Wedding Agreement

Wedding Agreement
Ngidam


__ADS_3

“ Bik Ina , tolong jangan bilang apapun ke Oma soal kejadian semalam, ya. Saya tahu bik Ina sedang menjalankan tugas dari Oma untuk melaporkan apapun di sini.” 


Bik Ina jelas mendelik sungkan pada Aryan saat melayaninya sarapan pagi ini. Untung saja wanita itu belum bicara apapun pada Oma Herlina.


“ Baik Tuan muda.” 


“ Selagi saya masih bisa mengatasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nara itu tanggung jawab saya, jadi kalau ada apa-apa itu juga saya yang akan menangani.”


Ucapan Aryan ini sekaligus sebagai ultimatum halus untuk bik Ina. Aryan mulai membatasi informasi apapun meski itu hanya sebuah kabar untuk neneknya sendiri.


Jonas sudah membuatkan janji dengan dua dokter sekaligus untuk Aryan hari ini. Aryan sendiri masih menunggu Nara bangun dan memastikan sendiri ia sarapan dan minum obat dari tangannya. 


Nara sendiri baru terbangun saat Aryan sudah berpakaian rapi. Menunggu dengan sabar duduk di tepi tempat tidur, Aryan memang sengaja tidak membuka tirai jendela kamarnya agar Nara bisa tidur tanpa terganggu sinar matahari pagi.


“ Sudah bangun?” 


Nara mengerjap saat Aryan adalah pemandangan pertama yang ia lihat.


“ Jam berapa?” tanya Nara dengan suara serak. 


“ Baru jam delapan.” 


“ Hah !” Nara sontak membangunkan tubuhnya terburu-buru. “ Aku telat !”


“ Heyy, ssstttt ! Libur dulu , dokter bilang kamu masih harus bedrest, kan ? “ Aryan menahan tubuh Nara agar tidak sembarangan bergerak.


“ Aku kan bukan orang sakit !”


“ El !” Aryan kembali menahan Nara saat istrinya itu masih keras kepala ingin bangun dan pergi ke sekolah fashion. 


“ Aku tidak ingin dibantah.  Hari ini aku juga libur kerja demi menemanimu seharian di rumah. Mau makan sekarang? Aku minta bik Ina ambilkan, ya?” 


“ Belum lapar !”


“ Ssstt !” Aryan yang sudah beranjak itu kemudian meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya.” Jangan membantah.”


“ Hiisshhh, mulai pemaksa ! “ gerutu Nara kesal lalu membangunkan dirinya keluar kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian di kamarnya sendiri. 


Aryan bersama bik Ina masuk kamar dengan membawa sarapan untuk Nara saat kamar sudah kosong. Tak lama Nara muncul dengan kondisi sudah segar dan rambut setengah basah.


“ Nyonya muda, silahkan sarapannya. Sengaja bibi tambah sedikit porsinya, dihabiskan, ya.”


Nara hanya mengangguk sambil memasang senyum terpaksa. Ia merasa seperti orang sakit yang dilayani semuanya dan tinggal duduk manis menikmati. Aryan sendiri menyiapkan obat dan vitamin apa saja yang harus Nara minum pagi ini.


“ Eehhmm, bik Ina. Tolong setelah ini pindahkan semua barang Nara ke sini. Mulai hari ini kamar depan itu sudah tidak dipakai lagi.”


“ Hahh ! Apa ?” Nara makin mengerjap bingung dengan pengaturan Aryan yang tiba-tiba dan tanpa berunding dengannya terlebih dulu.


“ Kenapa? Ada yang aneh? Mau sampai kapan kita wara wiri ke dua kamar yang berbeda. Toh kamar ini lebih dari luas untuk kita tempati bersama. Lemari juga masih longgar kalau hanya ditambah barangmu saja.”


“ Dalam rangka apa sih? Bisa gak kamu jangan terlalu mengatur seperti ini ? Aku jadi merasa aneh, Ar.”


Aryan yang tak mengindahkan aksi protes istrinya lalu mengambil sendok dan mulai menyuapkan satu sendok makanan ke depan bibir istrinya. “ Ayo makan.”


“ Aku bisa makan sendiri. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit !”


Aryan akhirnya mengalah dan membiarkan Nara makan sendiri tapi masih di dalam kamarnya. Tiga butir vitamin sudah dijejer rapi dan Nara tinggal meminumnya.


“ Hari ini aku ke rumah sakit sebentar untuk tes darah. Mudah-mudahan bisa segera membaik. Tidak sampai siang sudah kembali. Kamu mau dibelikan apa?”


“ Tidak ada,” jawab Nara datar sambil memakan sarapannya sampai tidak ada yang terbuang dan Aryan masih setia menunggu di sampingnya.


“ Masa tidak ingin sesuatu? Sesekali mintalah, El. Aku ingin tahu kamu inginnya apa.”


“ Kalau aku minta kamu untuk menemui mamamu, memangnya kamu mau ?” jawab Nara seperti biasa dengan sewot sampai membuat Aryan tersenyum sendiri melihatnya.

__ADS_1


“ Aku usahakan , tapi tidak dalam waktu dekat. Aku butuh waktu. Hubunganku dengan mama tidak sesederhana yang kamu lihat.” Aryan nampak murung saat ini.


Nara yang sudah terlanjur dekat dengan Ayana kini seolah meminta Aryan untuk melawan ego yang ia pertahankan selama bertahun tahun lamanya.


Aryan kini sudah bersiap pergi bersama Jonas setelah memastikan Nara sudah makan dan meminum obatnya. 


“ Hari ini tetap di rumah, oke, Nanti aku atur kembali jadwalmu dengan pengajar.”


Nara mengangguk patuh hingga membuat Aryann gemas untuk mencubit pipinya. 


Sampai di rumah sakit, Aryan yang tidak ingin berlama di sana langsung melakukan serangkaian tes untuk penyakit hepatitis B yang entah ia dapat dari mana sehingga bisa menular ke istrinya.


Sembari menunggu hasilnya keluar, Aryan kemudian menemui psikiater untuk melakukan terapi seputar kontrol emosi yang selama ini selalu mengganggunya. Aryan ingin berubah menjadi pria yang bisa mengendalikan perasaan dan pikirannya sendiri.


Waktu sudah siang saat Aryan yang dinyatakan aman dari virus itu kembali kerumah dan dengan antusias ingin memberi kabar baik pada istrinya.


“ El , aku ada kabar baik, nih ! “ seru Aryan saat membuka pintu dan mendapati Nara tertidur di sofa ruang tengah dengan televisi menyala dan ponselnya juga menyala dengan sebuah tayangan video fashion show.


Tak ingin membangunkan, Aryan membiarkan istrinya tergeletak di sana tanpa memindahnya. Aryan sendiri kini memilih bekerja di rumah lalu duduk di meja kerja yang ia pindah mendekat ke ruang tengah agar tetap bisa melihat posisi istrinya. 


Jonas sudah menyiapkan perangkat laptop dan lainnya untuk Aryan yang mengikuti rapat secara virtual dari rumah.


Pria itu mulai menampakkan wajah serius saat sedang bekerja meski berada di rumah. Panggilan demi panggilan juga mewarnai harinya, hingga suara bentakan entah dengan siapa kini mengagetkan Nara yang kemudian mendongak memalingkan wajahnya ke hadapan Aryan yang bekerja begitu berisik di dekat ruang tengah.


“ Hiss ! Dasar ! Tetap saja, orang kejam mau diapain juga gak akan berubah !” gerutu Nara yang merasa Aryan sudah mengganggu waktu istirahatnya.


” Nyuruh-nyuruh istirahat tapi dia sendiri malah mengganggu!”


Nara menghentakkan langkahnya menuju kamar lalu menutup pintunya. Aryan bahkan tak memerhatikan Nara lewat di depannya karena saking seriusnya.


Nara akhirnya merebahkan diri di tempat tidur sambil memainkan ponselnya mencari apa saja di internet hingga ada satu hal yang kemudian membuatnya menahan air liur.


“ Apa ini? Kok kelihatannya enak sekali.”


Sebuah tayangan video dari seorang food vlogger membuatnya tertarik.” Duhh, enak banget kayanya dia makan. Bikin ngiler. Tapi ini dimana ya? Ck !” 


Waktu sudah semakin sore, Aryan masih berkutat dengan satu rapat ke rapat yang lainnya. Nara keluar dari kamar dan masih mendapati Aryan super sibuk bersama Jonas yang setia di dekatnya.


Nara menggigit bibir bawahnya saat maju mundur ia ingin sekali memanggil suaminya. Tak berani mengganggu, Nara hanya mencoba berjalan pelan di depannya, namun Aryan tak juga peka melihatnya. 


Sampai beberapa menit berlalu, Nara masih mondar mandir di hadapan suaminya yang bahkan mendongak saja tidak.


Nara jadi resah, karena ingin memanggil tapi antara takut dan gengsi. Tapi keinginannya sudah tak terbendung lagi. Entah dorongan dari mana ia ingin sekali makan bakmi yang seperti dilihatnya barusan.


Sampai kemudian Jonas yang melihatnya dengan wajah memelas,” Nyonya, Anda butuh sesuatu?”


“ Kakak, Jo….” Nara hanya berani menunjuk ke arah Aryan dan Jonas segera menepuk lengan Aryan pelan. 


“ Iya, El? Ada perlu sesuatu ? Kamu tadi panggil Jonas apa?” Aryan mematikan segera kamera videonya lalu menggeser sedikit laptopnya.


“ Kakak Jo,” jawab Nara terdengar begitu manja.


“ Hehh, Jonas ! Sejak kapan kamu main kakak adek sama istriku !”


Jonas segera tertunduk takut tak berani menjawab saat Aryan kemudian beranjak dari meja kerjanya.


“ Kenapa? Ada yang sakit?”


Nara menggeleng lalu menunjukkan video di ponselnya. “ Aku mau ini. Yang persis ini.”


“ Bakmi gerobak ? Baiklah aku minta Jonas carikan.”


“ Tidak mau ! Aku mau cari sendiri ! Harus yang bapak ini, bukan penjual yang lain !” 


Aryan sampai melongo dengan permintaan Nara yang tiba-tiba.” Jo, minta manager meneruskan meetingnya !” perintah Aryan kemudian.

__ADS_1


Kini Aryan menyetir mobilnya sendiri bersama Nara di sampingnya berbekal sebuah video yang tidak seberapa jelas itu. Hanya sebuah jalan tanpa nomor tempatnya, Aryan kini menyusuri jalan ibukota di sore hari yang begitu padat meski matahari juga belum tenggelam.


Sampai di jalan yang dituju, Aryan malah kebingungan karena tak menjumpai bakmi gerobak yang Nara inginkan. “ El, kita beli bakmi yang di tempat lain saja, ya ? Kita sudah menunggu hampir setengah jam ini. Abang gerobak itu kan tidak selalu lewat di jalan yang sama.”


“ Tidak mau ! Yang lain pasti rasanya gak seenak yang di video !” 


“ Semua bakmi juga sama saja El rasanya juga gitu-gitu aja.”


“ Kalau kamu gak mau nunggu biar aku tunggu sendiri aja !” ketus Nara mulai sewot. 


Hingga kemudian Aryan turun dan bertanya pada siapa saja yang ada dengan menunjukkan video itu. Namun Aryan malah tidak mendapat jawaban yang memuaskan.


“ El, kata orang-orang penjual bakmi itu berkeliling tidak hanya di sini. Kita cari yang lain aja, ya.”


“ Kok kamu nawar aku sih, Ar !” kesal Nara yang mulai uring-uringan sehingga membangkitkan emosi Aryan yang sebisa mungkin coba ia tahan. 


“ Oke, oke. Kita tunggu di sini. Kamu mau makan apa dulu buat ganjal perut ?”


“ Gak mau yang lain !” 


Seorang pria kemudian mengetuk pintu mobil dan meminta Aryan segera pergi karena kendaraannya sudah membuat jalan padat dengan berhenti terlalu lama di tepi jalan. 


Akhirnya Aryan melajukan mobilnya pergi dengan pelan sambil melihat ke segala arah siapa tahu gerobak mie yang diminta Nara lewat. Aryan kembali membelokkan mobilnya kini di halaman minimarket dan bertanya pada siapapun yang ditemuinya.


“ Wah, bakmi ini keluarnya malam, Mas. Jam segini belum ada.”


“ Malam ? “ Aryan mendesau lelah.” Malam jam berapa, ya?”


“ Tunggu aja jam sembilan atau sepuluh malam. Ini masih kesorean.”


Aryan kini menepuk jidatnya sendiri yang terlalu sore mencari sebuah bakmi saja. Kembali ke mobil Nara semakin cemberut. 


“ El, kata bapak itu, bakmi seperti ini baru keliling jam sembilan malam. Ini baru jam lima, bagaimana?”


Tanpa diduga Nara kini malah menangis seperti anak kecil yang merajuk tak mendapatkan apa yang ia inginkan. Hingga Aryan sendiri bingung bagaimana menenangkannya. 


Sampai kemudian terpaksa mereka menunggu di halaman minimarket dan Aryan sampai habis hampir satu pack rokok hanya untuk menunggu makanan yang tidak seberapa itu. Bahkan Nara menolak saat Aryan membelikan apa saja sebagai pengganjal lapar sementara.


Aryan sudah lelah menunggu sampai ia duduk di teras minimarket, kembali ke mobil sampai mengobrol tidak jelas dengan tukang parkir.


Akhirnya gerobak bakmi yang ditunggu lewat juga di jam sepuluh malam dan Aryan segera menghadang saat ada calon pembeli lain yang juga menunggu. 


“ Bapak yang ada di video ini, bukan ? “ 


Pria berkumis yang baru memarkir gerobaknya itu lantas mengangguk. 


“ Huuhh !” Aryan mendesau lega. “ Tolong bikinin buat istri saya dulu ! Saya bayar sepuluh kali lipat , istri saya lagi hamil !”


“ Oohh, lagi ngidam ya ?”


Aryan sudah berkacak pinggang bak mandor bangunan dan mengawasi penjual mie itu memasak hanya satu porsi untuk Nara. Dua lembar uang seratus ribu diberikan Aryan pada penjual mie itu lalu bergegas menuju mobil yang terparkir sejak sore.


“ El,  Lihat ini mie yang —"


Aryan membuka pintu mobil di sisi Nara yang ternyata istrinya sampai ketiduran karena lelah menunggu. 


“ Yahh, kasihan sampai ketiduran.” Aryan membuka bungkus mie untuk memancing aromanya supaya Nara terbangun.


“ El, bangun dong. Nih, bakminya sesuai permintaan tuan putri. Makan dulu, aku suapin , ya?” 


Namun bukannya bangun, Nara malah menggeliat menampik tangan suaminya sambil masih terpejam. 


“ Eeenghh, ngantuk !” sentak Nara sampai membuat Aryan terperanjat. 


“ Astaga , El. Kamu gak lagi ngerjain aku, kan?” 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2