
"Honey moon itu penting sayang, aku kan ingin segera memiliki sepuluh anak darimu?" ucap Ega yang kini mulai mengubah posisinya dengan berbaring di pangkauan istrinya.
"Apa sepuluh? Memang aku ini kucing apa Mas? Melahirkan satu saja sepertinya sangat butuh perjuangan sekali. Mas apa ngak lihat saat dokter Wulan menangani seorang wanita yang ingin melahirkan rasanya antara hudip dan mati ada dua yang harus diperjuangkan," jelas Asha sembari mengusap wajah suaminya.
"Sudahlah kita jalani saja, Sayang. Kalau Mas berharap ingin seperti Bunda Aira dan Papa Raka, juga Bang Nathan"
"Seperti mereka?! Memang kenapa?"
"Ya memiliki tiga anak, tidak punya saudara itu tidak enak kamu tahu aku tidak punya siapa-siapa. Saudara juga hanya ada beberapa itu pun semua pada di luar negeri saudara dari Ayah kalau ibu aku tidak tahu. Sayang, sepertinya sudah adzan subuh kita ambil air wudhu habis itu jama'ah."
"Iya, sayangku," ujar Asha.
"Kamu tadi panggil aku apa? Sayang! Coba ulangi lagi! Aku tidak salah dengarkan! Aku harap kamu setiap hari memanggilku seperti itu ya, 'Sayang' sungguh bahagianya aku," kata Ega dengan memberi penekanan pada kata sayang.
Asha yang keceplosan itu wajahnya kini berubah menjadi kepiting rebus, pipinya merah merona.
"Mas sudah cepat bangun! Kalau kamu seperti ini kapan kita sholatnya?" Asha coba mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Kamu salah dengar Mas Egaku, suamiku, suami idaman yang paling tampan. Sudah aku mau ke kamar mandi," ucap Asha dengan memindahkan kepala suaminya dari pangkuannya.
Ega yang melihat punggung istrinya masuk ke dalam kamar mandi tersenyum simpul, "Jika kamu malu-malu seperti ini makin cinta aku padamu."
__ADS_1
****
Asha dan Ega sengaja sholat magrib berjama'ah lebih awal karena untuk bersiap menampilkan sebuah penampilan yang sempurna untuk acara di hotel nanti yang telah ia nantikan beberapa hari lalu dimana semua orang akan tahu siapa sesol Albram yang terkenal akan kekayaan nomer satu di kota itu.
Asha kini berada di depan cermin merias dirinya secantik mungkin agar tidak membuat malu suaminya dimana akan ada rekan bisnis, orang tua juga relasi suaminya serta teman-temannya yang dulu pernah menghina mereka.
Asha yang telah memakai gaun warna putih itu menatap dirinya dati pantulan cermin, mengamati dari ujung kaki sampai atas penampilannya.
"Sempurna," pujinya pada dirinya sendiri.
Asha segera berjalan keluar dengan susah payah karena gaun yang ia kenakan terlalu lebar.
"Mas Ega kemana sich? Kenapa tidak mau membantuku. Ini gaun terlalu berat," pekik Asha berjalan dengan mengangkat sebagaian gaun bawahnya dengan kedua tangannya.
Ega yang telah siap lebih dulu mendengar teriakan sang istri segera keluar dari ruang kerjanya. Lalu berjalan menghampiri istrinya yang memasang wajah kesal itu.
"Jangan cemberut! Nanti cantiknya hilang," ledek Ega.
Ega segera mengambil kalung berlian yang ada disaku jasnya, memasangkan pada leher sang istri.
"Sayang, kamu suka ngak?" tanya Ega saat selesai memasang kalung di lingkar leher istrinya.
__ADS_1
"Suka sekali, Mas. Terimakasih banyak ya. Mas bantuin aku ya," rengek Asha.
"Iya sayangku, tanpa kamu meminta aku akan melakukan hal itu," senyum Ega dengan membantu sang istri untuk segera berangkat karena hari sudah menunjukan pukul tujuh dimana acara akan dilaksanakan pada pukul delapan.
Sampai di depan hotel Albram, Ega segera mengitari mobilnya untuk segera membantu sang istri untuk turun dan masuk ke dalam.
Disaat itu juga Bella melihat Asha turun dari mobil mewah lamboghiri itu tersenyum sinis. Ia yang sedang membawa jus stroberi itu berjalan dengan pura-pura untuk tak melihat Asha dan Ega yang sedang berjalan.
"Akan aku buat malu kamu," lirih Bella.
Brukk
"Maaf, aku ngak sengaja," ucap Bella dengan pura-pura membersihkan gaun Asha yang basah dengan ada berberapa bekas merah karena terkena jus yang Bella bawa.
Diana yang baru datang melihat sahabatnya itu segera menghampirinya.
"Kamu pasti sengajakan?" hardik Diana.
"Sengaja gimana?" tegas Bella yang tidak mau kalah untuk mengotot.
Asha hanya bisa mengepalkan tangannya penuh dengan kekecewaan disaat semua para undangan telah tiba tapi penampilannya sangat kacau dan memalukan.
"Kamu!" teriak Diana dengan melototkan matanya karena mulai geram dengan sikap Bella.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu bawa pulang saja! Bawa teman kamu yang suaminya hanya ob, mana pantas jadi tamu vip disini, kamu itu juga anak magang beda denganku. Papaku ini seorang wakil pimpinan di di rumah sakit ini," sinis Bella dengan menumpahkan kembali sisa jus yang ada di dalam gelasnya.
"Diam kamu! Apa hak kamu mengusir kami?! Harusnya yang pergi dari sini itu kamu?!"