
"Kalau kamu tetap begini bagaimana aku bisa makan, sudah ayo duduk kita makan bersama. Lihat tubuhmu kurus perutmu besar seperti orang cacingan saja," ledek Ega.
Asha melototkan matanya tidak terima jika ia dikatakan sakit cacingan jelas-jelas perutnya besar karena ulah suaminya. Ia duduk lalu membelakangi suaminya karena kesal.
Ega melihat istrinya marah itu tertawa geli, sudah lama ia tidak melihat istrinya gambek atau merajuk.
"Jelas-jelas aku ini mengandung anakmu," cabik Asha menurunkan kakinya untuk pergi meninggalkan suaminya yang masih berbaring di ranjang pasien.
Ega dengan cekatan beranjak bangun lalu memeluk istrinya dari belakang.
"Maafkan aku sayang, aku hanya ingin membuatmu marah. Kalau kamu marah cukup menggemaskan," lirih Ega dengan menempelkan dagunya di bahu istrinya sesekali mencium leher jenjang istrinya.
__ADS_1
Aneh sekali ingin aku marah, dulu aja dia selalu mewanti-wanti aku agar tidak muda emosi karena wanita hamil harus menjaga mood baik batin Asha.
"Lepaskan, mas! Aku mau duduk di sofa, punggungku rasanya sakit sekali ini. Kamu istirahatlah! Kamu juga baru sadar dari koma jadi jangan banyak gerak," Asha mengingatkan suaminya.
Ega mendapatkan keluhan dari istrinya membopong Asha menuju sofa dengan sedikit menahan sakit pada tubuhnya. Ia mengabaikan rasa sakitnya yang terpenting saat ini ia ingin membuat istrinya bahagia disisa umurnya yang tidak tahu akan pergi meninggalkan orang-orang yang ia cintai.
Asha melihat sedikit pucat wajah suaminya mulai khawatir akan terjadi sesuatu dengan Ega. Ia segera menyodorkan gelas berisi air minum, membantunya untuk meneguknya.
"Mas wajah kamu pucat sekali, kamu juga terlihat lemas. Aku panggilkan dokter dulu ya," tutur Asha berdiri.
"Mas kenapa pucat sekali, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Tolonglah, mas kamu nurut apa kataku! Kata dokter, aku dan anak ini butuh kamu," ucap Asha sambil terisak.
__ADS_1
"Sayang, aku baik-baik saja. Aku pucat dan lemas itu karena aku belum makan, kata kamu aku koma satu bulan jelas saja aku pucat tidak ada tenaga selama itu aku tidak makan kan? Coba kau beri aku makan pasti aku akan kuat kembali."
Asha menatap sayu suaminya, ia antara percaya dan tidak dengan apa yang dikatakan suaminya. Ia takut jika suaminya menyembunyikan rasa sakitnya agar tidak membuat ia khawatir.
"Mas aku ini istrimu, berbagilah suka duka kamu. Jangan kamu simpan sendiri penderitaan kamu, berbagilah duka denganku. Aku selalu siap karena kita berjanji di depan Allah untuk hidup bersama melewati semuanya bersama-sama," tegas Asha dengan bulir-bulir air keluar dari sudut matanya.
Ega menghapus segera air mata istrinya lalu memeluk erat mencoba menyakinkannya jika yang ia katakan adalah benar.
"Sayang aku tidak menyembunyikan sesuatu, aku sudah baik-baik saja. Apa kamu mau menyuapi aku, biar aku bertenaga kembali," titah Ega dengan melepas pelukannya.
Asha mengambil bubur ayam yang telah dibelikan sang bunda sebelum bunda Aira periksa kesehatannya bersama papa Raka. Ia membuka kotak makan yang berisi bubur ayam dengan topping abon daging di atasnya.
__ADS_1
"Mas buka mulut kamu," perintah Asha. Semoga yang kamu katakan benar mas, dengan mengisi perut kamu kamu akan kembali baik-baik saja batin Asha.
Bersambung..