
Adiba memilih mematikan ponselnya, mengakhir percakapan dengan Arsen yang membuatnya kesal saja.
Arsen yang tidak terima dimatikan sambungan ponselnya secara sepihak, segera melakukan panggilan lagi. Ia masih belum puas bicara dengan calon istrinya itu. Mungkin setelah sampai di tempat meeting ia belum tentu ada waktu longgar lagi untuk menghubungi Adiba.
Lama tidak ada sahutan, ia merasa kesal. Tetapi itu tidak membuatnya lelah untuk menekan kontak nomer yang ia beri nama 'ISTRI CANTIK', hingga panggilan kesepuluh baru terdengar suara dari sambungan teleponnya.
"Ada apa lagi sich?" ucap Adiba yang baru saja selesai menata sayuran didalam lemari pendingin.
"Dari mana kamu, kenapa lama sekali mengangkat panggilan dariku?" hardik Arsen. "Itu juga, aku belum selesai bicara kenapa sudah kamu matikan?" tanyanya lagi.
"Maaf tadi ada delivery mengantar pesanan kamu, makanya aku matikan."
"Kenapa harus dimatikan segala, kamu bisa meletakan sebentar lalu bicara lagi. Aku ngak suka kalau kamu mematikan sepihak panggilanku jika aku belum selesai bicara. Aku itu merindukan kamu, Sayang."
__ADS_1
Adiba hanya geleng-geleng kepala dengan ucapan Arsen.
"Kalau aku biarkan begitu saja, pasti kamu akan khawatir. Bukan begitu, Sen? Kamu pasti mengira terjadi sesuatu denganku, mungkin kamu kira aku pingsan atau ngak gitu aku diculik."
"Makanya itu kamu bilang, kamu tahu aku itu khawatir serta takut akan kehilangan kamu lagi. Aku ngak sanggup kalau tanpa kamu, sudah lain kali bilang ya apapun itu," ucap Arsen dengan memelas.
"Baik, Bos."
"Jangan bos, aku ini bukan bos kamu. Tepatnya aku ini calon suami kamu, panggil sayang, cinta atau honey," tawar Arsen.
Arsen menepuk jidatnya, "Sayang, aku ini bukan abang kamu. Aku ngak suka panggilan itu, panggil Sayang atau hondsome." Tegas Arsen.
"Ah, tidak mau. Aku panggil Mas aja lebih sopan, lebih menghargai. Kamu bisa panggil aku Dek, rasanya romantis dech," kekeh Adiba sambil membayangkan Arsen memanggilnya dek pasti lucu.
__ADS_1
Dek, apa romantisnya. Masih romantis dipanggil sayang.
"Baik, adek istriku yang cantik jelita bagaikan bidadari surga. Seraut wajah ayu nan indah rupawan. Sinar matamu pancarkan seberkas harapan. Anggun nan cantik parasmu penawar duka lara. Meraksuk dalam sukma menghapus luka dijiwa. Luhur budi pekerti gambaran keikhlasan hati. Seri wajah bercahaya lambang kesucian diri. Santun tutur kata lembut bak ayat penyejuk kalbu. Semakin buatku rindu akan hadirmu disisiku selalu. Pesona dibalik hijab wajahmu indah putih bersih. Tebarkan benih-benih cinta tumbuh penuh kasih. Kembangkan sekuntum senyuman nan menawan Bagaikan bunga-bunga ditaman bawa keindahan," ucap Arsen dengan senyum mengembang membayangkan bagaimana wanitanya tersipu malu.
Yuda yang mendengar perkataan puitis sang bos merasa kagum, sejak kapan sang bos mulai pintar merayu wanita. Biasanya wanitalah yang merayunya tapi kini sebaliknya.
"Sudah cepat kerja sana! Jangan ngegombal aja, pasti banyak wanita yang sudah kamu tipu dengan rayuan maut kamu,'kan?"
"Tidak ada, biasanya mereka yang merayuku. Kamu itu spesial tahu, aku dengan rendah hati merendahkan harga diriku demi kamu. Demi mendapatkan pasangan hidup seperti kamu, aku sungguh mencintai kamu," ucap lantang Arsen yang tidak sadar bahwa di tempatnya sekarang tidak sendiri.
Yuda mendengar ucapan sang bos tidak menyangka jika Tuan Arsen yang terkenal arogan, dingin bisa sebucin ini dengan wanita kelas rendah yang bekerja sebagai OB.
Bersambung...
__ADS_1
Mau lihat visual Adiba dan Arsen kepoin di ig ya : Duwi Sukema