
Adiba dengan cekatan menutupi wajahnya dengan selimut.
"Jangan mendekat! Kamu mau apa?" selidik Adiba takut jika Arsen berbuat lebih.
"Mau memberi ucapan selamat pagi sekalian dengan morning kiss. Agar harimu menyenangkan," goda Arsen yang duduk di tepi ranjang.
Adiba yang merasakan busa ranjangnya sedikit mantul akibat diduduki Arsen menjadi gugup.
"Sayang, ayo lah!" goda Arsen semakin dekat lagi.
Ia tidak ada niat untuk melakukan lebih, ia hanya ingin menggoda wanitanya itu agar pipinya merah merona.
"Arsen, tolonglah menjauh!" usir Adiba. "Kita ini belum halal," tegasnya lagi menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kalau sudah halal berarti boleh dong," goda Arsen dengan sengaja ia memainkan jarinya diatas selimut yang entah akan menyentuh bagian apa didalamnya yang tak terlihat dari atas.
Adiba yang merasakan sesuatu bermain-main diujung kakinya tertutup kain merasakan geli yang tak tertahankan. Ia membuka selimutnya berlari keluar.
"Adiba mau kemana?" terik Arsen.
Adiba yang sudah berada diluar kamar mendengar teriak Arsen, menonggolkan kepalanya sambil menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Awas kamu, akan aku tangkap," goda Arsen dengan berlari perpura-pura mengejarnya.
.
.
.
Adiba duduk di meja makan, menunggu sang pemilik rumah datang untuk sarapan bersama.
"Pagi, bidadariku," sapa Arsen dengan mengusap kepala Adiba yang terbungkus rapi oleh hijab berwarna navi yang senada dengan kemejanya.
Adiba mengambilkan nasi goreng dengan dadar telur untuk Arsen.
"Maaf hanya ini yang aku bisa," ucap Adiba merendah. "Aku ngak bisa masak," tambahnya lagi.
"Tidak masalah, apapun yang kamu hidangkan diatas meja pasti aku makan. Asal kamu buatnya dengan dibumbui oleh cinta, kasih sayang dan ketulusan pasti rasanya akan nikmat serta barokah bagi kehidupan rumah tangga kita," jelas Arsen.
Arsen yang tidak terlalu memetingkan urusan perut baginya masalah perut bisa cari asisten rumah tangga asal ada cinta hidup akan bahagia. Ia berprinsip seperti itu, mungkin sebagian orang bilang jika cinta datang dari perut, jika masakannya enak makin lama makin cinta. Itu baginya tidak masuk akal.
"Kamu itu bisa aja bikin aku baperan, kalau asin ya tetap asin."
__ADS_1
"Biarpun asin tetap bersamamu akan aku jalani," jawab Arsen kemudian mengunyah nasi gorengnya. "Ba, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Arsen.
Arsen meletakan sendok serta garbunya. Ia menghentikan aktifitas makannya, ia memindah posisi duduknya menatap ke arah Adiba.
Adiba mengerutkan dahinya menatap penuh dengan arti penasaran. Apa yang ingin dibicarakannya padahal sejak tadi mereka juga sudah saling bicara kenapa harus meminta izin padanya. Apa ada hal yang serius. Pikirnya semakin tidak tenang.
Apa dia ingin mengajak putus karena Om Ega tidak menyukaiku. Atau Sebenarnya dia hanya ingin balas dendam denganku. Ah, buang jauh-jauh pikiran buruk itu, Adiba. Arsen buka tipe orang yang suka belas dendam. Yakinlah, Arsen orang yang baik. Batin Adiba.
Arsen melihat perubahan raut wajah wanita disampingnya, segera menempelkan telapak tangannya di kening Adiba untuk memastikan keadaanya tidak dalam demam.
Tidak panas tapi kenapa dia pucat. Batin Arsen.
"Kamu sakit?" tanya Arsen.
"Arsen, aku baik-baik saja. Kalaupun sakit tidak mungkinkan aku menghabiskan satu porsi nasi goreng. Oya kamu ingin bicara denganku, emang masalah apa?" tanya Adiba.
Adiba mencoba mengatur nafasnya untuk tetap mencoba tenang dan kuat. Ia harus siap mendengar ucapan laki-laki didepannya itu tentang apapun keputusan dia, mungkin itu yang terbaik buat hubungan mereka. Baginya cinta bukan untuk saling memiliki tapi saling berkorban demi orang yang dicintai bahagia.
Adiba melihat Arsen ragu-ragu untuk berbicara ia semakin takut.
"Sen, katakanlah!" ucap Adiba kembali.
__ADS_1