8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Pangeran Zeming.


__ADS_3

Bab 176. Pangeran Zeming.


Keesokan harinya, tepatnya di siang hari, Cao Tian Jun menemui Xia Junsu atas keinginan Tim Phoenix. Kekasihnya menginginkan hubungan antara anak dan ibu membaik. Mereka bertemu di dalam kamar tidur yang digunakan oleh Ao Fengying.


Suasana canggung karena Tian Jun dan Xia Junsu tidak ada yang mulai untuk berbicara terlebih dahulu, sebab mereka bingung harus memulainya darimana untuk menuangkan isi pikiran dan hatinya.


Chu Sying Chun berdehem sebelum membuka pembicaraan.


"Suasana Tim Phoenix seperti ini akan mempengaruhi kekompakan kita. Alangkah baiknya saudari Junsu dan Anjun membuang egonya masing-masing. Inti dari tim kita adalah kebahagiaan bersama, membuang perbedaan status, saling melindungi dan berbagi dalam hal apapun. Tim Phoenix tidak melihat masa lalumu itu baik atau buruk, sebab proses masa lalu yang menjadikan kita seperti ini, membentuk mental kuat...,"


Panjang lebar Guru Junior Chu Sying Chun berbicara yang intinya agar Xia Junsu dan Tian Jun kembali seperti dulu, bukan sebagai seorang ibu dan anak, melainkan sebagai kesatuan tim yang saling melengkapi.


Anjun adalah nama panggilan kesayangan Tim Phoenix saat memanggil Tian Jun kekasihnya.


Tian Jun berinisiatif terlebih dahulu untuk mendekati ibunya. Ao Fengying beranjak dari tempat duduknya agar Tian Jun bisa duduk dengan Xia Junsu.


Setelah duduk, Tian Jun memeluk ibunya sembari berkata dengan lembut, "aku lebih nyaman dengan Anda seperti dulu, Senior Junsu...,"


Tian Jun berhenti berbicara saat Xia Junsu membenamkan wajah di dadanya dengan air mata mengalir karena bahagia.


Lalu ia melanjutkan bicara dengan berbisik, "sengaja atau tidak kejadian waktu itu, aku sudah menganggap Senior Junsu adalah kekasihku! Anggap saja masa lalu kita itu tidak ada, kita yang saat ini adalah di kehidupan baru!"


Walaupun Tian Jun berbisik, masih saja semua wanita yang berada di kamar mendengarnya. Mereka ikut senang melihat senyuman Xia Junsu yang akhirnya mau menerima keadaan ini dan menanggalkan egonya.


Setelah situasi kembali menjadi hangat dan penuh keceriaan, Tian Jun membawa semua wanita ke dalam cincin dimensinya, termasuk Ao Fengying yang kini menjadi bagian dari keluarga besar Tim Phoenix.


Miao Miao dan Dìyù Nuan telah banyak memasak hidangan istimewa untuk pesta merayakan hari yang baik. Karena Ao Fengying baru bergabung dengan Tim Phoenix, dia sempat syok melihat semua orang melepaskan pakaiannya, hanya Xia Junsu yang tidak melepaskan pakaiannya...


Di hari berikutnya, rombongan Patriark Fang berhenti di pesisir pantai karena melihat tanda yang dibuat oleh Miao Miao, tanda bertulis yang dibuat dari kayu.


"Pria tampan dan dua wanita cantik ada di sini!"


Semua orang membaca tanda tulis itu dengan raut wajah kebingungan karena siapa yang membuatnya, siapa pria dan wanita itu. Lalu melihat jejak pertarungan yang tampak baru saja terjadi.


"Siapa yang bertempur?" gumam Tetua ketiga.


Patriark Fang segera turun dari kapal angkasa dan diikuti oleh banyak orang. Mereka memeriksa jejak pertempuran. Satu orang yang tidak sengaja melihat tiga mayat, dan segera memanggil semua orang.


Selain ketiga mayat yang ditemukan, mereka melihat banyak darah kering berceceran, banyak tanah yang retak, hutan porak-poranda.


Patriark Fang, Fang Guotin dan beberapa orang yang pernah menyerang Bao Dong, akhirnya tahu siapa tiga mayat itu, dan siapa orang yang bertarung. Apalagi masih ada jejak aura kekuatan milik Long Yung, Bao Dong dan Dongxi.


Setelah pemeriksaan singkat, Patriark Fang menyimpulkan bahwa Long Yung bertarung dengan anggota Paviliun Bunga Kematian karena telah mencuri hartanya. Sedangkan Tian Jun hanya dijadikan kambing hitam oleh Bao Dong dan timnya.


Karena bukan urusan mereka, Patriark Fang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju ke wilayah Kerajaan Sihir memakan waktu satu hari, jika tidak ada kendala selama perjalanan.

__ADS_1


Saat rombongan baru melanjutkan perjalanan, Tian Jun dan Tim Phoenix keluar dari dalam cincin dimensi setelah puas berpesta. Mereka segera menuju ke ujung dek kapal untuk menghirup udara segar. Mereka juga melihat jejak pertempuran itu.


Menuju ke wilayah Kerajaan Sihir, ada jalur bebas, yaitu melintasi hutan perbatasan. Lokasinya dari gua harta milik Long Yung terpaut jarak 2 km. Jalur yang dibebaskan itu merupakan perbatasan dua negara, Kerajaan Li dan Kerajaan Ming.


Jalur bebas itu mengarah ke Lembah Ular. Lembah Ular melingkari wilayah pusat pemerintahan, Kekaisaran Yao. Dengan geografis alamnya yang unik, bisa dikatakan bahwa wilayah Kekaisaran Yao seperti terkurung, tetapi sekaligus merupakan pertahanan yang kuat jika terjadi serangan dari lawan.


Lembah Ular memiliki lima jembatan penghubung antar kerajaan dan wilayah Dinasti Yao. Wilayah pusat Benua Tengah sangatlah padat penduduknya. Tidak ada lahan yang kosong, semua tempat selalu ada penghuninya. Jikalau ada lahan kosong seperti hutan, itupun sudah dimiliki oleh seorang yang disegani.


Jika dilihat dari atas, Benua Tengah seperti bunga teratai yang unik, memiliki 10 daun, lima daun di luar adalah lima kerajaan, dan sisa lima daun adalah wilayah Dinasti Yao.


Setiap celah daun teratai itulah jalur bebas, yaitu sungai, hutan dan pegunungan. Karena jalur bebas, segala tindakan kejahatan selalu sering terjadi, salah satunya perampokan. Lebar Lembah Ular mencapai 130 km, dengan kedalaman mencapai lebih dari 1.760 meter...


...****************...


Satu hari sebelum rombongan Patriark Fang tiba di Benua Tengah, rombongan Kaisar Yao telah tiba terlebih dahulu.


Mengetahui jika Leluhur Yao bangun dari tidur panjangnya, jelas Kaisar Yao sangat senang. Dia segera menceritakan apapun yang terjadi di Mystical Beast Mountain.


Sedangkan dengan Pangeran Zeming, setelah menyapa leluhurnya, dan sebentar ikut bercengkrama, dia berpamitan untuk menemui seorang ahli sihir yang menjadi andalan keluarga. Penyihir Hitam itu adalah seorang nenek, namanya Niao Wushi. Pangeran Zeming pergi ke Hutan Niao.


Niao Wushi tinggal di hutan, mendirikan perguruan sihir, memiliki murid yang jumlahnya mencapai 100 orang. Karena hutan itu dikuasai oleh Niao Wushi, maka diberi nama Hutan Niao.


Reputasinya sebagai penyihir sudah sangat terkenal, dia akan melakukan apapun sesuai dengan pesanan, seperti Paviliun Bunga Kematian. Walaupun terkenal karena kehebatannya, Niao Wushi tidak serta-merta menerima murid yang tidak memiliki bakat sihir.


Pemimpinnya adalah Gagak Hitam yang paling senior. Metode untuk menyelesaikan misi, selalu mengandalkan sihir jarak jauh...


Dengan kereta kuda, Pangeran Zeming dikawal oleh 200 prajurit. Saat berada di depan Hutan Niao, dia melihat banyak sarang Burung Gajah, dan aura kematian membuatnya bergidik.


Tetapi, demi tujuannya, dia membuang rasa takutnya dan melanjutkan perjalanan. Tidak berselang lama setelah melintas hutan, dia sudah tiba di Perguruan Wushi. Beberapa murid yang melihatnya segera mempersilahkan Pangeran Zeming untuk masuk ke rumah induk menemui gurunya.


Saat berada di ruang praktek, Pangeran Zeming tidak berani menatap wajah Lima Gagak, sebab penampilan mereka yang mengenakan topeng sangat mengerikan.


Lalu terdengar suara ketukan pintu yang merupakan tanda jika Pangeran Zeming dipersilahkan untuk masuk ke dalam kamar milik Niao Wushi.


Dengan segera Pangeran Zeming masuk ke dalam kamar dengan jantung berdebar-debar. Setelah masuk dan pintu ditutup oleh Gagak Merah. Saat berada di dalam kamar, Pangeran Zeming melihat Niao Wushi yang duduk bersila di lantai.


Penampilan tidak menarik hati Pangeran Zeming karena sudah sangat tua, wajah keriput, tubuh kurus, rambut hitam yang sebagian telah memutih, kuku jari tajam dan panjang yang mampu merobek daging dengan mudah, kedua matanya buta berwarna putih.


"Duduklah!" perintah Niao Wushi dengan suara khas wanita tua.


Segera Pangeran Zeming duduk berhadapan dengan Niao Wushi, dipisahkan oleh cawan berisi air jernih dan beberapa kendi. Lalu ia mengeluarkan kotak kayu berisi hadiah untuk Niao Wushi, dan meletakan di sisi cawan.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Niao Wushi.


Walaupun dirinya buta, masih mampu melihat sekitarnya dengan jelas. Dengan sekali lirikan, ia tahu isi di dalam kotak kayu itu. Pendengarannya juga sangat tajam, mampu mendengar suara langkah kaki kucing. Bahkan sebelum Pangeran Zeming masuk ke dalam Hutan Niao, ia mendengar suara langkah kaki kuda.

__ADS_1


"Seperti Leluhur Yao, saya ingin putri dari Patriark Fang tunduk kepadaku. Berapapun biaya pasti kupenuhi!" jawab Pangeran Zeming yang tidak bertele-tele.


Niao Wushi mengambil abu dari dalam kendi, dan itu adalah abu mayat yang telah bakar. Dia menaburkan abu mayat di dalam cawan berisi air jernih. Seketika air jernih berubah menjadi seperti Cermin Sihir.


Di dalam cawan itu menampilkan wajah Tian Jun, Fang Yin dan Tim Phoenix. Pangeran Zeming melihat ke dalam cawan dengan wajah penuh kebencian terhadap Tian Jun.


"Sulit karena wanita yang kau inginkan tidak lagi perawan!" ungkap Niao Wushi.


Walaupun dirinya buta, masih mampu melihat dunia nyata, melihat Tim Phoenix tidak ada yang masih perawan. Tubuh Pangeran Zeming gemetaran karena menahan amarahnya, sebab wanita yang dicintainya telah melepaskan kesuciannya kepada Tian Jun.


Di dalam hatinya, dia mengakui bahwa Tian Jun jauh lebih tampan darinya, bahkan lebih jenius darinya. Jika dirinya adalah wanita, sudah pasti akan merelakan kesuciannya kepada Tian Jun.


"Walaupun sulit, aku masih bisa memenuhi keinginanmu walau hanya sesaat. Bagaimana, apa masih perlu dilanjutkan?" tanya Niao Wushi.


Pangeran Zeming menatap tajam wajah Tian Jun yang sedang berada di dalam kamar, berciuman dengan Fang Yin, lalu ganti berciuman dengan Ao Fengying. Ingin rasanya dia menyiksa Tian Jun dan Fang Yin.


"Aku ingin pria itu mati secara mengenaskan, dan semua wanitanya menjadi budakku, termasuk Fang Yin!" jawab Pangeran Zeming dengan nada serak karena menahan amarahnya.


"Karena mereka tidak lagi perawan, tugasku semakin berat! Apakah kau tahu syaratnya?"


Seketika Pangeran Zeming yang tadinya marah menjadi lemas karena tahu syaratnya, yaitu berhubungan badan dengan Niao Wushi. Seandainya Fang Yin masih perawan, dia tidak akan keberatan bercinta dengan wanita tua yang sangat menjijikkan ini.


"Iya, sekali bercinta dengan Guru!" jawab Pangeran Zeming.


"Lalu, apa masih tetap dilanjutkan?"


Pangeran Zeming menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan untuk menenangkan pikiran dan perasaan. Demi membalas rasa sakit hati dan dendam, dia mengangguk sebagai jawaban.


"Apakah 20 wanita juga, atau hanya pria itu dan Fang Yin saja?" sekali lagi Niao Wushi bertanya agar Pangeran Zeming bisa berpikir jernih sebelum memutuskan tujuannya.


"Fang Yin dan 19 wanita itu saja. Aku ingin Cao Tian Jun melihat semua wanitanya bertekuk lutut di hadapanku!" tekad Pangeran Zeming yang ingin menyiksa batin Tian Jun.


"20 wanita, berarti aku harus menyerap Energi Yang milikmu sebanyak jumlah mereka. Yakin tidak merubah keputusan, dan apakah kau sudah benar-benar siap melayaniku?" Niao Wushi berkata dengan nada genit karena akan berhubungan badan dengan Pangeran Zeming.


Tubuh Pangeran Zeming kembali gemetaran karena membayangkan apa yang akan terjadi dengannya. Energi Yang miliknya akan diperas oleh Niao Wushi, hal yang akan melemahkan tubuh dan energinya.


Leluhur Yao juga memenuhi syarat ini, tetapi hanya sekali. Hasilnya sukses menaklukkan hati Fang He Mei. Sebelum Pangeran Zeming menemui Niao Wushi, Leluhur Yao telah memberitahukan tentang syarat ini.


"Selama kau membuatku puas... Sebagai bonusnya, pria itu juga bisa kau kendalikan sesuka hati! Jika kau sudah siap, aku menunggumu di ranjang!" ucap Niao Wushi, lalu dia berdiri menuju ke dalam kamar tidur yang berada di balik korden warna hitam.


Di dalam hati, Pangeran Zeming mengumpat berkali-kali karena tidak membayangkan harus bercinta dengan wanita tua yang seharusnya sudah lama mati. Hal ini sama saja bercinta dengan mayat hidup. Namun, demi membalas dendam, dia membulatkan tekad. Dia segera menyusul Niao Wushi.


Lima Gagak segera keluar dari kediaman gurunya. Mereka mengelilingi kediaman gurunya, lalu menggerakkan kedua tangannya. Dari tangan mereka mengeluarkan energi spiritual yang terpusat di atas rumah. Dalam sekejap mata, rumah gurunya terselimuti energi. Itu seperti Formasi Array.


Setelah membuat sihir perlindungan. Lima Gagak keluar dari Hutan Niao, mereka berubah menjadi menjadi Burung Gagak menuju ke arah rombongan Patriark Fang. Mereka mendapatkan tugas dari gurunya sebagai penghubung energi jarak jauh.

__ADS_1


__ADS_2