8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Perintah Ke-9.


__ADS_3

Bab 181. Tugas Baru, Perintah Ke-9.


Setelah tiba di Klan Fang, Tian Jun menyimpan Dragon Spaceship di dalam Dunia Jiwanya. Kemudian, dia dan Tim Phoenix menuju ke kamar pribadi milik Fang Yin.


Tim Phoenix tidak membiarkan Tian Jun jauh dari mereka, sebab tidak ingin Tian Jun menyerap energi kabut hitam seperti dulu, sebelum menjalani Kesengsaraan Petir di Pegunungan Lima Jari.


"Kita tinggal di Dunia Jiwa!" ajak Tian Jun setelah berada di kamar milik Fang Yin.


Dengan senang hati, Tim Phoenix mengangguk sebagai jawaban. Setelah berada di dalam Dunia Jiwa, Tian Jun langsung berkultivasi ganda, menghajar gua surga kekasihnya dengan brutal.


Dia ingin membuat kekasih kelelahan sehingga tertidur. Dengan begitu dia bisa bebas untuk menyerap energi kabut hitam. Bahkan Miao Miao dan Dìyù Nuan juga ikut berkultivasi ganda, mereka kelelahan setelah mencapai puncak kenikmatan berulang-ulang.


Melihat Tian Jun lebih bersemangat dari sebelumnya saat berkultivasi ganda, Xia Junsu buru-buru masuk ke dalam kamar pribadinya dan mengunci pintu. Setelah itu dia duduk bersila dan memejamkan mata.


Dia tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali, dan tidak ingin mendengar suara lenguhan kenikmatan dari Tim Phoenix.


Setelah seharian waktu di Dunia Jiwa. Xia Junsu membuka matanya karena Tim Phoenix tidak ada yang bersuara. Jika tidak ada suara lenguhan kenikmatan, sudah pasti mereka telah tertidur pulas.


Dia berdiri dan berniat untuk berjalan-jalan di Dunia Jiwa. Namun, saat membuka pintu, dia kaget karena Tian Jun berada di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Xia Junsu dengan nada tenang.


"Aku akan keluar, ikut atau tidak?" jawab Tian Jun.


Xia Junsu tidak segera menjawab, sebab baru kali ini putranya bertanya tentang hal ini. Biasanya, mereka akan keluar masuk ke Dunia Jiwa secara bersama-sama.


"Di sini saja! Tapi ingat, jangan melakukan hal seperti dulu!" peringatan Xia Junsu yang memilih untuk tinggal di dalam Dunia Jiwa.


"Tentu!" jawab Tian Jun dan segera menghilang dari hadapan Xia Junsu.


Xia Junsu menghela nafas lega karena tidak salah menjawab. Jika dia berkata 'ikut' khawatir putranya melakukan hal yang tidak terduga. Dia segera menemui Tim Phoenix.


Pilihan Xia Junsu memang tepat. Jika dia memilih untuk ikut, sudah pasti Tian Jun akan mengajaknya berkultivasi ganda dan dibuat terkapar seperti Tim Phoenix.


Setelah berada di dalam kamar milik Fang Yin di malam hari, Tian Jun mengambil gulungan bambu yang terus bergetar. Dia segera membuka gulungan bambu dan membaca perintah gurunya.


"Guru tahu kamu malas meningkatkan kemampuan dalam bidang Alkemis dan yang lainnya. Tugasmu dengan batas waktu 10 tahun, tingkatkan semua kemampuan hingga mencapai tingkat Celestial Supreme tahap puncak. Jika kamu berhasil, Guru akan berikan kekuatan sebanyak satu tingkat. Jika gagal, Guru akan ambil Dunia Jiwa dan juga cincin dimensi-mu."


Setelah membaca, seketika tubuh Tian Jun menjadi lemas karena tidak mungkin bisa mencapai tingkat itu dalam waktu 10 tahun, hal yang mustahil dilakukannya dan semua orang di dunia ini.


Yang membuatnya ngeri adalah konsekuensinya jika tidak berhasil, diambilnya Dunia Jiwa dan Cincin Dimensi, jelas akan membuatnya menjadi miskin, tidak memiliki tempat ternyaman untuk berkultivasi ganda dan sembunyi.


Tugas kali ini jelas lebih sulit dari sebelumnya karena meningkatkan kemampuannya dalam segala bidang secara bersamaan. Selain itu tugasnya memiliki batas waktu.


"Sekejam inikah Guruku!" sungut Tian Jun sambil melemparkan gulungan bambu.


Gulungan bambu langsung melayang dan memukuli kepalanya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya saat berada di Akademi Merpati Putih kelas dua. Buru-buru dia meminta ampun berulangkali agar tidak dipukuli.


Kebetulan, Matriark Fang melewati kamar putrinya, dia mendengar suara Tian Jun yang meminta ampun. Dia tersenyum karena mengira Tim Phoenix memukuli menantunya.


Karena penasaran ingin melihat Tian Jun disiksa, dia perlahan membuka pintu. Mengintip melalui celah pintu. Namun, pencahayaan tiba-tiba padam sehingga tidak bisa melihat apapun karena gelap.

__ADS_1


Tahu jika mengintip, Matriark Fang perlahan menutup pintu kamar, namun dia mencium aroma wangi dari afrodisiak. Karena baunya wangi, dia mengirup aroma dalam-dalam. Akibatnya wajahnya menjadi merah, nafas terengah-engah seperti ingin berhubungan badan.


Karena tidak ingin terpengaruh aroma afrodisiak, Matriark Fang segera menutup pintu kamar putrinya. Namun, tiba-tiba tangannya dipegang oleh Tian Jun dari dalam kamar, lalu menariknya masuk.


Sebelum berteriak, Tian Jun mencium bibir Matriark Fang, dan memaksimalkan aroma afrodisiak agar membuat mertuanya tidak berontak.


Saat dicium, Matriark Fang dengan jelas melihat wajah pelakunya yang tidak lain adalah Tian Jun, dia segera berontak, namun pengaruh dari aroma afrodisiak lebih kuat sehingga tubuhnya menjadi pasrah.


"Aku... Aku ini Ibu mertuamu!" ucap Matriark Fang setelah Tian Jun tidak menciumnya, dia segera mundur tapi tubuh mengkhianatinya.


Dia malah memeluk erat tubuh Tian Jun dan dengan ganas mencium bibirnya. Lalu melepaskan pakaiannya hingga telanjang. Setelah itu dia juga melepaskan pakaian milik Tian Jun dengan tergesa-gesa.


Saat Matriark Fang memegang tongkat kejantanan milik Tian Jun, dia kaget karena ukurannya diluar nalar, 10 kali lipat besar dan panjang daripada milik suaminya.


Di dalam hatinya, dia membayangkan betapa tersiksa putrinya saat pertama kali berhubungan badan dengan Tian Jun. Karena pengaruh aroma afrodisiak lebih kuat, dia hanya pasrah saat Tian Jun membaringkan tubuhnya di lantai.


"Arghhh...!!" teriakan Matriark Yin saat gua surganya yang basah dengan kasar diterobos dengan tongkat milik menantunya.


Walaupun sudah memiliki anak, tetap saja Matriark Fang kesakitan karena terlalu besarnya benda itu. Akan tetapi, lambat laun rasa sakitnya menghilang dan berganti nikmat. Dia mulai mengikuti hentakan cepat dengan menggoyangkan pinggulnya...


Tanpa disadari oleh Matriark Fang, Tian Jun membawa mertuanya masuk ke dalam cincin dimensinya. Di dalam cincin dimensi, dia lebih ganas menghajar gua surga miliki mertuanya, bahkan lebih brutal dari Tim Phoenix.


Matriark Fang hanya bisa pasrah diperlakukan kasar oleh menantunya. Tapi, ia juga selalu melenguh nikmat dan mengucapkan kata-kata kotor yang tidak pernah terucap saat bersama dengan suaminya, dan rasa nikmat ini belum pernah dirasakan saat bersama suaminya...


Sampai akhirnya Matriark Fang pingsan karena tidak mampu menerima rasa nikmat berkali-kali, bahkan lubang pembuangan juga dihajar oleh tongkat milik menantunya.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya karena mendapatkan tugas yang tidak masuk akal, Tian Jun mengeluarkan Matriark Fang saat tengah malam, membaringkan tubuhnya di ranjang.


Setelah mengenakan pakaian milik Matriark Fang, Tian Jun memasukkan sebutir Pil Pemulih Energi ke dalam mulut ibu mertuanya. Melihat kondisi ibu perlahan pulih setelah ekstra kelelahan, Tian Jun segera berteleportasi dan muncul di atas Gerbang Jembatan Fang Yao.


Mereka berkumpul untuk melawan Pasukan Kegelapan jika berusaha untuk naik ke tangga tebing, jalan lain selain Jembatan Fang Yao. Raja Fang tidak mengerahkan seluruh kekuatan militer, 10 ribu prajurit dikhususkan untuk menjaga stabilitas keamanan kota.


Sisi kanan kiri dari jembatan juga telah diblokir dengan menggunakan pepohonan dan batu besar, tujuannya agar Pasukan Kegelapan tidak bisa menerobos masuk ke gerbang Jembatan Fang Yao.


Dengan wujud menjadi udara, Cao Tian Jun terbang ke arah Kekaisaran Yao mengikuti Jembatan Fang Yao yang telah diputus. Lalu melintas jalur tebing Lembah Ular yang berukuran besar, lebarnya mencapai 500 meter dari tepi tebing.


Setelah melewati tepi dalam dari tebing, dia harus melewati hutan cemara seluas 3 km. Hutannya tidak terlalu lebat karena jarak pepohonan terpaut 2 meter.


Sesudah melewati hutan, Tian Jun harus melewati sungai yang lebarnya mencapai 300 meter, itu adalah Sungai Yingting. Di seberang sungai berdiri kokoh gerbang masuk ke Kekaisaran Yao.


Boom boom boom...


Rentetan suara ledakan ketika Tian Jun menghancurkan Jembatan Gerbang Tenggara. Seketika jembatan itu terputus, memutuskan hubungan dengan Kerajaan Sihir.


Dengan terputusnya Jembatan Gerbang Tenggara, seharusnya Pasukan Kegelapan tidak bisa melintasi Sungai Yingting. Kecuali Pasukan Kegelapan mampu terbang.


Hancurnya Jembatan Gerbang Tenggara, membuat Pasukan Kegelapan keluar dari gerbang. Dari dalam tubuh mereka mengeluarkan kabut hitam. Mereka segera berhenti di tepi sungai, mencari keberadaan orang yang menghancurkan jembatan.


Karena Pasukan Kegelapan kebanyakan dari rakyat jelata, mereka tidak bisa terbang agar bisa melintasi Sungai Yingting. Namun, bagi yang memiliki kekuatan tingkat Nascent Soul, mereka segera terbang ke arah Kerajaan Sihir.


Tanpa banyak bicara, Tian Jun menggunakan Great Dragon Spears menumbangkan Pasukan Kegelapan yang akan melintasi Sungai Yingting. Mereka berjatuhan ke sungai setelah terkena serangan tombak.

__ADS_1


Ketika Tian Jun menyerap energi kabut hitam sambil menyerang, Pasukan Kegelapan yang berada di tepi sungai bisa melihatnya, walaupun dalam wujud energi kabut hitam. Mereka tidak melihat wujud asli Tian Jun.


Kekuatan Nascent Soul terus berdatangan seperti lalat dan menyerang Tian Jun yang mampu menyerupai kabut hitam. Tetapi, mereka dengan mudah ditumbangkan. Sekali tebasan tombak, puluhan Nascent Soul bertumbangan dan jatuh ke sungai.


Lambat laun, kekuatan Tian Jun mulai meningkat saat dantian-nya penuh. Setelah 267 Pasukan Kegelapan dengan kekuatan tingkat Nascent Soul ditumbangkan, dia naik satu level, naik ke tingkat God Sovereign.


Karena seringnya berkultivasi ganda dan menyerap Energi Yin dari Tim Phoenix, dantian-nya tidak mampu menampung energi yang sangat melimpah. Tian Jun terus naik hingga berhenti di level 5 dari tingkat God Sovereign.


Aura terobosan dirasakan hingga sejauh 3 km. Tetapi tidak dirasakan oleh Patriark Fang dan keluarga besarnya yang berada lebih jauh dari Sungai Yingting.


Tian Jun terbang ke Gerbang Tenggara, lalu menebaskan tombak ke arah berkumpulnya Pasukan Kegelapan.


Boom boom boom...


Suara ledakan energi berkali-kali ketika Pasukan Kegelapan terdepan terkena serangan dari Tian Jun. Sambil terus menyerang, dia tetap menyerap energi kabut hitam.


Suara ledakan energi menarik perhatian pasukan yang lainnya, yang masih berada di dalam Ibu Kota Kekaisaran Yao. Lambat laun di depan Gerbang Tenggara, Pasukan Kegelapan yang tewas tertumpuk. Tumpukan itu dihancurkan oleh Tian Jun karena menghalangi pintu gerbang.


Pertarungan di Gerbang Tenggara dirasakan oleh Leluhur Yao yang terhubung dengan semua Pasukan Kegelapan. Melalui pengelihatan dari pasukannya, dia terheran-heran karena melihat kabut hitam menyerang pasukannya.


Karena yakin itu bukan energi kabut hitam darinya, Leluhur Yao segera keluar dari dalam ruang rahasia di bawah istana negara. Dia melesat ke arah sumber pertarungan.


Rencananya, empat hari lagi akan menyerang semua kerajaan. Dia tidak segera menyerang karena sedang mempelajari Kitab Tujuh Lapis Langit dan Kitab Pelangi Surga. Dia mendapatkannya dari Yao Lao ayahnya.


Yao Lao mendapatkan kedua kitab itu saat menyatu dengan tubuh Tian Sun. Dia ingin semua keturunannya mempelajari ilmu ciptaan Tian Sun.


Tian Jun merasakan aura kekuatan tingkat Half Alfa level 10, dia menduga jika orang itu adalah Leluhur Yao, suami dari Fang He Mei. Segera dia berteleportasi dan muncul di atas Gerbang Jembatan Fang Yao.


Dia kembali menjadi udara agar tidak diketahui oleh siapapun. Mata Surgawi aktif dan melihat Leluhur Yao yang sangat marah karena Jembatan Gerbang Tenggara hancur, dan dua ribu lebih prajuritnya tewas dalam waktu singkat.


Yang membuatnya semakin kesal, dia harus mengeluarkan energi kabut hitam untuk membangkitkan prajuritnya yang tewas. Dengan mengeluarkan energi kabut hitam terus-menerus akan membuatnya kelelahan.


Leluhur Yao menduga jika pihak Kerajaan Sihir telah mengetahui tentang Pasukan Kegelapan. Walaupun telah mengetahuinya, dia tidak segera membalas perbuatan mereka. Dia segera kembali ke istana, lalu memerintahkan kepada Kaisar Yao untuk memperbaiki Jembatan Gerbang Tenggara.


Melihat Pasukan Kegelapan yang memiliki kekuatan tingkat Nascent Soul dibangkitkan oleh Leluhur Yao, jelas membuat Tian Jun senang. Dia segera kembali ke Gerbang Tenggara dan membantai tingkat Nascent Soul dengan cepat, dan terus melakukan hal seperti seperti sebelumnya.


Karena kekuatannya semakin tinggi, energi kabut hitam dari Pasukan Kegelapan yang ditumbangkan tidak memberikan peningkatan, tapi telah memenuhi separuh dantian-nya.


Saat merasakan aura kekuatan dari Leluhur Yao yang datang dengan cepat, Tian Jun segera berteleportasi dan muncul di atas pintu Gerbang Jembatan Fang Yao. Di dalam hati, ia tertawa terbahak-bahak karena melihat Leluhur Yao sangat marah karena tidak bisa menemukannya.


Dia bisa menggunakan skill teleportasi berulang-ulang tanpa henti dikarenakan Batu Keabadian telah bersatu dengannya. Jika dulu belum bersatu, dia butuh waktu cukup lama untuk bisa menggunakan lagi skillnya ini.


Karena mendapatkan tugas baru yang sangat berat, maka harus meningkatkan kekuatan minimal di tingkat Almighty God. Dengan memiliki kekuatan setingkat itu, dia akan lebih mudah meningkatkan kemampuannya dalam bidang Alkemis dan yang lainnya.


Walaupun batas waktu 10 tahun sangatlah singkat di dunia luar, berlatih di dalam Dunia Jiwanya akan sangat membantu. Asal dia tidak bermalas-malasan dengan terfokus berkultivasi ganda saja.


Tian Jun melihat Leluhur Yao menuju ke Jembatan Fang Yao. Dia segera menjauh pintu gerbang, dan bersembunyi di belakang pasukan Kerajaan Sihir.


Karena adanya Patriark Fang dan Raja Fang, Leluhur Yao segera berhenti karena belum waktunya untuk berurusan dengan musuhnya. Dia melihat Patriark Fang yang sedang berbicara dengan Raja Fang, tampak tidak kelelahan.


Leluhur Yao melihat semua orang yang juga tidak kelelahan. "Siapa orangnya itu?" gumamnya yang mencari tahu pelakunya.

__ADS_1


Karena musuhnya tidak bertarung dengan pasukannya, Leluhur Yao memutuskan untuk tinggal di Gerbang Tenggara, menjebak si pelaku.


Namun, Tian Jun terus mengawasi Leluhur Yao. Jika dia tidak memiliki Mata Surgawi, jelas tidak mungkin tahu situasi lawan. Ada rasa syukur karena gurunya memberikan kemampuan ini.


__ADS_2