
Bab 183. Kekacauan di Benua Tengah.
Karena tidak menemukan si pelakunya, Leluhur Yao meluapkan kemarahannya dengan menghancurkan hutan cemara yang berada di bawahnya.
Kaisar Yao yang baru tiba setelah diperintahkan untuk memperbaiki Jembatan Gerbang Tenggara, hanya bisa geleng-geleng kepala karena Gerbang Tenggara kebanggaan masyarakat telah runtuh.
Runtuh suatu gerbang kebanggaan masyarakat, mengisyaratkan bahwa pemerintahan saat ini tidak akan bertahan lama. Dia segera membuang pikiran negatifnya, lalu memerintahkan para ahli konstruksi jembatan untuk segera bekerja. Setelah itu, dia kembali ke istana, dia tidak peduli dengan ayahnya yang marah-marah tidak jelas.
"Besok malam, jembatan harus segera diperbaiki. Jika tidak, kalian akan menjadi seperti mereka!" ancaman Leluhur Yao kepada ahli konstruksi jembatan sambil menunjuk ke arah Pasukan Kegelapan.
Ahli konstruksi jembatan mengigil ketakutan melihat Pasukan Kegelapan yang seperti mayat hidup bertubuh gosong. Mereka segera bekerja dengan tergesa-gesa memperbaiki Jembatan Gerbang Tenggara.
Leluhur Yao terbang ke arah Jembatan Ming Yao dan diikuti oleh Pasukan Kegelapan yang berkumpul di belakang Gerbang Tenggara. Dia tidak tahu jika Tian Jun si pelaku yang menyerangnya baru saja dilewati.
Saat tiba di Jembatan Gerbang Selatan, leluhur Yao memerintahkan 4 juta Pasukan Kegelapan untuk menyerang Kerajaan Ming dan Kerajaan Sihir.
Mengetahui hal itu, Tian Jun segera berteleportasi dan muncul di Jembatan Ming Yao, dia segera menghancurkan jembatan penghubung agar tidak dilalui oleh Pasukan Kegelapan.
Setelah itu, dia melihat ke arah Gerbang Jembatan Ming, yang tidak ada satupun penjaganya. Tian Jun merasa heran. "Apakah Raja Ming tidak mengetahui kondisi kekaisaran?" batinnya.
Karena penasaran dengan situasi di Kerajaan Ming, Tian Jun segera menuju ke Istana Ming.
Setelah kepergiannya, Leluhur Yao kembali meluapkan kemarahannya dengan menghancurkan hutan cemara karena Jembatan Ming Yao juga dihancurkan.
Setelah itu, Leluhur Yao mengerahkan pasukannya menuju ke Kerajaan Li. Di sana juga sama, Jembatan Li Yao telah diputuskan oleh pihak Kerajaan Li. Tinggal dua jembatan penghubung yang belum diperiksa, jika dua jembatan itu juga diputuskan, sama saja Pasukan Kegelapan terkurung di wilayah Kekaisaran Yao.
Leluhur Yao tidak lagi membawa pasukan untuk memeriksa dua jembatan penghubung. Saat berada di Jembatan Niao Yao, dia bisa tersenyum tipis karena jembatan itu masih utuh. Tampaknya Penyihir Hitam Niao Wushi masih menjadi pendukung setianya.
Walaupun tiga jembatan diputus, Pasukan Kegelapan masih bisa menyerang Kerajaan Li dengan melewati wilayah Kerajaan Niao. Tinggal satu jembatan yang belum diperiksa, yaitu Jembatan Long Yao.
Dia segera terbang di atas tebing Lembah Ular menuju ke arah Kerajaan Long. Tidak berselang lama, dia akhirnya tiba. Tetapi, hasil sama dengan tiga jembatan sebelumnya. Jembatan Long Yao juga diputuskan oleh pihak Kerajaan Long.
Mengetahui hal ini, Kaisar Yao putranya telah gagal memimpin Benua Tengah. Dengan putusnya jembatan penghubung antara Kekaisaran Yao dan empat kerajaan, mengidentifikasi bahwa mereka berniat untuk menggulingkan kekuasaan Dinasti Yao.
"Putra yang tidak becus!?" kegeraman Leluhur Yao kepada Kaisar Yao putranya.
Saat Leluhur Yao menjadi kaisar, empat kerajaan itu begitu takut kepadanya. Salah satunya adalah Kerajaan Sihir, walaupun mereka tahu jika Yao Han Kiew menggunakan cara kotor untuk menaklukkan hati Fang He Mei, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Marah jelas sudah pasti, tetapi mereka tidak berani menuntun Yao Han Kiew.
Leluhur Yao segera menemui Penyihir Hitam Niao Wushi untuk mendapatkan izin melewati Kerajaan Niao. Karena Kerajaan Niao masih setia kepadanya, Leluhur Yao juga harus menghormati mereka...
...****************...
Di kediaman Niao Wushi.
Setelah Niao Wushi gagal untuk pertama kali memenuhi keinginan keluarga besar Yao, ia segera menyusul Pangeran Zeming. Di istana negara Yao, dia menemui Yao Han Kiew dan Kaisar Yao. Ia menceritakan bahwa telah gagal memenuhi keinginan Pangeran Zeming.
Awalnya Kaisar Yao ingin marah atas perbuatan putra mahkota yang akan melakukan hal kotor seperti kakeknya. Namun, kemarahannya diredam oleh Leluhur Yao.
Kemudian, Leluhur Yao bersama dengan Niao Wushi mendatangi Istana Putra Mahkota, menemui Pangeran Zeming. Saat bertemu, Pangeran Zeming tidak berani meluapkan kemarahannya kepada Niao Wushi karena ada kakeknya.
Setelah meredam kemarahan cucunya, Leluhur Yao meminta kepada Niao Wushi untuk mencoba kembali untuk memenuhi keinginan Pangeran Zeming, ia yakin Niao Wushi tidak akan gagal untuk kedua kalinya.
Leluhur Yao yakin karena pernah merasakan kehebatan sihir Niao Wushi dalam memikat hati Fang He Mei. Akan tetapi, Niao Wushi kembali menjelaskan bahwa Putri Fang Yin sudah tidak lagi perawan sehingga sihirnya gagal bekerja dengan sempurna.
Entah kenapa, Leluhur Yao masih saja percaya akan kemampuan sihir Niao Wushi, dia meminta kepada penyihir istana untuk menaklukkan hati Fang Yin, apapun caranya.
Akan tetapi, Pangeran Zeming tidak segera melanjutkan keinginannya, sebab dia masih trauma saat melihat Niao Wushi yang mengerikan. Sejujurnya di dalam hati, walaupun penampilan Niao Wushi mengerikan, gua surga wanita tua itu masih mampu memberikan rasa puas.
Pangeran Zeming tidak menyangka seorang nenek yang mengerikan, gua surganya masih bisa basah dan mampu memberikan gigitan kenikmatan.
Karena didesak terus oleh kakeknya, Pangeran Zeming meminta waktu untuk memulihkan kondisinya yang masih lemas setelah berhubungan dengan Niao Wushi. Dia dia berkata bahwa akan datang keesokan harinya...
Saat ini, dari pagi hingga akan menjelang pagi lagi, Pangeran Zeming dan Niao Wushi berhubungan badan terus-menerus secara maraton. Dia mau melakukan ini karena Niao Wushi merubah penampilan tua menjadi muda dengan menggunakan sihir.
Selain itu, Pangeran Zeming meminta dua wanita yang masih perawan sebagai ganti kegagalan Niao Wushi. Niao Wushi sendiri memenuhi keinginannya, dengan menjadi dua muridnya sebagai penebus kegagalan.
Pangeran Zeming terlihat sangat pucat karena seharian ini melayani hasrat dari Niao Wushi dan dua murid wanita pilihannya. Walaupun wajah kedua wanita itu tidak secantik Fang Yin, tapi masih bisa memberikan kepuasan.
"Apakah Pangeran masih ingin bercinta lagi?" tanya salah satu murid berambut pendek, panggilannya adalah Lanying. Nada bicara dengan sengaja dibuat genit sambil memainkan buah dadanya sendiri.
"Lihat ini, masih basah!" imbuh Niao Wushi sambil menunjukkan gua surganya yang masih mengalirkan cairan kenikmatan, dia tidak mau kalah genit dari muridnya.
__ADS_1
Pangeran Zeming yang melihat tubuh ketiga wanita itu yang masih di ranjang. Walaupun dirinya sudah sangat kelelahan melayani keganasan mereka bertiga, dia masih saja ingin memuaskan hasrat.
"Tunggu... Biarkan aku istirahat!" pinta Pangeran Zeming yang duduk di kursi, lalu meminum air ginseng untuk memulihkan staminanya.
Setelah itu, dia melihat Niao Wushi memasuki dua jari tangan ke gua surga muridnya yang bernama Meishin. Meishin melenguh nikmat saat guanya dimainkan oleh gurunya.
"Bagaimana hasilnya, apakah Fang Yin sudah bisa ditaklukkan?" tanya Pangeran Zeming saat tongkatnya perlahan mulai berdiri.
"Tinggal dua kali kamu memberikan Energi Yang, Fang Yin dan semua wanita itu berada di tanganmu!" jawab Niao Wushi sambil memasukkan dua jarinya ke dalam mulutnya sendiri, dia senang dengan rasa asin yang dikeluarkan dari gua surga miliki Meishin.
Jawaban Niao Wushi yang sangat menyakinkan, membuat Pangeran Zeming kembali bersemangat. Dia segera menerjang tubuh Lanying. Sayangnya...
Tok... Tok...
Pintu kamar pribadi milik Niao Wushi ada yang mengetuk, dan membuat Pangeran Zeming kesal karena terganggu. Lalu mendengar suara wanita yang melapor.
"Guru, Leluhur Yao ingin menemui Anda!"
"Katakan untuk menunggu sebentar!" perintah Niao Wushi yang segera turun dari ranjangnya.
"Tidak lama. Segera aku akan kembali!" pinta Niao Wushi sambil memegang tongkat milik Pangeran Zeming agar tidak marah.
Pangeran Zeming mengangguk sebagai jawaban, lalu segera meminta kepada Lanying untuk memainkan tongkat dengan menggunakan mulut dan lidah...
Niao Wushi mendengar keperluan Leluhur Yao yang menemuinya. Setelah tahu keinginan Leluhur Yao yang akan melewati Kerajaan Niao untuk menyerang Kerajaan Li, Kerajaan Ming dan dua kerajaan lainnya, dia tidak segera menjawab.
Di dalam hatinya, Niao Wushi jelas senang jika Leluhur Yao berniat untuk menunjukkan dominasinya sebagai seorang penguasa.
"Bantu aku kembali. Setelah berhasil, apapun keinginanmu kukabulkan!" pinta Leluhur Yao yang ingin menggunakan kemampuan sihir Niao Wushi dalam mendukung rencanannya.
"Apakah kau sudah menyiapkan syaratnya?" tanya Niao Wushi.
"Dari usia 14 tahun hingga 40 tahun, sudah aku siapkan. Mereka semua masih perawan, jumlahnya ada 1.975 gadis yang siap untuk ditumbalkan!" jawab Leluhur Yao.
Leluhur Yao mengumpulkan semua wanita dari anak-anak hingga yang sudah bersuami di suatu tempat penampungan. Dia akan akan menjual mereka ditempat lelang sebagai budak, jumlahnya mencapai 842 ribu orang. Sedangkan wanita yang tidak produktif dijadikan Pasukan Kegelapan.
Sebenarnya, jumlah perawan lebih dari itu. Leluhur Yao membohongi Niao Wushi karena dia juga masih pria normal, dan menyayangkan jika semua perawan dijadikan tumbal demi sihir awet muda dengan meminum darahnya.
"Siang hari aku akan menyusul!" sambungnya.
"Aku pergi dulu!" pamit Leluhur Yao setelah mengambil plakat perintah di atas meja.
Setelah Leluhur Yao keluar dari kediamannya, Niao Wushi bergumam, "kekuasaanmu berakhir di zaman ini, selamanya!"
Dia telah meramalkan masa kekuasaan Dinasti Yao akan berakhir di tangan Tian Jun. Dia bisa meramalkan hal ini setelah merasakan kehebatan Tian Jun yang mampu melukainya tanpa menyentuh.
"Lanying, waktunya!" perintah Niao Wushi kepada Lanying yang sedang melayani Pangeran Zeming.
"Arghhh...!!" teriakan Pangeran Zeming ketika Lanying tiba-tiba memotong tongkatnya yang berdiri tegak.
Meishin segera mengeluarkan belati dan menusuk kedua mata Pangeran Zeming. Niao Wushi tertawa puas saat mendengar suara teriakan Pangeran Zeming yang kesakitan.
Setelah itu, Lanying segera memotong semua jari tangan dan kaki milik Pangeran Zeming yang telah merenggut kesuciannya. Meishin juga sama, dia menguliti putra mahkota agar semakin tersiksa.
Mereka sengaja tidak segera membunuh Pangeran Zeming, sebab putra mahkota memiliki kristal kehidupan yang disimpan oleh Kaisar Yao.
Jika Pangeran Zeming tewas, maka kristal kehidupan itu akan pecah. Seandainya itu terjadi, maka akan membahayakan Perguruan Sihir Wushi.
"Ambil semua wanita yang disembunyikan oleh Yao Han. Eksekusi mereka saat bulan purnama tiba!" perintah Niao Wushi kepada semua muridnya.
"Laksanakan, Guru!" jawab semua murid wanita dengan serempak yang berada di luar kediaman Niao Wushi.
Niao Wushi kembali tertawa puas karena dia akan kembali muda setelah mendapatkan darah perawan dan anak-anak. Di tangan kanannya memegang peta lokasi Pemakaman seorang ahli Pandai Besi si Tangan Cahaya Besi, dia mendapatkannya ketika Pangeran Zeming sedang menggarap tubuh Lanying muridnya.
...****************...
Saat ini Tian Jun berada di Kota Tu, yang masih masuk ke dalam wilayah Kerajaan Ming, berdekatan dengan Sungai Buaya Zong.
Di kota itu terjadi pertempuran antara pasukan Kerajaan Ming dan pasukan manusia buaya yang dipimpin oleh Zong Lin. Jumlah manusia buaya dua kali lipat, lebih banyak dari kekuatan militer dari Kerajaan Ming.
Tubuh Zong Lin memang seperti buaya, tetapi masih bisa berdiri seperti manusia, kedua kaki dan tangan juga seperti manusia. Demikian juga dengan pasukannya yang memiliki tubuh yang sama.
__ADS_1
Akhirnya Tian Jun tahu kenapa Jembatan Ming Yao tidak dijaga, sebab semua Pasukan Kerajaan Ming terfokus di Kota Tu, melawan manusia buaya.
Peperangan itu dimulai saat Raja Ming baru kembali dari Lembah Ular dan mengejar putrinya yang kabur ke Kota Tu. Dan, di kota sudah terjadi pertempuran dengan manusia buaya.
Karena tahu jumlah pasukan buaya Zong Lin lebih banyak, Raja Ming tidak mengusir Zong Lin yang merebut wilayahnya. Rencananya, jika mendapat kepala Tian Jun, dia akan menggunakan hasilnya dalam melawan buaya Zong Lin.
Sayangnya, karena Raja Ming tidak banyak mengetahui informasi dari targetnya, sehingga dia harus kembali dengan tangan kosong dan rasa malu...
Tian Jun melihat Putri Chang ikut bertarung walaupun sudah kelelahan. Putri Chang bertarung dengan ibunya dan lima pengawal. Di depan mereka ada 30 prajurit yang siap untuk mempertaruhkan nyawa demi Putri Chang dan Permasuri Suyin.
Jika Putri Chang tidak dilindungi oleh 100 pengawalnya, sudah sejak awal tiba di Kota Tu sudah dipastikan meregang nyawa. Walaupun tahu tidak mampu melawan pasukan buaya Zong Lin, Putri Chang masih bersikeras untuk membantu ayahnya.
Putri Chang ingin menghapus predikat sebagai wanita pembuat onar dengan pembuktian seperti ini, bertarung habis-habisan bersama dengan ayah dan ibunya dalam melawan buaya Zong Lin.
Sayangnya, pertarungan yang berlarut-larut hingga hari akan menjelang pagi, 100 pengawal Putri Chang bertumbangan, yang tersisa hanya lima pengawal. Sedangkan pasukan militer Kerajaan Ming juga bertumbangan.
Demikian juga di pihak buaya Zong Lin yang sudah banyak meregang nyawa. Akan tetapi, Zong Lin yang lebih banyak memiliki pasukan, jelas lebih unggul dibandingkan pihak Raja Ming.
"Menyerah saja, dan berikan separuh wilayahmu kepadaku!" teriak Zong Lin sambil bertarung dengan Raja Ming.
Boom...
Ledakan energi spiritual ketika Zong Lin beradu senjata palu dan pedang milik Raja Ming. Mereka berdua terdorong mundur karena hempasan gelombang kejut energi setelah benturan.
"Bermimpilah! Wilayah merupakan kedaulatan negara yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, bahkan jika kau seorang dewa!" tolak Raja Ming yang jelas tidak mungkin menyerahkan separuh wilayahnya.
Raja Ming mengayunkan pedangnya ke arah Zong Lin. Demikian juga dengan Zong Lin yang melompat sambil mengayunkan palunya.
Boom...
Benturan keras dua senjata energi spiritual yang menimbulkan gelombang kejut. Mereka berdua kembali terdorong mundur saking kuat kekuatan tingkat God Sovereign. Mereka berdua memiliki kekuatan yang sama, hanya berbeda dengan kekuatan militernya yang lebih unggul di pihak buaya Zong Lin.
"Kalian, kalian... Tangkap Putri Chang dan ibunya. Ingat, jangan sentuh tubuh kedua wanita itu sebelum aku menikmati mereka!" perintah Zong Lin kepada dua jenderal pasukan buaya.
Dia ingin menyandera Permasuri Suyin dan Putri Chang agar Raja Ming menyerahkan wilayah bagian timur. Kedua jenderalnya itu menyerang Permasuri Suyin dengan membawa 200 manusia buaya.
"Bajingan kau buaya!?" bentakan Raja Ming yang jelas tahu niat buruk Zong Lin.
Dengan kekuatan penuh, Raja Ming menebaskan pedangnya ke arah Zong Lin. Demikian juga dengan Zong Lin yang mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengalahkan Raja Ming...
Boom boom...
Ledakan keras ketika dua Jenderal Buaya melemparkan senjata palunya ke arah prajurit pelindung Permasuri Suyin. Karena kuatnya lemparan palu, 13 prajurit itu seketika tumbang. Kemudian, 200 manusia buaya bergerak cepat untuk membunuh 17 prajurit dan 5 pengawal.
Boom boom...
"Arghhh...!!" teriakan Putri Chang ketika palu milik salah satu Jenderal Buaya jatuh tepat di depannya, dia terpental ke belakang dan membentur dinding rumah penduduk.
"Hahaha! Saatnya kami menikmati hasil jerih payah!" tawa Jenderal Buaya bertubuh tinggi yang membuat Putri Chang terpental.
Boom boom...
Ledakan keras bertubi-tubi ketika banyak serangan tertuju kepada Permasuri Suyin, tubuhnya berguling-guling ke belakang karena hantaman energi spiritual. Sedangkan 30 prajurit dan 5 pengawal telah ditumbangkan oleh 200 manusia buaya.
Permasuri Suyin terluka dalam karena hantaman energi spiritual. Dia memuntahkan darah segar berkali-kali, lalu melihat putrinya yang diseret oleh Jenderal Buaya.
"Ibuuu...!!" teriakan Putri Chang sambil meronta-ronta agar pergelangan kakinya terlepas dari cengkeraman tangan Jenderal Buaya.
Boom...
Ledakan keras kembali terdengar ketika Raja Ming yang tidak fokus terkena hantaman palu milik Zong Lin. Dia juga terpental ke belakang dan terseret sejauh puluhan meter.
Walaupun terluka parah, Permaisuri Suyin segera berdiri dan melesat ke arah putrinya yang diseret. Namun, dia melupakan satu jenderal buaya dan 200 manusia buaya.
Boom...
"Arghhh...!!" teriakan Permasuri Suyin saat kepalanya dihantam oleh palu milik jenderal buaya bertubuh pendek.
"Bodoh, jangan kau lukai wanitaku, bodoh!?" bentakan Zong Lin saat melihat wajah Permasuri Suyin berlumuran darah.
"Hahaha! Tidak sengaja, Bos!" tawa Jenderal Buaya bertubuh pendek tanpa ada penyesalan, sebab pemimpinnya hanya ingin mengambil hati Permasuri Suyin.
__ADS_1