8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Waktu Berulang.


__ADS_3

Bab 143. Waktu Berulang.


Cao Tian Jun syok melihat kediamannya telah menjadi puing-puing. Dengan panik karena khawatir orang-orang yang dikasihi mengalami hal yang buruk, dia mencari keberadaan kekasihnya dengan mengaktifkan Mata Surgawi. Namun, semua kekasihnya tidak ditemukan di kediamannya ini.


Dia melihat akademi yang dulunya megah, kini telah menjadi reruntuhan, api masih membakar, mayat-mayat murid dan guru bergelimpangan di jalan, dan banyak yang tertimbun reruntuhan bangunan.


Air mata jatuh tak tertahan melihat tempat persinggahannya menjadi seperti ini, dia berjalan gontai tanpa arah. Dia berjongkok di depan mayat Guru Senior Dong Jian yang meregang nyawa.


"Guruuu...!!" teriakan Cao Tian Jun yang memilukan sambil memeluk mayat Guru Senior Dong Jian, air matanya semakin deras bercucuran.


Hatinya terpukul atas kematian gurunya ini. Seandainya dulu tidak bertemu dengan Guru Senior Dong Jian di Kota Naga Hitam, dia mungkin tidak akan berada di akademi ini, tempat yang sudah dianggapnya keluarga.


Kemudian, dia menguatkan diri untuk menutup mayat gurunya dengan kain putih. Lalu berdiri dan berjalan menuju ruang rahasia. Setiap kali melihat murid dan guru yang akrab dengannya, Cao Tian Jun hanya bisa menangis dan menangis.


Apalagi melihat Bai Guan yang juga tewas dengan tubuh mengenaskan, kedua tangannya terputus, dada berlubang. Hatinya semakin hancur melihat semua ini.


Tubuh Cao Tian Jun gemetaran karena tidak mampu melihat semua ini, dia dengan sekuat tenaga untuk berdiri, dan berjalan tergesa-gesa.


Namun, saat melihat ruang rahasia telah hancur, hatinya semakin sakit, perasaannya semakin kacau. Buru-buru dia masuk. Namun, pemandangan di dalam lebih mengerikan. Seketika lututnya menjadi lemas dan berlutut di depan mayat Chu Sying.


"Uahhh...!!" tangisan Cao Tian Jun sangat keras mengetahui Chu Sying telah menjadi mayat.


Tangisannya semakin keras melihat semua kekasihnya menjadi mayat dalam satu ruangan. Bahkan Ao Zhen Juan, Yuan Zhen, Yi Panyun tewas dengan separuh tubuhnya telah hancur. Wang Mei, Chu Sying Chun, Xue Li Xia, Yin Meili, Mu Bingyun, Li Jiancheng, Zhou Qinglin, dan Xue Yue, mereka hanya tersisa kepalanya saja, entah kemana badannya.


"Kenapa... Kenapa semua ini terjadi kepadaku?!" teriakan Cao Tian Jun yang tidak terima kehilangan kekasihnya.


Seandainya tidak mengabaikan kegelisahan hatinya sebelum mengeksekusi Kaisar Xia, dan segera kembali ke akademi, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dia tidak akan melihat mayat orang-orang yang dikasihi.


Cao Tian Jun membasuh wajahnya dengan darah kekasihnya sebagai bentuk penyesalannya. Jika semalam dia berada di tempat ini, dia sudah pasti akan mempertaruhkan nyawa demi hidup kekasihnya, melindungi kekasihnya dengan sekuat tenaga.


"Lalu buat apa memiliki Dunia Jiwa dan Cincin Dimensi, jika aku tidak bisa melindungi kekasihku? Buat apa kekuatan?" sesal Cao Tian Jun yang menyalahkan diri...


Kematian orang-orang yang dikasihinya bersamaan dengan terbunuhnya Kaisar Xia. Dan pelakunya adalah orang-orang berjubah hitam bertopeng. Mereka adalah pembunuh bayaran yang berasal dari Paviliun Bunga Kematian.


Mereka disewa oleh Leluhur Xia untuk membunuh Cao Tian Jun dan siapapun yang terkait dengannya. Dengan kekuatan mereka, jelas Bai Guan, Matriark Yin, dan semua kekasihnya bukan tandingan mereka.


Pembunuh bayaran itu tidak datang sendirian, melainkan separuh dari anggota Paviliun Bunga Kematian juga ikut serta dalam pembantaian ini. Kedatangan mereka yang mendadak jelas tidak diantisipasi oleh Bai Guan, sehingga mereka dengan mudah masuk ke dalam akademi.


Seandainya tahu akan terjadi malam mengerikan, Bai Guan sudah pasti akan mengaktifkan Formasi Perlindungan. Dengan adanya Formasi Array, Bai Guan masih sempat menyelamatkan semua orang.


Kembalinya Ratu Ular Surgawi ke Kekaisaran Shima juga telah diatur oleh Leluhur Xia. Ketika Cao Tian Jun menjalaninya Kesengsaraan Petir, Leluhur Xia secara diam-diam berkomunikasi dengan Conglin pemimpin Paviliun Bunga Kematian.


Mereka membuat rencana agar Ratu Ular Surgawi tidak berada di Benua Timur, yaitu dengan membuat kekacauan di wilayah Ibu Kota Kekaisaran Shima. Leluhur Xia tahu siapa sebenarnya Ratu Ular Surgawi.


Karena tidak ingin Ratu Ular Surgawi menjadi momok diwilayahnya, dia membayar mahal Paviliun Bunga Kematian. Dan kebetulan Cao Tian Jun masuk ke dalam daftar hitam orang yang ditargetkan, maka dengan senang hati Conglin menerima keinginan Leluhur Xia.


Terjadilah semalam pembantai setelah kepergian Ratu Ular Surgawi dan Cao Tian Jun. Jika Ratu Ular Surgawi masih berada di akademi, sebanyak apapun anggota Paviliun Bunga Kematian bergerak, mereka tidak akan mampu mengalahkan Ratu Ular Surgawi. Sayangnya, target utamanya hanyalah boneka wayang, dan bukan Cao Tian Jun.


Para pembunuh bayaran jelas marah, karena gagal membunuh Cao Tian Jun, dan melampiaskan kemarahannya dengan membunuh semua orang tanpa ada yang bisa kabur. Semalaman, akademi telah terkepung...

__ADS_1


Cao Tian Jun berlutut di hadapan mayat-mayat kekasihnya. Air mata telah habis, tetapi berganti menjadi air mata darah. Dia meratapi kematian kekasihnya hingga sore hari. Seharusnya, malam ini menjadi hari perayaan yang menyenangkan, tetapi justru berganti menjadi kematian massal.


"Penguasa, jangan bersedih! Kembalikan saja waktu sebelum Anda meninggalkan akademi!"


Tiba-tiba Law Stone memberikan saran kepada Cao Tian Jun. Tetapi, dia seakan-akan mendapatkan harapan semu diatas kepedihannya, dan saran dari Law Stone dianggapnya sebagai keinginan pikirannya.


"Seandainya aku bisa mengembalikan waktu!" harapan Cao Tian Jun.


"Bukan seandainya, Penguasa! Anda bisa melakukannya. Ini bukan harapan palsu, tapi bisa diwujudkan!" interupsi dari Law Stone dengan nada suara yang sedikit lebih keras untuk menyadarkan Cao Tian Jun.


Seketika Cao Tian Jun tersadar dari kesedihannya. Ucapan Law Stone seakan-akan memberikan harapan dan kekuatan baru.


"Apa yang harus aku lakukan, cepat katakan! Apapun resikonya akan kutanggung. Bahkan jika harus melawan langit, aku tidak akan peduli asal semua ini tidak terjadi!" Cao Tian Jun sangat bersemangat untuk bisa mengulang waktu.


"Sebelumnya, Anda harus mengerti dulu konsep waktu. Waktu itu sederhana, ada 4 fase. Secara sederhananya, konsep waktu dalam sejarah bersifat mutlak. Hal ini karena peristiwa bersejarah pasti memiliki waktu untuk menjelaskan kapan peristiwa tersebut berlangsung. Kami telah membagi konsep waktu ke dalam dua makna, yaitu denotatif dan konotatif. Kalau denotatif berarti sesuai dengan kenyataan sebenarnya, mulai dari detik, menit, jam, dan sebagainya. Sementara, konotatif berarti subjektif atau waktu sebagai konsep...," Law Stone terlebih dahulu menjelaskan kepada Cao Tian Jun karena ini sebuah pengetahuan penting.


Konsep waktu dalam sejarah mencakup 4 hal, yaitu perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan.



Perkembangan, salah satu konsep waktu dalam sejarah.


Tanpa di sadari, setiap masyarakat pasti mengalami pembaruan dalam kehidupannya. Manusia akan belajar dari kejadian di masa lampau dan menyesuaikan diri di masa depan sesuai zamannya. Mereka akan berkembang, membawa bentuk baru yang lebih relevan pada kondisi zaman, dan memperbarui segala sesuatu yang sudah tidak lagi efektif bagi keberlangsungan hidup manusia. Hal inilah yang kita kenal dengan perkembangan manusia.




Kesinambungan.


Meski dalam sejarah ada perbedaan waktu, kesinambungan akan tetap ada dalam suatu peristiwa bersejarah. Jelasnya begini, manusia biasanya akan mengambil cara-cara yang sudah pernah dilakukan untuk menghadapi hal-hal di masanya. Meski ada beberapa hal yang berubah, seperti latar dan waktu, pola dan sistemnya tidak berubah dari masa lampau. Nah, hal inilah yang disebut kesinambungan sejarah.



Contoh aspek kesinambungan misalnya sistem-sistem partai yang mirip dengan sistem kerajaan pada masa sebelumnya, dalam lingkup yang juga mirip.



Pengulangan.


Pengulangan terjadi ketika peristiwa di masa lalu terjadi lagi di masa mendatang. Kejadian ini kerap terjadi sehingga muncul sebutan “sejarah terulang kembali”.



Contoh: musim hujan di tahun ini, di tahun yang akan datang juga akan ada hujan.



Perubahan.

__ADS_1


Terjadinya perubahan adalah akibat dari pergeseran dan perkembangan yang masyarakat alami. Perkembangan ini biasanya besar dan waktunya relatif singkat. Sebagian besar perubahan dipengaruhi oleh faktor eksternal.



Contoh konsep perubahan; mengembalikan sejarah sebelum terjadi peristiwa pembantaian ini, sebelum Kaisar Xia terbunuh, sebelum Ratu Ular Surgawi kembali ke Kekaisaran Shima, dan sebelum Cao Tian menyelesaikan Kesengsaraan Petir Api.


"... Empat aspek konsep waktu dalam sejarah sangat penting untuk dapat memahami cerita atau peristiwa sejarah. Itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui mengenai konsep waktu dalam sejarah. Namun, ada konsekuensinya ketika Anda menghendaki waktu berulang, yaitu akan ada perubahan signifikan dalam Alam Jagat Raya, mungkin akan ada orang-orang kuat yang menghendaki Anda terbunuh. Selain itu, Kekuatan Jiwa yang telah Anda capai akan turun ke tingkat Danau tahap rendah. Sebelum melakukannya, Penguasa harus merenungi konsekuensinya!"


Panjang lebar Law Stone memberikan pemahaman kepada Cao Tian Jun, serta dampaknya terhadap kehidupan di alam dan diri sendiri. Law Stone tidak ingin Cao Tian Jun bingung dan khawatir saat waktu berulang.


Tanpa pikir panjang akan konsekuensinya, Cao Tian Jun berkata, "apapun resikonya, akan kutanggung! Lakukan sebelum aku menyelesaikan Kesengsaraan Petir!"


"Sesuai kehendak Penguasa! Masuklah ke dalam Dunia Jiwa!" jawab Law Stone.


Sebelum masuk ke dalam Dunia Jiwa, untuk terakhir kalinya dia melihat mayat-mayat kasihnya, lalu berkata, "maafkan aku!"


Dengan pikirannya, dia telah berada di dalam Dunia Jiwanya. Kemudian, delapan Batu Keabadian mengeluarkan cahaya benderang yang melebihi matahari. Cao Tian Jun melihatnya sambil duduk di singgasana Dewa Binatang Yang Abadi. Tiba-tiba kedua matanya menjadi buram, terasa sangat mengantuk, dia pun tertidur sambil duduk.


Di lokasi terakhir Cao Tian Jun sebelum masuk ke dalam Dunia Jiwanya, muncul delapan cahaya yang perlahan naik ke langit. Cahaya itu menyilaukan mata siapapun di Planet Continent Twins Moon.


Delapan cahaya itu terus naik hingga keluar dari atmosfer. Dan masih terus naik hingga sinarnya terlihat di seluruh Alam Jagat Raya. Kehidupan di Tribunal Multiverse, Galaksi Observable Universe, Galaksi Laniakea Super, dan banyak galaksi kecil yang melihatnya...


...****************...


Di Tahta Trimurti duduk Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta. Mereka melihat delapan cahaya yang berasal dari Batu Keabadian.


"Tindakan murid Anda mempercepat kebangkitan God Of Omniverse (Dewa Segala Alam Semesta) dan God Of Destruction (Dewa Perusak). Kali ini, akan ada dua orang kuat yang bisa menghancurkan seluruh alam. Sejarah berulang kembali!" ungkap Dewa Pencipta kepada Dewa pemelihara.


"Memang sudah seharusnya terjadi. Dengan begini, Dewa Perusak akan disibukan dengan kebangkitan adik Anda (God Of Destruction), yang sama-sama berambisi untuk menjadi terkuat di segala alam semesta. Jika Dewa Abadi tidak bisa bersaing dengan mereka, dia memang tidak layak duduk di Tahta Trimurti!" terang Dewa Pemelihara.


Sebelum Dewa Perusak mengacaukan seluruh alam semesta, Dewa Segala Alam Semesta terlebih dahulu membuat kekacauan. Karena perbuatan Dewa Segala Alam Semesta, Dewa Pencipta dan Dewa Pemelihara bekerjasama untuk menyegelnya di kehampaan, dileburkan menjadi kehampaan itu sendiri.


Setelah itu, dua Dewa Tertinggi itu mengangkat Dewa Perusak sebagai pengganti Dewa Segala Alam Semesta, duduk di Tahta Trimurti. Dan Dewa Perusak adalah murid dari Dewa Pemelihara.


Namun, sejarah kembali berulang, yang mana Dewa Perusak mengikut jejak Dewa Segala Alam Semesta.


Dan, lagi-lagi Dewa Tertinggi melakukan hal yang sama, menyegel Dewa Perusak. Saat ini, satu tempat duduk di Tahta Trimurti kosong, dan Dewa Abadi yang akan menggantikan posisi Dewa Perusak.


Akan tetapi, karena perbuatan Cao Tian Jun si Dewa Abadi, duduk di Tahta Trimurti menjadi sangat sulit karena kebangkitan Dewa Segala Alam Semesta dan Dewa Perusak.


"Menarik ...! Aku tidak sabar ingin melihat aksi murid Anda ini!" ucap Dewa Pencipta yang ingin melihat perjuangan Dewa Abadi untuk duduk di Tahta Trimurti.


Dewa Pemelihara tertawa karena yakin murid pilihannya ini mampu melewati ujian berat, dan tidak akan lagi mengecewakan dirinya seperti yang dilakukan oleh Dewa Perusak.


Dewa Pencipta juga ikut tertawa sambil melihat seluruh Alam Jagat Raya di dalam peta raksasa, Peta Kehidupan.


Kemudian, Dewa Tertinggi melihat delapan cahaya dari Batu Keabadian telah menghilang setelah waktu telah kembali. Saat ini, Cao Tian Jun sedang menjalani Kesengsaraan Petir...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2