
Bagaimana Nara tidak terharu saat ini, bukan masalah kue coklat yang menggugah selera, namun ada orang lain seperti bik Ina yang begitu perhatian padanya.
“ Terima kasih, Bik. Selamat hari ibu juga untuk bik Ina. Terima kasih sudah menjadi ibu saya selama di sini,” ucap Nara lirih dengan perasaan mengharu biru lalu memeluk erat wanita yang telah dianggapnya sebagai ibunya sendiri saat ini.
Ingin berterima kasih pada bik Ina. Nara kini memesan sebuah hadiah hari Ibu untuk wanita itu yang akan dikirimkan secara paket hari ini juga.
Nara mengusap wajahnya karena seketika teringat dengan sang ibu yang sedang jauh darinya. Dicobanya menghubungi ponsel sang ibu yang kini ada di tangan salah seorang perawat. Sekali dua kali panggilannya belum ada jawaban hingga membuat Nara merasa cemas saat ini. “ Ibu sedang apa, ya ? Kok gak diangkat?”
Akhirnya di panggilan ke empat, panggilan videonya mendapat jawaban hingga Nara memekik kegirangan saat melihat wajah sang ibu yang terbaring lemah.
“ Ibu. Ibu sedang apa di sana ?” tanya Nara tidak ingin menampakkan kesedihan meski ia sangat nelangsa melihat kondisi ibunya dengan kepala berselimut perban putih pasca operasi untuk yang kesekian kalinya.
Yunita yang ada di seberang panggilan hanya tersenyum haru melihat wajah putrinya.
“ Ibu, Selamat hari Ibu, semoga kita segera bersama kembali seperti dulu,” lirih Nara menahan getir di dadanya saat tidak bisa memeluk raga ibunya.” Semoga ibu lekas sembuh, Nara akan menjemput Ibu dan kita akan berdua lagi seperti dulu,” lanjut Nara dengan napas tersengal dan berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis di depan ibunya.
“ Nara…….”
“ Iya, Bu. Nara di sini baik-baik saja. Ibu harus tetap semangat dan kuat demi Nara. Ibu gak boleh menyerah, Nara sayang ibu.”
Nara melepaskan tangisnya setelah mematikan panggilannya. Ia begitu terguncang tak tega melihat kondisi sakit radang otak yang menyerang ibunya hingga kesulitan bergerak meski sudah mendapat pengobatan nomor satu di luar negeri.
Bik Ina segera memeluk Nara yang menangis sejadi-jadinya. Nara bisa saja tidak merasakan kesakitan yang menimpanya, namun ia tidak akan bisa melihat sang Ibu yang diserang penyakit ganas seperti itu.
Nara memeluk Bik Ina seolah wanita itu adalah ibunya dan Nara pun tak sungkan mengeluarkan kesedihannya.
“ Sabar, Nyonya Muda. Ibu anda pasti akan sembuh dan bisa bersama di sisi anda lagi.”
“ Saya sedih tidak bisa ada di sisi Ibu saat ini, Bik,” lirih Nara kembali terguncang meski merasakan perutnya yang tidak nyaman saat ini.
Hingga kemudian pintu rumah mereka terbuka dari luar dan Aryan yang baru masuk mendapati sang istri yang menangis di pelukan bik Ina.
“ Lho, ada apa ini ?” tanya Aryan langsung melebarkan langkahnya menggantikan raga bik Ina memeluk Nara saat ini.
“ Nyonya muda baru saja menelpon ke Singapura, Tuan.”
“ Benar itu, El . Apa ada yang gawat ?” Aryan ikut khawatir mengingat reaksi Nara yang begitu emosional.
Nara menggeleng dan menenggelamkan wajahnya di tubuh Aryan yang baru saja pulang. Merasakan perutnya semakin tidak enak, Nara kini mencoba meredam sendiri emosinya dengan mengatur napas sebisa mungkin.
“ El, tolong jangan terlalu emosional. Ingat anak kita.”
“ Ar, tolong bawa aku ke kamar.” Nara mengangkat wajahnya lalu mengernyit menahan sakit di area perutnya.
Aryan segera membopong tubuh istrinya ke tempat tidur lalu mengelus bagian perut yang menonjol dan terasa sekali mengeras tempat dimana calon buah hati mereka berada.
“ Sayang, maafkan mommy,ya. Mommy lagi sedih, kamu jadi ikut merasa sedih. Jangan bergejolak di dalam situ, ada Daddy di sini. Tenang ya.”
Dan benar saja , gejolak di dalam perutnya seakan mereda dan Nara bisa lega saat ini.
“ Terima kasih,” ucap Nara merasa tidak enak hati karena ia mudah sekali menangis hingga membuat janinnya ikut merasakannnya.
“ Tadi kenapa menangis, hem ?” Aryan mengusap air mata Nara yang sudah membuat wajahnya sembab memerah.
“ Hari ini hari ibu, Ar. Aku sedih tidak bisa memeluk ibu, apalagi dengan kondisi seperti itu.”
“ Sabar , ya. Semua pasti akan indah suatu saat nanti. Sekarang istirahatlah. Aku mau mandi dulu.”
“ Aryan !” panggil Nara saat suaminya akan beranjak ke kamar mandi. “ Aku tadi membelikan bik Ina hadiah hari ibu, tidak apa kan ?”
Aryan mengangguk lalu melepas kancing kemejanya. " Bik Ina juga ibu kita, El. Aku saja yang tidak pernah mengucapkan apapun pada dia.”
“ Kalau aku mengirim bunga untuk Oma , boleh ?”
“ Apapun yang kamu inginkan lakukanlah.” Aryan mengacak rambut Nara lalu bergegas menuju kamar mandi.
Sementara Nara kini memesan buket bunga beserta ucapannya pada Oma Herlina, meski ingin sekali ia mengucapkan secara langsung pada wanita tua itu. Namun keberadaan Opa Haris yang selalu membuatnya takut membuat ia mengurungkan niat itu untuk sebisa mungkin meminimalisir pertemuan dengan mereka.
Barang yang dipesan Nara untuk bik Ina sudah datang dan dibawakan oleh petugas layanan gedung ke unit mereka.
__ADS_1
“ Bik Ina , ini untuk bibi. Sekali lagi selamat hari ibu dari dua anak bibi yang merepotkan ini,” ucap Nara lalu memberikan sebuah paper bag berisi kotak tebal dengan ukuran sedang itu pada bik Ina.
“ Wahhh, El. Aku aja gak pernah seromantis ini pada bik Ina,” puji Aryan saat menikmati sarapan paginya.
“ Nyonya , ini…… bibi tidak perlu hadiah apapun. Asal melihat Tuan Muda dan Nyonya bahagia, bibi pun ikut senang.”
“ Tidak apa, bik , Diterima, ya.”
“ Buka dong, bik,” pinta Aryan penasaran dengan apa yang dibelikan sang istri untuk wanita yang sudah sejak lama mengabdi padanya itu.
Sebuah kalung emas berkilau membuat bik Ina membulatkan bibirnya sampai tidak bisa berkata-kata.” Nyonya…..”
“ Sini saya pakaikan, Bik.”
Nara langsung mencium pipi bik Ina dan memeluknya manja . Setidaknya keberadaan bik Ina bisa menjadi obat rindu bagi Nara pada ibunya yang kini jauh.
Ponsel Nara kini berdering nyaring dari arah kamar saat mereka bertiga sedang bersama di ruang makan. Ternyata nomor Oma Herlina yang melakukan panggilan video padanya.
Nara segera mengusap layar ponselnya dan langsung menunjukkan wajah Oma yang memegang sebuah buket bunga. “ Nara ,sayang. Kamu yang mengirim ini, Nak?”
“ Iya, Oma. Selamat hari ibu, Oma. Nara sayang Oma,” ucap Nara begitu terdengar tulus sampai Oma Herlina terharu .” Oma kenapa menangis ?”
“ Oma terharu, sayang. Entah sudah berapa puluh tahun tidak ada yang mengucapkan hari ibu untuk Oma. Selamat hari ibu juga untuk calon ibu dari cicit Oma, ya.”
Nara langsung membuang pandangannya pada Aryan yang mengikutinya duduk di sofa kamar lalu menampakkan wajahnya di layar. “ Oya? Selama itu, Oma ? cucu oma yang satu-satunya ini apa tidak pernah mengucapkan ?”
Aryan langsung mengerutkan dahinya tanpa dosa.” Ucapan seperti itu kan tidak harus diucapkan, El. Semua juga tahu kalau kau sayang sekali pada Oma. Iya, kan?” jawab Aryan Bagaimana Nara tidak terharu saat ini, bukan masalah kue coklat yang menggugah selera, namun ada orang lain seperti bik Ina yang begitu perhatian padanya.
“ Terima kasih, Bik. Selamat hari ibu juga untuk bik Ina. Terima kasih sudah menjadi ibu saya selama di sini,” ucap Nara lirih dengan perasaan mengharu biru lalu memeluk erat wanita yang telah dianggapnya sebagai ibunya sendiri saat ini.
Ingin berterima kasih pada bik Ina. Nara kini memesan sebuah hadiah hari Ibu untuk wanita itu yang akan dikirimkan secara paket hari ini juga.
Nara mengusap wajahnya karena seketika teringat dengan sang ibu yang sedang jauh darinya. Dicobanya menghubungi ponsel sang ibu yang kini ada di tangan salah seorang perawat. Sekali dua kali panggilannya belum ada jawaban hingga membuat Nara merasa cemas saat ini. “ Ibu sedang apa, ya ? Kok gak diangkat?”
Akhirnya di panggilan ke empat, panggilan videonya mendapat jawaban hingga Nara memekik kegirangan saat melihat wajah sang ibu yang terbaring lemah.
“ Ibu. Ibu sedang apa di sana ?” tanya Nara tidak ingin menampakkan kesedihan meski ia sangat nelangsa melihat kondisi ibunya dengan kepala berselimut perban putih pasca operasi untuk yang kesekian kalinya.
Yunita yang ada di seberang panggilan hanya tersenyum haru melihat wajah putrinya.
“ Ibu, Selamat hari Ibu, semoga kita segera bersama kembali seperti dulu,” lirih Nara menahan getir di dadanya saat tidak bisa memeluk raga ibunya.” Semoga ibu lekas sembuh, Nara akan menjemput Ibu dan kita akan berdua lagi seperti dulu,” lanjut Nara dengan napas tersengal dan berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis di depan ibunya.
“ Nara…….”
“ Iya, Bu. Nara di sini baik-baik saja. Ibu harus tetap semangat dan kuat demi Nara. Ibu gak boleh menyerah, Nara sayang ibu.”
Nara melepaskan tangisnya setelah mematikan panggilannya. Ia begitu terguncang tak tega melihat kondisi sakit radang otak yang menyerang ibunya hingga kesulitan bergerak meski sudah mendapat pengobatan nomor satu di luar negeri.
Bik Ina segera memeluk Nara yang menangis sejadi-jadinya. Nara bisa saja tidak merasakan kesakitan yang menimpanya, namun ia tidak akan bisa melihat sang Ibu yang diserang penyakit ganas seperti itu.
Nara memeluk Bik Ina seolah wanita itu adalah ibunya dan Nara pun tak sungkan mengeluarkan kesedihannya.
“ Sabar, Nyonya Muda. Ibu anda pasti akan sembuh dan bisa bersama di sisi anda lagi.”
“ Saya sedih tidak bisa ada di sisi Ibu saat ini, Bik,” lirih Nara kembali terguncang meski merasakan perutnya yang tidak nyaman saat ini.
Hingga kemudian pintu rumah mereka terbuka dari luar dan Aryan yang baru masuk mendapati sang istri yang menangis di pelukan bik Ina.
“ Lho, ada apa ini ?” tanya Aryan langsung melebarkan langkahnya menggantikan raga bik Ina memeluk Nara saat ini.
“ Nyonya muda baru saja menelpon ke Singapura, Tuan.”
“ Benar itu, El . Apa ada yang gawat ?” Aryan ikut khawatir mengingat reaksi Nara yang begitu emosional.
Nara menggeleng dan menenggelamkan wajahnya di tubuh Aryan yang baru saja pulang. Merasakan perutnya semakin tidak enak, Nara kini mencoba meredam sendiri emosinya dengan mengatur napas sebisa mungkin.
“ El, tolong jangan terlalu emosional. Ingat anak kita.”
“ Ar, tolong bawa kau ke kamar.” Nara mengangkat wajahnya lalu mengernyit menahan sakit di area perutnya.
__ADS_1
Aryan segera membopong tubuh istrinya ke tempat tidur lalu mengelus bagian perut yang menonjol dan terasa sekali mengeras tempat dimana calon buah hati mereka berada.
“ Sayang, maafkan mommy,ya. Mommy lagi sedih, kamu jadi ikut merasa sedih. Jangan bergejolak di dalam situ, ada Daddy di sini. Tenang ya.”
Dan benar saja , gejolak di dalam perutnya seakan mereda dan Nara bisa lega saat ini.
“ Terima kasih,” ucap Nara merasa tidak enak hati karena ia mudah sekali menangis hingga membuat janinnya ikut merasakannnya.
“ Tadi kenapa menangis, hem ?” Aryan mengusap air mata Nara yang sudah membuat wajahnya sembab memerah.
“ Hari ini hari ibu, Ar. Aku sedih tidak bisa memeluk ibu, apalagi dengan kondisi seperti itu.”
“ Sabar , ya. Semua pasti akan indah suatu saat nanti. Sekarang istirahatlah. Aku mau mandi dulu.”
“ Aryan !” panggil Nara saat suaminya akan beranjak ke kamar mandi. “ Aku tadi membelikan bik Ina hadiah hari ibu, tidak apa kan ?”
Aryan mengangguk lalu melepas kancing kemejanya. ‘ Bik Ina juga ibu kita, El. Aku saja yang tidak pernah mengucapkan apapun pada dia.”
“ Kalau aku mengirim bunga untuk Oma , boleh ?”
“ Apapun yang kamu inginkan lakukanlah.” Aryan mengacak rambut Nara lalu bergegas menuju kamar mandi.
Sementara Nara kini memesan buket bunga beserta ucapannya pada Oma Herlina, meski ingin sekali ia mengucapkan secara langsung pada wanita tua itu. Namun keberadaan Opa Haris yang selalu membuatnya takut membuat ia mengurungkan niat itu untuk sebisa mungkin meminimalisir pertemuan dengan mereka.
Barang yang dipesan Nara untuk bik Ina sudah datang dan dibawakan oleh petugas layanan gedung ke unit mereka.
“ Bik Ina , ini untuk bibi. Sekali lagi selamat hari ibu dari dua anak bibi yang merepotkan ini,” ucap Nara lalu memberikan sebuah paper bag berisi kotak tebal dengan ukuran sedang itu pada bik Ina.
“ Wahhh, El. Aku aja gak pernah seromantis ini pada bik Ina,” puji Aryan saat menikmati sarapan paginya.
“ Nyonya , ini…… bibi tidak perlu hadiah apapun. Asal melihat Tuan Muda dan Nyonya bahagia, bibi pun ikut senang.”
“ Tidak apa, bik , Diterima, ya.”
“ Buka dong, bik,” pinta Aryan penasaran dengan apa yang dibelikan sang istri untuk wanita yang sudah sejak lama mengabdi padanya itu.
Sebuah kalung emas berkilau membuat bik Ina membulatkan bibirnya sampai tidak bisa berkata-kata.” Nyonya…..”
“ Sini saya pakaikan, Bik.”
Nara langsung mencium pipi bik Ina dan memeluknya manja . Setidaknya keberadaan bik Ina bisa menjadi obat rindu bagi Nara pada ibunya yang kini jauh.
Ponsel Nara kini berdering nyaring dari arah kamar saat mereka bertiga sedang bersama di ruang makan. Ternyata nomor Oma Herlina yang melakukan panggilan video padanya.
Nara segera mengusap layar ponselnya dan langsung menunjukkan wajah Oma yang memegang sebuah buket bunga. “ Nara ,sayang. Kamu yang mengirim ini, Nak?”
“ Iya, Oma. Selamat hari ibu, Oma. Nara sayang Oma,” ucap Nara begitu terdengar tulus sampai Oma Herlina terharu .” Oma kenapa menangis ?”
“ Oma terharu, sayang. Entah sudah berapa puluh tahun tidak ada yang mengucapkan hari ibu untuk Oma. Selamat hari ibu juga untuk calon ibu dari cicit Oma, ya.”
Nara langsung membuang pandangannya pada Aryan yang mengikutinya duduk di sofa kamar lalu menampakkan wajahnya di layar. “ Oya? Selama itu, Oma ? cucu oma yang satu-satunya ini apa tidak pernah mengucapkan ?”
Aryan langsung mengerutkan dahinya tanpa dosa.” Ucapan seperti itu kan tidak harus diucapkan, El. Semua juga tahu kalau aku sayang sekali pada Oma. Iya, kan?” jawab Aryan santai saat Oma dengan senangnya menghirup aroma harum buket bunga yang ada di tangannya.
“ Ya, paling tidak ucapan seperti ini bentuk perhatian kecil kita ke orang tua, Aryan !”
“ Nah, dengar itu, Ar ! Kamu bahkan tidak pernah memperhatikan hal kecil seperti yang Nara lakukan. Dasar cucu tidak romantis kamu !”
Nara terkekeh saat Oma menyembur cucunya yang begitu cuek untuk hal seperti ini. Panggilan sudah berakhir dan kini Nara menampakkan wajah serius pada suaminya.
“ Aryan, aku sudah pesan satu buket bunga lagi dan siang ini sampai ke sini.”
“ Untuk siapa lagi, El ?”
Nara menghela napasnya berat sebelum melanjutkan bicaranya.” Untuk mama Ayana, ibu kamu, Ar. Apa kamu juga tidak ingin mengucapkan hari ibu untuk ibu yang melahirkanmu?”
Jleb !
Nara kini seperti menusukkan benda runcing ke dalam perasaannya.” Aryan, di momen yang bagus seperti ini, kamu tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengan ibumu sendiri ? Tolong sisihkan egomu sedikit saja. Terima kembali permintaan maaf seorang ibu. Aku ingin menemui Mama Ayana, tolong antarkan aku. Biar bagaimana beliau juga ibuku, kan ?”
__ADS_1
.
...****************...