Wedding Agreement

Wedding Agreement
154.eps 154


__ADS_3

Ega lebih bersemangat masuk ke dalam butik. Melihat baju bayi lucu-lucu ia segera memasukkan ke dalam troli belajaannya. Dari Baju lengan pendek, baju lengan panjang, jumper pendek, celana pendek, popok kain, kaos singlet, selimut, bedong, topi bayi, sarung tangan, kaus kaki, gendongan kain panjang, bantal anti peyang, bantal dan guling, jaket, selimut, dan masih banyak lagi yang ia masukkan tanpa ia sadari trolinya penuh.


Asha yang merasa capek mengikuti suaminya, ia memilih duduk di tempat penunggu sambil memijat betisnya yang merasa pegal-pegal.


"Sayang, kamu ingin membelikan sesuatu mungkin," ucap Ega.


"Rasanya tidak mas, aku lihat kamu juga sudah mengambil semua barang yang kita butuhkan. Kita tinggal beli beberapa saja seperti perlengkapan mandi."


"Kita beli sekarang ya sayang, mas takut jika menunda-nunda lagi mas tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengantar dan menemani kamu belanja," tutur Ega.


Ega meraih tangan Asha meletakan dalam dua dekapan tangannya merasakan tak ingin kehilangan Asha. Walapun Asha tidak akan pernah kemana-mana karena ia yakin jika Asha akan selalu setia dengan dirinya.


"Mas Ega ini bicara apa sich," ketus Asha. "Emang mas tidak memiliki kesempatan lagi mau kemana? Mas kan bosnya?" ucap Asha.


"Kita tidak akan tahu gimana jalan takdir yang di gariskan oleh Allah. Oya jika suatu saat kamu aku pergi, titip dua jagoan kita ya. Jika perusahaan kamu bisa belajar dari Rian juga Rizki."


"Mas kamu ini jangan bicara macam-macam dong, sudah jangan dilanjut," sela Asha memeluk suaminya. Sebenarnya apa maksud mas Ega batin Asha.

__ADS_1


*****


Dua hari kemudian Asha sedang membuat susu hamil untuk dirinya sendiri di dapur. Entah apa yang mendorongnya ingin membuat sendiri padahal biasanya pelayanlah yang akan membuatkannya. Saat ia mau membawanya ke meja makan gelas yang berisi susu panas itu terjatuh dari tangannya hingga berjejeran di lantai.


"Nyonya, biar kami yang membersihkan," teriak salah satu pelayan yang melihat tuannya.


"Tidak, bi. Biar aku bersihkan sendiri, bibi bisa mengerjakan tugas yang lain," ucap Asha yang memang memiliki sifat rendah hati.


Seorang pelayan menuntun Asha untuk duduk di sofa ruang keluarga dengan salah satu pelayan membersihkan pecahan beling yang berada di lantai.


Asha duduk sambil melihat live berita televisi, saat itu ia melihat berita mobil mewah mengalami rem bolong ia merasa mengenali mobil tesebut hingga ia teringat akan suaminya.


"Ya Allah, apa itu beneran mas Ega. Tapi, aku sangat berharap itu bukan suamiku. Ya Allah lindungi dia dimanapun dia berada," lirih Asha.


Merasa hatinya tidak tenang ia berjalan kekanan-kekiri tanpa ada tujuan.


"Nyonya sebaiknya anda duduk! Anda sedang hamil, aku yakin jika mobil tadi bukan tuan Ega. Pasti banyak yang memiliki mobil yang sama seperti milik tuan," hibur salah satu pelayan.

__ADS_1


Gimana bisa tenang jika melihat mobil yang sama dengan milik suaminya mengalami kecelakan hebat, sedangkan mobil mewah itu hanya dimiliki oleh berapa orang saja di kotanya.


"Nyonya minum air putih anda dulu," ucap pelayan.


Hampir satu jam ia duduk dengan pikiran tidak tenang, ia segera menghubungi nomer asisten pribadinya namun ponselnya tidak aktif.


"Ya Allah kenapa semuanya tidak bisa dihubungi, semoga kalian semua dalam perlindungan Allah. Apa mungkin mereka sedang meeting, tapi tumben sekali mas Ega mengabaikanku biasanya sesibuk apapun ia selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan," lirih Asha.


"Nyonya, apa perlu kita ke kantor tuan Ega?" tanya pelayan yang merasa khawatir saat melihat nyonyanya gusar tidak tenang.


"Bi, tolong siapkan mobil ya. Bibi ikutlah denganku, kita akan memastikan sesuatu," lirih Asha.


Aku harus ke rumah sakit siapa yang sebenarnya kecelakaan tadi aku berharap itu orang lain bukan suamiku batin Asha.


"Apa kita akan ke kantor?"


"Bukan, kita akan ke rumah sakit. Segera bergegas, bi! Aku akan mengambil tas dulu," perintah Asha.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2