8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Apa Salahku?


__ADS_3

Bab 112. Apa Salahku?


Cao Tian Jun tiba-tiba menunjukkan botol giok yang mengeluarkan hawa dingin, kabut asap yang keluar dari botol itu berwarna merah muda. Xia Junsu terbelalak melihat itu karena tahu ciri-ciri dari esensi Naga Bumi.


"Saya sudah mendapatkannya, bahkan semua cairan esensi Naga Bumi kuambil semua," kata Cao Tian Jun sambil duduk.


Xia Junsu seketika diam membeku sambil menatap botol giok. Tangannya gemetaran ketika menerima botol giok dari tangan putranya. Setelah membuka tutup botol, kedua matanya menjadi sembap.


Cao Tian Jun terkejut karena Xia Junsu memeluknya. Terasa dada kenyal menghimpit tubuhnya, dan membuatnya menelan saliva. Dia tidak menyangka wanita sekuat ini mau memeluknya.


"Terima kasih!" ucapan Xia Junsu dengan tulus dan terdengar jelas di telinga, rasa khawatir, kesal seketika lenyap.


Cao Tian Jun mengeluarkan 9 botol giok berisi esensi Naga Bumi. Melihat itu, Xia Junsu hanya bisa diam membeku, ia tidak menyangka putranya segila ini dengan mendapatkan semua cairan esensi Naga Bumi. Xia Junsu tidak bisa membayangkan bagaimana putranya senekat ini...


Sebelum Cao Tian Jun keluar dari gua. Berkat Teknik Perubahan Wujud, dia menguras habis esensi Naga Bumi, bahkan tidak sedikit meninggalkan setetes esensi. Namun dia melakukan itu dengan sangat hati-hati.


Naga Bumi betina belum menyadarinya. Namun, ketika Cao Tian Jun mengambil 12 Buah Dao dari Pohon Primordial, baru Naga Bumi betina mengetahuinya.


Jelas Naga Bumi sangat marah melihat Buah Dao yang akan dijadikan makanan untuk anak setelah lahir, telah dicuri. Naga Bumi semakin marah karena esensinya juga dicuri.


Dengan mengikuti perubahan udara, Naga Bumi mengejar Cao Tian Jun. Lalu mengayunkan ekor sehingga mengenai punggung si pencuri. Naga Bumi jantan yang tertidur segera bangun, dan ikut mengejar Cao Tian Jun yang sudah keluar dari dunia bawah tanah.


Untung saja Cao Tian Jun memiliki Teknik Teleportasi, sehingga serangan dari Naga Bumi jantan tidak mengenainya, terjadilah ledakan keras di dalam gua ketika serangan Naga Bumi gagal mengenai si pencuri.


"Seperti kesepakatan sebelumnya, kita bagi dua esensi Naga Bumi," kata Cao Tian Jun sambil mendorong empat botol giok kepada Xia Junsu.


"Tidak, aku hanya membutuhkan satu ini saja!" tolak Xia Junsu sambil menunjuk botol giok yang sebelumnya telah diberikan.


"Kesepakatan tetap kesepakatan! Ini milik Senior Junsu!" Cao Tian Jun bersikukuh untuk memberikan bagian milik Xia Junsu, sebab dia sudah mendapatkan banyak harta langka.


"Aku juga mengambil Buah Dao, semuanya! Hahaha!" ungkap Cao Tian Jun dan diakhiri tawa penuh kemenangan.


Xia Junsu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Buah Dao diletakkan di tanah, ia tidak tahu harus berkata apa dengan kegilaan putranya ini. Dia berpikir, bagaimana cara putranya bertahan hidup ketika bayi? Siapa yang telah menolongnya? Dan masih segudang bertanya dihatinya.


Ingin rasanya ia bertanya dan mengungkapkan jati dirinya, namun jelas tidak mungkin sebelum membalas dendam. Xia Junsu tidak mampu menahan air mata penuh penyesalan karena tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik.


Siapapun bisa membayangkan bagaimana caranya seorang bayi bertahan hidup di alam liar, jelas dipenuhi dengan kesulitan, nyawa setiap hari dipertaruhkan.


Tiba-tiba Xia Junsu kembali memeluk Cao Tian Jun karena hatinya tidak sanggup membayangkan putranya sewaktu bayi, dia menangis sejadi-jadinya.


Cao Tian Jun kebingungan dengan tingkah Xia Junsu. Tetapi, ada perasaan pelukan ini seperti pelukan seorang ibu yang penuh kasih, pelukan yang selalu dirindukannya. Cao Tian Jun membalas pelukannya dengan erat.


"Saya baik-baik saja. Sudah lupakan!" Cao Tian Jun tidak ingin Xia Junsu menangis karena tindakannya

__ADS_1


Segera Xia Junsu melepaskan pelukannya, lalu segera berdiri dan membalikkan badan, dia mengusap air mata. Cao Tian Jun tersenyum melihat keanehan Xia Junsu.


"Aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalah dantian!" janji Xia Junsu sambil duduk kembali dan berhadapan dengan putranya.


Sebagai seorang ibu, jelas dia akan berusaha sekuat mungkin untuk membantu kesulitan putranya. Walaupun selama ini Xia Junsu dipenjara di Pagoda Penyesalan, dia selalu mencari informasi keberadaan bayinya, mengirim orang kepercayaan untuk terus mencari putranya di wilayah Kerajaan Lentera, di Kota Naga Hitam dan juga Akademi Merpati Putih kelas dua.


"Terima kasih! Tetapi tidak perlu, saya sudah mendapatkan solusinya!" tolak Cao Tian Jun dengan jujur, dia bahkan memiliki dua cara untuk menyelesaikan masalahnya.


Xia Junsu menatap dalam-dalam wajah putranya. Ingin rasanya hatinya berteriak keras untuk meluapkan emosi karena tidak becus menjadi seorang ibu.


"Ini untuk Anda, dan jangan menolaknya!" ucap Cao Tian Jun dengan tegas sambil memberikan lima Buah Dao dan empat botol giok berisi esensi Naga Bumi.


Xia Junsu menundukkan wajahnya karena tidak sanggup menahan terus hatinya kacau. Hatinya seperti dicabik-cabik mengetahui kebaikan putranya seperti ini. Seharusnya dirinya yang memberikan apapun untuk putranya, bukan sebaliknya.


Karena tidak ingin berlarut-larut dalam situasi seperti ini, Xia Junsu segera menerima pemberian dari putranya dengan terpaksa. Kemudian, dengan tegas bertanya, "di mana kita?"


"Tempat rahasia, hanya saya yang tahu!" jawab Cao Tian Jun sambil menatap Xia Junsu yang melihat sekelilingnya.


Entah apa yang dipikirkan oleh Xia Junsu, ia segera berbicara, "ayo, kita keluar dari sini. Masih banyak hal yang perlu kulakukan!"


Cao Tian Jun segera berdiri, lalu tiba-tiba memegang pergelangan tangan kanan Xia Junsu. Dalam sekejap mata, mereka berdua telah berada di tempat semula. Xia Junsu segera mengeluarkan sihir teleportasi, dan menghilang dari pandangan Cao Tian Jun tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Wanita yang aneh!" gumam Cao Tian Jun yang masih melihat lingkaran sihir perlahan mulai menghilang, tersungging senyuman di bibirnya karena kejadian semalam.


"Setidaknya semalaman tanpa sengaja kita ... Kamu lebih hebat dari Ao Zhen Juan! Hahaha!" Cao Tian Jun tertawa penuh kemenangan karena kemarin dan hari ini hidupnya melimpah dengan keberuntungan.


Cao Tian Jun seketika berhenti tertawa karena melihat bayangan besar menutupi tubuhnya. Tahu jika bayangan itu adalah Naga Bumi, segera Cao Tian Jun mengeluarkan Teknik Bayangan Merpati Putih.


"Roarrr...!?" raungan Naga Bumi betina setelah gagal menangkap Cao Tian Jun, dia segera mengejarnya.


Cao Tian Jun dengan panik melarikan diri dari kejaran Naga Bumi betina. Dia makin ketakutan karena Naga Bumi jantan terbang di atasnya, si betina di belakangnya terus mengejar dan semakin dekat.


Cao Tian Jun belum bisa menggunakan Teknik Teleportasi karena baru digunakan, butuh waktu kurang dari satu batang dupa untuk bisa digunakan lagi.


Boom...


Ledakan keras ketika punggung Cao Tian Jun terkena sabetan ekor Naga Bumi betina, dia terpental ke depan dan menabrak banyak pepohonan. Seluruh organ tubuhnya terasa ingin keluar setelah terhantam ekor.


Dia buru-buru bangkit sambil mengusap darah disudut bibirnya. Lalu kembali mengeluarkan Teknik Bayangan Merpati Putih untuk mengecoh lawan. Suara ledakan kembali terdengar ketika enam bayangan terkena sabetan ekor Naga Bumi.


Sambil berlari menuju Kota Peristirahatan, dia mengumpat berkali-kali karena kedua Naga Bumi itu dengan cepat menyusulnya.


"Penguasa, kembalikan telurnya!"

__ADS_1


Suara dari Crown Stone terdengar di benak Cao Tian Jun. Ternyata, inilah yang membuat Naga Bumi betina dan jantan murka karena Cao Tian Jun mencuri telurnya.


Sambil terus berlari dengan panik, Cao Tian Jun mengeluarkan telur Naga Bumi, lalu melemparkan ke arah Naga Bumi jantan yang terbang di atasnya.


"Nikmati itu, cacing!" ejek Cao Tian Jun setelah melemparkan telur, dia kembali meningkatkan Kecepatannya.


Naga Bumi jantan menangkap telurnya dengan mulutnya tanpa melukai cangkang anaknya, dan segera mendarat. Baru saja mendarat, Naga Bumi betina mengayunkan ekornya untuk meluapkan kemarahannya karena sebagai pasangan gagal menjadi penjaga gua.


Boom...


Tubuh Naga Bumi jantan terkena hantaman ekor pasangannya, namun dia tidak sedikitpun marah maupun mengeluh. Lalu dia menjulur lidahnya yang terdapat telur kepada si betina.


Naga Bumi betina mengambil telurnya, lalu kembali mengayunkan ekornya dan menghantam kepala Naga Bumi jantan. Setelah itu, Naga Bumi betina meninggalkan pasangannya.


"Roarrr...?!" raungan Naga Bumi jantan karena menjadi samsak kemarahan istrinya gara-gara Cao Tian Jun, dia segera kembali mengejarnya...


Semua orang yang mencari Cao Tian Jun telah berkumpul di Kota Peristirahatan karena kemunculan dua ekor Naga Bumi. Mereka tercengang ketika melihat Cao Tian Jun kembali dikejar-kejar Naga Bumi. Semua orang juga melihat ketika Cao Tian Jun melemparkan telur Naga Bumi. Akhirnya tahu kenapa Naga Bumi sangat murka.


Bai Guan yang dibuat khawatir dan panik oleh muridnya, hanya bisa menepuk keningnya karena sudah dua kali ini membuat kehebohan di Kuil Atas Awan. Dan setiap kali muncul, selalu saja membuat sensasi.


"Anak ini tidak bisa dilepaskan dengan bebas. Beberapa hari ini saja membuat kehebohan, apalagi berbulan-bulan!" kekesalan Bai Guan yang dengan sengaja tidak menolong Cao Tian Jun yang dikejar-kejar Naga Bumi jantan.


Tidak hanya Bai Guan saja yang kesal, melainkan Tim Phoenix dan semua gurunya juga dibuat jengkel oleh Cao Tian Jun.


"Guru, tolong saya!!" teriakan Cao Tian Jun saat dekat dengan kota.


Naga Bumi jantan segera berhenti karena melihat mantra sihir pengusir binatang di pintu gerbang kota. Dia menyemburkan air ke arah Cao Tian Jun, namun tidak mengenainya.


Ketika dekat dengan pintu kota, Cao Tian Jun membalikkan badan dan melihat Naga Bumi, "kenapa berhenti! Ayo, kejar aku!"


Tantangannya sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanan, dan tangan kirinya di pinggang. Semua orang semakin jengkel melihat Cao Tian Jun memprovokasi Naga Bumi jantan.


Karena kesal, Bai Guan keluar dari kota dengan sangat cepat. Saat dekat, tiba-tiba menendang pantat muridnya. Bai Guan tertawa puas setelah menendang murid yang menjengkelkan ini.


Cao Tian Jun terpental ke depan sambil memaki-maki gurunya. Bukannya ditolong maupun disambut dengan hangat, malah ditendang seperti ini. Cao Tian Jun jelas kesal. Namun, dia tidak tahu telah dikhawatirkan oleh banyak orang gara-gara diculik oleh orang berjubah hitam.


Naga Bumi jantan berbinar-binar melihat Cao Tian Jun ke arahnya, dia membuka mulut untuk siap memakannya. Akan tetapi, Cao Tian Jun segera menghentakkan kaki kanan untuk menstabilkan tubuh, lalu segera mundur sebelum dikejar oleh Naga Bumi.


"Ingat, jaga telur mu!" ancaman Cao Tian Jun kepada Naga Bumi jantan, lalu dia segera berlari menuju ke kota.


Bai Guan seketika berhenti tertawa karena tindakan Cao Tian Jun, dia hanya bisa geleng-geleng kepala.


Setelah berada di depan Bai Guan dan semua orang, Cao Tian Jun bertanya tanpa ada rasa bersalah, "apakah fase tengah dilanjutkan?"

__ADS_1


"Tidak!" dengan kompak semua orang menjawab dengan nada tinggi.


Seketika Cao Tian Jun terdiam dengan mimik wajah tak bersalah karena reaksi mereka, "Apa salahku?" batinnya.


__ADS_2