
Bab 115. Mu Yenny.
Cao Tian Jun dan Tim Phoenix pun tiba di Akademi Merpati Putih kelas dua. Kedatangan mereka disambut dengan sorak-sorai dari semua murid dan guru karena telah mengharumkan nama akademinya.
Kemudian, pemimpin akademi Chu Xing-fu mewartakan kabar gembira terkait perburuan harta di Mystical Beast Mountain kepada semua murid dan guru. Kegembiraan pun semakin lengkap dengan berita baik ini, dan malam itu diadakan pesta besar yang belum pernah diadakan di akademi.
Justru Cao Tian Jun yang menjadi juara pertama, tidak hadir dalam pesta perayaan kemenangan. Dia mengurungkan diri di dalam kamarnya. Di depan pintunya tertulis "kultivasi tertutup selama 4 bulan".
Melihat pesan itu di pintu, Tim Phoenix mengurungkan niatnya untuk mengajak Cao Tian Jun melewati malam pesta. Mereka menyadari jika kekasihnya masih belum menyelesaikan masalahnya. Dan menduga jika kultivasi tertutup untuk menyelesaikan masalah dantian-nya.
Setelah kepergian Tim Phoenix, datang Guru Junior Wang Mei. Dia akan memasuki jendela kamar, namun melihat pesan di jendela kamar, ia pun mengurungkan niat untuk menemui kekasihnya.
Karena tidak percaya jika kekasihnya berkultivasi, dia mengintip melalui celah jendela kamar. Wang Mei melihat Cao Tian Jun duduk bersila di lantai kamar. Dia menghela nafas berat dan meninggalkan kediaman kekasihnya.
Tidak hanya Wang Mei dan Tim Phoenix saja yang datang ke kamarnya, Guru Junior Chu Sying Chun juga datang, dan melihat pesan di pintu kamar. Setelah kepergian Chu Sying Chun, datang beberapa murid wanita yang mengidolakan Cao Tian Jun, mereka juga kembali dengan raut wajah kecewa karena tidak bisa bertemu dengan idolanya.
Sebenarnya, Cao Tian Jun yang berada di dalam kamar bukanlah yang asli, melainkan boneka wayang yang menyerupai dirinya. Cao Tian Jun yang asli telah jauh dari akademi.
Saat ini, dia sudah berada di wilayah Kerajaan Sembilan Surga. Tujuannya untuk mengambil Throat Stone. Cao Tian Jun bisa dengan cepat berada di kerajaan itu karena menggunakan Teknik Teleportasi.
Kemudian, dengan Mata Surgawi-nya, ia menemukan lokasi Pagoda Emas yang berada di pusat Ibu Kota Kerajaan, masih dalam satu komplek dengan Sekolah Surga Kesembilan.
Seperti yang sudah-sudah, Cao Tian Jun menggunakan penyamaran sebagai seorang pria muda berkulit coklat, lalu berubah wujud menjadi udara. Dia melesat ke arah Pagoda Emas di pusat Ibu Kota.
Melihat penjagaan di Pagoda Emas lebih ketat daripada di Kuil Atas Awan, Cao Tian Jun lebih berhati-hati, sebab dia melihat Jenderal Mata Elang, seribu prajurit kerajaan dan beberapa Guru Senior dari Sekolah Surga Kesembilan yang sedang berjaga-jaga.
Selain penjagaan yang ketat, Pagoda Emas dilindungi oleh Formasi Array. Untung saja Formasi Array tingkat rendah sehingga tidak menyulitkan Cao Tian Jun untuk menerobosnya. Segera dia terbang ke arah lantai 7, tempat bersemayamnya Throat Stone. Tanpa kesulitan menerobos Formasi Perlindungan, ia masuk melalui celah jendela.
Baru saja masuk, dia melihat empat orang yang sedang berkultivasi, dua wanita dan dua pria. Satu wanita lebih muda dari yang lainnya, usianya 20 tahun. Melihat pakaian yang dikenakan mereka, Cao Tian Jun menebak jika mereka adalah adalah Raja Tan Liang, Permaisuri Chang Qisheng, Putra Mahkota Tan Hai dan Putri Tan Fanghua.
Yang membuat Cao Tian Jun ekstra hati-hati, saat mengetahui kekuatan Raja Tan Liang, setara dengannya di tingkat Golden God level 7, dua level di bawahnya. Kekuatan Permasuri Chang Qisheng berada di tingkat Heavenly God level 5. Sedangkan kekuatan kedua anak mereka setara dengan guru di akademinya.
Kali ini akan lebih sulit untuk mendapatkan Batu Keabadian karena kehadiran mereka. Cao Tian Jun memikirkan cara agar mereka keluar dari lantai 7. Seandainya dia memiliki boneka wayang, sudah pasti akan menjadikannya sebagai pengalih perhatian. Sayangnya, dia tidak memiliki lagi karena sudah diberikan kepada ketiga istrinya, dan satu boneka wayang yang menggantikan posisinya di kamar pribadi.
Untuk membuka boneka wayang, akan memakan waktu. Satu boneka wayang membutuhkan waktu 10 hari. Jelas tidak mungkin Cao Tian Jun membuang waktu. Jadi, dia memutuskan untuk secara langsung membuat keributan di luar Pagoda Emas.
__ADS_1
Tiba-tiba, Raja Tan Liang membuka matanya ketika Cao Tian Jun sedang berpikir. Raja Tan melihat ke arah jendela lantai saat merasakan perubahan udara di ruangan. Namun dia tidak melihat siapapun selain istri dan anaknya.
Raja Tan Liang kembali menutup matanya. Cao Tian Jun segera keluar dari lantai melalui celah-celah jendela. Di luar, dia membuang nafas lega karena kehadirannya hampir diketahui oleh Raja Tan Liang.
"Dengan kekuatannya saat ini, seharusnya bisa menginvasi wilayah tetangga!" batin Cao Tian Jun setelah mengetahui kekuatan penguasa Kerajaan Sembilan Surga.
Cao Tian Jun meninggalkan Pagoda Emas untuk mematangkan rencanannya. Untuk mengamati kebiasaan mereka, dia menuju ke penginapan yang dekat dengan Pagoda Emas, Penginapan Fánróng (Makmur). Penginapan yang sangat terkenal di wilayah kerajaan ini.
Penampilan Cao Tian Jun yang tidak menarik perhatian sehingga dihiraukan oleh siapapun yang menginap. Dia segera memesan kamar terbaik di lantai 9, menyewa untuk dua hari. Cao Tian Jun diantar oleh pelayan penginapan menuju ke kamar yang disewa.
"Jika Tuan membutuhkan sesuatu, bunyikan saja lonceng ini," kata si pelayan kepada Cao Tian Jun sambil menunjukkan lonceng yang tergantung di daun pintu kamar.
Cao Tian Jun yang hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Si pelayan mendengus kesal karena tidak diberi uang tip.
"Pelit!" sungut si pelayan sambil kembali ke tempat kerjanya.
Di dalam kamar, Cao Tian Jun segera menuju ke balkon. Sambil duduk, dia melihat aktivitas setiap orang yang berada di Pagoda Emas. Dia mengingatkan setiap aktivitas orang-orang yang memiliki basis kultivasi tinggi.
Ya, membuat keributan bagi Cao Tian Jun harus terencana, jika tidak khawatir rencananya akan sia-sia, serta akan menyulitkannya untuk mendapatkan Batu Keabadian. Intinya, jika lantai puncak dari Pagoda Emas tidak lagi digunakan untuk berkultivasi, dia akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya dengan langsung mengambil Batu Keabadian.
Pagi hari pun tiba, dan Cao Tian Jun masih duduk di balkon kamar sewaan. Pintu kamarnya diketuk oleh pelayan yang mengantarkan sarapan. Dia segera membuka pintu dan menerima sarapan pagi. Membawa sarapannya ke balkon kamar. Dan, sambil makan melihat aktivitas setiap orang.
Wanita itu adalah pemimpin dari Gedung Alkemis Teratai Biru, namanya Mu Yenny, kakak pertama dari Mu Bingyun. Suaminya adalah Jenderal Mata Elang. Usianya 37 tahun, tetapi wajahnya tampak usia 22 tahun.
Karena penasaran dan juga tidak mengenali Cao Tian Jun yang menyamar, Mu Yenny segera melompat dari balkon Gedung Alkemis. Dengan gerakan lincah, ia sudah mendarat di atas pagar besi balkon kamar yang disewa oleh Cao Tian Jun.
Karena sangat kaget, Cao Tian Jun melemparkan nampan sarapannya ke arah Mu Yenny. Mu Yenny segera menghindari nampan dan berhasil, tetapi tidak berhasil menghindari mangkok yang berisi sayuran. Jadilah wajahnya tersiram air sayuran.
"Sialan kau!?" bentakan Mu Yenny karena wajah cantiknya menjadi kotor karena terkena sayuran.
Dia langsung menyerang Cao Tian Jun yang masih melongo melihatnya. Tidak ingin mencari masalah sebelum waktunya, Cao Tian Jun lompat dari balkon kamar. Tempat duduknya hancur setelah terkena tendangan dari Mu Yenny.
"Wanita kampret!!" gerutu Cao Tian Jun setelah mendarat, lalu dia melarikan diri dari kejaran Mu Yenny.
Aksi kejar-kejaran antara Cao Tian Jun dan Mu Yenny jelas menarik perhatian banyak orang yang lalu-lalang di jalan. Banyak orang yang mengikuti mengejar Cao Tian Jun karena dipikirnya pencuri. Apalagi yang mengejarnya adalah sosok yang disegani di wilayah Kerajaan Sembilan Surga.
__ADS_1
Karena keributan itu, prajurit keamanan kota segera membantu Mu Yenny. Mereka ikut mengejar Cao Tian Jun yang menjadikan atap rumah dan bangunan untuk jalan kabur.
"Berhenti!!" teriakan MU Yenny karena kesulitan untuk mengejar Cao Tian Jun.
Cao Tian Jun tidak menggubris perkataan Mu Yenny, dia menuju ke hutan agar bisa melepaskan diri dari kejaran banyak orang. Jenderal Mata Elang melihat istrinya yang mengejar seorang pria muda, dia segera mengikuti istrinya.
Jenderal Mata Elang tidak mampu menyusul kecepatan istrinya, lalu dia menghentikan salah satu orang yang ikut mengejar.
"Siapa yang dikejar oleh istriku?" tanya Jenderal Mata Langit.
"Pencuri!" kata orang itu.
Jenderal Mata Elang akhirnya mengerti kenapa istrinya begitu marah. "Pasti akan mencuri Pil Kultivasi tingkat Peri Benua tahap menengah!" dugaannya.
Segera Jenderal Mata Elang kembali mengikuti istrinya yang sudah memasuki Hutan Cemara, yang berada di sisi timur dari Pagoda Emas.
Mu Yenny masih mengejar Cao Tian Jun, meninggalkan semua orang yang membantunya, terpaut sangat jauh. Saat berada di Hutan Cemara, ia kehilangan jejak dari Cao Tian Jun.
"Sialan, cepat sekali kaburnya!" umpatan Mu Yenny setelah mendarat di cabang batang pohon, dia melihat sekelilingnya agar menemukan jejak Cao Tian Jun.
Mu Yenny semakin masuk ke dalam hutan. Baru saja beberapa meter, dia dikejutkan dengan serangan menyelinap dari belakang. Dia segera membalikkan badan dan melepaskan pukulan ke musuh.
Boom...
Benturan keras ketika kepalan tangan beradu. Mu Yenny berteriak keras karena terpental ke belakang dan menghantam tanah. Cao Tian Jun segera melesat dan mengarahkan tinjunya ke wajah Mu Yenny.
Boom...
Mu Yenny segera berguling-guling ke kiri sehingga pukulan dari Cao Tian Jun menghantam tanah. Dia segera bangkit dan menjauhi Cao Tian Jun, dia menahan rasa sakit karena empat jari tangan kanan patah.
Dia tidak menyangka kekuatan fisik Cao Tian Jun sangat kuat dan sekeras baja.
"Kenapa kau mengejarku?" tanya Cao Tian Jun.
"Kau mencurigakan. Kenapa kau selalu melihat Pagoda Emas?" jawab Mu Yenny dan bertanya balik dengan maksud untuk menyelidiki.
__ADS_1
"Aku menyukai Putri Tan Fanghua. Apakah aku tidak boleh mengidolakannya?" alasan Cao Tian Jun yang dengan jelas berbohong.
Seketika raut wajah Mu Yenny semakin merah karena malu, dia pikir Cao Tian Jun akan mencuri Batu Keabadian. Ternyata ini hanya kesalahpahaman. Alasan Cao Tian Jun masuk akal karena banyak pria muda yang mengejar-ngejar Putri Tan Fanghua.