
Bab 96. Dewi Kasih.
Cao Tian Jun telah kembali ke kamarnya dengan jantung berdebar-debar. Sedikit saja terlambat membunuh Raja Yan Ju Long, kemungkinan besar akan bertarung dengan Yan Denglong, bahkan bertarung dengan seluruh pasukan kerajaan.
Segera dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berlumuran darah milik Raja Yan Ju Long. Dia meredam dengan air hangat sambil memikirkan rencana jahat Yan Denglong.
"Benar apa yang dikatakan guru, menonjolkan diri sangat tidak baik!" gumam Cao Tian Jun yang menyesal telah mengungkapkan kemampuannya hanya untuk mendapatkan solusi.
Seandainya dia tidak mengungkapkan kekuatan, sudah pasti tidak akan membahayakan jiwanya. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur, dan konsekuensinya harus siap dihadapinya.
"Guru, apa ada solusi untuk masalahku ini!" Cao Tian Jun berharap mendapatkan solusi dari gurunya, dia sadar betul gurunya tidak akan menjawab. Setidaknya, dia bisa mengungkapkan keluh kesahnya.
Dia memejamkan mata sambil mengingat apapun sewaktu bersama gurunya, siapa tahu ada pengetahuan yang dilupakannya. Tanpa sadar dia tertidur dan bermimpi...
Di dalam mimpinya, Cao Tian Jun berada di suatu tempat yang tidak diketahuinya, lalu melihat seorang wanita dewasa yang cantik rupawan, kecantikannya melebihi siapapun yang pernah dikenalinya selama ini.
Wanita itu sedang berlatih pedang di bawah air terjun. Anehnya, air terjun tidak sedikitpun membasahi tubuh wanita itu karena ayunan pedang yang menghentikannya. Gerakannya seperti seseorang yang sedang menari.
Melihat wajah wanita itu, Cao Tian Jun seakan-akan pernah melihatnya di suatu tempat. Setelah sesaat mengingat-ingat siapa wanita itu, dia terkejut karena wanita itu adalah wanita yang menjadi pujaan bagi pengikutnya. Wanita itu adalah Dewi Kasih.
Cao Tian Jun pernah melihat lukisan Dewi Kasih di Balai Pekerjaan Umum dan di Kerajaan Lentera, saat itu dia berdiri di atas Kuil Dewi Kasih.
Dengan mengendap-endap, dia mendekati Dewi Kasih yang belum menyadari keberadaannya. Di belakang batu besar, dia bersembunyi dan mengamati gerakan pedang yang diperagakan oleh Dewi Kasih.
"Jurus pertama, Pedang Membelah Air!" gumam Dewi Kasih sambil memutar tubuhnya dengan pedang yang mengikuti geraknya.
Air Terjun yang jatuh mengikuti gerakan berputar, tampak sangat indah di mata. Tiba-tiba Dewi Kasih menebaskan pedangnya ke arah Cao Tian Jun yang bersembunyi.
Air terjun tersebut mengikuti gerakan menebas dengan sangat cepat, dan berubah bentuk menjadi ribuan pedang. Melihat serangan yang mendadak, sontak secara naluri Cao Tian Jun melompat mundur, namun gerakannya seakan-akan melambat.
Sebelum ribuan pedang yang terbuat dari air mengenainya, Cao Tian Jun mengeluarkan Teknik Langkah Bayangan Merpati. Tubuhnya menjadi enam bayangan yang tujuannya untuk mengalihkan serangan lawan.
Akan tetapi, jurus Pedang Membelah Air seperti tahu dirinya yang asli, yang mana keenam bayangan dilahap oleh ribuan pedang dengan mudah, lalu melesat ke arah Cao Tian Jun yang berada di belakang bayangannya.
Dengan segera Cao Tian Jun mengeluarkan Teknik Tujuh Lapis Langit, jurus yang keempat, yaitu Langit Melindungi. Cao Tian Jun menghentakkan kaki kanan untuk mundur, lalu kedua tangan membuat gerakan melingkar seperti bentuk Yin dan Yang.
Kemudian, lingkaran Yin Yang muncul di depannya sebelum ribuan pedang mengenai tubuhnya. Ribuan pedang terhisap ke dalam lingkaran Yin Yang. Namun tidak berhenti di situ, lingkaran Yin Yang memuntahkan ribuan pedang ke arah Dewi Kasih yang selalu memperhatikannya.
Dewi Kasih tersenyum melihat serangan balik dari jurusnya sendiri. Dari arah kanan, ia menebaskan pedangnya untuk menangkis serangan balik. Dengan mudah ribuan pedang runtuh dan menjadi tetesan air hujan.
"Lumayan!" ucap Dewi Kasih yang memuji kemampuan Cao Tian Jun dalam memblokir serangannya.
Cao Tian Jun juga tersenyum tipis sambil membersihkan rambutnya yang basah. Dia sebenarnya keheranan melihat tubuh Dewi Kasih yang diam di bawah air terjun tidak sedikitpun basah, seolah-olah air terjun enggan menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
Sebelum dia berbicara, Dewi Kasih kembali menari di bawah air terjun, dan membuat Cao Tian Jun waspada terhadap serangan seperti sebelumnya.
"Pedang Suci Membelah Bukit."
Dewi Kasih menebaskan pedangnya ke arah Cao Tian Jun dengan jurus keduanya. Bilah pedang yang terselimuti air melesat ke arah sasaran. Melihat itu adalah serangan tunggal, Cao Tian Jun segera melompat ke kiri.
Namun, jurus Pedang Suci Membelah Bukit bukanlah serangan tunggal dari depan, tetapi ada tiga serangan dari arah belakang, kiri dan kanan. Karena tidak mengetahui serangan empat penjuru mata angin, ketika Cao Tian Jun melompat ke kiri langsung terkena serangan itu, dan disusul serangan dari belakang dan kanan yang menghujani tubuhnya.
Boom...
Tubuh Cao Tian Jun terpental ke depan hingga terjebur di sungai, tetap di depan Dewi Kasih yang berdiri di permukaan air. Ternyata, sungai yang tercipta dari air terjun itu sangatlah dalam.
Setelah terkena serangan, Cao Tian Jun merasakan seluruh tulangnya kesakitan. Sadar berada di dalam air, segera dia melihat ke atas dan melihat Dewi Kasih sedang menatap ke arahnya.
Cao Tian Jun segera berubah wujud menjadi air mengikuti keadaan sekitarnya, lalu berenang dengan sangat cepat ke permukaan air untuk meraih kaki Dewi Kasih.
Sedangkan Dewa Kasih, ia tersenyum melihat gerakan air yang berbeda saat Cao Tian Jun berubah wujud menjadi air. Kemudian, ia menebaskan pedangnya ke arah permukaan air sebelum Cao Tian Jun muncul.
Pedang energi membelah permukaan air dan kekuatan serangannya bergerak ke arah Cao Tian Jun. Melihat serangan Dewi Kasih, Cao Tian Jun segera menghindari dengan lincah.
"Kenapa dengan wanita ini!" sungut Cao Tian Jun di dalam hatinya, dia merasa tidak pernah bertemu apalagi bersinggungan dengan Dewi Kasih.
Segera dia berteleportasi dan muncul di udara, sejauh 200 meter dari air terjun. Dewi Kasih mengetahui keberadaannya.
Dewi Kasih tiba-tiba muncul di depan Cao Tian Jun, yang langsung kaget dengan bergerak mundur menjauhinya. Jantung berdetak kencang karena kaget.
"Hanya untuk mengujimu! Sebenarnya, aku menemuimu untuk menjemput Ular Langit Tujuh Warna yang terluka. Keluarkan dia agar aku bisa menyembuhkannya!" jawab Dewi Kasih dan mengungkap tujuannya.
Cao Tian Jun mengunci alisnya karena merasa tidak memiliki Ular Langit Tujuh Warna. Namun, dia teringat dengan Nuwa Kecil yang selama ini tertidur. Jika selama ini tidur karena terluka, betapa bodohnya dirinya yang tidak mengetahuinya.
Untuk memastikan dugaannya benar jika Nuwa Kecil adalah Ular Langit Tujuh Warna, dia bertanya, "Ular Langit Tujuh Warna? Apa maksudmu?"
"Iya, anak kecil yang tidur di dalam cincin dimensi milikmu, namanya Nuwa Kecil, atau Yan Yan yang selama ini kamu kenali. Dia adalah Ular Langit Tujuh Warna!" ungkap Dewi Kasih.
Walaupun dugaannya benar, Cao Tian Jun masih saja terkejut dengan diam membeku. Dia merasa bersalah karena tidak mengetahui jika Nuwa Kecil terluka, padahal dia sudah sering memeriksa kondisinya.
Setelah diam membeku beberapa saat, Cao Tian Jun geleng-geleng tak percaya dengan kondisi Nuwa Kecil.
"Aku sudah sering memeriksanya ketika dia tidur... Aku kira dia tidur untuk berkultivasi. Terlihat baik-baik saja dan kekuatannya juga meningkat! Apa karena serangan sihir pada malam waktu itu?" jelasnya dan diakhiri dengan bertanya.
"Ular Langit Tujuh Warna lemah terhadap sihir, terutama sihir Duality (Yin Yang) milik Keluarga Besar Fang. Setelah dirinya terkena sihir Duality, sebagai bentuk penyelamatan diri, dia akan berubah menjadi anak kecil. Terlihat memang tidak ada luka, tetapi sihir Duality seperti kutukan baginya. Sihir itu bisa menghilang dengan sendirinya, kurang lebih 2 tahun baru steril. Akan tetapi, selama itu, Nuwa Kecil akan merasakan siksaan. Untuk menghilangkan rasa sakitnya, dia berkultivasi dengan cara hibernasi!" terang Dewi Kasih panjang lebar.
Cao Tian Jun menundukkan wajahnya untuk menahan air mata karena merasa bersalah. Seandainya tahu jika Yan Yan adalah Ular Langit Tujuh Warna, sudah dipastikan akan mencegah Fang Yin yang ingin menangkapnya. Bahkan jika harus bermusuhan dengan Fang Yin, Cao Tian Jun lebih memilih untuk melindungi Yan Yan dan rela menjadi musuh Keluarga Besar Fang.
__ADS_1
"Musibah yang dialami oleh Yan Yan merupakan takdir yang mempertemukan kita. Kamu harus tahu, kamu satu-satunya orang yang bisa bertemu denganku," kata Dewi Kasih.
Setelah tujuh utusan dari Alam Suci membuatkan Pagoda Emas untuk tempat bagi Batu Keabadian, mereka menghilang dari Benua Timur. Semenjak itu, tidak ada seorangpun yang melihat mereka. Banyak orang yang mencarinya dengan banyak tujuan. Namun hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang bisa menemukan salah satu dari tujuh utusan dari Alam Suci.
Mendengar perkataan Dewi Kasih, Cao Tian Jun tidak peduli apakah dia satu-satunya orang yang bisa dikatakan beruntung, dia hanya memikirkan Yan Yan yang tersiksa karena kebodohannya.
"Bisakah Anda menyembuhkannya?" tanya Cao Tian Jun dengan sopan dan tidak lagi memanggil dengan kata kamu.
"Tentu bisa untuk menghilangkan kutukan, tapi membutuhkan waktu lama selama proses penyembuhannya!" jawab Dewi Kasih.
Namun, karena khawatir dengan keselamatan Yan Yan, dia bertanya, "apakah benar Anda adalah Dewi Kasih? Maaf! Bukannya aku tidak percaya, tapi untuk memastikan bahwa Yan Yan baik-baik saja saat bersama dengan Anda. Anda sudah pasti tahu banyak orang yang ingin memiliki Ular Langit Tujuh Warna!"
Dewi Kasih tersenyum dan tidak marah maupun tersinggung karena tidak memercayainya. Kemudian ia berkata, "keluarkan dia, maka dia akan mengenaliku!"
Cao Tian Jun memejamkan mata untuk beberapa saat, kemudian muncul Nuwa Kecil yang sudah berada di dalam gendongannya, tetap tertidur pulas dan tidak terganggu.
Dewi Kasih mengembangkan senyuman lebar melihat gadis kecil di gendongan Cao Tian Jun, ia segera mendekatinya. Cao Tian Jun mencium aroma wangi bunga melati dari tubuh Dewi Kasih, lalu dia melihatnya yang menyentuh hidung Nuwa Kecil.
Perlahan Nuwa Kecil membuka mata saat merasakan dingin pada hidungnya, lalu hidung mengendus aroma wangi yang familiar. Dia tersenyum melihat wajah tampan Cao Tian Jun, lalu melotot kaget melihat sosok yang selalu dirindukan.
"Tuan...!!" teriakkan Nuwa Kecil yang langsung melompat dari gendongan Cao Tian Jun ke Dewi Kasih.
Dewi Kasih memeluk Nuwa Kecil dengan tertawa bahagia sambil memutar tubuhnya. Melihat mereka berdua, Cao Tian Jun ikut terharu dan bahagia.
Setelah beberapa saat melepaskan kerinduan, Dewi Kasih yang sambil tetap mengendong Nuwa Kecil menatap lembut wajah Cao Tian Jun.
"Maaf, selama ini aku tidak jujur!" sesal Nuwa Kecil yang merasa bersalah kepada Cao Tian Jun.
"Tidak perlu meminta maaf, seseorang memiliki hak pribadi menyimpan rahasianya!" jawab Cao Tian Jun yang tidak sedikitpun marah karena kebohongan Yan Yan.
"Justru aku yang meminta maaf karena tidak bisa menolongmu. Maafkan aku!" lanjutnya dengan berkata tulus dengan perasaan yang menyesal.
Nuwa Kecil turun dari gendongan Dewi Kasih, lalu menghampiri Cao Tian Jun dan memeluknya. Dia berkata, "aku menyayangimu!"
Cao Tian Jun memeluk erat tubuh Nuwa Kecil dengan perasaan enggan berpisah.
"Aku tahu masalahmu! Aku memiliki resep untuk mengatasi kemacetan dalam kultivasi." kata Dewi Kasih, lalu di tangannya sudah ada gulungan bambu.
Cao Tian Jun menerima gulungan bambu pemberian Dewi Kasih. Lalu Nuwa Kecil kembali ke gedongan Dewi Kasih.
"Kami akan pergi. Jika sudah waktunya, anak nakal ini akan kembali bersamamu!" pamit Dewi Kasih kepada Cao Tian Jun.
"Terima kasih banyak! Saya akan selalu menunggu waktu itu!" ucap Cao Tian Jun sambil menyatukan kedua kepalan tangan kanan dan kiri sebagai bentuk rasa terima kasihnya.
__ADS_1
Dewi Kasih dan Nuwa Kecil lenyap dari pandangan mata Cao Tian Jun, dia menghela napas panjang setelah kepergian mereka...