
Arsen yang takut akan kehilangan wanitanya memilih untuk tidur di dalam kamar Adiba. Beruntung kamarnya tak terkunci dari dalam. Ia sengaja sudah membawa selimut tebal miliknya, tidak mungkin jika ia meminta selimut Adiba untuk berbagi. Rasanya itu tidak sopan dan sama saja ia tidak menghargai wanitanya.
"Tidur nyenyak sayang," kecup Arsen.
Ia segera membenarkan selimut Adiba yang berantakan untuk menutupi tubuh molek wanita didepannya. Ia menggangga melihat mahkota rambutnya terlihat hitam pekat begitu menambah nilai kesempurnaam tanpa mengenekan hijab dikepalanya.
"Cantik," puji Arsen. Ia rasanya tangan itu menyentuh lebih yang ada didepannya itu apa lagi ada sesuatu yang mengeras dibawa sana hanya karena melihat Adiba tanpa hijab dengan baju piyaman sedikit terbuka.
Ia dengan segera menyeret kakinya menuju sofa agar dirinya tidak terlalu berfantasi liar yang membuatnya tambah berdosa dan bersalah. Ia harus sedikit menahan demi kebahagian yang hakiki. Pada dasarnya nanti dia adalah milikmu seutuhnya. Pikir Arsen mulai mejamkan matanya dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Gemuruh menelan malam. Sang surya pun mulai bersinar. Senyum menghijau sambut pagi. Burung-burung bernyanyi dan menari memberikan kesejukan pandangku. Tetes embun yang mengiringi indahnya pagi ini, membelai pipi seakan mengajak bangun. Arsen belum mau beranjak dari kehangatan mentari pagi ini.
__ADS_1
Matahari muncul dari ufuk timur. Perlahan-lahan langit mulai menunjukkan warna orange. Ada sebuah gundukan di atas sofa yang di tutup selimut. Saat gundukan itu menggeliat, tampak kaki dan tangan miliknya. Pelan-pelan gundukan itu semakin menggeliat. Tak menyadari ia berada di ujung sofa. Ia pun akhirnya terjatuh dengan posisi tengkurap. Dadanya itu terasa sangat sakit. Mau tidak mau, ia pun bangun.
Kedua mata Arsen terbuka dari tidur lelapnya. Sinar dari timur yang menembus jendela kamar Adiba menyilaukan kedua bola mata ini. Cahaya kuning keemasan menghiasi langit pagi ini. Angin sejuk pagi berhembus pelan membelai lembut keningnya.
Ia memilih menuju kamar mandi seperti mandi pagi hari akan membuatnya semangat untuk menjalani hari-harinya. Selesai menguyur tubuhnya, ia baru sadar tidak membawa handuk dan ia teringat jika saat ini ia berada di kamar Adiba. Akhirnya ia memilih mengenakan boxer dan keluar dari kamar mandi berharap wanitanya masih terlelap tidur.
Ia membuka handle dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, tapi usahanya sia-sia.
Adiba yang mendengar suara mengercik air dari dalam kamar mandinya terusik akan tidurnya. Ia membuka matanya untuk memastika apa semalaman ia lupa mematika kran atau memang ada sesuatu yanh tidak beres didalamnya.
"Awu," teriak Adiba dengan menutupi kedua matanya dengan jari-jarinya. Jujur ini adalah pengalaman pertamanya melihat lawan jenisnya bertelanjang dada.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganku semalam? Apa aku dan Arsen telah melakukannya?" Batin Adiba yang tidak dapat mengingat jelas kejadian semalam.
"Pagi sayang," sapa Arsen dengan santainya menuju dekat ranjang.
Adiba dengan cekatan menutupi wajahnya dengan selimut.
"Jangan mendekat! Kamu mau apa?" selidik Adiba takut jika Arsen berbuat lebih.
"Mau memberi ucapan selamat pagi sekalian dengan morning kiss. Agar harimu menyenangkan," goda Arsen yang duduk di tepi ranjang.
Adiba yang merasakan busa ranjangnya sedikit mantul akibat diduduki Arsen menjadi gugup.
__ADS_1
"Sayang, ayo lah!" goda Arsen semakin dekat lagi.
Bersambung..