Wedding Agreement

Wedding Agreement
138 eps 138


__ADS_3

"Itu sudah jadi tugas seorang istri yang harus ikut kemanapun suaminya pergi. Sudah jangan merasa bersalah," ucap Raka. "Papa membersihkan diri dulu ya, kamu tunggu sebentar habis ini kita lanjut ngobrol," ucapnya lagi.


"Baik pah."


"Oya kamu pasti capek, kamu rebahan sana di kamar," perintah Raka.


Ega hanya menyengir karena ia tidak tahu letak kamar istrinya.


"Pah, aku," ucap Ega merasa malu melanjutkan perkataannya. Ia seperti menantu durhaka sudah menikah dengan putri Raka Wijaya hampir setahun lebih tapi belum pernah datang atau menginap dikediamanan sang mertua.


Raka paham akan maksud menantunya.


"Pah, aku sungguh keterlaluan, tidak pernah berkunjung kemari. Maafkan kami," ucap sendu Ega.


"Nak, papa paham dengan posisi kamu yang menjadi pimpinan di banyak perusahaan. Semua orang membutuhkan kamu, kita melakukan silaturahmi melalaui video call setiap akhir pekan itu sudah mengobati rasa rindu kami. Sudah jangan menyalahkan dirimu begitu, ayo aku antar ke kamar Asha ralat kamar kalian," tawa Raka.

__ADS_1


Ega segera berjalan mengekori mertuanya menuju lift yang akan membawa ke lantai 3. Ya rumah Raka dan Aira berlantai 3, disana berjejer kamar Asha dan Nabila sedangkan lantai dua kamar Nathan juga tempat berkumpul keluarga. Sedangkan Raka dan Aira memilih lantai dasar karena alasan usia yang sudah malas naik turun tangga walaupun sebenarnya ada lift.


Di depan pintu kayu berwarna gold dengan ukiran-ukiran bagaikan emas Raka menghentikan langkah kakinya.


"Istirahatlah, ini kamar kalian, menginaplah lebih lama disini semoga kamu betah dan nyaman. Tapi beginilah keadaan gubuk orangtua istrimu," tutur Raka merendahkan diri.


"Pasti, pah. Kalau ini menurutku sudah seperti istana."


Walaupun ia memiliki kekayaan yang setara dengan Raka Wijaya, ia tidak pernah memiliki rumah mewah seperti ini yang luasnya beberapa hektar jika beli ia sebenarnya mampu tapi ia memilih apartemen karena ia hanya hidup sebatang kara.


"Papa ke bawah dulu," pamit Raka


Rapi, tidak ada yang berbeda dengan kamar lainnya yang pernah ia lihat. Ternyata istrinya juga tidak suka memajang foto dirinya sendiri di dinding.


Ega meletakan kopernya begitu saja, ia melangkah kakinya menuju ke arah jendela untuk membuka tirai-tirai gorden agar sirkulasi udara masuk kedalam. Kamar yang selalu terawat walau tidak ada penghuninya.

__ADS_1


Ega berjalan menuju meja belajar yang berdekatan dengan buku-buku berjejer tersusun rapi hampir tiga rak tinggi bermacam-macam buku koleksi sang istri bisa di katakan jika ini adalah perpustakaan Asha.


Kamar yang luasnya seperti perumahan yang pernah ia huni dulu saat mereka masih pengantin baru. Beginilah kehidupan orang kaya sesungguhnya batin Ega menyadarkan punggungnya disandar sofa.


Asha masuk dengan membawa teko berisi air putih dengan satu gelas jus jeruk.


"Mas, minum dulu pasti tenggorokan mas kering."


Benar yang di katakan istrinya memang dirinya sangat haus karena cuaca yang berbeda membuat dirinya mudah berkeringat.


"Tadi bunda sudah menyuruh bi Iyah untuk mengisi lemari pendingin yang sudah lama kosong itu," ucap Asha yang memang setiap kamar ada lemari pendingin yang kecil yang berisi buah-buah segar serta makanan ringan.


"Tidak perlu, sayang."


"Mas, jika tidak diisi kalau malam hari kita haus dan lapar gimana?" jelas Asha.

__ADS_1


Bersambung..


yang mau baca kisah Diana baca single mom ya sdh ada 10 eps..di aplikasi baca sebelah pastinya gratis..😘😘😘😀


__ADS_2