Wedding Agreement

Wedding Agreement
Rencana bulan madu


__ADS_3

“ Tidak ada yang bersih-bersih rumah !” sahut Aryan yang menghampiri mereka ke ruang makan.” Kapan bik Ina cuti? Urusan di sini semua tanggung jawab saya, bik Ina tidak perlu khawatir.”


Nara melirik sebal ke arah Aryan yang jika sudah bicara dengan nada meninggi artinya sudah tidak dapat diganggu gugat. Apalagi dengan pakaian kerja lengkapnya, Aryan kini menjelma bak seorang Raja yang bila sudah bertitah, tak dapat dibelokkan lagi oleh siapapun.


“ Minggu depan, Tuan Muda.”


“ Kalau begitu saat bik Ina cuti saya bawa Nara pergi bulan madu saja !”


“ Ukhuuuukk !” Nara sampai tersedak mendengar kata bulan madu yang sangat tak diduganya.


“ Bulan madu?” tanya Nara mengandung keraguan saat Aryan sudah akan pergi bekerja. 


“ Kenapa? Kita memang belum pergi bulan madu kan setelah menikah ?”


Aryan yang akan pergi malah berbalik menghampiri istrinya yang akhirnya mengembalikan sendiri semua barang di meja kerjanya yang sempat di obrak abrik oleh Aryan tadi. 


“ Katakan, kamu mau kita kemana? Bali ? Lombok ? Atau Raja Ampat?”


Elnara menoleh lalu menyipitkan matanya pada Aryan yang menampakkan wajah tanpa dosa. 


“ Aryan, saat aku ingin menjenguk ibuku waktu itu kamu menjawab apa ?”


Jlebb !


Aryan terkesiap dan lupa akan ucapannya sendiri. Ia lupa bahwa Nara hanya butuh bersama ibunya, bukan rangkaian kesenangan yang akan ia tunjukkan padanya. 


“ El, soal itu aku……”


“ Sudahlah ! Aku tidak butuh menyenangkan diri sementara ibuku di sana sedang berjuang dengan sakitnya. Aku tidak ingin bulan madu atau apapun itu !” 


Nara sudah menampik tubuh suaminya yang juga hanya bisa merayu dengan cara memberikan stimulasi cinta untuknya. 


“ Maaf, soal itu aku pasti usahakan. Kita akan pergi bersama dan ibumu juga saatnya tahu kalau anaknya di sini sudah ada yang menjaga.”


Cup !

__ADS_1


Sebuah kecupan mendarat di pipi Nara dari Aryan yang kini menggiring wajahnya untuk saling berhadapan. Pria itu tidak perlu meminta izin apapun lagi untuk menyentuh istrinya . 


“ Baik- baik di rumah, ya sama Mommy. Daddy pergi bekerja dulu.” 


Wanita itu lantas mengusap bekas kecupan suaminya di pipi lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mommy, Daddy ?” ucap Nara yang aneh sendiri dengan panggilan itu. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapat panggilan itu sebentar lagi. 


Hari-hari dilalui Nara hanya berada di rumah dengan melakukan private class melalui layar tabletnya saja. Sementara Aryan masih dengan kesibukannya mendadak ada di luar kota beberapa hari hingga tidak mengizinkan Nara berada di luar rumah sementara waktu.


Pria itu makin over protective dengan kondisi kehamilan istrinya dengan kekhawatiran terjadi banyak hal jika ia tidak bersamanya. 


Dan untungnya Nara pun menurut, terlebih Aryan membelikannya mesin jahit baru hingga Nara bisa tetap produktif selama berada di rumah. 


“ Silahkan susunya, Nyonya Muda. Tuan Aryan baru saja menghubungi bibi, katanya ponsel Nyonya tidak bisa dihubungi.”


Nara yang masih sibuk dengan tugasnya itu kemudian mengecek ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja sejak pagi. 


“ Eh, iya. Saya lupa ngecharge, Bik.” kalau sudah terlanjur asik dengan kesibukannya, Nara bisa melupakan apapun hingga Aryan yang ingin mengecek keadaannya jadi tidak bisa menghubunginya. 


Dan benar saja, baru mengisi daya, ponsel Nara sudah berdering dengan nama yang membuatnya ketar ketir. Akhirnya Nara mengangkat panggilan video itu dengan menggeser layarnya ke atas lalu menegakkan ponselnya dengan posisi kabel masih menancap. 


“ Akhirnya bisa juga dihubungi !” ketus Aryan yang moodnya saat ini sedang buruk. Wajahnya tampak kusut karena banyaknya tekanan pekerjaan ditambah ponsel istrinya yang tidak bisa dihubungi membuat Aryan kembali uring-uringan. 


“ Maaf, aku lupa ngecharge,” jawab Nara dengan bibir mengerucut dan nada suara yang begitu manja. 


“ Lupa kenapa setiap hari. Kamu ini sudah dikasih waktu mengerjakan apa yang kamu sukai malah melupakan hal kecil begitu saja !”


Nara hanya bisa menghela napas saat ini. Aryan masih mengomel dan ia harus menelannya mentah-mentah dan menerima semua ceramahan dari suaminya, meski Aryan membuat telinganya panas. 


“ Iya, iya. Maaf banget, sekarang mau apa ?” sahut Nara dengan nada lembut berharap agar suaminya berhenti memarahinya.


“ Masih tanya lagi mau apa ! “ ucap Aryan yang masih saja ketus pada Nara bahkan istrinya itu sampai mengelus dadanya sambil berkata di dalam hatinya ,” Sabar.sabar.”


Nara menjadi pelampiasan suaminya sendiri hanya karena masalah kecil saja. Padahal Aryan juga bisa tahu kabar dirinya dari bik Ina. 


“ Kamu ini  bisa dikhawatirkan apa tidak !”

__ADS_1


“ Kamu kenapa sih, Ar ! Kan sudah tahu aku di sini seperti apa kenapa masih tanya ? Pakai bentak-bentak lagi. Toh kamu juga barusan sudah menghubungi bik Ina , kan ? Kalau ada masalah sendiri bawa jauh sana, kenapa aku kamu jadikan pelampiasan !” balas Nara tak kalah sengit karena Aryan yang terus saja marah-marah tidak jelas sampai membentaknya. 


Nara sudah membuang wajahnya kesal lalu meminum susunya hingga tandas dalam sekali minum kemudian membanting alas gelasnya dengan keras di permukaan meja. Nara membiarkan saja Aryan yang sedari tadi marah-marah tidak jelas padanya hingga kemudian terdengar suara Aryan yang membentak seseorang entah siapa di sana. Ponsel masih menyala dengan pemandangan Aryan yang meluapkan emosi pada orang di depannya. 


Nara mengecilkan volume suara ponselnya lalu memilih melanjutkan pekerjaannya daripada menyaksikan wajah Aryan yang sudah tiga hari ini tak dilihatnya secara langsung itu namun seperti singa marah yang menyebalkan .


“ Elnara !” panggil Aryan dengan nada tinggi .


” Apa bagus kalau suami sedang bicara kamu memalingkan wajah seperti itu?”


“ Apa? Mau marahi aku lagi ? Aku sudah meminum susu, sudah makan siang, sudah minum vitamin dan tidak begadang. Dan ponsel ini akan terus menancap di listrik supaya kamu bisa memantauku dua puluh empat jam ! Kembalilah bekerja, aku tidak suka kalau kamu menelpon hanya untuk memarahiku .”


Dan saat ini Aryan langsung mematikan panggilannya hingga Nara membanting kedua tangannya kesal ke atas meja. 


“ Sabar Nyonya Muda. Mungkin Tuan Aryan sedang banyak masalah di tempat kerja” bik Ina mencoba menghibur Nara sambil mengelus kedua pundaknya dari belakang. 


“ Dasar manusia aneh ! Kenapa banyak sekali wanita yang mau sama dia,Bik ? Hissshh amit-amit ! Semoga sifat buruk bapaknya tidak akan menurun pada anak ini!” 


Bik Ina sampai tertawa geli karena Nara sampai mengelus perutnya dengan kesal.” Wanita yang ingin bersama Tuan Aryan memang banyak sekali, Nyonya. Tapi hanya Nyonya yang mampu menaklukan keangkuhan Tuan Muda.” 


“ Haaiish, menaklukan apanya. Yang ada saya stress kalau berhadapan sama dia dengan sikap seperti itu. Enak saja main marah-marah dan bentak-bentak !”


Nara pun tak bernafsu melanjutkan pekerjaannya lagi dan memilih masuk ke kamar dan mencari angin segar di teras balkon kamarnya. Pemandangan gedung pencakar langit Jakarta menjadi tempatnya healing seraya menunggu gurat senja tenggelam menghiasi langit ibu kota. 


Rasa-rasanya menyendiri seperti ini bisa menjadi hiburan mewah baginya dengan semilir angin yang menyapu wajah dan menerbangkan helaian rambutnya. Sekian lama Nara masih menikmati kesendiriannya sampai langit sudah benar-benar berubah menjadi gelap. Suara pintu yang terbuka kemudian membuat Nara spontan menoleh. Sebuah langkah besar terdengar menghampirinya. 


“ Aryan ?” Nara terheran saat suaminya itu tiba-tiba muncul tanpa memberitahu kalau dia akan pulang. 


“ El !” tanpa basa basi, Aryan langsung menangkap tubuh istrinya lalu mencium bibir Nara yang membuat istrinya langsung mendelik tak siap. 


Tiba-tiba datang dan tiba-tiba pula membungkam bibirnya dengan ciuman ganas dengan hembusan napas yang menderu hebat. Aryan memainkan pangutannya begitu mendalam sampai tak peduli bahwa Nara akan kehilangan oksigen sebentar lagi. 


“ Hahh..!” Nara meraup udara sebanyak-banyaknya segera saat berhasil melepaskan tautan bibirnya . Napasnya tersengal hebat dengan kesal karena Aryan tak memberinya ruang untuk bernapas. 


“ Maaf, El . Aku tidak bermaksud memarahimu tadi. Beberapa hari tanpa kamu aku begitu resah. Aku kehilangan semangatku saat jauh darimu, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku !” 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2