Wedding Agreement

Wedding Agreement
Gagal


__ADS_3

Nara menatap sebuah ketulusan dari wajah Aryan saat ini. “ Kamu tidak akan melukaiku kan, Ar?”


“ Tidak akan. Aku janji akan bermain pelan, aku ingat ada anak kita di sini.” 


Nara masih menunjukkan keraguannya, padahal napasnya sendiri sudah tersengal pula. 


“ Kamu takut?”


Nara terpaksa mengaku dengan wajah memelas. “ Jangan takut. Aku janji memberikanmu kelembutan.” Aryan kini mengelus perut Nara yang jika ditarik permukaan bajunya, sudah nampak menyembul kecil di bagian bawahnya. 


Aryan kembali menempelkan bibir mereka saat kemudian Nara memejam merasakan pangutan lembut Aryan yang mengembuskan lenguhan yang seksi menggoda gairahnya. 


“ Apa masih takut? El……. Aku mulai mencintaimu.” 


Ingin sekali Nara menangis saat ini, namun Aryan tak akan membiarkannya. Gairahnya sudah tersulut ia tak mungkin menghentikannya saat ini. Kemudian Aryan kembali mengecupi area sensitif istrinya hingga membuat Nara menggeliat dan melenguh memanjakan telinganya. 


Dengan napas yang menderu hebat, Aryan pun meraba hampir seluruh area tubuh Nara yang bisa membangkitkan gairahnya. Sampai kemudian Nara mengangguk memberinya persetujuan. 


“ Lakukanlah dengan hati-hati !”


Aryan menghembuskan napas lega karena malam ini mereka akan menyatu dalam kondisi sama-sama sadar dan tanpa paksaan. Tanpa membuang waktu, Aryan yang hasratnya sudah di ubun-ubun itu pun langsung melepas pakaiannya hingga menyembulkan gurat otot tubuh atletis yang menggoda mata. Celananya pun sudah ia lepas hingga Aryan sudah tanpa busana saat ini.


Dengan sentuhan bibirnya, Aryan kini menyusur permukaan kulit paha Nara yang ternyata juga sensitif saat mendapat sentuhan. HIngga kemudian Aryan menyingkap baju Nara dan memperlihatkan kain segitiga  yang ditariknya dengan gigi hingga merosot ke ujung kaki Nara.


Nara begitu terpukau melihat tubuh Aryan yang begitu sempurna sudah menindih tubuhnya saat ini. Aryan pun tak ingin  menyia-nyiakan apa yang ada di hadapannya saat ini, kini ia mencoba bermain dengan dua bukit kenyal milik Nara yang nampak memanggil . 


“ Are you ready, El?”


Nara pun mengangguk saat Aryan memasukkan senjatanya ke dalam lubang kenikmatan milik Nara yang ternyata sudah basah. Aryan tersenyum tipis penuh kemenangan saat merasa Nara menyambut rangsangannya.


“ Sssshhh !” desis Nara sedikit mengernyit saat merasa ada sebuah benda tumpul menghantam lubang intinya dengan kondisi sadar sepenuhnya.


Membuka lebar pakaian Nara di bagian belahan dada, Aryan kini tak tahan memainkan dua gundukan kenyal itu dengan bibirnya sementara kedua tangan Aryan kini mengunci tangan Nara yang mencoba meremass permukaan kain sprei. 


Aryan mencoba mendorong senjatanya lebih dalam hingga terdengar suara lenguhan Nara yang makin mengobarkan gairah di dalam dirinya yang saat ini terasa semakin memanas. Meraup bibir Nara dengan ciuman yang ganas, Aryan mendorong maju mundur tubuhnya dan tak membiarkan Nara yang mencoba mengimbangi dengan kondisinya yang hamil. Aryan ingin sepenuhnya memimpin malam ini.


Nara kini nampak mendesis dan mengernyit seperti menahan sakit. Dan Aryan membiarkannya seolah Nara tengah menikmati dorongan lembutnya. 


“ Aryan….”


“ Iya, El ? Kamu suka ?” 


“ Ar ! Eemmpph, Awwh !” 


“ Aku suka, suaramu seksi sekali !” dessah Aryan merasakan suara lenguhan Nara yang makin membuatnya mendorong lebih cepat lagi.” 


“ Aryan, perutku… kram !”


Aryan nampak mondar-mandir di depan pintu ruangan IGD tengah malam ini. Sudah berapa kali ia mengusap wajahnya khawatir saat Nara masih mendapat penanganan di dalam. 


“ Bodoh , bodoh !”


Diusapnya pula tengkuknya yang terasa berat hingga Aryan memukul sendiri kepalanya. Aryan membodohi dirinya sendiri yang tidak berhati-hati tadi saat jiwanya sudah sangat terbakar tadi. 

__ADS_1


Hasratnya terlalu menggebu sehingga ia tak sengaja menyakiti istrinya hingga seperti ini. Pengalaman pertamanya menyentuh Nara secara sadar di hampir dua bulan pernikahannya malah berujung petaka.


“ Duhhh, mudah-mudahan tidak apa-apa,” Aryan masih memukulkan kepalan tangan ke dahinya . Dadanya bergemuruh membayangkan hal yang tak diinginkan.


Sudah lebih dari lima belas menit belum ada tanda-tanda kabar dari ruang IGD rumah sakit yang terletak tak jauh dari gedung apartemen. Ingin sekali Aryan mendobrak pintunya dan melihat istrinya di dalam. 


Dilihatnya jam dinding di depan IGD sudah menunjukkan jam satu dini hari. Itu artinya permainan yang dianggapnya lembut dan pelan tadi sudah berjalan hampir satu jam. Dan selama itu ternyata tanpa sadar ia sudah menyakiti Nara yang ia anggap menikmati hingga membuat perut bagian bawahnya terasa kaku dan nyeri.


Aryan yang tak punya pengalaman menghadapi wanita hamil hanya tahu kalau ia harus bermain lembut, tapi ternyata ada efek lain yang ia sama sekali tidak menduganya. 


“ Keluarga ibu Elnara,” panggil seorang perawat dari baik pintu. 


“ Iya, gimana, sus?”


“ Silahkan.”


Aryan segera menuju ke dokter yang berjaga di tengah malam ini. Dilihatnya Nara yang masih berbaring di brankar IGD. Aryan langsung menuju ke sana. Ada sebuah bekas suntikan di lengan kanan istrinya yang kini masih terdiam lemas. 


Nara masih dengan baju tidur satinnya yang tak sempat ia ganti. Hanya sebuah syal panjang berumbai yang ia lingkarkan di lehernya untuk menutupi bekas tanda kepemilikan yang Aryan buat di banyak tempat. 


Saat Nara merasakan perutnya sakit , Aryan segera membopongnya menuju rumah sakit yang paling dekat dengan kediaman mereka karena Nara terus mengeluh nyeri dan Aryan tidak mungkin membawanya ke rumah sakit yang menjadi langganan mereka periksa dengan jarak yang lumayan jauh. 


“ El, Kamu tidak apa? Tadi dokter bilang apa? Anak kita gimana?” cecar Aryan dengan suara bergetar. Tangannya sudah menggenggam jemari Nara yang dingin. Namun belum sempat Nara menjawab, perawat keburu memanggilnya. 


Perawat itu meminta Aryan duduk di depan dokter jaga. Ia mnegelus pelan kepala istrinya sebelum ia berjalan menuju meja dokter yang ada di dekat pintu masuk IGD.


“ Suami pasien ?”


Aryan mengangguk cepat.” Bagaimana istri saya , dok?”


“ Kondisi bayinya gimana. dok?”


“ Masih bagus , detak jantung normal. Cuma tadi anaknya lagi kaget pak, lain kali kalau mau main lebih pelan ya, pak. Atau kalau bisa ditahan dulu ya sampai dirasa lebih kuat lagi ibunya.”


Aryan mengusap wajahnya karena malu. Dokter di depannya ini segera tahu apa yang menyebabkan istrinya itu sampai harus dilarikan ke IGD tengah malam begini. 


Nara yang berbaring di bed IGD sampai tak kuasa menahan senyumnya melihat Aryan kini tersipu di hadapan dokter dan perawat. Untung saja hanya dirinya seorang yang menjadi pasie IGD malam ini. 


Bahkan Nara sendiri kini menarik ujung syalnya untuk menutupi wajahnya sendiri karena merasa malu sebab kedatangan mereka ke rumah sakit sungguh dikarenakan peristiwa absurd yang memang jelas memalukan. 


“ Tenang saja , Pak. Ibu Elnara tadi sudah saya kasih tahu caranya biar hal seperti ini tidak terulang kembali. Ini Ada obat untuk penguat kandungan dan juga vitamin. Untuk obat suntiknya sudah kami berikan dan tinggal menunggu reaksi sampai pasien merasa baikan, lalu setelah itu pasien boleh pulang.”


Aryan mendesau lega istri dan calon buah hati mereka tidak sampai mendapatkan hal yang mengkhawatirkan.


“ Bagaimana , El? Masih sakit?” Aryan kini mengambil kursi kecil dan duduk di samping brankar Nara yang masih menunggu reaksi obat yang disuntikkan padanya. 


Nara menggeleng namun menyisakan kecemasan di wajahnya.” Bayi ini tidak apa kan, Ar?” lirihnya.


“ Dia bayi yang kuat. Maaf, sudah dua kali aku hampir mencelakai kalian.”


“ Aku takut kehilangan dia, Ar.” ucap Nara dengan suara kecil dan hampir saja menangis di ruangan yang hanya mereka yang menjadi pasien IGD malam ini. 


Bukan takut dengan insting seorang ibu, namun Nara jelas memikirkan dampaknya jika oia tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik. Pikirannya langsung mengarah ke hal yang tidak ia inginkan.

__ADS_1


Aryan mengelus lengan Nara dan memejam ikut merasakan kekhawatiran istrinya akibat perbuatannya yang telalu terburu hawa nafsu.


Setelah sekitar satu jam berada di UGD , akhirnya Nara diperbolehkan pulang. Aryan tak membiarkan Nara berjalan sendiri maupun berada di kursi roda.


Seperti biasa ia membopong tubuh istrinya menuju lorong lift yang langsung terhubung ke unit penthouse mereka yang berada di lantai paling tinggi gedung apartemen mewah ini. Nara sudah melingkarkan kedua tangannya ke leher Aryan saat tubuhnya melayang dalam gendongannya. Kepalanya pun ia tempelkan ke dada suaminya. Sungguh pemandangan yang tidak akan diduga pria itu sebelumnya karena hanya dalam waktu dua bulan saat mereka tinggal bersama, Aryan sudah berubah menjadi pria yang penuh perhatian terhadap hanya seorang wanita saja. 


“ Aryan, aku ngantuk,” ucap Nara lirih saat Aryan sudah meletakkan tubuhnya ke atas tempat tidur. 


“ Tidurlah,” Aryan mengelus perut Nara yang sudah terasa sekali mengeras di usia kandungan yang sudah empat bulan. 


“ Kamu tidak apa?” tanya Nara kini mendadak mencemaskan kondisi suaminya yang jelas tak karuan karena belum berhasil menuntaskan gairahnya malam ini. 


Dilihatnya wajah Aryan jelas menunjukkan hal yang tidak baik-baik saja. Aryan masih menunduk ke tubuh istrinya itu kini menyingkap kain syal yang kemudian memperlihatkan bekas perbuatannya yang tersisa di leher dan dada Nara yang putih bersih. 


Tanda kepemilikan itu masih menempel dan tidak akan hilang hanya dalam beberapa jam saja. Aryan masih membayangkan betapa nikmatnya ia tadi saat hampir berhasil menyatu dengan sang istri dalam kondisi sama-sama sadar untuk pertama kalinya. 


“ Tidak apa. Tidurlah , aku merokok sebentar di balkon.”


“ Jangan begadang !” 


Aryan pun mengangguk setelah membenarkan selimutnya dengan posisi Nara yang sudah nyaman untuk tidur. 


Menyalakan sebatang rokok , Aryan kini merasakan semilir angin ditemani sekaleng bir dingin di tangannya. Gejolak pria dewasanya masih mengaduk -aduk pikirannya yang tidak mungkin bisa menenangkannya malam ini.


 


Aryan jelas syok hingga pikirannya tidak bisa jernih. Berkali-kali berhubungan badan dengan banyak wanita , baru kali ini Aryan tidak bisa menuntaskan hasratnya haya karena sosok yang bernama janin yang bersarang di tubuh Nara saat ini.


Setelah puas menyendiri, Aryan akhirnya merebahkan dirinya di sofa lantaran tak ingin gairahnya kembali tersulut saat melihat Nara dengan baju tidur yang menggoda itu. 


Sekian lama Nara merasakan sisi tempat tidur kosong dan ia pun membangunkan tubuhnya. 


“ Aryan,” panggilnya saat melihat Aryan malah tidur di sofa kamar dengan kaki yang menjuntai lebih panjang dari tepian sofa. Aryan pun langsung terbangun dan mendongak.


“ Kenapa kamu tidur di situ?” 


Pertanyaan Nara sungguh membuat Aryan gemas. Bagaimana Nara yang duduk dengan rambut setengah berantakan dan bagian dada yang menari-nari itu bisa dengan polosnya bertanya mengapa malam ini suaminya itu tak mendekatinya.


Sekian waktu kemudian Nara menyadari kondisinya. Ia kemudian turun dan mengenakan outer panjang untuk menutup tubuh dan baju tidurnya yang menggoda iman.


“ Kemarilah,” Nara mengulurkan tangannya supaya Aryan meraihnya. 


“ Sofa itu tidak lebih panjang dari tubuhmu. Kakimu bahkan tidak nyaman, kan? TIdurlah di sini.”


Aryan terpaksa menerima uluran tangan Nara untuk kembali tidur bersamanya. Disadari atau tidak, keduanya kini saling terikat dan membutuhkan. Nara bahkan merasa hampa saat Aryan tak berada di sisinya malam ini.


“ Kamu merasa kesepian saat aku tidak tidur di sampingmu, El?” tanya Aryan kini saat mereka sudah berada di dalam selimut yang sama.


Nara mengedikkan bahu dan tersipu malu.” Entahlah, sepertinya bukan aku. Tapi anak ini.” Nara menenggelamkan wajahnya yang memerah di permukaan bantal. 


“ Hehhh ! Alasan !”


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2