
Bab 116. Kembali Ke Desa Bunga.
Mu Yenny menundukkan wajahnya, namun saat melihat kembali ke arah Cao Tian Jun, ia tidak melihatnya lagi di tempat semula. Setelah itu, datang suaminya si Jenderal Mata Elang bersama dengan beberapa orang dan prajurit keamanan kota.
"Di mana pencuri itu?" tanya Jenderal Mata Elang, lalu dia melihat jari tangan kanan istrinya yang patah, "sialan, dia melukaimu!?" kemarahannya yang tidak terima.
Mu Yenny menepis tangan suaminya yang akan memegang jarinya yang patah, lalu ia berkata, "dia bukan--"
"Tangkap pencuri itu! Jika diantara kalian yang berhasil menangkapnya hidup atau mati, aku akan berikan imbalan!" sela Jenderal Mata Elang sebelum istrinya selesai berbicara untuk memberikan menjelaskan, jika pria muda berkulit coklat bukanlah pencuri.
Dengan semangat tinggi, semua orang dan prajurit segera mencari keberadaan Cao Tian Jun karena hadiah. Mu Yenny geleng-geleng kepala karena suaminya yang tidak sabaran...
Saat ini, Cao Tian Jun telah kembali ke Penginapan Fánróng, duduk di kursi yang masih utuh di balkon kamarnya. Kembali dia mengamati aktivitas setiap orang yang menjaga Pagoda Emas.
Di telapak tangannya, melayang sebuah batu berwarna putih keperakan, dan itu adalah Batu Keabadian Crown Stone.
"Bisakah kalian berkomunikasi dengan Throat Stone?" tanya Cao Tian Jun kepada Batu Keabadian yang telah dimilikinya.
"Bisa, Penguasa!" jawab Crown Stone.
"Apakah Throat Stone mampu mengendalikan alam bawah sadar setiap orang yang berada di Pagoda Emas?" tanyanya kembali.
Cao Tian Jun tahu kelebihan dari Throat Stone yang mampu mengendalikan alam bawah sadar setiap orang, memanipulasi pikiran, dan mampu menciptakan proyeksi astral (membuat replika diri, dan mengeluarkan roh dari dalam tubuh sendiri).
Crown Stone yang paham keinginan Cao Tian Jun, segera berkomunikasi dengan Throat Stone. Cao Tian Jun melihat Crown Stone yang mengeluarkan cahaya dan serat-serat petir saat berkomunikasi.
Sambil menunggu Crown Stone selesai berkomunikasi, Cao Tian Jun melihat Mu Yenny dan Jenderal Mata Elang. Karena tidak ingin mencari keributan, dia segera berubah wujud menjadi udara.
Lalu mengamati pasangan itu yang tampak aneh, Jenderal Mata Elang berjalan di belakang Mu Yenny seperti seorang pengawal. Ketika Mu Yenny disapa oleh orang yang mengenalnya, Cao Tian Jun baru tahu jika Mu Yenny ada hubungannya dengan kekasihnya Mu Bingyun.
"Apakah wanita itu bibinya?" gumam Cao Tian Jun yang menebak-nebak karena tidak mengenali Mu Yenny, dia mengaitkan nama marga mereka (Mu Bingyun dan Mu Yenny).
"Huff..! Untung saja aku tidak membunuhnya tadi!" Cao Tian Jun membuang nafas karena saat di Hutan Cemara berkeinginan untuk membunuh Mu Yenny, untung saja nalurinya menghentikannya.
Seandainya, benar-benar Cao Tian Jun membunuh Mu Yenny, dia tidak tahu harus bagaimana jika nanti bertemu dengan Mu Bingyun. Yang pasti, hubungannya tidak senyaman dulu.
Cao Tian Jun melihat Mu Yenny yang sedang menatap balkon kamarnya. Karena tidak melihatnya, Mu Bingyun lanjut berjalan menuju ke Gedung Alkemis Teratai Biru.
__ADS_1
Akhirnya Cao Tian Jun tahu jika Mu Yenny adalah seorang ahli Alkemis. Pantas saja nalurinya memintanya untuk tidak membunuh Mu Yenny saat mencium aroma obat.
"Penguasa, saya sudah selesai berkomunikasi dengan Throat Stone. Katanya, bisa mengendalikan alam bawah sadar setiap orang yang dekat dengan Pagoda Emas. Terlebih lagi ketika malam hari, di saat kewaspadaan setiap orang menurun, Throat Stone lebih mudah bekerja. Apakah sekarang dia harus bertindak?" laporan Crown Stone dan bertanya.
Cao Tian Jun berpikir sejenak. Setelah beberapa saat, dia berbicara, "tengah malam saja baru kita beraksi!"
"Hamba akan sampaikan!" Crown Stone kembali berkomunikasi dengan Throat Stone.
Sedangkan Cao Tian Jun segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat karena semalaman tidak sekalipun tidur. Baru saja membaringkan tubuh, pintu kamarnya didobrak, lalu masuk tiga prajurit keamanan kota yang segera memeriksa kamarnya.
Cao Tian Jun yang masih dalam wujud udara, tidak sedikitpun khawatir akan diketahui oleh mereka, dia dengan santainya memeluk guling dan memejamkan mata. Prajurit itu akhirnya keluar dari kamarnya karena tidak menemukan siapapun...
Ketika hari berganti malam, Cao Tian Jun dibangunkan oleh Crown Stone. Segera dia beranjak dari tempat tidurnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu, dia menuju ke balkon kamarnya.
"Aku sudah siap. Apakah Throat Stone sudah mengendalikan alam bawah sadar mereka?" tanyanya.
"Semuanya sudah siap semenjak Penguasa berisitirahat! Penguasa tinggal mengambil Throat Stone" jawab Crown Stone.
Ketika Cao Tian Jun tidur, Crown Stone meminta kepada Throat Stone agar membuat replika, replika yang mampu bertahan selama 100 tahun. Throat Stone yang akan bertemu dengan pemiliknya jelas sangat senang karena sudah lama berpisah. Lalu dia segera membuat replika dirinya seperti kehendak dari Crown Stone, dan juga telah mengendalikan alam bawah sadar setiap orang yang dekat dengan Pagoda Emas.
Raja Tan Jiang, Permasuri Chang Qisheng, Putra Mahkota Tan Hai, dan Putri Tan Fanghua, mereka segera berhenti berkultivasi dan keluar dari lantai 7 karena pikirannya tidak lagi tenang, seakan-akan hari ini dan berikutnya akan terjadi hal yang buruk.
Crown Stone segera keluar dari dahi Cao Tian Jun, lalu membuat Throat Stone mengeluarkan cahaya benderang sebagai bentuk respon. Kemudian, Crown Stone mengeluarkan cahaya yang menyelimuti Throat Stone...
Di luar Pagoda Emas. Semua orang melihat di puncak Pagoda Emas mengeluarkan cahaya seperti mercusuar, hal yang tidak pernah terjadi semenjak Pagoda Emas dibangun oleh tujuh utusan dari Alam Suci, namun cahaya benderang itu hanya sesaat saja.
Ketika cahaya dari Batu Keabadian telah menghilang, semua orang yang dekat dengan Pagoda Emas terlihat linglung karena pengaruh dari Throat Stone juga ikut menghilang.
Dan Cao Tian Jun, telah meninggalkan Pagoda Emas setelah menyatu dengan Throat Stone. Saat ini, dia sudah memiliki empat Batu Keabadian, tersisa tiga Batu Keabadian yang belum didapatkannya.
Ketiga batu itu adalah; Sacral Stone yang berada di wilayah Kuil Sembilan Kematian, lokasinya di sisi timur dari wilayah Black Dessert. Solar Plexus yang berada di wilayah Perguruan Hitam Kelam, lokasinya di tenggara laut dari wilayah Kekaisaran Xia. Dan yang terakhir adalah Heart Stone yang berada di wilayah Kekaisaran Xia.
Dan, tujuan berikutnya yang terdekat adalah Sacral Stone. Saat ini, Cao Tian Jun berada di luar Desa Bunga, tepatnya berada di tambang Batu Formasi yang ditemukannya dulu. Untuk menuju ke Kuil Sembilan Kematian, dia harus melewati Desa Bunga, lalu melewati wilayah Black Dessert yang sangat luas.
Sengaja Cao Tian Jun mampir di tambang Batu Formasi sekedar untuk melihat situasi terkini, karena ditempat inilah dia bertemu dengan Ular Giok Kuning, salah satu anak buah dari Ratu Ular Surgawi. Melihat penjagaan yang ketat disekitar tambang, dia bergegas menuju ke Desa Bunga.
Karena sudah mengetahui titik-titik koordinat setiap tempat yang pernah dikunjungi, Cao Tian Jun dengan Teknik Teleportasi segera tiba di Desa Bunga, ia melihat Tabib Tao yang sedang bercengkrama dengan penduduk. Tabib Tao adalah Kepala Desa Bunga.
__ADS_1
Seandainya Cao Tian Jun tidak dalam misi untuk mendapatkan Batu Keabadian, dia akan menyapa Tabib Tao. Dengan penyamarannya sebagai seorang pria muda berkulit coklat, dia masuk ke Desa Bunga setelah menerobos Formasi Perlindungan desa.
Sontak membuat penjaga waspada dengan kedatangan Cao Tian Jun karena tidak izin dan bahkan mampu menerobos Formasi Perlindungan.
"Saya seorang ahli Formasi Array, Formasi setingkat ini tidak berarti apa-apa bagiku!" alasan Cao Tian Jun sebelum ditanya oleh penjaga Desa Bunga.
Seperti halnya profesi Alkemis, seorang ahli Formasi Array juga sangat dihormati walaupun pamornya berada di bawah Alkemis. Para penjaga mengendurkan kewaspadaannya karena yang dihadapi adalah seorang ahli Formasi Array.
"Apa tujuan Tuan Muda ke Desa Bunga untuk membeli Batu Formasi?" tanya salah satu penjaga.
"Tujuanku ke Kuil Sembilan Kematian. Karena hari sudah malam, saya ingin menginap di Desa Bunga, sekaligus membeli Batu Formasi!" jawaban Cao Tian Jun.
Karena Cao Tian Jun belum mengetahui titik koordinat wilayah Kuil Sembilan Kematian, mau tidak mau harus menggunakan cara lama, yaitu dengan terbang atau berjalan kaki. Jelas Cao Tian Jun memilih untuk terbang walaupun harus menempuh jarak jauh, tetapi lebih dari daripada berjalan kaki saat melewati Black Dessert sebelum ke wilayah Kuil Sembilan Kematian.
"Mari, Tuan Muda, ikuti saya!" dengan sopan penjaga itu mengajak Cao Tian Jun.
Salah satu rekan dari penjaga, segera menemui Kepala Desa, tujuannya untuk melaporkan bahwa Desa Bunga kedatangan seorang ahli Formasi Array.
Ketika Cao Tian Jun masuk ke Desa Bunga, ada manusia ular dari Suku Xi yang sedang mengawasinya. Lalu manusia ular itu segera meninggalkan wilayah Desa Bunga.
Cao Tian Jun melihat kondisi Desa Bunga telah banyak berubah semenjak ditemukannya tambang Batu Formasi, yang mana kehidupan penduduknya lebih makmur. Dulu, kebanyakan profesi penduduk adalah petani, membuka usaha penginapan, dan berburu binatang mistik.
Saat ini, dia melihat setiap rumah telah direnovasi, jauh berbeda dari sebelumnya, saat ini lebih besar dan mewah. Di setiap rumah, banyak penduduk yang berdiskusi terkait pembuatan Formasi Array.
Mendapatkan laporan dari penjaga, Tabib Tao segera menyambut kedatangan tamu. Dia melihat Cao Tian Jun yang mengagumi keindahan desanya.
"Selamat datang di Desa Bunga!" sapa Tabib Tao dengan ramah.
"Desa ini jauh berbeda dari sebelumnya!" pujian Cao Tian Jun.
"Ini semua berkat Junior Jun yang menemukan tambang Batu Formasi. Dia adalah seorang murid yang jenius! Tanpa penemuan Junior Jun, kehidupan kita tidak mungkin berubah seperti ini!" ungkap Tabib Tao dengan hati tulus.
Cao Tian Jun tersenyum tipis, lalu dia berkata, "saya akan tinggal di sini untuk semalam, dan membeli 2 kg Batu Formasi. Tolong, persiapkan!"
Tabib Tao mengajak Cao Tian Jun menuju ke penginapannya, sebab hanya ada satu penginapan, dan semua pendukungnya telah berpindah profesi menjadi seorang penambang Batu Formasi.
Ketika berjalan berdampingan dengan Tabib Tao, Cao Tian Jun mencium bau amis khas dari Ras Ular. Dia melirik Tabib Tao yang antusias dengan menceritakan tentang dirinya waktu dulu, dan juga kehidupan Desa Bunga saat ini.
__ADS_1
"Apakah Tabib Tao ini salah satu dari Suku Ular?" batin Cao Tian Jun.
Dia dan Tabib Tao telah tiba di penginapan, yang sekaligus menjadi kediaman Kepala Desa Bunga. Kediaman Tabib Tao lebih mewah dari rumah penduduk, berlantai 3, dengan luas tanah 1.000 meter persegi...