8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Naga Bumi.


__ADS_3

Bab 107. Naga Bumi Penguasa Gunung Putih.


Seekor burung gagak mengikuti Cao Tian Jun, burung itu bukan asli melainkan boneka wayang yang dikhususkan untuk memantau pergerakan semua peserta kompetisi. Dengan adanya burung gagak itu, semua pemimpin yang berada di Kuil Atas Awan, mengetahui setiap tindakan muridnya, tetapi tidak bisa mendengar suara apapun, hanya bisa melihat saja.


Cao Tian Jun mengikuti Wang Yelu yang masih dikejar oleh seekor Lipan, dia menjadikan cabang batang pepohonan sebagai tumpuan kakinya. Kedua matanya telah mengunci pergerakan Wang Yelu.


Wang Yelu mengeluarkan seluruh jurusnya untuk menghentikan pergerakan Lipan, namun setiap serangannya tidak mampu melukai tubuh Lipan yang sangat keras seperti baja.


Karena Lipan bergerak cepat di tanah, Wang Yelu segera melompat ke cabang batang pohon. Namun, tiba-tiba Cao Tian Jun muncul dan menebaskan tombaknya ke cabang batang pohon yang akan menjadi tumpuan kakinya.


Sontak Wang Yelu kaget dan terjatuh karena batang pohon terpotong. Binatang Lipan yang masih mengejar segera menerjangnya. Namun, Wang Yelu dengan cekatan segera berguling ke kanan untuk mengindari capitan senjata Lipan. Kemudian, dia segera bangkit dan berlari.


"Bangsat kau...!?" bentakan Wang Yelu kepada Cao Tian Jun yang menertawainya.


Setiap kali Wang Yelu akan menjadikan cabang batang pohon untuk menghindari Lipan, Cao Tian Jun segera mengayunkan tombaknya yang tertuju pada cabang pohon.


Karena selalu digagalkan oleh Cao Tian Jun, jelas membuat Wang Yelu semakin marah, ingin sekali menyerang lawannya tetapi disibukkan oleh Lipan yang masih mengejar.


"Ayo semangat, Lipan, kejar makananmu!" perintah Cao Tian Jun yang melihat binatang Lipan mengurangi kecepatan.


Entah kenapa, binatang Lipan itu menuruti perintahnya dengan meningkat kecepatan untuk mengejar Wang Yelu...


Tidak jauh dari Wang Yelu, seekor Macan Kumbang yang tiduran sambil menunggu mangsa, mendengar keributan yang dibuat oleh Wang Yelu. Macan Kumbang segera bangun dan bersiap untuk menerjang Wang Yelu yang berlari ke arahnya.


Cao Tian Jun yang masih mengikuti Wang Yelu, melihat Macan Kumbang, segera dia memperlambat pergerakannya karena ingin tahu apa yang akan terjadi.


Ketika Wang Yelu berada di bawah tempat persembunyian Macan Kumbang, Cao Tian Jun melihat Macan itu menerjang lawannya. Merasakan bahaya dari atas, Wang Yelu segera menghindar ke kanan.


Sayangnya, Macan Kumbang lebih cepat sehingga lengan kanannya tergores cakar. Wang Yelu berguling-guling ke kanan. Segera dia bangkit tanpa peduli dengan lukanya, dia melihat Macan Kumbang itu lebih besar dari ukuran normal.


Segera Wang Yelu kabur saat Macan Kumbang berlari ke arahnya. Akan tetapi, Lipan lebih dekat dengannya yang langsung mengigit kaki kanannya.


"Arghhh...!!" teriakan Wang Yelu yang kesakitan pada kakinya, dia menebaskan pedangnya untuk memotong capit Lipan.


Sebelum pedangnya mengenai capit Lipan, Macan Kumbang lebih dulu menerjang punggungnya. Wang Yelu kembali berteriak kesakitan karena punggungnya tercabik.


Sebelum Macan Kumbang mengigit leher Wang Yelu, Cao Tian Jun muncul dan menendang perut Macan Kumbang, lalu menendang juga binatang Lipan. Kedua binatang itu terpental jauh.


"Pergi!" perintah Cao Tian Jun kepada kedua binatang itu.

__ADS_1


Anehnya, Macan Kumbang dan Lipan segera pergi dengan tergesa-gesa, seolah-olah Cao Tian Jun adalah penguasanya yang harus dipatuhi. Wang Yelu yang melihat perbuatan lawannya jelas terkejut.


"Berikan bendera merah dan biru!" pinta Cao Tian Jun dengan tangan kanan meminta.


Bukannya memberikan bendera atau sekedar mengucapkan terima kasih, Wang Yelu justru menyerang Cao Tian Jun dengan menghunuskan pedangnya. Akan tetapi, Cao Tian Jun lebih cepat menangkis pedangnya hingga terlepas dari tangan.


Cao Tian Jun yang kesal, menendang bagian lengan lawannya yang terluka. Wang Yelu kembali berguling-guling sejauh 10 meter karena saking kekuatannya tendangan itu.


Sebelum Wang Yelu bangkit, Cao Tian Jun memukul telinga kiri lawannya. Seketika Wang Yelu pun pingsan. Kemudian, Cao Tian mengambil kantong spasial milik Wang Yelu yang menyimpan bendera.


Dia mengeluarkan semua bendera dan mengangkatnya ke atas sambil berkata, "Wang Yelu curang dalam kompetisi, lihat dia sudah memiliki 200 bendera biru dan 20 bendera merah, padahal kompetisi fase awal baru dimulai!"


Karena sudah tahu sedang diawasi oleh panitia kompetisi, dia berniat membongkar kecurangan ini. Dan inilah tujuan kenapa berteriak sambil menunjuk bukti, walaupun tidak tahu siapa yang mengawasinya.


"Apakah kompetisi tetap terus dilanjutkan?" tanya Cao Tian Jun dengan suara yang keras sambil melihat sekitarnya untuk menemukan siapa yang sedang mengawasinya.


Karena tidak mendapatkan jawaban, dia kembali berbicara dengan lantang, "tidak hanya Perguruan Hitam Kelam saja yang curang, tetapi hampir semua institusi pendidikan juga melakukan hal yang sama!"


Tiba-tiba seseorang menyerang Cao Tian Jun dari belakang dengan menggunakan pedang. Cao Tian Jun segera menggeser tubuhnya untuk menghindari serangan menyelinap.


Dia membalikkan badan dan menendang pinggang musuhnya yang tidak lain adalah Lu Butong. Lu Butong terpental sejauh 15 meter. Sebelum bangkit, Cao Tian Jun lebih cepat melesat dan kembali menendangnya, kali ini mengenai kepala lawannya hingga dibuat pingsan.


Kemudian, Cao Tian Jun bersiul keras, setelah itu dia meninggalkan tempatnya untuk mencari tim yang curang. Tidak berselang lama setelah dia pergi, datang Macam Kumbang dan Lipan. Kedua binatang itu mencabik-cabik tubuh Wang Yelu dan Lu Butong.


Kedua orang itu segera sadar dari pingsan saat merasakan sakit yang luar biasa. Sayangnya, kedua binatang itu sangat ganas sehingga Wang Yelu dan Lu Butong tidak bisa melarikan diri. Nasib kedua orang itu sudah dipastikan menjadi makanan bagi Macan Kumbang dan Lipan...


Dengan metode sama seperti yang dialami oleh Wang Yelu, Cao Tian Jun merebut semua bendera dari tim yang curang. Nasib mereka tidak jauh beda dengan Wang Yelu, dimangsa binatang setelah Cao Tian Jun mendapatkan bendera merah dan biru.


Cao Tian Jun selalu menunjukkan bukti sambil berbicara kepada pengawas kompetisi, namun tidak ada tanggapan dari siapapun.


Dengan menjadikan binatang sebagai kambing hitam, dan juga sebagai tangan kanannya untuk mengeksekusi lawan, Cao Tian Jun lepas dari segala tuduhan dari pihak manapun, sebab dia tidak melanggar aturan kompetisi yang melarang sesama peserta saling membunuh...


...****************...


Di Kuil Atas Awan, tetapnya di aula pertemuan, semua pemimpin sangat panik melihat muridnya tewas dimangsa oleh binatang mistik. Mereka ingin menyelamatkan muridnya, tetapi terkendala lorong waktu masih dalam perbaikan.


Semua orang dengan mata telanjang melihat Cao Tian Jun yang menunjukkan bukti, dan juga melihat kematian muridnya yang tragis. Ingin rasanya mereka mengamuk kepada Bai Guan, namun jelas tidak mungkin karena malu perbuatan curang telah terbongkar.


Bai Guan, Matriark Yin An, dan semua guru yang tidak terlibat dalam kecurangan ini, mereka jelas menuntut keadilan kepada pemimpin Kuil Atas Awan. Biksu Lao juga murka karena anggotanya melakukan perbuatan memalukan bagi Kuil Atas Awan, dia segera bertindak dengan menangkap semua anggotanya yang ikut terlibat.

__ADS_1


Tetapi, di dalam hati Bai Guan dan seluruh anggotanya, mereka sangat bangga kepada Cao Tian Jun yang membongkar kecurangan ini. Namun rasa senangnya itu ditahan, dan berpura-pura marah atas tindakan tercela ini.


Dengan Cao Tian mendapatkan banyak bendera, dan tanpa perlu melanjutkan ke fase akhir, sudah dipastikan menjadi pemenangnya. Saat ini, Bai Guan dan semua guru yang tidak terlibat menunggu keputusan Biksu Lao sebagai penanggung jawab.


"Kompetisi yang lalu, jangan-jangan sudah diatur siapa yang harus menjadi pemenangnya!" sindiran Bai Guan sambil melihat semua pemimpin.


"Aku jelas akan melaporkan masalah ini kepada Yang Mulia Kaisar!" sahut Xia Wei yang ucapannya tidak sekedar menakuti-nakuti pimpinan itu.


Yu Zhong yang menjadi dalang utama dalam pengaturan kompetisi ini, segera berdiri dan menatap tajam ke arah semua orang. Baginya, tidak perlu lagi merasa menyesal karena semuanya telah terbongkar.


"Kau pikir, aku takut dengan Yang Mulia Kaisar? Tidak sedikitpun! Jika muridku tewas, maka semua murid juga harus mati!" ancaman Yu Zhong.


Aula pertemuan segera bergetar hebat akibat letupan aura kekuatan setiap orang yang tidak terima dengan ucapan dari Yu Zhong. Ucapannya sama saja mendeklarasikan perang, tidak hanya sekedar ancaman belaka...


...****************...


Kembali ke Tanah Prestasi.


Setelah mendapatkan bendera kompetisi, dan hari akan menjelang sore, Cao Tian Jun segera menyusul timnya. Ketika dalam perjalanan, dia melihat Tim Yin Meili yang sedang terkepung oleh bintang mistik jenis Kera yang terkontaminasi kabut hitam.


Karena tidak bisa mengeluarkan energi spiritual, Tim Yin Meili jelas kalah kekuatan dari binatang Kera yang jumlahnya lebih dari 100 ekor. Selain itu, binatang Kera lebih ganas karena pengaruh dari kabut hitam.


"Pahlawan tampan harus menyelamatkan kecantikan," gumam Cao Tian Jun sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk beraksi layaknya seorang pahlawan.


Namun sebelum beraksi, datang Tim Phoenix yang segera menyerang binatang Kera. Cao Tian Jun menghela nafas tak berdaya karena rencananya menjadi pahlawan digagalkan.


Bantuan dari Tim Phoenix membuat Tim Yin Meili mampu bertarung dengan binatang Kera. Wang Lee dan Ling Dong mengeluarkan semua kemampuannya dihadapan Tim Yin Meili.


"Sialan mereka, aku keduluan!" sungut Cao Tian Jun yang melihat Wang Lee dan Ling Dong seperti seorang pahlawan bagi kecantikan.


Tiba-tiba, Cao Tian Jun menjadi serius ketika melihat banyak pepohonan yang tumbang di belakang kedua tim itu. Lalu terdengar suara raungan Naga yang memekakkan telinga. Dan itu adalah Naga Bumi yang menguasai Gunung Putih, menguasai air dan muara.


Ukuran Naga Bumi sangatlah besar, dari ujung kepala ke ekornya mampu melingkar Gunung Putih. Yang mengerikan adalah kekuatannya yang melebihi Cao Tian Jun.


Binatang Kera segera melarikan diri karena kedatangan Naga Bumi. Tim Phoenix dan Tim Yin Meili jelas panik mengetahuinya, mereka segera melarikan diri ke arah Kota Peristirahatan.


Namun, Naga Bumi lebih cepat bergerak dengan menggerakkan ekornya untuk memblokir jalan kabur mangsanya. Kedua tim itu berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan Naga Bumi, namun segala upayanya sia-sia karena fisik lawannya sangat keras seperti baja.


Fang Yin dan Li Jiancheng yang ahli sihir juga tidak mampu melukai tubuh Naga Bumi, segala pengetahuan tentang sihir seakan-akan tidak berarti bagi Naga Bumi.

__ADS_1


Di dalam posisi terkurung di tengah tubuh Naga Bumi, kedua tim itu berteriak histeris ketika Naga Bumi membuka mulut dengan tujuan memakannya. Dengan pasrah, kedua tim itu siap menerima kematiannya.


__ADS_2