
Bab 69. Salah Tembak.
Setelah makan dan bersantai, mereka berdua keheranan karena Cao Tian Jun belum juga bangun dari tidurnya. Sambil menunggu Cao Tian Jun bangun tidur, Yuan Zhen bercerita tentang niat buruk Kaisar Xia.
Permaisuri Juan ternyata sudah tahu tentang hal ini, oleh sebab itu ia memerintahkan panglima perangnya dan prajurit untuk melawan binatang mistik di puncak pohon mati, dan sengaja tidak segera ke Dermaga Bunga Lou karena khawatir akan ada perangkap yang dibuat oleh Kaisar Xia.
Walaupun sudah mengetahui niat jahat Kaisar Xia, Permaisuri Juan tidak mengungkapkan kepada Raja Yuan dan bawahannya, entah apa rencananya dan hanya Yuan Zhen yang tahu.
Setelah mereka berdua berbicara cukup lama, Yuan Zhen sangat mengantuk karena hari hampir tengah malam, Permaisuri Juan mematikan lampu dan mengajak putrinya untuk beristirahat.
Malam hari, di luar tenda Permaisuri Juan, banyak yang bertanya-tanya tentang identitas Cao Tian Jun kepada panglima perang. Panglima perang hanya berkata, jika Cao Tian Jun adalah murid Akademi Merpati Putih dan teman dari Putri Yuan Zhen, dia tahu dari teknik yang dikeluarkan saat melawan binatang mistik.
Dia melirik tenda milik Permaisuri Juan yang pencahayaannya telah padam, di dalam hatinya bertanya, "kenapa Tian itu tidak keluar dari tenda?"
Panglima perang memiliki prasangka buruk terhadap Cao Tian Jun, dan juga perilaku Permaisuri Juan yang tidak seperti biasanya,; angkuh, tegas, berwibawa dan sering kali marah-marah.
Walaupun begitu, tidak ada satu orangpun yang berani membicarakan Permaisuri Juan, apalagi Putri Yuan Zhen yang terkenal lebih sombong dan semaunya sendiri.
Untuk menghilangkan prasangka buruk, panglima perang mengajak semua orang yang telah beristirahat untuk memperbaiki dinding kayu yang hampir roboh, mereka memperbaiki secara bergantian.
Saat ini, mereka berharap bala bantuan dari Kekaisaran Xia segera tiba untuk mengalahkan The King Of Dark Matter. Dengan begitu mereka bisa kembali ke rumahnya masing-masing.
Mereka belum mengetahui bahwa bala bantuan dari Kekaisaran Xia tidak melewati Hutan Kayu Mati, mereka memilih jalur tercepat, yaitu melewati pesisir pantai yang menuju ke Teluk Black Vortex, sisi utara dari Hutan Kayu Mati.
Dengan melewati jalur tercepat, maka perjalanan akan menyingkat waktu sehari. Bahayanya jelas ada, tetapi masih bisa diatasi. Teluk Black Vortex banyak dihuni binatang karang, seperti kepiting yang bermutasi menjadi berukuran besar.
Saat tengah malam, Yuan Zhen dan Permaisuri Juan telah tertidur lelap. Tanpa disengaja, Cao Tian Jun memiringkan tubuhnya ke arah Permaisuri Juan, lalu memeluknya sambil tangan kanan tepat di dada kirinya.
Permaisuri Yuan terbangun karena kaget, lalu dia memiringkan kepala untuk melihat siapa yang memegang dada kirinya. Melihat jika itu adalah menantunya, entah kenapa dia tidak menepis tangan Cao Tian Jun, malahan menikmatinya.
Secara perlahan dada milik Permaisuri Juan membesar dan keras, ia menahan napas. Yang makin membuatnya jantungnya berdebar-debar, ketika Cao Tian Jun meletakkan kaki kanan ditubuhnya, tepat di bawah organ kewanitaannya.
Permaisuri Yuan melihat putrinya karena khawatir. Ia sedikit lega melihat Yuan Zhen masih tertidur pulas. Ia memegang tangan kanan Cao Tian Jun agar lebih kuat menekan dadanya.
Cao Tian Jun tersenyum senang, dia pikir Permaisuri Juan adalah Yuan Zhen karena tenda dalam keadaan gelap dan memiliki aroma wangi yang sama. Tiba-tiba, dia mencium leher Permaisuri Juan sambil memegang dada kirinya yang masih padat.
__ADS_1
Karena pengaruh dari aroma afrodisiak, Permaisuri Juan memegang pipi kanan dan kiri milik Cao Tian Jun, ia mencium bibirnya yang disambut dengan agresif.
Cao Tian Jun mengangkat pakaian bawah Permaisuri Juan agar bisa mengeksplorasi bagian organ kewanitaannya. Permaisuri Yuan yang sudah berpengalaman segera mengangkat pantatnya untuk memberikan keleluasaan bagi Cao Tian Jun.
Kini tersisa pakaian dalamnya saja. Dan, dengan gerakan cepat, Cao Tian Jun segera melucuti pakaian dalam berwarna merah itu tanpa kesulitan.
Seandainya Permaisuri Juan tidak mencium bibir Cao Tian Jun, ia akan melenguh keras ketika jari telunjuk memasuki organ kewanitaannya. Ia membuka lebar kedua kakinya agar Cao Tian Jun lebih leluasa memainkannya.
Tangan Permaisuri Juan tidak tinggal diam, ia melepaskan pakaian bawah Cao Tian Jun. Lalu, dengan tergesa-gesa meraih tongkat yang sudah berdiri tegak, ia sedikit kaget karena ukurannya sangat besar, dan makin membuatnya tidak sabar untuk menikmati tongkat berukuran besar itu, ukuran yang belum pernah dirasakannya.
Cao Tian Jun tidak ingin berlama-lama karena khawatir Permaisuri Juan terbangun, dia belum tahu jika wanita itu adalah mertuanya. Segera dia merubah posisi dengan berada tubuh Permaisuri Juan, tanpa melepaskan ciuman. Kepala tongkat telah menyentuh bibir organ intimnya yang sudah basah.
Permaisuri Juan memegang batang tongkat dengan tergesa-gesa karena terlepas, menggesek-gesek pada bibir organ kewanitaannya dan berhenti tepat pada lubang, lalu menekuk kedua kakinya agar tongkat lebih leluasa masuk.
Cao Tian Jun tahu arti gesekan dan arti kaki yang ditekuk, dia menekan pinggulnya agar kepala tongkat bisa masuk. Tanpa kesulitan, kepala tongkatnya masuk, sedikit lebih longgar daripada sebelumnya, tapi dia merasakan cengkraman kuat pada setiap dinding organ kewanitaan.
Bagi Permaisuri Juan yang baru pertama kali merasakan tongkat berukuran besar, terasa sesak, dan makin membuatnya ingin merasakan kenikmatan yang lebih.
Cao Tian Jun yang segera membenamkan seluruh tongkatnya hingga memenuhi rahim milik Permaisuri Juan, dia berhenti sejenak untuk menikmati sensasi kehangatan rahim.
Rahimnya menggelembung karena penuh dengan tongkat, sesak, nikmat, dan merasakan seluruh tubuhnya kegirangan menerima rasa nikmat ini. Ia kembali melingkarkan kedua kaki di pantat Cao Tian Jun dan menekannya.
Cao Tian Jun tahu isyarat tanda untuk bergerak, segera dia menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan pelan, sengaja dilakukan dengan gerakan pelan agar tidak membuat suara yang membangun mertuanya, pikirannya. Tangan kirinya bertumpu pada ranjang untuk menahan tubuh, sedangkan tangan kanan memainkan dada kiri milik Permaisuri Juan.
Setiap hujaman tongkat, Permaisuri Juan mengigit ringan bibir menantunya untuk meredam suara lenguhan kenikmatan, ia makin memeluk erat leher Cao Tian Jun ketika akan meraih puncak kenikmatan untuk pertama kali dalam waktu singkat.
Cao Tian Jun merasa orang dalam kewanitaan berkedut makin cepat dan tanda akan melepaskan Energi Yin, dia sedikit mempercepat gerakan pinggulnya sambil bersiap-siap menyerap Energi Yin.
Gerakan cepat Cao Tian Jun membuat tubuh Permaisuri Juan bergerak melengkung ke atas, tanda mencapai puncak kenikmatan, karena itu dia melepaskan ciuman dan melenguh panjang.
Mendengar suara Permasuri Juan, Cao Tian Jun baru sadar jika wanita yang disetubuhinya bukan Yuan Zhen, tapi mertuanya. Segera dia dengan cepat memindahkan tubuhnya, dan kembali ke tempat semula.
"M-maaf... Saya kira calon istriku... Maaf!" sesal Cao Tian Jun yang merasa bodoh tidak membuka Mata Surgawi yang mampu melihat apapun dalam keadaan gelap seperti ini, jika tahu itu bukan Yuan Zhen, dia tidak mungkin berani menyentuh kulit mertuanya.
Permaisuri Juan segera menutup mulut Cao Tian Jun dengan tangan kiri, lalu bangun dan duduk dengan bibir bergerak ke arah telinganya untuk berbisik.
__ADS_1
"Aku sudah tertarik kepadamu sejak pertama kali melihat. Aku juga tidak marah, dan kamu juga perkasa di ranjang. Hubungan ini, jangan ada orang yang tahu, ini rahasia kita berdua!"
Cao Tian Jun terkejut dengan perkataan seorang Permaisuri Juan yang bakal menjadi calon mertuanya. Sesaat lalu, dia sudah sangat ketakutan dan merasa bersalah telah melakukan hubungan yang tidak seharusnya terjadi, kini dia kebingungan harus menanggapi apa perkataan Permaisuri Juan.
Dia segera mengaktifkan Mata Surgawi melihat wajah cantik Permaisuri Juan yang menjadi ceria setelah meraih puncak kenikmatan, dia melihat organ kewanitaannya yang mengeluarkan banyak ****** *****.
"Kamu kan belum keluar... Ayo, lanjutkan lagi sampai kita puas. Pelan-pelan saja!" bisikan Permaisuri Juan yang sangat menggoda Cao Tian Jun.
Apalagi tangan kanan memegang batang tongkat dan mengurutnya dengan lembut. Karena sudah terlanjur basah melakukan hal ini, dan juga mendapatkan izin, Cao Tian Jun segera mencium bibir Permaisuri Juan sambil memegang dada kirinya.
Permaisuri Juan perlahan membaringkan tubuh sambil menikmati perlakuan lembut Cao Tian Jun, ia kembali menekuk kaki agar Cao Tian Jun memasukkan tongkatnya.
Tiba-tiba Permaisuri Juan melepaskan ciuman, lalu berkata dengan nada lirih yang menggoda serta bernada manja, "di bawah saja agar lebih leluasa bergerak!"
Cao Tian Jun tersenyum manis, dia perlahan turun dari ranjang agar tidak membangunkan Yuan Zhen. Permaisuri Juan mengambil selimut tebal yang masih terlipat di sudut tempat tidurnya, lalu perlahan turun.
Ia menjadikannya selimut tebal sebagai alas di tanah, dan mengambil bantal. Ia segera membaringkan tubuhnya dengan kaki telah ditekuk, lalu memainkan organ kewanitaannya untuk memancing Cao Tian Jun.
Cao Tian Jun segera bereaksi dengan berjongkok di depan organ kewanitaannya, dia menjulurkan lidahnya yang membuat Permaisuri Juan menggelinjang kegelian yang disertai kenikmatan.
Di tanah beralaskan selimut tebal, mereka berdua lebih leluasa bergerak dengan bebas, hanya saja Permaisuri Juan tetap menahan suara lenguhan kenikmatannya. Ia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya, dan rasanya sungguh diluar ekspektasi.
Karena tidak ingin mencapai puncak kenikmatan hanya dengan permainan lidah, Permaisuri Juan memegang lembut pipi Cao Tian Jun dan menariknya. Cao Tian Jun tahu, dia mengikuti keinginan mertuanya yang memiliki hasrat tinggi.
Dia segera mencium bibir Ao Zhen Juan, sedangkan kepala tongkatnya sudah menyentuh bibir organ kewanitaannya. Kembali Permaisuri Juan menuntun tongkat agar segera dimasukkan.
"Hmm...!!" lenguhan terendam Permaisuri Juan ketika Cao Tian Jun dengan kencang menghentakkan pinggul, sensasi lebih nikmat dari sebelumnya.
Cao Tian Jun sedikit lebih cepat dari sebelumnya tanpa mengeluarkan suara benturan dua daging, setiap kali akan bersentuhan dengan daging milik Permaisuri Juan, selalu berhenti dan dengan segera menarik tongkatnya. Lalu kembali menghentakkan pinggulnya maju mundur berulangkali.
Tubuh Permaisuri Juan kembali bergetar hebat ketika beberapa kali hentakan keras tapi lembut dari perlakuan ini. Tidak butuh waktu lama, ia kembali mencapai puncak kenikmatan. Lalu disusul napas terengah-engah yang disertai dengan rasa kenikmatan.
Ia tidak menduga dikalahkan oleh Cao Tian Jun untuk kedua kalinya. Tidak ingin malu karena lebih berpengalaman dan walaupun masih kelelahan, ia berinsiatif untuk membuat Cao Tian Jun juga merasakan puncak kenikmatan.
Posisi Permaisuri Juan kini berada di atas tubuh Cao Tian Jun tanpa melepaskan tongkat yang masih kokoh berdiri di dalam organ intimnya. Seperti kuda liar yang kelaparan, pinggul Permaisuri Juan naik turun agar Cao Tian Jun mencapai puncak kenikmatan. Sayangnya, justru di atas membuatnya lebih cepat mencapai puncak kenikmatan, dan membanting tubuhnya di dada bidang Cao Tian Jun...
__ADS_1