
Bab 184. Keburukan Leluhur Yao.
Putri Chang dan Permasuri Suyin ibunya meronta-ronta ketika diseretnya menuju ke Sungai Buaya Zong. Namun, para prajurit Kerajaan Ming tidak membiarkan musuh membawa junjungannya, mereka melakukan perlawanan sengit untuk menyelamatkannya.
Sementara itu, Raja Ming yang terluka karena serangan dari Zong Lin, masih berusaha melawan musuhnya itu bersama dengan pasukannya yang tersisa. Mereka tidak ingin melihat hal-hal buruk terjadi kepada Permaisuri Suyin dan Putri Chang, hal buruk yang sudah sering terjadi sebelumnya.
Menurut keterangan dari sejumlah saksi mata yang melihat kejadian itu, yang mana manusia buaya menculik wanita-wanita desa saat dekat dengan Sungai Buaya Zong. Singkat cerita, wanita yang diculik itu dilepaskan setelah dijadikan tempat pembuahan selama 5 tahun.
Setelah dibebaskan, wanita yang diculik itu menjadi gila karena selama 5 tahun itu dijadikan budak nafsu Zong Lin dan manusia buaya. Ketika wanita itu hamil, anak-anaknya menjadi setengah manusia setengah buaya, dan dibesarkan oleh manusia buaya untuk dijadikan pasukan. Selama itu, ibunya hanya bisa melihat anaknya tanpa bisa bertemu, dan ibunya selalu dijadikan pelampiasan nafsu setiap hari setelah melahirkan.
Selama itu, Raja Ming dan jajaran telah berusaha untuk menghentikan kebiadaban Zong Lin dan anak buahnya, tetapi selalu gagal dikarenakan sungai yang menjadi markas mereka terlalu dalam dengan arus air yang deras. Selain itu, banyak jebakan beracun di dalam air Sungai Buaya Zong.
Dan, yang menjadi korbannya adalah penduduk desa yang berdekatan dengan bantaran sungai. Raja Ming telah berupaya untuk mengevakuasi penduduk desa yang dekat dengan sungai, tetapi selalu ditolak warganya, dengan alasan sungai adalah sumber mata pencaharian sehari-hari selain berburu binatang...
Tian Jun melihat Putri Chang dan Permaisuri Suyin yang diseret menuju ke Sungai Buaya Zong. Muncul di hatinya rasa kasihan melihat ibu dan anak yang diperlakukan kejam, dan juga banyak penduduk Kota Tu yang meregang nyawa dibantai oleh manusia buaya.
Tiba-tiba, semua orang dikejutkan oleh cahaya benderang berwarna-warni, dan juga merasakan aura kuat yang membuat tubuh gemetaran dan tertekan. Semua orang berhenti bertarung dan melihat ke langit.
Mereka melihat sosok pria muda tampan, di punggungnya memiliki sepasang sayap berwarna-warni, dan di kedua lengannya muncul tiga gelang pelangi. Raja Ming dan Putri Chang yang pernah melihat pria itu, jelas terkejut sekaligus takut, pasalnya pria itu adalah Tian Jun yang memiliki aura kekuatan.
Jenderal buaya yang menyeret Putri Chang sampai melepaskan korbannya itu, sebab Tian Jun muncul dihadapannya. Sebelum menyerang...
Boom...
Ledakan keras ketika Tian Jun memukul kepala Jenderal buaya bertubuh tinggi, seketika si jenderal itu tewas karena kepalanya dihancurkan dengan mudah.
Putri Chang syok dan ketakutan melihat keganasan Tian Jun, dia melihat dengan jelas proses kematian jenderal buaya yang menyeretnya. Isi kepala berhamburan dan darah yang menyembur membasahi wajahnya.
Sebelum pasukan buaya bereaksi setelah kematian jenderalnya, Tian Jun menghilang dan muncul dihadapan Jenderal Buaya bertubuh pendek.
Boom...
Kembali ledakan keras ketika Tian Jun menendang kepala jenderal cebol itu, nasibnya tidak jauh berbeda dengan rekannya, tewas karena kepalanya hancur. Permaisuri Suyin juga syok melihat kecepatan Tian Jun, wajahnya yang telah berlumuran darah, semakin basah dengan darah milik jenderal buaya bertubuh pendek.
Baru setelah kematian jenderal bertubuh pendek, manusia buaya bereaksi dengan berteriak penuh amarah. Mereka segera menyerang Tian Jun secara bersamaan.
Zong Lin yang kehilangan dua jenderal kepercayaan jelas murka, dia menyerang Tian Jun tanpa peduli dengan Raja Ming. Akan tetapi, Raja Ming dan pasukannya segera menghadang. Kedua orang itu kembali bertarung dengan sengit.
"Kekuatan Jiwa Semesta, gelang pertama!!" teriakan Tian Jun saat pasukan buaya mengepung dan menyerang bersamaan. Lalu dia terbang dengan tubuh berputar sambil meninju berkali-kali ke segala arah.
Boom boom boom boom...
Rentetan suara ledakan ketika pukulan berenergi tinggi itu meledakkan tubuh pasukan buaya yang menjadi sasarannya. Tian Jun tidak berhenti, dia terus terbang berputar sambil melepaskan pukulan berenergi ke segala arah.
Melihat itu, Pasukan Kerajaan Ming menjadi bersemangat dan menyerang musuhnya dari belakang. Dengan kehilangan dua jenderalnya, jelas membuat mental pasukan manusia buaya jatuh, mereka tidak lagi terkoordinasi dengan baik tanpa arahan dari jenderalnya.
Sedangkan Zong Lin, dia disibukkan dengan perlawanan sengit dari Raja Ming, sehingga tidak sempat untuk memberikan arahan kepada pasukannya yang kehilangan arah.
Putri Chang segera menghampiri ibunya yang terluka parah, dia membantu ibunya saat berusaha untuk berdiri. Kemudian, mereka menjauhi pertarungan Tian Jun dengan bersembunyi di reruntuhan rumah penduduk.
__ADS_1
Mereka dibuat kagum melihat kehebatan Tian Jun, yang mana saat mengeluarkan gelang kedua. Daya rusak dari serangan gelang pelangi kedua menumbangkan puluhan prajurit dalam sekali pukulan berenergi.
Ibu dan anak itu segera dievakuasi oleh dua jenderal Kerajaan Ming, namun mereka menolak karena tidak ingin meninggalkan Raja Ming. Permaisuri Suyin justru memberikan perintah kepada jenderalnya untuk membantu Raja Ming yang sedang bertarung melawan Zong Lin.
Sambil bertarung melawan Raja Ming, Zong Lin melirik ke pasukannya yang dibantai oleh Tian Jun. Dia semakin marah karena pasukannya yang kini tak berkutik.
"Mundur!" perintah Zong Lin dengan suara keras kepada pasukannya.
Sayangnya, pasukan buaya yang terkepung justru panik karena tidak ada jalan melarikan diri. Setelah Zong Lin memberikan perintah, dua jenderal Kerajaan Ming menyerangnya.
"Gelang pelangi ketiga, aktif!" teriakan Tian Jun sambil menukik ke atas, lalu bermanuver ke bawah, melesat sangat cepat sambil meninju berkali-kali ke arah pasukan buaya di bawahnya.
Dampak Kekuatan Jiwa Semesta gelang ketiga, membuat semua orang yang berada di bawah tertekan, tubuh mereka gemetaran dan sulit untuk digerakkan. Mereka melihat puluhan pukulan berenergi seperti meteor jatuh melesat sangat cepat, dan...
Boom boom boom boom...
Rentetan suara ledakan energi ketika pukulan berenergi tinggi itu mengenai sasarannya. Serangan itu membuat pasukan buaya yang menjadi target seketika tewas tanpa memiliki tubuh yang utuh. Selain itu, banyak sekali yang terpental ketika terkena dampak gelombang kejut pukulan berenergi itu. Rumah penduduk dan banyak gedung di kota itu menjadi reruntuhan karena terlalu kuatnya Kekuatan Jiwa Semesta gelang ketiga.
Putri Chang dan Permaisuri Suyin sampai dibuat terduduk di tanah karena ketakutan setengah mati melihat keganasan Tian Jun. Setelah itu, mereka tidak melihat Tian Jun yang tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya.
Titik lokasi pukulan terakhir itu kini menjadi berantakan, banyak lubang-lubang pukulan berenergi membentuk kepalan tangan. Raja Ming kedua jenderalnya mundur karena terdorong oleh gelombang kejut energi, demikian juga dengan Zong Lin.
Melihat ribuan pasukannya dibantai oleh Tian Jun, Zong Lin jelas marah, tapi tidak bisa melakukan apapun karena harus melawan Raja Ming dan dua jenderal. Karena tahu sudah kalah, dia segera melarikan diri sebelum Raja Ming menyerangnya.
Melihat Zong Lin kabur, Raja Ming dan jenderalnya segera mengejarnya. Sedangkan pasukan Kerajaan Ming kembali menyerang manusia buaya yang tersisa. Bantuan dari Tian Jun berdampak besar bagi Raja Ming, jelas dia tidak akan membiarkan Zong Lin kabur ke Sungai Buaya Zong...
****************
Dia melihat matahari terbit yang mulai menerangi dunia ini. Dia menghirup udara segar di pagi hari, mengembuskan nafas secara perlahan untuk menikmati kesegaran aroma alam ini.
Karena banyak membunuh manusia buaya, Tian Jun teringat ketika baru keluar dari Lembah Naga Hitam. Bertarung dengan banyak prajurit untuk pertama kalinya saat berada di Desa Bunga, bertarung bersama dengan Tim Phoenix yang baru berjumlah 8 anggota saat melawan Pasukan Kelelawar.
Pertempuran keduanya saat berada di wilayah Kerajaan Bintang Laut, melawan The King Of Dark Matter - Tian Sun. Di pertempuran itu, dia harus mengorbankan banyak boneka wayang untuk menenangkan peperangan itu.
Pertempuran ketiga, ketika melawan Pasukan Kegelapan yang juga diotaki oleh The King Of Dark Matter. Pertempuran itu terjadi di Pegunungan Lima Jari, yang akhirnya harus menggunakan Batu Keabadian untuk memutar waktu, sebab kekasihnya terbunuh di tangan pembunuh bayaran dari Paviliun Bunga Kematian.
Dan keempat, di Benua Tengah yang baru saja dialaminya. Dengan banyaknya pertarungan yang telah dilaluinya, pengalaman ini membentuk karakter dirinya. Dengan lika-liku perjalanan kehidupannya yang baru berusia 18 tahun, membuatnya semakin dewasa.
Tiba-tiba, Tian Jun berlutut di tanah, meletakkan keningnya di tanah sebagai ucapan rasa syukur kepada gurunya.
"Walaupun Anda (Dewa Pemelihara) telah meninggalkanku, Anda masih terus membimbingku dengan memberikan perintah. Guru, terima kasih atas bimbingannya selama ini! Tanpamu, murid ini hanya orang biasa yang mungkin tak dianggap oleh dunia ini! Semua perintah Anda pasti kupenuhi!" ucapnya sambil membenturkan keningnya ke tanah sebanyak tiga kali sebagai penghormatan kepada gurunya.
Dia bertekad untuk tidak mengecewakan gurunya dengan menyelesaikan semua perintah. Kemudian, berdiri dan memeriksa semua kekasihnya yang berada di dalam Dunia Jiwanya.
Tim Phoenix berkultivasi setelah beristirahat karena rahimnya penuh dengan Energi Yang, energi yang bisa meningkatkan kekuatan. Melihat kekasihnya berkultivasi, Tian Jun segera terbang ke arah Jembatan Gerbang Selatan, pintu masuk ke wilayah Kekaisaran Yao.
Saat tiba, dia keheranan karena tidak melihat Pasukan Kegelapan di Gerbang Selatan, bahkan tidak ada satupun orang yang berkeliaran. Dengan rasa penasaran, ia mengaktifkan Mata Surgawi untuk mencari keberadaan Pasukan Kegelapan.
Mata Surgawi-nya tertuju ke arah Ibu Kota Kekaisaran Yao, Tian Jun melihat kota sebesar itu sangat sepi, hanya beberapa orang yang tidak terinfeksi kabut hitam yang masih beraktivitas.
__ADS_1
Namun mereka terlihat tidak bersemangat menjalani aktivitasnya, sebab banyak pendukung Ibu Kota menjadi Pasukan Kegelapan. Mereka yang tidak terinfeksi adalah para penguasa, bangsawan, dan yang memiliki status sosial terpandang.
"Sampai kapan rakyat jelata menjadi korban dari keserakahan para penguasanya? Apakah mereka akan berhenti ketika dunia ini tak lagi bernafas?" kegeraman Tian Jun kepada Leluhur Yao dan semua penguasa di dunia ini.
Kemudian, Mata Surgawi terus mencari keberadaan Leluhur Yao dan Pasukan Kegelapan. Setelah beberapa saat, dia melihat mereka berada di Kerajaan Niao, terbagi menjadi dua pasukan.
Pasukan pertama dengan jumlah satu juta prajurit berjalan menuju ke arah perbatasan Kerajaan Li. Pasukan kedua menuju ke arah Kerajaan Long. Kedua Pasukan Kegelapan itu berjalan menyusuri tebing Lembah Ular.
Selain Pasukan Kegelapan, Leluhur Yao didukung oleh Raja Niao dengan membawa pasukan. Jumlah Pasukan Kerajaan Niao lebih dari 150 ribu prajurit.
Sedangkan dua Putra Mahkota Kerajaan Niao membawa 20 ribu prajurit yang bergabung dengan Pasukan Kegelapan, mereka akan menyerang Kerajaan Long karena dianggap telah mengkhianati Kekaisaran Yao. Putusnya jembatan penghubung, sama saja memutuskan hubungan diplomatik.
Yang mengherankan Tian Jun, karena ia tidak melihat satupun pasukan dari pihak Kekaisaran Yao yang bergabung di dalam rombongan Pasukan Kegelapan. Dengan rasa penasaran, dia mencari lokasi barak militer kekaisaran. Ternyata, pasukan Kekaisaran Yao sedang mabuk-mabukan, ada yang menangis sambil memukul-mukul dirinya sendiri, lalu melihat beberapa prajurit yang gantung diri.
Mentalitas Pasukan Kekaisaran Yao jatuh ke titik terendah dikarenakan banyak keluarga menjadi bagian dari Pasukan Kegelapan, mereka tidak menginginkan itu terjadi. Sedangkan yang mabuk-mabukan karena senang mendapatkan banyak harta dari para penduduk yang terinfeksi kabut hitam.
Yang lebih mengherankan bagi Tian Jun, dia tidak melihat anak-anak dan wanita yang masih produktif menjadi bagian dari Pasukan Kegelapan. Melihat itu, membuatnya kembali menjadi penasaran ke mana mereka pergi.
Mata Surgawi-nya kembali menyusuri setiap tempat untuk mencari keberadaan anak-anak dan wanita. Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya Tian Jun menemukan mereka.
Mereka berkumpul di salah satu kota yang dekat dengan Sungai Yingting bagian Timur Laut dan tebing Lembah Ular. Sungai Yingting Timur Laut merupakan perbatasan dua kerajaan, Kerajaan Sihir dan Kerajaan Long.
Kota itu adalah Kota Kiew, tempat kelahiran Leluhur Yao, kota terlarang yang tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk masuk maupun tinggal. Di kota itu dijaga ketat oleh tiga ratus prajurit kekaisaran. Para prajurit itu memblokir jalan keluar masuk agar anak-anak (laki-laki dan perempuan) dan ribu wanita tidak bisa kabur dari dalam kota.
Leluhur Yao menjadi kota itu sebagai tempat kesenangan menikmati hidupnya, di sanalah dia melakukan apapun sesuka hati terhadap wanita. Penduduk Benua Tengah menjuluki Kota Kiew sebagai Kota Kesesatan, dijuluki seperti itu karena Leluhur Yao juga penyuka anak laki-laki dan perempuan untuk memenuhi hasratnya yang tidak bermoral.
Melihat banyak anak-anak dan wanita menangis, ada rasa sakit di hati Tian Jun, dia tidak tega melihat seseorang menangis. Dia tahu kesedihan mereka karena keluarganya menjadi umpan meriam oleh Leluhur Yao.
"Sialan kau seluruh keluarga Yao!?!" kemarahan Tian Jun saat melihat seorang prajurit menendang anak usia 7 tahun ditendang karena menangis.
Namun, sebelum Tian Jun berteleportasi menuju ke Kota Kiew, kebetulan dia melihat 100 orang yang menggunakan topeng Burung Gagak. Karena Mata Surgawi-nya masih aktif, dia melihat 100 orang itu adalah wanita muda dari usia 20 hingga 40 tahun.
Tian Jun tidak tahu siapa mereka. 100 wanita itu adalah murid dari Penyihir Hitam Niao Wushi yang akan menguasai Kota Kiew. Mereka berubah menjadi Burung Gagak dan terbang ke arah para prajurit yang menjaga pintu gerbang utama Kota Kiew.
Para prajurit itu terlihat senang dengan kedatangan 100 Burung Gagak, sebab telah mendapatkan pesan dari Leluhur Yao, bahwa murid-murid Perguruan Sihir Wushi akan datang menjemput para korban yang akan ditumbalkan.
Akan tetapi, 100 Burung Gagak tidak berhenti saat dekat dengan para prajurit, tetap terbang melewati para prajurit. Setelah dilewati, kepala prajurit itu terpenggal terkena sabetan sayap.
100 Burung Gagak itu terus terbang ke arah para prajurit yang lain, dan memenggal leher mereka dengan sayapnya. Dalam waktu singkat, tiga ratus prajurit itu tewas tanpa sedikitpun melukai lawannya.
Anehnya, para korban yang akan ditumbalkan itu sangat ketakutan kepada 100 murid Perguruan Sihir Wushi, bukannya senang setelah ditolong. Mereka menjauh 100 murid Perguruan Sihir Wushi.
Tian Jun terus melihat 100 Burung Gagak itu menjadi wujud aslinya. Setelah membunuh semua prajurit, mereka menggunakan sihirnya untuk memblokir jalan keluar masuk Kota Kiew.
Setelah itu, 100 murid itu menggunakan sihir untuk membuat sebuah kolam besar yang nantinya wadah untuk menampung darah. Karena penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh murid-murid itu, Tian Jun berubah wujud menjadi udara, lalu berteleportasi dan muncul di luar dinding sihir yang memblokir Kota Kiew.
Tanpa kesulitan, Tian Jun menembus dinding sihir dengan menggunakan Kekuatan Jiwanya. Setelah itu, dia mendekati murid-murid itu dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Saat tahu tujuan mereka, jelas Tian Jun sangat marah, tapi menahannya. Kemudian, dengan pikirannya, dia memindahkan semua harta yang disimpan di dalam cincin dimensi ke dalam Dunia Jiwanya. Rencananya, cincin dimensi itu akan dijadikan tempat penampungan bagi semua orang di Kota Kiew.
__ADS_1
Setelah semua harta dipindahkan, Tian Jun berkomunikasi dengan Xia Junsu mengenai apa yang terjadi saat ini. Xia Junsu jelas marah, ia segera menghentikan Tim Phoenix yang sedang berkultivasi.