
Naila melihat pacarnya mengguping segera melempar sendok ke arahnya. Dengan cekatan Rizki menangkap sendok yang di lempar Naila hingga tidak mengenai wajah tampannya.
"Kamu mau apa? Nguping pembicaraan kita ya terus ngadu ke sahabatmu itu, awas aja kamu ngadu ke dia jangan harap dapat jatah dariku," hardik Naila.
"Jatah apa?! Jangan-jangan kamu sudah ina-inu ya," tanya selidik Asha.
"Huss, jangan ngawur kamu! Aku ini masih mengerti agama, aku tidak mungkin melakukan dosa besar sebelum dia menghalalkanku. Kamu tahu jika dia itu play boy, bisa-bisa aku bunting besar ditinggal sama dia," bisik Naila.
"Kamu mau balas dendam ya sama aku sayang," ucap Ega yang baru saja tiba.
Asha menoleh ke arah sumbersuara.
"Ya, aku akan balas dendam padamu," ketus Asha menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," sapa Aira.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab semuanya.
"Bunda, papa kalian sudah datang Terimakasih sudah bersedia datang di acara pindahan rumah kami," kata Ega mencium pungung tangan kedua mertunya.
Asha juga segera menyalami bundanya dan memeluknya.
Aira berkata sedikit berbisik, "Allah berfirman, Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS an-Nahl [16] : 126 -128). Jadi jangan balas dendam, lupakan saja hal kecil barusan."
Asha mengangguk lalu membimbing bundanya untuk duduk di meja makan yang sudah siap dengan berbagai sajian untuk memanjakan perut.
Hampir satu jam mereka makan siang dengan hening tanpa ada percakapan. Selesai makan siang mereka berkumpul di ruang utama yaitu ruangan yang di desain sebagai tempat santi untuk berkumpulnya keluarga. Ega sengaja mendesain tempat ruang keluarga sedikit cukup luas berharap kelak jika anak-anaknya tumbuh besar bisa sebagai pusat untuk bercengkrama.
"Nak Ega kapan kalian beli rumah ini?" tanya Raka.
"Sebenarnya sejak awal menikah, Pah.Tapi saat itu kondisinya belum sempurna dan aku juga belum tahu apa saja kesukaan Asha jadi aku mengulur sedikit agar bisa sesuai keinginan Asha," jelas Ega.
__ADS_1
Apa sudah lama tapi kenapa mas Ega selalu menutupinya ke aku. Main rahasia-rahasiaan lagi, apa dia itu tidak menganggap aku ini istrinya. Dia selalu ngak mau terbuka batin Asha.
"Sebenarnya aku mau rembukan pada dia, Pah. Terus aku pikir-pikir lagi jika aku bicara padanya masalah rumah ini jadi ngak kejutan. Dia juga saat di ajak bahas rumah selalu memilih tinggal di apartemen," tutur Ega lagi.
Memang benar Ega sering membahas masalah rumah tapi dirinya selalu menjawab jika enak tinggal di apartemen saja dari pada di rumah yang besar tidak ada penghuninya.
"Benar juga itu, Nak."
"Tapi aku desain seluruh isi ini sesuai selera dia, Pah. Karena ini rumah dia aku sesuaikan seperti yang dia bayangkan."
"Kok bisa gitu, bagaimana cara kamu bertanya pada dia?" tanya Rizki.
"Soal itu gampang, nanti kamu sudah nikah juga bakal tahu caranya, benar ngak itu, Nak." Raka menjawab pertanyaan sahabat menantunya.
"Benar yang dikatakan papa, makanya kamu cepat nikah."
__ADS_1