
Bab 64. Pengakuan Yuan Zhen.
Cao Tian Jun akhirnya mengalah karena kapal angkut akan segera berangkat, dia mengikuti Yuan Zhen yang sudah naik setelah pemeriksaan tiket.
Saat berada di atas dek kapal, sudah banyak orang yang naik, di antara mereka tidak ada satupun prajurit dari Kekaisaran Xia maupun dari Kerajaan Sembilan Surga, hanya ada penumpang dan anak buah kapal. Sedangkan murid dan guru dari Sekolah Surga Kesembilan, naik di kapal milik Kerajaan Sembilan Surga.
Yuan Zhen berbicara dengan suara lirih dengan mendekatkan bibirnya di telinga Cao Tian Jun, "kamu nanti tidur di luar karena kita bukan pasangan!"
"Enak saja! Kamu yang seharusnya tidur di luar, itukan tiketku!" tolak Cao Tian Jun yang jelas tidak mau.
"Husst...! Jangan keras-keras ngomongnya, bodoh!" geram Yuan Zhen yang khawatir ketahuan jika mereka bukanlah pasangan suami-istri. Jika ketahuan, maka mereka berdua akan diusir dari kapal angkut.
"Kamu yang bodoh! Kamu tuh sangat licik dan juga pembohong!" balas Cao Tian Jun yang tidak terima.
Karena tidak ingin suara Cao Tian Jun terdengar penumpang, Yuan Zhen langsung menutup mulut pria yang menjengkelkan ini, lalu dia berkata dengan terpaksa, "baiklah, kamu bisa tinggal di kamarku!"
Karena perjalanan menuju ke Gunung Kapur sangat jauh, maka setiap penumpang diberikan kamar sesuai dengan harga tiket. Oleh sebab itu, tiket yang dibeli Cao Tian Jun lebih mahal daripada tiket kelas ekonomi.
Cao Tian Jun melepaskan tangan kanan Yuan Zhen yang membekap mulutnya, dia melotot tapi tidak membalas perkataannya. Dia mengikuti Yuan Zhen yang masuk ke dalam kabin kapal angkut.
Para penumpang tersenyum melihat kelakuan dua pasangan yang bertengkar, mereka merasa jika itu hal umum dialami oleh pasangan muda-mudi yang baru menikah.
Saat masuk ke dalam kamar kapal angkut, Cao Tian Jun melihat hanya ada satu ranjang, dan dua tempat duduk dengan satu meja, lalu ada fasilitas lain yang berupa kamar mandi. Lalu dia melihat Yuan Zhen dengan santainya membaringkan tubuh di ranjang besi.
Cao Tian Jun hanya bisa menghela napas panjang, lalu dia duduk di dekat jendela kamar. Dia melihat armada kapal angkasa bergerak terlebih dahulu.
"Berapa lama kita sampai tujuan?" tanya Cao Tian Jun sambil melihat Yuan Zhen yang melepaskan pakaian penyamaran.
Setelah pakaian berlapis itu dilepaskan, Cao Tian Jun sedikit terkejut, pasalnya Yuan Zhen mengenakan pakaian seragam murid inti dari pusat Akademi Merpati Putih, dia kurang teliti sewaktu memeriksa Yuan Zhen ketika berada di dalam toko.
"Jadi kamu itu murid! Pasti, kamu keluar dari akademi tanpa izin, kan?" tebakan Cao Tian Jun dengan matanya memperhatikan wajah cantik Yuan Zhen.
Yuan Zhen menghela napas berat, sambil melipat pakaian penyamarannya, lalu ia menatap jendela kamar sambil berbicara, "keluargaku dalam bahaya, bagaimana bisa aku berdiam diri!"
Cao Tian Jun mengangguk paham akan perasaan Yuan Zhen. Seandainya dia berada di posisinya, jelas akan melakukan hal yang sama, keluarga bagi siapapun sangat berharga daripada apapun.
"Jika tidak ada hambatan, kita akan tiba di Dermaga Bunga Lou dalam waktu satu setengah hari," kata Yuan Zhen yang menjawab pertanyaan Cao Tian Jun sesaat lalu.
"Istirahatlah, kamu membutuhkan energi penuh agar bisa menemui keluargamu," ucap Cao Tian Jun yang ingin Yuan Zhen tidur dengan tenang tanpa kehadirannya.
__ADS_1
"Tunggu!" cegah Yuan Zhen sebelum Cao Tian Jun berdiri.
"Ada apa?" tanya Cao Tian Jun yang keheranan, sudah diberikan kesempatan untuk tidur sendiri masih mencegahnya.
"Bisakah aku meminta bantuanmu?" harap Yuan Zhen.
"Bantuan apa? Jika aku mampu dan tidak melewati batas toleransi, aku akan menyanggupinya!"
Yuan Zhen mengembangkan senyuman hangat, lalu dia melihat Cao Tian Jun duduk kembali. "Maukah kamu mengantarkan sampai bertemu dengan keluargaku!" pintanya dengan penuh harapan.
Ya, Yuan Zhen tidak mungkin melakukan perjalanan jauh ke Kerajaan Bintang Laut seorang diri, apakah dia seorang wanita.
Selain perjalanan masih jauh dan banyak hambatan, bahaya terbesar berasal dari binatang mistik dan para bandit.
Setelah kapal angkut tiba di Dermaga Bunga Lou, maka Yuan Zhen harus melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh, ia harus melewati Gunung Kapur, Hutan Kayu Mati (Dead Wood Forest) yang sangat luas serta lebat, dan Jurang Berkabut (Misty Abyss) yang menjadi basis para bandit, dan setelah itu baru sampai di kota terdekat.
"Tidakkah lebih baik kamu bergabung dengan para tentara?" selidik Cao Tian Jun yang keheranan kenapa Yuan Zhen memintanya untuk menemani perjalanan, padahal tujuannya sama dengan tentara kekaisaran.
Yuan Zhen kembali menghela napas berat karena pertanyaan Cao Tian Jun, ada beban berat yang mengganjal hatinya. Ada sesuatu yang enggan diutarakan kepada orang lain, suatu hal yang sangat rahasia.
"Daratan Benua Timur Tengah telah melawan binatang mistik selama beberapa hari ini, padahal pesan bantuan dari Raja Yuan seharusnya sudah diterima oleh Kaisar Xia. Tapi nyatanya, Kaisar Xia mengirim pasukan sangat-sangat terlambat. Apakah kamu tidak curiga tujuan Kaisar Xia yang terlambat mengirimkan bantuan?" Yuan Zhen menjelaskan secara singkat, dan balik bertanya kepada Cao Tian Jun.
Jelas Cao Tian Jun kebingungan, dia saja baru pertama kali berada di Dermaga Bai Ma, menjadi murid juga masih baru, dan sudah ditanya tentang masalah politik, jelas dia tidak tahu apa-apa, apalagi rencana para penguasa.
Melihat wajahnya, Yuan Zhen terpesona melihat ketampanan pria yang menjengkelkan ini, rasa jengkelnya yang terpendam di hati dalam sekejap menguap.
"Aku pusing memikirkan hal yang jauh dari wawasanku! Tujuanku sebenarnya adalah ke Perguruan Mata Dewa. Jika aku mengantarkanmu sampai ke ibukota Kerajaan Bintang Laut, sama saja aku harus menempuh jarak dua kali lebih jauh. Tetapi, jika kau mau mengikutiku terlebih dahulu sampai urusanku beres, baru aku mau mengantarmu sampai tujuan!" ucap Cao Tian Jun yang menolak permintaan Yuan Zhen secara halus, lalu dia melihatnya seperti orang bodoh yang melongo menatapnya.
Mendengar penolakan Cao Tian Jun, Yuan Zhen seketika wajahnya menjadi merah karena kesal. Wajah tampan di matanya seketika lenyap, ia seakan-akan melihat seorang pria yang tidak peduli dengan kecantikan.
"Pria zaman sekarang sulit untuk dimintai pertolongan. Mereka hanya mau membantu jika ada embel-embel!" sindiran Yuan Zhen yang mengira Cao Tian Jun menolak karena tidak ada biaya.
Cao Tian Jun yang marah langsung berdiri, dia keluar dari kamar. Dia malas berdebat dengan Yuan Zhen yang dianggapnya sombong.
"Ke mana kau, tunggu... Jangan pergi!" cegah Yuan Zhen dengan segera memblokir pintu sebelum Cao Tian Jun keluar.
"Apa-apaan sih! Minggir!" bentak Cao Tian Jun yang baru pertama kali kasar kepada wanita.
"Aku seorang putri raja, baru kali ini diperlukan buruk dan tak dihormati oleh orang lain. Raja Yuan adalah ayahku, sudah seharusnya kau mengikuti semua keinginanku!" ungkap Yuan Zhen dengan nada bangga dan makin sombong.
__ADS_1
Cao Tian Jun mengatupkan rahang hingga suara gemeretak gigi terdengar, dia kali ini sudah sangat marah. Sebelum menampar pipi Yuan Zhen, dia teringat pesan guru.
"Sekuat apapun wanita, mereka tetap lemah. Wanita menggunakan perasaannya dalam menghadapi semua hal. Dan, jika kamu memukulnya, itu mudah sekali. Oleh sebab itu, perlakuan semua wanita itu seperti ibumu."
Cao Tian Jun menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya. Lalu dia kembali duduk sambil melihat ke luar jendela. Di luar jendela, ada dua kapal perang yang mengapit kapal yang ditumpanginya.
"Ya, sudah seharusnya kau seperti ini. Tunduk kepada seorang putri raja!" kata Yuan Zhen dengan nada bangga saat melihat Cao Tian Jun mengikuti perintahnya, "setelah kau mengantarkanku, Raja Yuan pasti akan memberikan upah yang sangat melimpah."
Cao Tian Jun memang mendengar perkataan Yuan Zhen dengan jelas, tetapi dia menghiraukannya. Di dalam pikirannya, kenapa jika seorang putri raja harus menyelinap keluar dari akademi?
Jika memang seorang putri raja, sudah seharusnya ada pengawalnya, tidak mungkin bepergian sendirian, apalagi perjalanan sangatlah jauh dan banyak bahaya, aneh pikirnya.
Yuan Zhen kembali kesal karena tidak dihiraukan oleh Cao Tian Jun. Sebelum ia marah, terdengar suara para prajurit berteriak-teriak mencari seseorang yang sangat penting.
Cao Tian Jun melirik Yuan Zhen karena para prajurit yang mencari seseorang memanggil nama Putri Raja Yuan. Dia melihat Yuan Zhen sangat panik dan buru-buru mengenakan pakaian penyamaran.
"Kau dicari mereka tuh, apa perlu aku keluar dan memberitahukan mereka?" ucap Cao Tian Jun dengan polosnya.
"Tolong, jangan. Aku mohon!" Yuan Zhen segera menyahut karena tidak ingin Cao Tian Jun mengungkapkan keberadaannya.
Cao Tian Jun tersenyum tipis, setelah itu dia bertanya, "bicaralah dengan jujur. Ada yang sebenarnya terjadi antara Kerajaan Bintang Laut dan Kekaisaran Xia? Kenapa kamu sampai ketakutan seperti ini?"
Yuan Zhen yang ditanya sedang berjalan mondar-mandir di ruang kecil, ia sangat ketakutan serta panik karena dicari-cari oleh para prajurit. Ia segera memutar otaknya untuk mencari cara agar lolos dari kejaran.
"Jika aku ceritakan yang sebenarnya, apakah kamu mau membantuku?" harap Yuan Zhen dengan nada lembut, layak seorang putri raja.
Cao Tian Jun geleng-geleng kepala karena emosi wanita dengan cepat berubah. Sesaat lalu seperti iblis, sedetik kemudian sudah berubah menjadi malaikat.
"Iya!" jawab Cao Tian Jun dengan singkat.
Yuan Zhen duduk kembali tapi masih tidak tenang karena para prajurit makin mendekati kamarnya.
"Sebenarnya, Kerajaan Bintang Laut dan Kekaisaran Xia tidak dalam situasi yang baik-baik saja! Walaupun Kerajaan Bintang Laut dibawa kekuasaan Kaisar Xia, ayahku tidak serta-merta mau tunduk karena hasil alam Daratan Benua Timur Tengah selalu dieksploitasi mereka. Ayah menginginkan pisah dari kekuasaan kekaisaran, namun karena kalah dukungan dan kekayaan...," Yuan Zhen menceritakan sebenarnya kepada Cao Tian Jun dengan tergesa-gesa.
Intinya, Raja Yuan tidak ingin mematuhi peraturan pemerintah kekaisaran, karena selama ini hanya dimanfaatkan. Selama ini, kekaisaran meminta pajak melebihi batas normal, dan selama itu Raja Yuan masih mampu membayarnya berkat sumber daya alam yang melimpah.
Akan tetapi, ketika Raja Yuan mendapatkan musibah, Kekaisaran Xia selalu menutup mata, salah satunya yang baru-baru ini terjadi. Oleh sebab itu, Raja Yuan ingin memisahkan diri dari cengkraman Kaisar Xia.
"... Jika aku tertangkap... Kamu sudah tahu apa yang akan terjadi padaku." Yuan Zhen selesai menceritakan kebenaran.
__ADS_1
Yuan Zhen kabur dari pusat Akademi Merpati Putih dikarenakan mendengar kabar runtuhnya Kerajaan Bintang Laut. Tetap sebenarnya, dia kabur bukan karena dia ingin membantu keluarganya, melainkan sedang dikejar-kejar oleh Kaisar Xia untuk dijadikan sandera.
Karena runtuhnya Kerajaan Bintang Laut, maka Kekaisaran Xia akan dengan mudah mengekploitasi kekayaan alamnya. Dan, inilah tujuan Kaisar Xia yang dengan sengaja terlambat mengirimkan bala bantuan.