
Bab 103. Penampilan Baru
Kejadian di Pagoda Emas menarik perhatian semua pihak yang berada di wilayah Gunung Berawan. Mereka penasaran dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, banyak orang yang sudah menduga jika ini terkait dengan Root Power Stone yang akan dicuri.
Setelah situasinya mereda, banyak orang yang kembali ke tempatnya masing-masing, tetapi sebagian orang segera mencari informasi terkait kejadian malam ini...
Saat ini, di dalam kamar terlihat seseorang pria yang sedang kesakitan, orang itu tidak lain adalah Cao Tian Jun. Dia sudah kembali ke dalam kamarnya yang disediakan oleh panitia dari Kuil Atas Awan.
Cao Tian Jun mengigit kain untuk menahan rasa sakitnya, sekujur tubuhnya terasa tercabik-cabik, tulangnya seakan-akan hancur, dan darah segar keluar dari pori-pori kulit ditubuhnya. Selain itu, dia juga merasakan tubuhnya seperti direndam dua elemen, elemen Api dan Es secara bergantian. Akibat direndam dua elemen, rambutnya terbakar, kulit melepuh.
Baru kali ini dia merasakan sakit yang luar biasa. Biarpun begitu, dia tidak sedikitpun mengeluarkan suara gaduh yang akan mengundang perhatian banyak orang.
Karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya, Cao Tian Jun segera masuk ke dalam Cincin Dimensi, dan akhirnya pingsan.
Baru saja Cao Tian Jun masuk ke dalam cincin dimensinya, masuk dari jendela kamarnya empat bayangan hitam. Mereka adalah orang-orang yang diperintahkan oleh Yan Denglong untuk menculik Cao Tian Jun.
Melihat targetnya tidak ada dikamar, dan juga tercium aroma yang menyengat hidung, mereka terkejut melihat jejak yang ditinggalkan oleh Cao Tian Jun; sisa-sisa rambut yang terbakar, darah yang mengering karena suhu panas, dan juga melihat kulit yang juga terbakar.
Aroma itu mengundang perhatian beberapa biksu yang berjaga-jaga di asrama pria, jumlahnya ada enam orang Mereka segera mengikuti sumber aromanya. Saat membuka pintu kamar yang ditempati oleh Cao Tian Jun, mereka tercengang melihat empat orang yang menggunakan topeng.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Selidik salah satu biksu senior kepada mereka.
Namun, keempat orang itu segera melarikan diri dengan keluar dari jendela kamar. Empat dari keenam biksu itu mengejar mereka, sedangkan dua biksu memeriksa kamar.
Kedua biksu itu melihat jejak yang ditinggalkan oleh Cao Tian Jun, mereka jelas kaget dan berasumsi bahwa keempat pelaku itu telah membunuh Cao Tian Jun. Mereka segera melaporkan kejadian ini kepada pimpinannya.
Empat biksu yang mengejar si pelaku, telah kehilangan jejak. Mereka juga segera melaporkan kejadian ini.
Di malam itu, terbunuhnya Cao Tian Jun menggemparkan Kuil Atas Awan. Mendengar kabar kematiannya, Chu Xing-fu, Guru Senior serta Junior jelas sangat murka, sedangkan Tim Phoenix jelas histeris dengan menangis sejadi-jadinya.
Fang Yin segera menenangkan hati Tim Phoenix, dia berkata bahwa Cao Tian Jun tidak mati, sebab Cincin Ikatan Hati masih utuh merupakan tanda jika Cao Tian baik-baik saja.
Namun tetap saja mereka tidak percaya karena melihat jejak yang ditinggalkan oleh kekasihnya, hal ini membuktikan bahwa Cao Tian Jun kemungkinan besar terluka parah dan kabur sebelum terbunuh.
Akhirnya, Fang Yin dan Tim Phoenix memutuskan untuk mencari keberadaan Cao Tian Jun yang menghilang. Fang Yin juga meminta bantuan kepada Fang Guotin dan pengawalnya ikut mencari keberadaannya.
Sebenarnya, terbunuhnya seorang jenius tidak hanya sekali ini saja, sudah sering terjadi di Benua Timur. Namun kali ini berbeda, sebab Cao Tian Jun merupakan murid andalan dari Akademi Merpati Putih kelas dua, sekaligus penemu tambang di Desa Bunga.
Di malam itu, semua orang tidak ada yang beristirahat, mereka mencari empat orang yang menjadi pelaku pembunuhan. Dari keterangan keenam biksu yang menjadi saksi yang melihat ciri-ciri si pembunuh, jika si pelakunya berasal dari Paviliun Bunga Kematian yang jubah bagian punggungnya terdapat bordiran bunga mawar hitam.
__ADS_1
Kepala Biksu yang menjadi pemimpin di Kuil Atas Awan jelas sangat murka dan malu karena telah kecolongan. Dua kejadian dalam satu waktu merupakan bukti bahwa lemahnya penjagaan di Kuil Atas Awan.
Pemimpin Kuil Atas Awan, memerintahkan semua anggotanya untuk mencari keberadaan si pembunuh, termasuk seluruh tamu juga ikut membantu.
Berita kematian Cao Tian Jun, didengar oleh Ratu Ular Surgawi yang sudah kembali ke Danau Air Hijau, tempat pertemuan rahasia. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dengan semua pemimpin Suku Ular, Yu Zhong dan yang lainnya.
Ketika Ratu Ular Surgawi sedang berdiskusi dengan bawahannya, datang Wang Yelu untuk menyampaikan berita ini. Entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar kematian Cao Tian Jun, dan Wang Yelu pun menjadi pelampiasan amukan dengan menendangnya hingga keluar dari pondok bambu.
Ratu Ular Surgawi memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini, dan memerintahkan semua bawahannya untuk mencari keberadaan si pembunuh.
Di pagi hari, setelah pencarian besar-besaran.
Karena kematian Cao Tian Jun, pemimpin Kuil Atas Awan memutuskan untuk menunda kompetisi selama dua hari, tujuannya untuk berkabung atas meninggalnya Cao Tian Jun, dan juga agar pihak Akademi Merpati Putih kelas dua mempersiapkan penggantinya...
Cao Tian Jun yang pingsan di dalam cincin dimensinya jelas tidak mengetahui apa yang terjadi di luar, dia baru sadarkan diri setelah satu hari berlalu. Dia melihat sekitarnya dan baru teringat apa yang telah dialaminya.
"Aku tidak ingin merasakan rasa sakit ini lagi," ucap Cao Tian Jun sambil duduk.
Melihat kulit lengannya yang sehalus kulit bayi, dan merasakan seluruh tulangnya sangat kuat yang tidak akan mempan terpotong oleh benda tajam. Dia tersenyum tipis melihat tubuhnya yang telanjang. Dia belum menyadari rambutnya menjadi pendek.
Cao Tian Jun juga merasakan pendengaran makin jelas, bisa mendengar suara semut yang berjalan. Pengelihatannya menjadi lebih jelas tanpa harus menggunakan Mata Surgawi. Bukannya senang karena perubahan tubuhnya, justru dia terlihat sedih.
"Sekuat apa fisikku sekarang?" tanyanya kepada Batu Keabadian.
"Setelah bergabung dengan Third Eye Stone, kekuatan fisik yang Penguasa rasakan sekarang berada di puncaknya, tingkat Fisik Abadi (Immortal Physique). Oleh sebab itu, Penguasa harus merasakan sakit yang luar biasa...," jawab Crown Stone yang terdengar di benak Cao Tian Jun.
Spontan Cao Tian Jun tertawa terbahak-bahak sebelum Crown Stone selesai menjawab. Dia jelas sangat senang karena rasa sakit yang dialaminya tidaklah sia-sia.
"Untuk masalah dantian, sebenarnya bisa diselesaikan tanpa harus menggunakan Pil Terobosan. Penguasa cukup mengumpulkan semua Batu Keabadian, maka seluruh kemampuan Anda yang tertutup akan terbuka, termasuk menyelesaikan masalah dantian!" sambung Crown Stone setelah Cao Tian Jun berhenti tertawa.
Lagi-lagi Cao Tian Jun tertawa terbahak-bahak karena hatinya sangat gembira. Namun terhenti ketika melihat situasi di luar cincin dimensinya.
"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Cao Tian Jun dengan serius.
"Satu hari satu malam!" jawab Crown Stone yang terdengar di benak Cao Tian Jun.
"Astaga, aku lupa!!"
Buru-buru Cao Tian Jun mengenakan seragamnya, dan keluar dari dalam cincin dimensi. Kemudian, dia keluar dari kamar dan melihat suasana yang sepi. Khawatir jika terlambat mengikuti kompetisi, dia bergegas keluar dari asrama pria.
__ADS_1
Cao Tian Jun melihat penjaga asrama, lalu bertanya, "apakah kompetisi sudah dimulai?"
Si penjaga langsung kaget karena asrama pria tidak ada siapapun. Dia membalikkan badan, mengerutkan kening karena tidak mengenali penampilan baru Cao Tian Jun yang lebih tampan dari sebelumnya.
"Anda siapa, kenapa bisa berada di sini?" selidik si penjaga dengan kewaspadaan tinggi karena kejadian akhir-akhir ini.
"Saya Cao Tian Jun, murid dari Akademi Merpati Putih di wilayah Kerajaan Lentera!" jawab Cao Tian Jun.
Sontak penjaga itu tercengang hingga terhuyung-huyung ke belakang. Dia seakan-akan melihat Cao Tian Jun adalah hantu.
"Ha-hantu... Hantu...!!" teriakan si penjaga yang pergi meninggalkan Cao Tian Jun karena ketakutan.
Cao Tian Jun melongo melihat penjaga itu. Dia pun mencubit kulitnya karena dipikir sebagai hantu, ternyata fisiknya masih nyata dan bukanlah sebagai roh.
"Konyol, mana ada hantu di siang bolong! Botak kok takut hantu!" gerutu Cao Tian Jun sambil berjalan meninggalkan asrama pria dengan hati riang.
"Saudara, apakah kompetisi sudah dimulai?" tanya Cao Tian Jun ketika melihat salah satu orang yang bukan dari Kuil Atas Awan.
Orang itu adalah Lu Butong yang sedang menuju ke tempat berkumpulnya semua peserta kompetisi. Dia membalikkan badan dan melihat Cao Tian Jun yang tidak dikenalinya karena berpenampilan baru.
Lu Butong mengerutkan keningnya karena melihat seragam yang dikenakan oleh Cao Tian Jun, dia hafal dengan seragam dari Akademi Merpati Putih kelas dua.
"Belum, besok baru dimulai. Apakah kau peserta atau hanya penonton?" jawab Lu Butong dan balik bertanya dengan nada ketus.
Cao Tian Jun membuang nafas lega, lalu berkata, "aku adalah peserta yang baru pertama kali mengikuti kompetisi. Semua peserta ada di mana sekarang?"
"Pemula, pasti peserta penggantinya!" ejekan Lu Butong dan meninggalkan Cao Tian Jun tanpa menjawab.
Cao Tian Jun jelas keheranan dengan reaksi dari Lu Butong, dia pun mengikutinya. Mengetahui jika diikuti, Lu Butong jelas kesal, tanpa basa-basi langsung menyerang Cao Tian Jun.
Cao Tian Jun yang diserang, melihat gerakan Lu Butong sangatlah lambat, dan lebih cepat siput yang berjalan. Dengan sedikit memiringkan kepalanya tanpa meninggalkan posisinya, dia menghindari pukulan dari Lu Butong.
Tidak terima pukulannya meleset, Lu Butong kembali menyerang Cao Tian Jun, kali ini menggunakan lutut. Dia syok melihat lututnya yang ditahan oleh jari telunjuk lawannya, padahal jaraknya sangat dekat dan seharusnya tidak mudah untuk ditangkis.
Lu Butong segera mundur karena khawatir lawannya membalas serangannya, lalu berkata, "jangan ikuti aku!"
Setelah berbicara, Lu Butong meninggalkan Cao Tian dengan tergesa-gesa karena pengarahan akan segera dimulai.
"Aneh!" gumam Cao Tian Jun yang tidak tahu kenapa Lu Butong menyerangnya.
__ADS_1
Lalu dia melihat seorang biksu yang berjalan ke arahnya. Cao Tian Jun pun bertanya kepada biksu itu. Setelah mendapatkan informasi kemana semua orang, dia bergegas menuju ke arena latihan para biksu.