia tahu jika mantan pacar Rizki terbilang sangat cantik-cantik tidak sebanding dengan dirinya yang hanya berpenampilan biasa-biasa saja jauh dari kata sempurna. Jika kaya pun orang tua Naila juga tidak terlalu kaya.
"Riz, kenapa kamu menerima perjodohan kita. Bahkan kamu langsung menyetujui pernikahan kita yang akan dilangsungkan setelah aku wisuda? Bahkan setahu aku, kamu masih berstatus pacar Hana seorang model cantik yang sekarang ada di luar negeri. Apa kamu tidak akan menyesal?" tanya Naila.
Ternyata kamu sudah sejauh ini mencari informasi tentang kehidupan pribadiku di masa lalu batin Rizki.
"Aku memang terakhir kali berpacaran dengan Hana, tapi aku putus dua bulan yang lalu sebelum ia berangkat ke Korea. Itu hanya masa laluku, masa depanku adalah kamu," terangnya.
Laki-laki sepertinya sama saja mudah sekali berbicara masalah hati pikir Naila dengan menyeruput minuman yang ada di depannya.
"Aku heran dengan kamu, kita baru saja kenal tapi kenapa sudah mengatakan cinta padaku. Apa itu termasuk sifat aslimu yang mudah berpaling atau itu termasuk sandiwara kamu agar orang tua kamu mempercayai kita."
Satu tahun yang lalu di rumah Seno orang tua Rizki semua sedang berkumpul termasuk kakek Rizki yang saat itu ingin membicarakan hal serius padanya.
"Riz, kamu adalah cucu kakek satu-satunya yang laki-laki hanya kamu harapan kakek," ucap Kakek.
"Maksud kakek apa?" tanya Rizki yang mulai bingung dengan ucapan sang kakek karena cucunya tidaklah dia saja tapi masih ada tiga lainnya namun semua perempuan.
"Begini, putuslah kamu dengan model yang tidak tahu tata krama itu."
"Kek, Rizki cinta sama dia. Aku dengan Hana itu sudah dewasa dan kami menjalani ini semua dengan serius kalau aku putus dengannya apa kakek mau aku mati berdiri," terang Rizki.
Seno segera memukul lengan putranya karena kesal dengan ucapan putra bungsunya yang berpikir pendek yang mau bunuh diri hanya karena cinta padahal masa depannya masih panjang.
__ADS_1
"Bunuh diri hanya karena putus dengan model dewasa itu?! Kamu memang tidak tertarik dengan gadis cantik ini," ucap Seno dengan melihatkan foto Naila yang ada di layar ponselnya. Seno tahu sifat play boy putranya ia berharap dengan memperlihatkan foto Naila akan memperlancarkan rencana sang ayah untuk perjodohan putranya yang sudah di tetapkan tiga puluh tahun lalu.
"Pah, siapa dia?" tanya Rizki menyelidik.
"Dia cantik bukan, dia juga pintar, dia masih muda juga calon dokter. Keluarga yang jelas asal usulnya, tahu bibit, bobot dan bebetnya tidak seperti Hana yang tidak tahu siapa ayahnya," sindir Seno.
"Cantik tapi cintaku hanya untuk Hana."
"Riz, cinta itu datang dengan seiringnya waktu kalian bersama. Dia Naila, cucu dari sahabat kakek dia adalah calon istrimu yang akan kamu nikahin satu setengah tahun lagi. Aku harap kamu segera memutuskan Hana dan kakek akan segera mempertemukan kalian," jelas kakek.
Sejak pembicaraan itu, Rizki yang cukup pintar itu segera mencari tahu siapa yang akan dijodohkan tanpa sengaja Ega sahabatnya juga mengajak dirinya untuk mengintai orang yang ia cintai yaitu Asha. Hingga mereka menyadari jika dua wanita yang ia inginkan adalah sahabat dekat.
Naila mendengar penjelasan Rizki mulai memastikan sesuatu, "Apa kamu orang yang selalu pakai kacamata hitam dengan jaket tebal warna hitam?"
"Iya."
"Apa kamu yang menolong aku, Diana, Asha saat mobil kita mogok dijalan?"
"Benar."
Astaga orang yang ngak punya kerjaan batin Naila.
Naila manguk-manguk.
"Apa kamu tidak punya kerjaan hingga selalu menguntit kita?"
"Itu adalah sebuah perkerjaan sampinganku, selain aku jadi direktur di perusahaan papa. Lumayan bisa buat tambah modal beli rumah sebelum kita nikah," jelasnya.
"Sampingan?! Maksud kamu? Mengintai kami itu termasuk perkerjaan? Lalu siapa yang membayar kamu?" tanya Naila penasaran.
__ADS_1
Bersambung..