8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Hampir Saja Terbunuh!


__ADS_3

Bab 118. Hampir Saja Terbunuh!


Cao Tian Jun akhirnya sadarkan diri, dia terkejut karena telah berada di dalam sangkar besi, dengan kedua tangan dan kakinya telah terikat rantai besi. Yang mengejutkannya, seluruh kekuatannya telah disegel.


Seperti manusia biasa, dia bahkan tidak sanggup untuk meronta-ronta agar terlepas dari ikatan rantai. Lalu dia melihat sekelilingnya yang ternyata berada di ruang bawah tanah yang terasa dingin.


Kemudian, dia melihat di depannya sebuah peti mati yang terbuat dari batu giok hijau. Di dalam peti itu terlihat seseorang pria paruh baya yang terbujur kaku. Dengan mata biasa, siapapun bisa melihat kedalam peti mati karena batu giok itu tembus pandang.


Setelah mengingat apa yang menyebabkannya berada di tempat ini, Cao Tian Jun mengumpat berkali-kali karena Tabib Tao telah menjebaknya. Setelah tenang, dia berkomunikasi dengan Batu Keabadian agar membuka segel kekuatannya.


Mendengar suara pintu terbuka, dia melihat ke arah sumber suara. Masuk beberapa orang pria dan wanita, dan Cao Tian Jun mengenali mereka. Mereka adalah Raja Kelelawar, Tabib Tao, Kepala Suku Xi, Meng Xiu dan Tao Lien.


Namun, ketika melihat seorang pria tua yang berada paling belakang mereka, Cao Tian Jun terkejut karena orang itu adalah Yan Denglong, kakek dari Raja Yan Ju Long.


Akhirnya, Cao Tian Jun mengerti apa yang sedang dialaminya, yang mana Tabib Tao, Kepala Suku Xi dan Yan Denglong telah merencanakan semua ini untuk menjebaknya, dan semua ini untuk menghidupkan kembali Yan Houcun.


"Berarti aku sekarang berada di Kerajaan Lentera!" batinnya yang menebak-nebak, dan memang tebakannya benar.


Setelah Cao Tian Jun pingsan, Kepala Suku Xi, Tabib Tao, Meng Xiu dan Tao Lien, mereka segera membawanya ke Kerajaan Lentera.


Semua orang melingkari peti mati, lalu Yan Denglong berjalan menghampirinya. "Kau telah membunuh cucuku adalah kesalahan terbesar, saatnya untuk membalas dendam!" ujarnya.


"Apa maksudmu? Siapa yang membunuh cucumu?!" bentakan Cao Tian Jun, walaupun tahu bahwa dirinyalah yang telah membunuh Raja Yan Ju Long.


"Menantuku Li Xinxin, telah melihat wajahmu ketika kau membunuh cucuku. Dan mereka, mereka adalah anak buahku. Kau memasuki Desa Bunga, sama saja menyerahkan diri!" ungkap Yan Denglong.


Cao Tian Jun menatap tajam ke arah Tabib Tao yang sedang menyunggingkan senyuman mengejek. Jika tahu kelicikannya, Cao Tian Jun tidak akan segan-segan untuk membunuhnya, bahkan tidak mungkin berbuat bagi dengan memberikan ilmu Formasi Array. Sayangnya, semuanya sudah terlambat untuk disesalinya.


"Ternyata, berbuat baik kepada sesama memang tidak perlu!" cemoohan Cao Tian Jun yang tertuju kepada Tabib Tao.


"Bodoh! Itu karena kau yang kurang pengalaman! Seharusnya lihat dulu sebelum membantu seseorang. Jika layak, bantulah. Jika tidak, cukup lihat penderitaannya," tutur Tabib Tao agar Cao Tian Jun belajar dari kesalahannya.


"Jika aku lepas dari sini, Kerajaan Lentera Kerajaan Kelelawar dan Desa Bunga, hanya tinggal sejarah. Lihat saja nanti!" ancaman Cao Tian Jun


"Jika kau bisa lepas! Tetapi itu tidak mungkin!" sela Yan Denglong sambil membuka pintu penjara besi.


"Waktunya untuk membangkitkan putraku!"


Setelah Yan Denglong memberikan perintah kepada bawahannya, Tabib Tao membuka penutup peti mati. Sedangkan Raja Kelelawar membantu Yan Denglong menarik rantai pengikat kedua tangan dari Cao Tian Jun


Cao Tian Jun diseret keluar dari penjara untuk menuju ke peti mati. Lalu dia melihat Meng Xiu, Tao Lien, Tabib Tao dan Kepala Suku Xi membentuk formasi empat mata angin.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" bentakan Cao Tian Jun ketika akan dimasukkan ke dalam peti mati.


Apalah daya karena kekuatan tersegel, Cao Tian Jun dengan mudah dimasukkan ke dalam peti mati. Lalu Raja Kelelawar dan Yan Denglong segera menutup peti mati.


Kemudian, Tabib Tao, Kepala Suku Xi, Meng Xiu dan Tao Lien, dengan segera mengarahkan kedua tangannya ke peti mati. Dari tangan mereka keluar energi sihir.


Peti mati itu bergetar hebat saat dialiri mantra pembangkit mayat. Yan Denglong dan Raja Kelelawar juga mengalirkan energinya ke arah peti mati. Semua orang melihat Cao Tian Jun yang dengan sekuat tenaga mendorong penutup peti. Mereka tersenyum karena Yan Houcun akan segera hidup.


Karena mantra pembangkit mayat, kedua mata Yan Houcun terbuka, lalu membuka mulutnya yang memperlihatkan empat taring tajam. Yan Houcun akan mengigit leher Cao Tian Jun.


Agar bisa hidup kembali selayaknya manusia, dia harus menghisap darah segar, serta menyerap jiwa korbannya untuk menyempurnakan kehidupan barunya. Selain itu, dia juga akan memiliki semua kekuatan serta kemampuan dari korbannya.


Akan tetapi semua orang terkejut melihat Cao Tian Jun yang tiba-tiba menghilang dari dalam peti mati. Akibatnya, Yan Houcun yang telah menjadi mayat hidup tanpa mendapatkan darah segar, seketika tubuhnya membatu dan perlahan berubah menjadi abu


Sontak Yan Denglong dan Raja Kelelawar menjadi murka karena Cao Tian Jun, yang entah bagaimana caranya bisa kabur. Mereka segera membuka penutup peti mati sebelum seluruh tubuh Yan Houcun menjadi abu. Kemudian, mereka mengiris urat nadi, lalu keluar darah segar yang menetes ke mulut Yan Houcun.


Sayangnya, darah segar itu tidak mampu mempertahankan tubuh dari Yan Houcun agar tetap utuh. Sebelum putranya benar-benar musnah, Yan Denglong melihat Tabib Tao, lalu mencengkeram kuat lehernya.


"A-apa yang... Anda lakukan? Hamba selalu setia kepada Anda !" Tabib Tao berusaha untuk berbicara, dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Yan Denglong.


"Kau harus menggantikannya, aku tidak ingin putraku musnah!" ungkap Yan Denglong yang akan mengorbankan Tabib Tao agar putranya hidup lagi.


Tabib Tao meronta-ronta agar terlepas dari cengkeraman tangan, namun apalah daya karena kalah dalam kekuatan, dia dengan mudah masuk ke dalam peti mati. Lalu Yan Denglong dan Raja Kelelawar segera menutup peti mati.


"Biarkan mereka, dan bantu aku!" cegah Yan Denglong sebelum Raja Kelelawar mengejar ketiga bawahannya.


Raja Kelelawar segera berhenti, dan membantu leluhurnya. Mereka melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh keempat anak buahnya...


Sedangkan Cao Tian Jun, dia berhasil kabur tepat waktu setelah kekuatannya dipulihkan oleh Batu Keabadian. Sebelum Yan Houcun mengigit lehernya, dia segera menggunakan teleportasi untuk kabur.


Saat ini, dia duduk lemas karena peristiwa yang baru saja akan mengancam nyawanya, dia geleng-geleng karena tidak pernah membayangkan kejadian ini. Untung saja, penyamarannya tidak diketahui sehingga perbuatannya yang telah membunuh Raja Yan Ju Long tidak berimbas kepada akademi.


Entah di mana dirinya saat ini karena menggunakan Teknik Teleportasi secara acak, dia hanya tahu ini hari sudah siang dan berada di padang pasir.


"Black Dessert," gumamnya karena melihat padang pasir berwarna hitam berkilauan.


"Karena kalian, jangan pernah menyalahkan diriku yang akan memusnahkan seluruh penduduk Desa Bunga, Kerajaan Lentera dan Kerajaan Kelelawar!" gumamnya.


Ucapannya tidak sekedar bualan semata. Tujuan pertamanya adalah memusnahkan Desa Bunga. Lalu dia melihat beberapa prajurit Suku Ular yang berjalan kearahnya.


"Suku Xi... Kalian yang pertama!" gumamnya yang mengurungkan niat untuk memusnahkan Desa Bunga karena Suku Xi juga terlibat, dan lokasinya saat ini masuk ke dalam wilayah musuh.

__ADS_1


Karena Teknik Teleportasi belum bisa digunakan lagi, dia masuk ke dalam Cincin Dimensinya. Mempersiapkan diri untuk membalas perbuatan semua musuhnya.


Prajurit Suku Ular Xi melihat jejak yang dibuat oleh Cao Tian Jun, mereka mengendus-endus untuk melacak keberadaan penyusup. Mereka kebingungan karena aroma tubuh si penyusup begitu saja menghilang. Segera mereka menyebar ke segala arah untuk mencari keberadaan si penyusup.


Cao Tian Jun melihat mereka. Dia segera membuat boneka wayang untuk dijadikan pasukannya dalam misi balas dendam. Karena tidak lagi kekurangan material dan juga sering membuatnya, dia tidak lagi kesulitan dalam pembuatan boneka wayang, apalagi kekuatannya telah meningkat jauh.


Siang dan malam, dia tidak berhenti untuk membuat boneka wayang. Dalam waktu dua hari, dia telah membuat tiga. Berhenti untuk tidur selama empat batang dupa, setelah itu dia segera kembali bekerja.


Cao Tian Jun meleburkan beberapa meterial dalam satu wadah pembakaran. Setelah bahan-bahan mencair, memasukan kedalam plat cetakan setiap bagian tubuh dari boneka wayang. Setelah cairan logam terbentuk, dia membakar cetakannya.


Di saat bagian tubuh boneka wayang membara, Cao Tian Jun menempanya agar semakin kuat. Dengan palu khusus, dia memukuli bagian tubuh dari boneka wayang...


...****************...


Kepala Suku Xi, Meng Xiu dan Tao Lien telah kembali ke tempatnya, tepatnya berada di sisi selatan dari Desa Bunga. Kepala Suku Xi segera melapor kepada Ratu Ular Surgawi terkait perbuatan Yan Denglong yang mengorbankan Tabib Tao.


Ratu Ular Surgawi tidak berkomentar apapun terkait kematian Tabib Tao, dia justru memerintahkan pengawalnya untuk mengambil ahli Desa Bunga dan juga menguasai tambang Batu Formasi.


Kepala Suku Xi yang berharap agar menjadi pengganti Kepala Desa Bunga, jelas kecewa karena keputusan ratunya. Mengetahui keinginannya, Ratu Ular Surgawi memberikan perintah.


"Persiapkan diri untuk menguasai Kerajaan Kelelawar! Jika kau berhasil, kau yang akan menjadi penguasa Pegunungan Lima Jari!"


"Maaf, Yang Mulia Ratu, bagaimana bisa hamba menguasai Kerajaan Kelelawar? Yang Mulia tahu jika kekuatan militer yang hamba miliki!" sahut Kepala Suku Xi tahu batas kekuatan militernya jika harus berhadapan dengan Raja Kelelawar.


"Yu Zhong, Jenderal Giok Kuning dan beberapa pendukungku akan membantumu, termasuk Naga Bumi. Jika kau tidak berhasil menguasai Kerajaan Kelelawar, sungguh keterlaluan! Dan, apa perlu aku harus turun tangan sendiri?" Ratu Ular Surgawi geram karena Kepala Suku Xi selalu membantahnya.


Kepala Suku Xi segera membenturkan kepalanya karena takut Ratu Ular Surgawi menjadi murka. Tetapi di dalam hatinya, dia senang mendapatkan bantuan dari sekutu.


"Hamba tidak akan sekuat tenaga untuk menguasai Kerajaan Kelelawar. Hamba undur diri, Yang Mulia Ratu!" pamit Kepala Suku Xi sebelum diusir oleh Ratu Ular Surgawi.


Ratu Ular Surgawi melambaikan tangan agar Kepala Suku Xi keluar dari istananya. Dua pengawal istana segera mengawal Kepala Suku Xi.


"Setelah aku menyatu dengan kekasihku... Waktunya aku membalas kematian ibuku!" gumam Ratu Ular Surgawi sambil melihat lukisan ibunya (Celestial She).


"Tian Ba, lihat saja nanti!"


¹ Ratu Ular Surgawi mengetahui kematian ibunya yang dibunuh oleh Tian Ba, dia tahu kebenaran ini dari penjaga setia Celestial She yang waktu itu membantu kelahirannya.


Walaupun Ratu Ular Surgawi terlihat usia 20 tahunan, usianya telah mencapai puluhan ribu tahun. Selama itu, dia selalu menunggu kedatangan kekasihnya yang tidak lain adalah Dewa Abadi.


Menurut catatan yang ditinggalkan oleh Celestial She, setelah Ratu Ular Surgawi dan Dewa Abadi menyatu dalam satu ikatan pernikahan, maka akan mampu mengalahkan Tian Ba, bahkan mampu memusnahkan Alam Kudus.

__ADS_1


Bersambung.


(Note: ¹ kisah kematian Celestial She atau yang dikenal dengan nama Celestial Snake, bisa dibaca di novel God Of Beast 2.)


__ADS_2