8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Sessions Kedua. Mengukir Prestasi.


__ADS_3

Bab 101. Sosok Bertopeng.


Sebelum Yin Meili dan Fang Yin kembali bertarung, seorang biksu melerai mereka. Kemudian, Chu Xing-fu sebagai pemimpin akademi, segera menemui Matriark Yin An.


Pembicaraan mereka tidak berlangsung lama, kurang dari satu batang dupa. Setelah itu, kapal angkasa milik Sekte Yin segera menuju ke tempat parkir, lalu disusul dengan kapal angkasa dari Akademi Merpati pusat.


Dan akhirnya giliran kapal angkasa dari Akademi Merpati kelas dua yang mendapatkan tempat parkir. Setelah semua orang turun dari kapal angkasa, oleh para biksu yang bertugas mengatur peserta, pria dan wanita dipisahkan.


Peserta pria ditempatkan di bagian timur dari Gunung Berawan, sedang peserta wanita ditempatkan di bagian selatan. Demikian juga dengan semua guru pria dan wanita yang ditempatkan di tempat yang berbeda, tidak jauh dari tempat peserta kompetisi. Semua orang diberikan kamar pribadi tanpa harus berbaur dengan yang lainnya.


Kemudian, setiap peserta mendapatkan selembaran tentang aturan kompetisi, dibalik selembaran itu ada gambar denah lokasi kompetisi. Denah itu akan menjadi panduan bagi semua peserta agar tidak tersesat.


Di denah terdapat empat Kota Peristirahatan dan satu Kota Pertukaran. Gunung Putih di pusat denah, lereng-lereng gunung dengan medan berbahaya, dan hutan yang luas mengelilingi lereng-lereng Gunung Putih.


Namun di denah itu, tidak mencatat Infomasi tentang binatang buas, tetapi ada catatan tambahan jika lokasi kompetisi masih alami dan dilindungi oleh Formasi Array.


Di dalam kamarnya, Cao Tian Jun membaca selembaran itu. Apa yang dibacanya tidak jauh beda dari pengarahan wakil pemimpin akademi, hanya ada beberapa poin terkait aturan baru serta penilaian untuk mencapai kemenangan.


Untuk menilai pemenangnya, syaratnya harus mendapatkan bendera sebanyak mungkin. Ada beberapa bendera beda warna. Nilai tertinggi adalah bendera warna putih dengan nilai 10, jumlahnya ada 20 buah di puncak Gunung Putih.


Bendera warna merah dengan nilai 5, jumlahnya ada 100 buah, dan tersebar di lereng-lereng Gunung Putih. Dan terakhir adalah bendera warna biru bernilai 1, jumlahnya mencapai 1.000 buah yang tersebar di seluruh lokasi khusus kompetisi.


Sedangkan untuk aturan kompetisi, ada tiga fase, awal, tengah dan akhir. Di fase awal, memang tidak diperbolehkan saling membunuh, apalagi saat berada di dalam kota Peristirahatan, dilarang keras saling berseteru hingga fase akhir.


Saat berada di luar Kota Peristirahatan, peserta baru diperbolehkan saling bertarung untuk merebut bendera, tetapi dilarang keras menggunakan energi spiritual, dengan kata lain diperbolehkan bertarung dengan mengandalkan fisik (tangan, kaki dan tubuh untuk bertarung) dan senjata khusus yang telah disediakan oleh panitia.


Di fase awal, setiap peserta akan berlomba-lomba untuk merebutkan bendera warna biru, waktu berlangsung selama satu hari (pagi hingga sore). Setelah batas waktu berakhir, maka semua peserta diharuskan segera kembali ke Kota Peristirahatan terdekat untuk perhitungan hasil perburuan.


Peserta yang mendapat bendera dengan jumlah sedikit, maka secara otomatis dinyatakan gugur, dan dihari itu juga dikeluarkan dari tempat kompetisi. Peserta yang berhenti lolos, akan berlanjut ke fase tengah untuk berebut bendera warna merah.


Ada satu catatan yang membuat Cao Tian Jun tersenyum, di mana jika ada peserta yang terlambat kembali ke Kota Peristirahatan, maka pihak Kuil Atas Awan dan panitia tidak bertanggung jawab terhadap peserta tersebut.


Dengan kata lain, pihak Kuil Atas Awan lepas tangan jika ada hal-hal tak terduga terjadi pada peserta, seperti kehilangan nyawa karena terbunuh oleh binatang buas, atau terbunuh di tangan peserta lain.

__ADS_1


Di fase tengah dan akhir, aturan mainnya tidak jauh beda dengan fase awal, saling berebut bendera dengan batasan waktu. Setelah waktu berakhir, semua peserta harus kembali ke Kota Peristirahatan.


Bagi Cao Tian Jun yang pertama kali mengikuti kompetisi, kompetisi ini sangat menarik, membuatnya tidak sabar untuk mengalahkan semua jenius di Benua Timur. Tetapi bagi peserta lain yang sudah pernah mengikuti kompetisi ini, aturan baru kali jelas tidak menguntungkan bagi mereka.


Sebelumnya, aturannya sangat sederhana, yaitu hanya merebutkan bendera putih selama batas waktu sehari. Dengan adanya aturan tiga fase ini, jelas tingkat kesulitannya bertambah, serta memakan banyak korban jiwa dan waktu. Aturan inilah yang memberatkan peserta lama dan semua guru.


Namun, tidak semua guru berpikiran negatif, malahan senang dengan aturan baru ini, yang mana setiap peserta memiliki potensi yang sama, tidak seperti aturan lama yang didominasi oleh institusi unggulan saja. Salah satu contoh, jika peserta non-unggulan mampu mengumpulkan banyak bendera merah dan melebihi nilai bendera putih, sudah dipastikan akan menjadi pemenangnya, tetapi harus tetap mengikuti hingga fase akhir.


Dengan kata lain, saat kompetisi dimulai di fase awal, sudah dipastikan perebutan sangat intens, keseruannya berkali-kali lipat daripada sebelumnya.


Akhirnya semua peserta dan guru mengerti tujuan dari panitia yang memisahkan pria dan wanita, sudah pasti agar tidak saling berkomunikasi untuk mengatur strategi. Anggap saja ini adalah bentuk dari karantina, dan yang bebas berinteraksi hanyalah guru.


Cao Tian Jun menyimpan selembaran. "Malam ini aku harus beraksi!" gumamnya sambil menuju ke balkon kamar.


Di luar kamar, dia melihat pemandangan disekitarnya yang diselimuti kabut putih yang berasal dari awan, udaranya sangat menyegarkan dan suhunya dingin. Sebagian orang yang tidak memiliki mata yang unik, kabut putih ini jelas menghalangi pandangan mata. Berhubungan Cao Tian Jun memiliki Mata Surgawi, dia dengan jelas melihat apapun yang dilihatnya.


Dia mendengarkan suara ketukan kayu dan nyanyian biksu dalam pemujaan terhadap Dewa, suara ketukan dan pemujaan mereka membuat suasana hati, pikiran dan batin menjadi tenang, apalagi hari ini menjelang malam.


Gerakan orang berjubah putih itu sangat lincah, menyentuhkan ujung kakinya di genteng dan melesat seperti angin. Cao Tian Jun yang berada di belakangnya, jelas tidak melihat wajah orang itu, tetapi melihat tinggi badannya yang setinggi 175 cm, sudah dipastikan jika orang itu adalah pria.


Ternyata, orang itu menuju ke luar wilayah pemukiman biksu, turun gunung menuju ke Hutan Bambu. Rasa penasaran di hati Cao Tian Jun makin besar ketika melihat beberapa orang dengan tujuan yang sama, menyusul pria berjubah putih itu. Mereka saling menyapa dan bergerak bersama.


Orang-orang itu melewati penjagaan ketat tanpa diketahui oleh siapapun, padahal banyak biksu yang berpatroli mengelilingi dinding pertahanan. Mengendap-endap jika biksu mendekat, lalu melompati dinding pertahanan.


"Di tempat ketat seperti ini ... Apa tujuan kalian?" gumam Cao Tian Jun yang terus mengikuti mereka, saat ini jumlah mereka menjadi 10 orang berjubah putih.


Mereka memasuki Hutan Bambu yang lebat, dan Cao Tian Jun terus mengikuti di belakangnya, terpaut jarak 20 meter. Di kejauhan, dia melihat di depannya ada sebuah danau (Danau Air Hijau), di seberang danau ada sebuah pondok bambu.


Tidak berselang lama, 10 orang itu telah tiba di danau. Mereka berhenti sesaat untuk memeriksa sekitarnya, tampak sangat waspada karena khawatir ada yang membuntuti. Setelah aman, mereka segera menuju ke pondok bambu.


Di depan pintu pondok bambu, duduk bersila seorang yang menggunakan topeng, pakaiannya serba hitam, mengenakan sarung tangan hitam, bisa dikatakan seluruh kulit tubuh tidak terlihat, sungguh sangat misterius sosok bertopeng itu.


Cao Tian Jun yang memiliki Mata Surgawi, tidak bisa melihat penampilan asli sosok bertopeng itu. Namun nalurinya, mengatakan bahwa orang bertopeng itu sangatlah kuat, sehingga dia menjaga jarak dari mereka.

__ADS_1


Orang-orang berjubah putih itu segera berlutut saat tiba di depan sosok bertopeng itu. Sosok bertopeng itu membuka matanya yang mengeluarkan sinar.


Cao Tian Jun melihat keunikan kedua mata sosok bertopeng itu berwarna hitam dan putih yang mirip dengannya, bulu mata lentik dan mengarahkan ke atas. Melihat ciri-ciri itu, dia menduga jika sosok itu adalah wanita.


"Kalian terlambat! Apakah aku bawahanmu!?" bentak sosok bertopeng itu kepada orang-orang berjubah putih.


Mendengar suara sosok itu, tebakan Cao Tian Jun keliru, sebab suara sosok itu serak dan khas seorang pria tua. Dia menghela napas berat karena tidak mengetahui siapa orang-orang itu karena berada di belakang.


"Maaf, Yang Mulia, kami terlambat dikarenakan adanya aturan baru di Kuil Atas Awan!" alasan salah satu orang berjubah putih yang berada di tengah rekan-rekannya.


"Kalian diikuti oleh seseorang, dan dia adalah orang yang kucari-cari. Tangkap dia, dia menggunakan teknik kamuflase!" perintah sosok bertopeng itu ketika mendengar helaan nafas dari Cao Tian Jun.


Lalu dia berdiri sambil ujung jarinya menunjukkan ke arah tempat Cao Tian Jun bersembunyi di belakang pohon bambu.


Sontak orang-orang berjubah putih itu kaget, sebab sebelumnya tidak merasakan ada seseorang yang mengikuti. Mereka segera berdiri dan mengikuti ujung jari sosok bertopeng, namun tidak melihat apapun.


Cao Tian Jun yang paling syok karena baru pertama kali wujudnya diketahui oleh seseorang. Nalurinya memang benar, bahwa sosok bertopeng itu sangatlah kuat. Dia segera melesat melarikan diri sebelum 10 orang berjubah putih mengejarnya.


"Bodoh, gunakan persepsi kalian untuk mendeteksinya!?" bentak sosok bertopeng itu kepada 10 orang berjubah putih yang ternyata adalah bawahannya.


Orang berjubah itu adalah Liao Jingguo pemimpin Kuil Sembilan Kematian, dia yang berbicara kepada sosok bertopeng. Di sebelah kirinya adalah wakilnya yang bernama Lou Bingwen Ye.


Yang lainnya adalah Yu Zhong pemimpin Perguruan Hitam Kelam, dia bersama dengan wakilnya yang bernama Luan Jin, dan murid andalan yang ikut adalah Wang Yelu dan Lu Butong. Mereka yang dulu ingin mendapatkan Buah Suci di puncak Gunung Lima Jari, sayangnya gagal dan kembali dengan tangan kosong.


Empat orang berjubah putih lainnya adalah Gong Yuma (Taois Yuma) yang menjadi ketua Kuil Dewa Perang di Kuil Atas Awan. Di sebelah kanan dari Gong Yuma adalah Lim Kong dari Perguruan Mata Dewa, di kanannya adalah Xi Qiang pemimpin Perguruan Langit Kesembilan dan wakilnya yang bernama Gong Gan (adik dari Gong Yuma).


Khususnya Lim Kong, dia melarikan diri ketika berhadapan dengan Tian Sun, dan menjadi satu di Perguruan Langit Kesembilan menjabat sebagai pelindung kedua setelah Tan Zhang (Pelindung pertama dari Perguruan Langit Kesembilan).


Dan untuk sosok bertopeng itu, dia sebenarnya adalah seorang wanita, penguasa Black Dessert, yang tidak lain adalah Ratu Ular Surgawi, putri dari Celestial She dan Dewa Binatang. Namanya menggunakan nama ibunya (Celestial She dengan gelar Ratu Ular Surgawi) sebagai bentuk penghormatan dan rasa rindunya yang semenjak lahir tidak pernah bertemu.


Celestial She menargetkan Cao Tian Jun karena memiliki garis darah Naga yang juga sama seperti dirinya. Entah apa tujuannya yang ingin menangkap Cao Tian Jun.


Setelah beberapa saat menggunakan instingnya, orang-orang berjubah putih itu merasakan aura yang dimiliki oleh Cao Tian Jun. Mereka segera melesat mengejarnya.

__ADS_1


__ADS_2