8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Kembali Ke Lembah Naga Hitam.


__ADS_3

Bab 62. Kembali Ke Lembah Naga Hitam.


Setelah Cao Tian Jun selesai bercerita, Fang Yin dan Tim Phoenix segera memasak, mereka juga membuat masakan khusus untuk Nuwa Kecil. Mereka tahu Nuwa Kecil masih berada di dalam Cincin Dimensi.


Setelah makan malam, Cao Tian Jun menuju ke kamarnya untuk beristirahat, demikian juga dengan semua wanitanya. Setelah berada di dalam kamar, dia justru tidak segera beristirahat dan keluar melalui jendela.


Cao Tian Jun memeriksa sekitar kediamannya, dia tidak suka privasinya diganggu oleh pihak luar. Setelah pemeriksaan dan tidak menemukan orang yang menguping, dia menuju ke Danau Tenang. Cao Tian Jun bersantai di pondok bambu sambil menikmati indahnya rembulan malam.


"Kenapa selalu saja ada halangan saat aku ingin berhubungan dengan wanita," gumam Cao Tian Jun yang selalu gagal tidak bisa bermesraan dengan wanita.


"Crown Stone, aku telah mengeluarkan aroma afrodisiak, tapi tidak banyak mempengaruhi targetku, apa yang kurang?" tanya Cao Tian Jun.


"Karena sebelumnya Penguasa membenci mereka. Sebagai seorang kultivator kultivasi ganda, sudah seharusnya hati diliput rasa kasih sayang pada setiap wanita. Kuncinya agar Kitab Dual Cultivation bekerja secara maksimal, harus membuang hati dan pikiran yang negatif. Baru setelah mereka berhasil ditaklukkannya, terserah mau diapakan rekan kultivasi ganda!" jelas Crown Stone.


Cao Tian Jun membaringkan tubuh di tikar pondok bambu tengah Danau Tenang, dia merenungi penjelasan Crown Stone. Setelah beberapa saat, akhirnya dia memahami cara kerja Teknik Dual Cultivation.


"Katanya istirahat, kok berada di sini!" teguran Guru Junior Chu Sying Chun yang tidak bisa tidur, dan sengaja ingin berada di pondok bambu tengah Danau Tenang.


"Sulit memejamkan mata!" alasan Cao Tian Jun tanpa merubah posisinya yang tiduran.


Guru Junior Chu Sying Chun duduk di sampingnya dan menikmati kilauan indah air danau yang diterangi cahaya bulan. Mereka berdua menikmati keheningan malam.


"Apakah kamu sudah mendengar berita jika Kerajaan Bintang Laut dikuasai oleh seseorang yang mengerikan dan kuat."


Guru Junior Chu Sying Chun membuka topik pembicaraan untuk memecahkan keheningan malam. Perkataannya membuat Cao Tian Jun segera duduk dengan raut wajah khawatir.


"Bagaimana situasi Perguruan Mata Dewa?" Cao Tian Jun bertanya dengan tergesa-gesa.


"Untuk saat ini, informasi belum lengkap, kita juga berharap Perguruan Mata Dewa mampu melindungi diri dari serangan King Of Dark Matter!" jawab Guru Junior Chu Sying Chun yang memang belum mendapatkan kabar terbaru.


Cao Tian Jun sedikit lega, tapi hati ingin segera menuju ke Perguruan Mata Dewa untuk mendapatkan Batu Keabadian. Dia tiba-tiba menguap, tanda mulai mengantuk.


"Ya sudah, sana istirahat," kata Guru Junior Chu Sying Chun yang mendengar suara Cao Tian Jun menguap.


Tiba-tiba Cao Tian Jun mencium pipi kanan Guru Junior Chu Sying Chun. Seketika tubuhnya menjadi kaku seperti membeku karena dicium, baru kali ini dia dicium oleh pria, detak jantung berdebar-debar dan napasnya mulai tak beraturan.


"Guru Junior sangat menarik malam ini!" pujian Cao Tian Jun sambil berdiri.

__ADS_1


Dia berjalan menuju kediamannya tanpa memperhatikan raut wajah Chu Sying Chun. Baru setelah itu, wanita cantik itu tersenyum sambil melihat punggung Cao Tian Jun.


"Dia baru sadar jika aku memang menarik," ujar Chu Sying Chun yang bangga dengan memuji dirinya sendiri, ia segera berdiri dan menyusul Cao Tian Jun yang telah masuk rumah.


Sedangkan Cao Tian Jun lebih cepat masuk ke kamar pribadinya, lalu dia mengeluarkan secarik kertas untuk menulis pesan. Di dalam pesannya itu, dia meminta izin untuk berkultivasi tertutup tanpa gangguan dari siapapun. Kemudian, dia menempelkan kertas pada daun pintu bagian luar.


Cao Tian Jun masuk ke dalam Cincin Dimensi, dia menuju ruang rahasia yang berada di bawah Mansion. Dia melihat sebuah boneka yang wajah serta tubuhnya sama seperti dirinya.


"Kamu akan menggantikan posisiku selama aku menuju ke wilayah Perguruan Mata Dewa," kata Cao Tian Jun.


Boneka itu akan menggantikan posisi Cao Tian Jun, tapi sekedar berpura-pura sedang berkultivasi di dalam kamar. Boneka itu adalah salah satu hasil karyanya ketika bersama gurunya. Boneka tersebut terbuat dari material besi, emas dan perak, mampu menahan serangan kultivator yang memiliki kekuatan tingkat Crossing Tribulation.


Cao Tian Jun tidak pernah menggunakannya dikarenakan masih belum sempurna, dia membutuhkan material langka agar bonekanya bisa bergerak sesuai keinginan. Dia membutuhkan beberapa batu yang mengandung energi spiritual tapi bukan Batu Roh, melainkan Soul Kristal yang sangat langka di Benua Timur.


Cao Tian Jun mengalirkan energi spiritual ke dalam bonekanya, dia memberikan kekuatan setingkat Crossing Tribulation level puncak. Keluar dari tubuh boneka itu aura kekuatan, lalu dia mengeluarkan bonekanya dan meletakkan di lantai kamar dengan posisi duduk bersila.


Setelah beres, dia segera berubah menjadi angin dan melesat keluar melalui celah jendela kamar, dia menuju ke arah selatan. Setelah Cao Tian Jun pergi, Chu Sying Chun melihat pesan yang ditinggalkannya.


"Tidakkah ada waktu untuk bersantai sejenak!" gerutu Chu Sying Chun yang ingin meminta pertanggung jawaban Cao Tian Jun yang telah menciumnya.


"Pantas saja dia mencapai ketinggian seperti saat ini...," kata Xue Yue yang kebetulan baru keluar dari kamarnya, dan melihat pesan yang ditinggalkan oleh Cao Tian Jun.


Xue Yue tersenyum malu, ia mengurungkan niatnya untuk menemui Cao Tian Jun, dia kembali masuk ke kamarnya untuk berkultivasi.


Chu Sying Chun membuka pintu kamar Cao Tian Jun untuk memastikan apakah benar sedang berkultivasi, ia melihat Cao Tian Jun yang sedang duduk bersila. Setelah puas melihat Cao Tian Jun, ia turun dari lantai dua menuju kamar pribadi. Dia juga tidak mau kalah dari Cao Tian Jun, segera ia berkultivasi dengan bantuan pil jatah bulanan.


Sedangkan Fang Yin memanggil pamannya untuk meramu tanaman yang didapatkannya, ia ingin sesegera mungkin untuk meningkatkan kekuatan.


Fang Guotin segera meracik tanaman langka yang diperoleh dari Pegunungan Lima Jari, dengan cekatan dan tanpa kesulitan dia memasukkan semua ramuan ke dalam satu wadah besar dengan air yang mendidih, tampaknya dia sudah terbiasa dengan hal ini.


"Nona Muda, semua sudah siap," kata Fang Guotin setelah keluar dari kamar mandi.


"Paman bisa melanjutkan hal yang lain!" pinta Fang Yin.


Fang Guotin tahu maksud perkataan keponakannya, dia segera lenyap dari hadapannya. Fang Yin masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa melepaskan pakaiannya, ia masuk ke dalam wadah besar berisi ramuan.


Sedangkan Cao Tian Jun, dia sudah jauh dari Akademi Merpati Putih, dia terbang dengan kecepatan penuh. Karena arah tujuannya ke Perguruan Mata Dewa, dia melewati Kota Naga Hitam dan juga tempat tinggalnya dulu.

__ADS_1


Karena penasaran dengan apa yang terjadi setelah membunuh Tan Cheng, dia menyempatkan diri untuk singgah sebentar. Di Balai Kota Naga Hitam, duduk seorang wanita yang tidak lain adalah istri dari Tan Cheng.


"Kenapa tidak ada kehebohan di Kota Naga Hitam setelah matinya pemimpin mereka?" gumam Cao Tian Jun yang keheranan.


Dia melihat penduduk Kota Naga Hitam tetap tenang tanpa ada obrolan seputar kematian Tan Cheng. Cao Tian Jun kembali melihat Bao Mei yang menggantikan posisi suaminya, dia melihat pupil bola matanya sekelebat berubah menjadi hitam pekat, dan dalam sekejap kembali seperti sediakala.


Tanpa curiga, Cao Tian Jun mengabaikannya, dia segera bergegas ke Lembah Naga Hitam. Sebelum pergi ke Perguruan Mata Dewa, dia ingin berkunjung ke makam guru untuk memberikan penghormatan.


Saat melintasi hutan, Cao Tian Jun sedikit mengernyitkan alisnya karena suasana hutan tampak sepi, biasanya ketika malam hari banyak binatang yang aktif berburu.


"Mungkin saja mereka berkumpul di satu tempat setelah terkontaminasi kabut hitam!" batin Cao Tian Jun yang menduga-duga penyebab binatang tidak terlihat..


Dia segera menuju ke tempat tinggalnya. Tidak berselang lama, dia telah berada di depan makam gurunya. Cao Tian Jun menyalahkan tiga dupa, lalu menancapkan pada nisan gurunya. Dia berlutut sebanyak tiga kali sebagai bentuk penghormatan.


"Guru, doakan muridmu ini mampu menyelesaikan semua misi dari Anda," kata Cao Tian Jun sambil memeluk gundukan tanah.


Setelah beberapa saat, dia singgah di pondok kayu tempat tinggalnya semenjak kecil. Dia menyalakan obor sebagai penerangan, lalu membersihkan pondok yang berdebu. Sambil membersihkan rumahnya, dia mengingat masa kecilnya...


"Guru dulu memiliki seorang murid, namanya Tian Zhi Shimo. Dia sangat jenius dari kultivator manapun, mampu menciptakan sebuah kitab yang tiada duanya di alam semesta ini," kata Tian Long sambil mengawasi Cao Tian Jun yang sedang berlatih mengangkat batang pohon.


Wajah Cao Tian Jun penuh keringat, dia berhenti mengangkat batang pohon untuk melihat gurunya, dan bertanya, "kitab apa itu?"


"Apa kamu mau mempelajarinya? Tetapi, kamu akan membutuhkan banyak sumber daya karena memiliki dua basis kultivasi!" tanya balik Tian Long dan sedikit memberikan penjelasan agar Cao Tian Jun berpikir.


Sebelum menjawab, Cao Tian Jun ingin meletakkan batang pohon dari bahunya. Namun, gurunya melambaikan tangan hingga batang pohon tersebut bertambah berat dan menekan tubuh muridnya.


Sontak kedua lutut Cao Tian Jun membentur tanah hingga membuat cekungan, dia menatap melas gurunya agar mengurangi beban pada bahunya.


"Kamu tidak boleh melepaskan batang pohon selama sehari. Jika kamu berniat meletakkan batang pohon, Guru akan menambah bebannya!" peringatan Tian Long.


"Gu-guru... Ini diluar batas kemampuanku!" mohon Cao Tian Jun dengan nada terbata-bata karena tidak kuat menahan beban berat.


"Melatih diri diluar batas orang pada umumnya, itu sangat besar manfaatnya. Saat ini kamu belum merasakannya, tapi hasil pelatihan kerasmu akan dirasakan nanti!" tutur lembut Tian Long sambil merebahkan tubuh pada ranjang bambu.


Dengan tertatih-tatih, Cao Tian Jun menguatkan kedua kakinya agar mampu berdiri tegak. Dia tidak ingin mengecewakan gurunya yang sudah dianggap ayah kandung.


Tubuhnya yang kecil mengeluarkan otot-otot seorang binaragawan, padahal usainya baru 5 tahun, dan seharusnya menikmati hidup dengan bermain, makam dan tidur.

__ADS_1


"Melatih diri sejak dini dengan beban berat, itu akan meningkatkan kecepatan. Saat bertarung, kecepatan salah satu kunci kemenangan. Tetapi, kecepatan tanpa didukung dengan fisik yang kuat, serta spritual yang mumpuni, jangan berharap untuk menjadi pemenang. Setelah ini, kamu harus menempa tubuh di kolam magma," arahan Tian Long agar muridnya tahu tujuannya berlatih keras.


Tubuh Cao Tian Jun langsung gemetaran karena harus menjalani penyiksaan lagi, latihan yang paling berat daripada saat ini. Namun, dia tidak mengeluh karena yakin perkataan gurunya pasti baik untuk masa depannya.


__ADS_2