
“ Aryan ! Kamu ini, Oma pikir sudah berubah sikap terhadap istrimu, ternyata masih sama saja !”
‘ Aryan kenapa, ya?’ batin Nara ingin menangis rasanya.
Betapa Aryan begitu berubah hanya dalam sekejap . Dan Nara baru sadar dan tidak ingin terlena dengan kebaikan dan kelembutan yang Aryan berikan padanya.
“ Sudahlah, Oma. Urusan rumah tangga Aryan Oma dan Opa tidak perlu repot mencemaskan apapun. Toh Nara juga baik-baik saja dan bisa menjaga dirinya sendiri.”
“ Astaga, Aryan !” Oma sampai geleng kepala melihat sikap cucunya yang menyebalkan.
“ Kalau memang butuh periksa , bik Ina juga bisa mengantar ke rumah sakit di seberang, tidak perlu jauh-jauh. Rumah sakit dimana -mana juga sama. Nanti OMa tinggal menerima laporan dari bik Ina . Biasanya juga seperti itu, kan ?”
Oma Herlina jelas sewot karena Aryan sudah tahu kalau ia menjadikan bik Ina sebagai mata-mata pribadinya.
“ Oma, Aryan sudah berumah tangga. Biar saja dia mengatur bagaimana istrinya, Oma tidak perlu terlalu dalam ikut campur.” Giliran Opa Haris kini yang bicara pada istrinya yang masih ingin terus melindungi Nara, namun kekuatan dua pria itu akhirnya membuat dirinya harus kalah.
“ Oma hanya ingin mengantar periksa dan tahu dengan mata kepala Oma sendiri bagaimana kondisi cicit kita !” Oma mendengus kesal sambil mengelus rambut Nara yang kini tertunduk.
“ Oma dan Opa masih lama ? Aryan mau berangkat , biarkan Nara sendiri dengan bik Ina!”
Dengan wajah tak menyenangkan, Aryan kini malah pergi hingga membuat Nara ingin sekali berteriak memanggilnya. Nara merasa sendiri saat ini, begitu nelangsa karena ia kembali mengingat posisi awalnya berada di tengah keluarga ini.
“ Ya, sudah, Nara. Tolong tidak perlu diambil hati sikap Aryan barusan, ya. Nanti Oma telepon kamu supaya tidak kesepian.”
Nara mengangguk saja saat pelukan Oma Herlina yang terasa menenangkan ini justru tak seberapa dirasakan Nara yang kepalang nelangsa.
Oma dan Opa kini pergi menyusul Aryan yang sudah lebih dulu menghilang dari pandangan Nara.
Dan wanita itu kini membanting tubuhnya di kursi kerjanya seraya menangis terisak meratapi kesenangannya yang hanya bertahan semalam dan Aryan hanya memberinya kebahagiaan semu.
Sekian lama, Nara masih menangis menunduk meletakkan wajahnya di atas meja kerjanya yang luas. Sampai kemudian ada sebuah langkah besar yang mendekati dirinya saat ini.
“ El…..”
Nara tersentak dan refleks mengangkat wajah dan mendongak saat sosok Aryan yang telah pergi tadi kini ada di sampingnya. Melihat wajah Nara yang sudah basah, Aryan kini mendekap istrinya itu erat bahkan sangat erat.
” Maaf……”
__ADS_1
Pikiran Nara jelas terguncang menghadapi sikap Aryan yang selalu berubah. Nara mendorong tubuh Aryan menjauh naman Aryan menggeleng dan makin mengeratkan pelukannya.
“ Tolong jangan marah, jangan berpikiran apapun. Aku di sini, akan selalu ada untukmu dan anak kita, El.”
Nara tak menjawab, wanita itu justru kesal karena Aryan seolah mempermainkan perasaannya.
“ Kamu pikir aku ini apa ! Mengapa kamu senang sekali mempermainkanku !” bentak nara seraya mengusap kasar wajahnya.
“ Nara , tolong dengarkan aku. Sekarang mandilah dan aku antar ke sekolah. Aku mohon percaya padaku.”
Nara yang masih emosi kini serasa dipermainkan oleh Aryan yang bicara dengan nada kasar lalu pergi dan kini kembali lalu meminta maaf.
“ Atau mau aku mandikan? Mau? Sini, dengan senang hati aku lakukan.”
Aryan sudah menarik pergelangan tangan istrinya menuju ke kamar namun Nara segera menghempasnya.
Tak lama Nara sudah keluar mengenakan celana hamil yang baru saja diberikan Oma padanya, dipadu dengan blouse korea berlengan balon dengan aksen pita besar di bagian perutnya.
Rambutnya yang dicepol ke atas dengan beberapa layer di sekitar telinga yang dibiarkan tergerai, Nara menjelma menjadi gadis muda dan tidak ada yang menyangka bahwa dirinya adalah seorang ibu hamil dengan usia kandungan empat bulan.
“ Jangan cemberut dong, Ayo berangkat.”
Meski Nara masih sakit hati karena tak paham dengan suaminya dan bahkan Nara berpikir Aryan ini memiliki beberapa kepribadian yang dapat berubah kapanpun juga.
“ El, boleh aku meminta sesuatu?”
Aryan menoleh ke arah istrinya yang masih terdiam di dalam kendaraan yang dikemudikan oleh pria yang saat ini senang menyetir sendiri saat tengah bersama istrinya.
“ Di kemudian hari, bagaimanapun sikap yang aku tunjukkan ke kamu anggap semua itu adalah bentuk perhatianku, oke? Aku tahu perasaanmu pasti sedang sensitif . Tapi percayalah, sejak banyak hal yang terjadi menimpa kita , aku benar-benar tulus ingin melindungimu dan juga anak kita . Mengerti, El?”
Nara lagi-lagi tak menjawab, ia malah memilih melempar pandangannya ke luar jendela melihat padatnya jalan raya ibu kota pagi ini. Saat sampai di halaman sekolah mode, Nara yang akan turun sendiri segera dicegah oleh Aryan yang kemudian membuka pengait sabuk pengaman istrinya, lalu keluar lebih dulu untuk membukakan pintu.
Nara yang keluar dari mobil pun kini ditarik tangannya oleh Aryan yang menahan langkahnya sejenak.
“ Mau apa lagi?”
“ Mau sampai kapan kamu menyembunyikan siapa dirimu? kandunganmu akan semakin besar dan siapapun pasti akan tahu kalau kamu sudah menikah dan akan memiliki anak.”
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan, Aryan segera menggandeng erat jemari Nara menuju ruang kelas hingga mereka kini menjadi pusat perhatian karena Nara diantar oleh pria yang begitu mentereng penampilannya. Terlebih Aryan kini mengenakan kacamata dan topi hitam di balik kemeja rapinya sebagai seorang CEO perusahaan manufaktur otomotif terbesar di ibu kota.
“ Masuklah,” Aryan mengacak rambut Nara yang sudah tercepol rapi, hingga kemudian pria itu beranjak pergi.
“ Aryan ! “ panggil Nara seolah belum ingin berpisah dengan pria yang begitu tampan dan maskulin itu.” Hati-hati di jalan.”
Sampai di perusahaannya, Aryan yang memang menggemari dunia otomotif sejak kecil itu kini berkutat dengan pekerjaannya yang memang super sibuk. Hingga saatnya ia pulang terlambat sekaligus akan menjemput istrinya di sekolah mode.
Dan Aryan begitu terkejut saat mendapati Nara yang menunggunya sampai terkantuk di depan lobby sekolah dengan barang bawaan yang banyak di sampingnya.
“ El, astaga !” Aryan segera turun dan mendekati Nara yang ternyata sampai tertidur dengan posisi duduk meringkuk karena menunggunya sudah lebih dari dua jam. “ El?” Aryan meraih kedua pundak istrinya hingga Nara pun terbangun.
“ Sudah pulang?”
“ Maaf, El. Kenapa kamu tidak menghubungiku kalau sudah selesai?”
“ Aku tidak ingin mengganggu,” jawab Nara seraya mengucek matanya.
Aryan membawa semua barang bawaan Nara untuk dimasukkan ke mobil lalu menuntun Nara yang sempoyongan untuk bisa masuk mobil dan duduk dengan nyaman.
“ Lain kali kamu harus hubungi aku dan jangan sampai menunggu seperti ini. Mengerti?”
Nara hanya mengangguk lalu lanjut memejam kelelahan. Sampai di rumah, Nara berjalan sambil setengah memejam menuju rumah sedang Aryan meletakkan barang Nara di atas meja kerjanya.
Nara sendiri langsung beringsut masuk ke kamar lalu membanting tubuhnya ke tempat tidur tanpa berganti pakaian terlebih dulu. Aryan segera masuk kamar mandi, menyiapkan air hangat dan busa sabun dalam bathtub, lalu melepaskan pakaian atasnya.
“ Hey, El. Kamu kan sudah tidur di sepanjang jalan tadi.”
Aryan menepuk pipi istrinya untuk membangunkan lalu melepas alas kakinya, hingga melonggarkan pakaian Nara yang kemudian membuka mata lebar-lebar.
“ Kamu mau apa !” pekik Nara sampai berjingkat karena Aryan sudah bertelanjang dada di atas tubuhnya.
“ Aku sudah siapkan mandi air hangat untuk kita berdua. Tolong bantu aku menuntaskan hasratku yang terpotong semalam dengan cara apapun. Mau, ya ? please!”
.
...****************...
__ADS_1