8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Kerajaan Lentera, Yan Denglong.


__ADS_3

Bab 94. Kerajaan Lentera, Yan Denglong.


Saat ini, mereka berdua telah membaringkan tubuhnya di ranjang. Chu Sying Chun memegang kendali dengan berada di atas tubuh Cao Tian Jun. Saat Chu Sying Chun mencium bibir Cao Tian Jun, ia merasakan bibir guanya yang telah basah menempel pada tongkat milik Cao Tian Jun yang keras.


Perlahan pinggul Chu Sying Chun mulai bergoyang-goyang karena merasakan kenikmatan. Karena sudah sabaran ingin segera merasakan lebih, ia memegang batang tongkat. Setelah terpegang dengan lembut, ia menggeseknya pada bibir guanya.


Wajahnya semakin memerah, nafasnya mulai memburu. Cao Tian Jun dapat merasakan nafas kekasihnya ini semakin cepat dan bersiap untuk kehilangan kesucian. Dia meningkatkan serangan tangannya dengan memegang erat kedua buah kenyal itu...


Hampir 2 jam lebih mereka berhubungan intim, berkali-kali Chu Sying Chun mencapai puncak kenikmatan, seluruh tubuhnya terasa lemas.


Saat ini, Cao Tian Jun membaringkan tubuhnya di sisi Chu Sying Chun sambil melihat langit-langit atap kamar, dia baru sadar lilin belum dinyalakan sehingga kamar menjadi gelap.


Chu Sying Chun memeluk erat tubuhnya, lalu mencium pipinya, setelah itu ia berkata, "jangan pernah tinggalkan aku! Jika kamu jahat, aku akan potong punyamu!"


Ancaman Chu Sying Chun membuat Cao Tian Jun tersenyum, dia menjawab, "aku tidak akan melakukan hal buruk kepadamu! Tetapi, jika ada pria lain di hatimu... Tidak hanya dia yang aku bunuh, melainkan seluruh keluarganya juga mengalami hal yang sama!"


"Bodoh, tubuhku telah aku berikan kepadamu, tentunya hati dan jiwaku milikmu!" sahut Chu Sying Chun dan segera beranjak dari tempat tidur karena khawatir diketahui oleh Tim Phoenix.


Chu Sying Chun segera memakai pakaian yang berserakan di kamar. Saat berjalan dia merasa perih pada organ kewanitaannya, dan melihat ****** ***** yang mengalir di pahanya. Demikian juga dengan Cao Tian Jun yang segera mengenakan pakaiannya sendiri.


Setelah berpakaian, Chu Sying Chun memeluk erat Cao Tian Jun dan berkata, "aku akan mencari solusi untuk masalahmu. Kamu fokus saja pada kompetisi yang akan datang."


Cao Tian Jun memegang dagu Chu Sying Chun dan mengangguk. Kemudian, mereka berciuman untuk sesaat. Chu Sying Chun keluar dari jendela kamar seperti Wang Mei.


Cao Tian Jun tersenyum melihat tingkah wanita yang sopan dan keluar dari kamar seperti pencuri. Lalu Cao Tian Jun bergegas menuju jendela kamar.


"Apakah kamu lihat pencuri?" tanya Cao Tian Jun saat Chu Sying Chun baru menginjakkan kakinya di tanah.

__ADS_1


"Husst... Jangan berisik! Ya, aku lihat pencurinya. Itu orangnya, yang berteriak di jendela!" jawab Chu Sying Chun dan bergegas lari ke arah pintu utama rumah mereka.


Cao Tian Jun tertawa ringan dan menutup jendela kamar. Lalu dia menyalakan lilin untuk menerangi kamarnya. Setelah itu, dia melihat kasurnya yang acak-acakan dan darah kesucian milik Chu Sying Chun di seprai.


Dia segera mengambil seprai baru di dalam lemari. Setelah ranjangnya bersih, dia menyimpan seprai lama di dalam Cincin Dimensi, untuk dibersihkan nanti.


"Waktunya menyelesaikan misi dari guru," gumam Cao Tian Jun, dia lenyap dari kamarnya dengan menggunakan teleportasi.


...****************...


Di Kerajaan Lentera.


Suasana malam begitu tenang dan damai. Lampu bundar berwarna merah menghiasi setiap jalanan. Masyarakat membuat menutup lilin dengan bingkai bambu, kayu, atau jerami gandum dan merentangkan sutra, serta kertas sehingga api tidak mati tertiup angin. Dan lampu bundar itu adalah lampion.


Terlihat prajurit berkelompok sedang berpatroli di jalan. Walaupun tanpa adanya pengawasan dari pemimpinnya, mereka tetap disiplin menjalankan tugas sebagai prajurit.


Mereka belum menyadari jika malam ini akan menjadi malam yang bersejarah bagi Kerajaan Lentera. Suasana malam hari yang terlihat damai, sesekali terdengar suara gelak tawa di sebuah tempat, lokasi bagi para pria mencari kesenangan.


Ya, pria itu adalah Cao Tian Jun yang sedang melihat istana Kerajaan Lentera. Dengan Mata Surgawi, dia melihat keberadaan target misi, di mana Raja Yan Ju Long tidak sendirian, melainkan bersama dengan Bai Guan dan Chu Xing-fu. Mereka sedang membahas tentang kompetisi yang akan datang.


Selain mereka, ada juga seseorang pria yang sangat tua, rambut panjang yang memutih dengan jenggotnya sepanjang perut. Pria tua itu adalah leluhur kerajaan, kakek dari Raja Yan Ju Long. Dia sangat dihormati oleh kedua pimpinan Akademi Merpati Putih kelas dua. Bahkan Raja Yan Ju Long sulit untuk bisa bernafas dengan bebas saat ada kakeknya.


Pria tua itu dikenal dengan sebutan Leluhur Yan Denglong. Kaisar Xia sering menemuinya untuk sekedar berkonsultasi mengenai keamanan negaranya yang wilayahnya sangat luas.


Selama pembicaraan mereka, Bai Guan dan Chu Xing-fu tidak sekalipun membeberkan kekuatan Cao Tian Jun. Mereka berdua hanya berkata, jika memiliki murid berbakat dan dipastikan akan menjadi juara pertama, dan diyakinkan akan menjuarai setiap kompetisi.


Bai Guan juga bertanya perihal masalah Cao Tian Jun yang tidak bisa menerobos, tapi dia menjadikan dirinya sendiri sebagai pengganti Cao Tian Jun yang tidak bisa menerobos.

__ADS_1


Sayangnya, Yan Denglong tidak tahu karena yang memiliki kekuatan di atas Bai Guan tidak pernah mengalami kemacetan dalam berkultivasi. Selain itu, dirinya dan juga banyak orang tidak pernah mengalami hal seperti ini pada tingkatan yang sama.


"Jika akademi kita mampu menjadi juara ... Tidak perlu menjadi juara pertama, cukup 10 besar saja, aku akan berikan sumber daya untuk akademi, lima kali lipat lebih banyak dari jatah setiap bulannya!" janji Raja Yan Ju Long sambil melirik kakeknya.


Raja Yan Ju Long terkenal pelit, dia sengaja memberikan janji kepada Bai Guan untuk mendapatkan simpati dari kakeknya yang terkenal baik dan royal kepada rakyat.


"Hahaha! Tentu dan yakinlah murid kita tahun ini akan menjadi juaranya!" Bai Guan tertawa dan berkata dengan sangat menyakinkan.


"10 kali lipat jika menjadi juara pertama!" sahut Yan Denglong.


Raja Yan Ju Long sedikit kaget karena janji kakeknya yang melebihi batas dana yang akan digelontorkan untuk Akademi Merpati Putih kelas dua. Ingin rasanya dia membantahnya tetapi tidak berani.


Bai Guan dan Chu Sying Chun menangkupkan kedua tangannya sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan leluhur Kerajaan Lentera.


"Untuk masalahmu, jika tidak segera diatasi, itu akan merugikan kita! Aku akan membantumu mencari informasi ke negeri seberang!" sekali lagi Yan Denglong memberikan janji kepada Bai Guan.


"Terima kasih, Senior Yan!" jawab Bai Guan dengan nada hormat.


Hanya Bai Guan yang berani memanggil Yan Denglong seperti ini, itu dikarenakan dia adalah junior sewaktu sama-sama menjadi murid di akademi. Sewaktu Bai Guan baru menjadi murid, Yan Denglong sudah terlebih dahulu menjadi murid inti akademi.


Yan Denglong selalu menepati janjinya kepada siapapun, bahkan kepada anak kecil sekalipun akan selalu dipenuhi. Oleh sebab itu, dia sangat dicintai oleh rakyatnya. Berbeda dengan Raja Yan Ju Long yang terkenal pelit, dan selalu menjadi bahan pembicaraan rakyatnya.


Setelah pembicaraan perihal kompetisi dan lain sebagainya, akhirnya Bai Guan dan Chu Xing-fu berpamitan. Sepeninggal mereka, seketika raut wajah Yan Denglong berubah menjadi bengis, seakan-akan dua pimpinan akademi itu adalah musuhnya.


"Cao Tian Jun... Setelah anak itu menjadi juara, culik dia! Kamu tahu tujuan kita!" perintah Yan Denglong kepada cucunya.


"Baik, Kek!" jawab Raja Yan Ju Long.

__ADS_1


Mereka berencana untuk menculik Cao Tian Jun demi menghidupkan kembali Yan Houcun, yaitu ayah dari Yan Ju Long dan putra pertama Yan Denglong, putra yang paling disayanginya.


Yan Houcun terbunuh ketika berperang dengan Dinasti Cao. Namun, jiwanya berhasil diselamatkan oleh Yan Denglong untuk dihidupkan kembali. Dan, hingga sampai saat ini, Yan Denglong masih mencari tubuh yang tepat untuk putranya, pilihannya tertuju kepada Cao Tian Jun setelah menjadi juara di Benua Timur.


__ADS_2