
Bab 44. Nuwa Kecil.
Cao Tian Jun dan Xue Yue tidak mengetahui jika Fang Yin sebenarnya telah diselamatkan oleh Fang Guotin sebelum terkena serangan Ular Langit Tujuh Warna, dan itu bukan sepenuhnya karena kemampuan Fang Yin.
Ular Langit Tujuh Warna kembali bergerak menuju ke arah Fang Yin yang telah berada di seberang sungai. Namun kembali sebuah lingkaran muncul di bawahnya, itu karena Fang Yin mengeluarkan skillnya yang lain, yaitu Fire Of Yang, satu teknik dengan skill Aqua Of Yin.
Tiba-tiba, dari langit berjatuhan api yang menghujani tubuh Ular Langit Tujuh Warna. Suara ledakan demi ledakan membuat target mengeliat kesakitan ketika terkena bola api, dan dia berusaha untuk masuk ke dalam sungai.
Ular Langit Tujuh Warna tahu jika Fang Yin tidak sendirian, tidak mungkin dengan kekuatan Fang Yin saat ini mampu menyakitinya. Karena tidak mau dijinakkan, lebih baik kabur dan menyembunyikan diri dari manusia.
Fang Yin jelas tidak akan memberikan kesempatan kepada Ular Langit Tujuh Warna untuk kabur, sebab ini adalah kesempatan yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Chu Sying dan yang lainnya segera keluar dari gua ketika mendengar suara ledakan energi. Mereka melihat Fang Yin bertarung seorang diri dengan seekor ular besar. Reaksi mereka jelas kaget dan sangat khawatir, namun Xue Yue segera menenangkan mereka.
Setelah api jatuh dari langit, Fang Yin kembali menggunakan skillnya yang lain agar buruannya tidak kabur, ia mengikuti petunjuk dari pamannya. Kali ini, ia menggunakan skillnya yang lain, yaitu skill Duality.
Skill Duality mampu mengurung dan memindahkan target yang telah ditentukan sesuai dengan kehendak si pengguna.
Muncul dua lingkaran, satu lingkaran di bawah Ular Langit Tujuh Warna, dan satu lingkaran lain berada di bekas tempat peristirahatan murid Akademi Bintang Terang, jaraknya sekitar 30 meter.
Ular Langit Tujuh Warna yang terlambat untuk masuk ke dalam sungai, berusaha keras dengan cara meronta-ronta karena sulit keluar dari dalam lingkaran. Dia kembali mengeluarkan serangan yang berasal dari kedua tanduknya.
Sebelum sinar keluar dari tanduk, Fang Yin yang didukung oleh pengawalnya, segera mengendalikan lingkaran Yin dan Yang untuk memindahkan Ular Langit Tujuh Warna. Dalam sekejap target telah berpindah tempat.
Tiba-tiba, Ular Langit Tujuh Warna berubah menjadi kecil dan menghilang sebelum terkurung lingkaran Duality. Sontak membuat Fang Yin dan pengawalnya tercengang, baru kali ini sihir mereka tidak mampu mengurung targetnya, dan menghilang di depan mata.
Fang Yin segera mencari keberadaan Ular Langit Tujuh Warna, namun dicegah oleh Fang Guotin, sebab dia sendiri telah kehilangan jejaknya. Dengan raut wajah yang kesal, Fang Yin kembali berkumpul dengan Tim Phoenix.
Cao Tian Jun dan timnya hanya bisa dibuat kagum dengan kehebatan Fang Yin, baru kali ini mereka mengetahui jika Fang Yin memiliki bakat yang terpendam. Pantas saja semua pemimpin di Akademi Merpati Putih sangat menghormati Fang Yin, itu karena asal usulnya sebagai seorang putri ahli Penyihir Putih tingkat tinggi.
"Kamu hebat!" pujian Li Jiancheng yang juga seorang Penyihir Putih.
"Gagal menjinakkan ... apalah artinya menjadi hebat!" gerutu Fang Yin yang kesal karena kehilangan jejak targetnya.
__ADS_1
"Dilain waktu pasti kamu bisa menjinakkannya. Anggap saja ini sebagai pengalaman!" hibur Xue Yue yang memberikan semangat kepada Fang Yin.
Tim Phoenix menghibur Fang Yin yang kecewa. Sedangkan Cao Tian Jun mencari keberadaan Ular Langit Tujuh Warna dengan Mata Surgawi.
Sebenarnya Cao Tian Jun ingin sekali membantu Fang Yin. Berhubungan Fang Yin yang penuh percaya diri mampu menjinakkannya, dia hanya bisa melihat pergerakan Ular Langit Tujuh Warna.
Ketika ular tersebut berubah menjadi kecil dan menghilang, Cao Tian Jun merasakan aura yang familiar, yaitu aura milik si Yan Yan. Karena itu, dia segera memeriksa lehernya dan tidak ada lagi kalung berlian yang merupakan penyamaran si Yan Yan.
"Apa benar ular itu adalah dia? Lalu apa tujuannya berubah menjadi ular?" batin Cao Tian Jun yang bertanya-tanya, dia terus mencari keberadaan Ular Langit Tujuh Warna.
"Hari akan menjelang pagi, alangkah baiknya kita mempersiapkan diri menuju ke lokasi keberadaan Leaping Toadstool yang berada di sisi bagian timur Pegunungan Lima Jari," kata Fang Yin yang segera melupakan kegagalannya.
Semua orang mengangguk setuju untuk melanjutkan perjalanan. Jarak tujuannya sejauh setengah hari perjalanan, dan Fang Yin ingin sesegera mungkin untuk mendapatkan Leaping Toadstool. Lalu berlanjut untuk mencari tanaman roh yang lainnya.
Semua orang membereskan barang-barangnya. Sedangkan Cao Tian Jun menepis perasaan yang mengira Ular Langit Tujuh Warna adalah si Yan Yan, dia menunggu Tim Phoenix di luar gua.
Setelah itu, mereka segera berangkat ke arah timur. Selama perjalanan, mereka tidak lupa juga untuk mengambil tanaman sesuai misi.
Seperti sebelumnya, setiap kali bertemu dengan binatang mistik, Tim Phoenix selalu menghindarinya dengan tujuan tidak membuang waktu. Dan kembali melanjutkan perjalanan setelah binatang mistik lewat.
Saat tiba di lokasi gadis itu, Cao Tian Jun berjongkok dan memegang pergelangan tangan untuk memeriksa kondisinya. Ternyata gadis kecil itu masih hidup, hanya saja detak jantungnya sangat lemah.
Saat membalikkan gadis itu yang telungkup, dia terkejut bukan main karena wajahnya sangat mirip dengan Yan Yan saat masih kecil, wajah yang dikenali sewaktu pertama kali bertemu.
"Yan Yan!" seruan Cao Tian Jun dengan segera menggendong gadis itu.
Gadis tersebut tidak terluka, tapi wajahnya sangat pucat seperti mengalami luka dalam. Dari sudut bibirnya mengeluarkan darah, lalu Cao Tian Jun memeriksa dadanya yang terlihat ada luka lebam.
Segera Cao Tian Jun mengeluarkan Pil Penyembuh dan memasukkan ke dalam mulut gadis tersebut. Tidak berselang lama, si gadis kecil itu membuka mata, ia terbatuk dan mengeluarkan darah hitam.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Cao Tian Jun kepada gadis itu.
Di dalam hatinya kembali timbul banyak pertanyaan. Dia kebingungan, apakah benar gadis kecil ini adalah Yan Yan? Jika bukan, ke mana keberadaan Yan Yan saat ini, kenapa pergi tidak berpamitan? Lalu siapa gadis ini?
__ADS_1
"Siapa kamu? Di mana ini?" suara gadis kecil yang kebingungan, ia segera turun dari gendongan Cao Tian Jun karena waspada, ia melihat sekitarnya dengan wajah ketakutan. Lalu memandang wajah Cao Tian Jun sambil tetap menjaga jarak.
"Aku Cao Tian Jun, kamu bisa memanggilku Kakak Tian atau Jun," jawab Cao Tian Jun yang memperkenalkan dirinya dengan ramah, "justru aku yang seharusnya bertanya, kenapa kamu bisa berada di hutan sendirian? Ke mana orang tuamu? Dan bagaimana bisa kamu terluka? Lalu siapa namamu?" lanjutnya dengan mencecar banyak pertanyaan.
Tiba-tiba muncul sebuah benda di belakang gadis itu, bentuknya seperti bulan sabit yang melayang, pada ujung terbentuk kepala ular, dan di ujungnya lainnya seperti ekor ular. Gadis itu duduk sembari mengayunkan kedua kakinya ke belakang ke depan, tampak tidak pernah sedikitpun mengalami luka, wajahnya juga telah kembali ceria.
Cao Tian Jun sedikit terkejut kemunculan benda aneh yang melayang itu. Dan kembali terkejut saat muncul di pangkuan gadis itu sebuah boneka ular, sangat mirip dengan Ular Langit Tujuh Warna, termasuk sama seperti bentuk kepala pada ujung bulat sabit.
"Apakah dia adalah Ular Langit Tujuh Warna?" batin Cao Tian Jun yang menerka-nerka.
Setelah duduk, gadis kecil itu melihat di dekat pelipisnya Cao Tian Jun yang berwarna hitam, yang ia lihat adalah tanduk naga yang disembunyikan.
Setelah melihat tanda itu, Gadis kecil itu berkata, "namaku ... Panggil saja Nuwa Kecil. Nuwa seorang yatim-piatu, dan Nuwa tersesat di hutan ini setelah kabur dari penjual budak. Ya, Nuwa sebelumnya luka dalam karena terkena pukulan dari orang jahat penjual budak itu...,"
Nuwa Kecil menceritakan bagaimana dia bisa berada di Pegunungan Lima Jari. Dia mengaku jika dirinya kini yatim-piatu, sedangkan orang tuanya dibunuh oleh penjual budak, bahkan seluruh penduduk desa asalnya juga di bantai. Banyak anak-anak dan perempuan ditangkap, rencananya akan dijual di ibukota Kekaisaran Xia.
Setelah berhasil dari para penjual budak, Nuwa Kecil tidak serta-merta bisa kabur dengan bebas, dia dikejar-kejar hingga terkena pukulan berenergi. Di saat kondisi terluka, Nuwa Kecil tidak mengetahui keberadaannya saat ini, dia tahu-tahu terbangun dan sudah melihat Cao Tian Jun.
Mengetahui cerita Nuwa Kecil, hati kecil Cao Tian Jun menjadi sangat terharu. Nasibnya tidak jauh dari Nuwa Kecil, sama-sama yatim-piatu, hanya saja dia masih memiliki guru yang selalu menjaganya saat itu.
"Jadilah adikku, aku berjanji selalu melindungi dan merawatmu dengan baik. Apapun keinginanmu akan kuberikan selama aku bisa!" harap Cao Tian Jun yang ingin menjadikan Nuwa Kecil sebagai adiknya, dia tidak tega melihat gadis kecil hidup seorang diri, apalagi di tengah hutan yang berbahaya.
Nuwa Kecil tidak segera menjawab, ia mengerutkan keningnya ketika curiga. Ia masih trauma kepada orang yang tidak dikenali. Akan tetapi, melihat ketulusan Cao Tian Jun dan juga ketampanannya, tidak mungkin ada niatan jahat.
"Benarkah Kakak akan melindungi Nuwa? Nuwa mau menjadi adik, tapi Kakak harus bersumpah Dao... Kakak harus berjanji untuk selalu melindungi dan juga merawat Nuwa dengan sebaik-baiknya!" pinta Nuwa Kecil.
Sumpah Dao sama saja dengan sumpah jiwa yang artinya jika sumpah itu dilanggar, maka selama hidupnya akan selalu mengalami kesialan. Tidak hanya itu, setiap kali menyakiti hati Nuwa Kecil, maka Cao Tian Jun ikut merasakannya, bahkan jikalau Nuwa Kecil atau Cao Tian Jun meninggalkan dunia, maka mereka berdua juga ikut mati
"Maaf! Aku tidak tahu bagaimana caranya bersumpah, tapi kamu bisa mengajariku!" jawab Cao Tian Jun yang memang tidak tahu apa itu sumpah Dao (Jalan Hidup).
Nuwa Kecil tertawa kecil sembari mengayunkan kedua kakinya. Setelah tertawa dia berkata, "baiklah, Nuwa akan mengajari Kakak, cukup Kakak mengikuti apa yang Nuwa katakan.
"Baiklah. Ayo, ucapkan," kata Cao Tian Jun yang ingin segera menyusul Tim Phoenix.
__ADS_1
Nuwa Kecil berdehem sebelum mengucapkan sumpah Dao, dan membuat Cao Tian Jun gemas saat melihatnya.