
Bab 68. Yuan Zhen Cemburu.
Panglima perang mundur untuk bergabung dengan Permaisuri Juan dan Putri Yuan Zhen. Sambil melihat dan membicarakan Cao Tian Jun, mereka berdua banyak bertanya kepada Yuan Zhen tentang pertemuannya dengan Cao Tian Jun.
Akan tetapi, Yuan Zhen tidak menjawab karena kebingungan harus berkata apa. Jadi, ia mengalihkan pertanyaan dari ibu dan panglima perang dengan bertanya balik, ia bertanya kepada ibunya dan panglima perang tentang keadaan Raja Yuan? Dan bagaimana ceritanya bisa berada di puncak pohon mati? Lalu ke mana para bangsawan pergi karena tidak melihat mereka?
Dicecar tiga pertanyaan sekaligus, panglima perang berbicara mewakili Permaisuri Juan, dia mengatakan, untuk saat ini tidak mengetahui keadaan Raja Yuan dan semua pendukungnya, sebab disibukkan oleh serangan dari binatang mistik.
Kenapa bisa berada di puncak pohon mati, itu dikarenakan saat pelarian berhasil disusul oleh binatang mistik utusan King Of Dark Matter.
Dengan situasi tersebut, panglima perang dan Permaisuri Juan tidak memperhatikan para bangsawan, tahu-tahunya sudah tidak melihat mereka ketika membuat dinding pertahanan.
"Apa mereka (para bangsawan) bekerja sama dengan kaisar jahat itu?" tebakan Yuan Zhen.
"Bisa jadi! Mengetahui kehancuran Kerajaan Bintang Laut, sudah dipastikan mereka lebih memilih untuk mendukung kekaisaran. Siapapun orangnya, entah itu dari status tinggi maupun rendah, kemungkinan besar lebih baik memisahkan diri dan mendukung penguasa yang dianggap mampu melindungi!" sahut Permaisuri Juan dengan nada menahan amarahnya.
Panglima perang dan beberapa orang penting mengganguk sebagai dukungan atas perkataan Permaisuri Juan, mereka juga geram dengan tindakan para bangsawan yang sangat licik.
"Tetua, saya sudah mengurangi separuh binatang mistik dan mau istirahat sebentar. Tolong, gantikan saya sampai stamina kembali pulih!" pinta Cao Tian Jun dengan suara yang keras karena di atas puncak pohon mati.
Panglima perang mengajak semua orang yang telah beristirahat karena bantuan Cao Tian Jun. Mereka kembali bertarung dengan binatang mistik yang memang tersisa sedikit.
Cao Tian Jun berhenti menggunakan jurus Halilintar Membelah Bumi. Dengan wajah pucat dia berkumpul bersama Yuan Zhen yang terlihat khawatir. Yuan Zhen bersama ibunya mengajak Cao Tian Jun untuk berisitirahat di dalam tenda.
Melihat ada ranjang empuk berukuran besar, Cao Tian Jun segera membaringkan tubuhnya di ranjang milik Permaisuri Juan, dia tidak peduli jika itu milik mertuanya. Dia memang kelelahan karena telah melewati batas kemampuannya dalam mengeluarkan jurus Halilintar Membelah Bumi.
Cao Tian Jun langsung memejamkan mata dan tertidur pulas karena kelelahan. Yuan Zhen berkata dengan nada menyesal kepada ibunya, "maafkan dia!"
Permaisuri Juan membelai rambut panjang putrinya dengan mengembangkan senyuman hangat, ia berkata, "tidak apa-apa. Dia sudah berjasa besar untuk kita semua, layak dia tidur di tempatku."
Yuan Zhen sedikit keheranan dengan sikap ibunya yang tidak pernah terjadi seperti saat ini. Biasanya, ibunya selalu marah jika ada orang dengan ceroboh menggunakan milik pribadinya, tidak peduli apapun itu alasannya.
Permaisuri Juan berusia 75 tahun, tapi penampilannya seperti seorang wanita usia 25 tahun karena pandai merawat diri dan juga seorang kultivator, tingkat Profound Immortal level 6. Seorang kultivator mampu memperlambat penuaan kulit, dan juga memperpanjang umur. Semakin tinggi kekuatannya, semakin panjang usianya.
Tinggi badannya sama seperti Yuan Zhen, wajahnya juga mirip serta kecantikan tidak kalah, hanya berbeda pada ukuran dada dan pantat. Permaisuri Juan lebih besar, ukuran dadanya 36B, rambut sebatas di bawah bahu. Sifat Permaisuri Juan ditiru oleh Yuan Zhen, hanya sedikit meniru sifat Raja Yuan.
"Pertanyaan sesaat lalu belum kamu jawab... Sekarang sudah ada orang. Jawablah!" pinta Permaisuri Juan sambil mengajak putrinya duduk di kursi samping tempat tidur.
__ADS_1
Permaisuri Juan berpikir bahwa putrinya tidak menjawab karena banyak orang. Yuan Zhen menarik napas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan. Setelah tenang hatinya, ia melihat Cao Tian Jun.
"Sebelum saya menjawab, Ibu harus janji tidak akan marah!" pinta Yuan Zhen.
"Iya, Ibu berjanji!" jawab Permaisuri Juan, ia menduga hubungan putrinya dengan Cao Tian Jun sudah melewati batas.
Yuan Zhen perlahan mulai bercerita awal bertemu dengan Cao Tian Jun di Dermaga Bai Ma, di mulai dari toko pakaian. Permaisuri Juan mendengar cerita putrinya sambil menatap wajah tampan Cao Tian Jun, hatinya sedikit ada getaran kagum dan cinta, perasaan yang tidak seharusnya terjadi.
Usia Cao Tian Jun akan mencapai 18 tahun, sedangkan Yuan Zhen usia 21 tahun jalan, tidak seharusnya memiliki perasaan kepada kekasih dari putrinya, seorang pemuda yang jauh dari usianya, lebih cocok sebagai menantunya atau anak.
Setelah Yuan Zhen selesai berbicara, Permaisuri Juan menghela napas berat karena tindakan putrinya yang tidak mampu mengontrol diri. Namun, ia juga tidak marah karena semua sudah terjadi.
"Kita tinggal berharap ayahmu dan pendukungnya baik-baik saja. Dengan begitu, kalian bisa segera menikah dengan restu dari ayahmu!" harapan Permaisuri Juan sambil menundukkan kepala agar tidak lagi menatap wajah Cao Tian Jun.
"Ibu tidak marah?" tanya Yuan Zhen yang kembali heran dengan sikap ibunya, sikap yang berubah 90 derajat.
"Semua sudah terjadi, buat apa marah! Toh, dia juga seorang Alkemis dengan kekuatan yang hebat. Ayahmu pasti bangga dan dengan senang hati pasti merestui kalian!" jawab Permaisuri Juan sambil memegang tangan kanan putrinya...
Cao Tian Jun tertidur selama dua batang dupa. Selama itu, sisa-sisa binatang mistik berhasil dikalahkan oleh panglima perang dan pendukungnya, itu semua atas bantuan Cao Tian Jun yang berhasil melukai binatang mistik yang tersisa. Karena itu, mereka dengan mudah mengalahkannya.
Para penduduk dan prajurit mengambil inti binatang berwarna hitam, mereka tidak mungkin menyia-nyiakan sesuatu yang mampu meningkatkan kekuatan.
Para prajurit membelah tubuh binatang mistik sesuai permintaan Yuan Zhen, dari jantung binatang mistik keluar sebuah kristal yang berisi elemen api, tapi sedikit yang memiliki kristal berisi elemen kayu.
Permaisuri Juan bertanya perihal tujuan putrinya, "buat apa kedua kristal elemen ini?"
"Dia akan mengajarkan saya menjadi seorang Alkemis, ini adalah syaratnya!" jawab Yuan Zhen dengan nada bangga, ia segera kembali masuk ke tenda untuk menemani Cao Tian Jun.
Permaisuri Juan memerintahkan pelayan untuk membuat masakan terbaik sebelum malam tiba, ia ingin menjamu Cao Tian Jun yang telah berjasa besar. Lalu dia kembali masuk ke dalam tenda dan melihat putrinya tiduran di sisi calon menantunya.
Permaisuri Juan mengikuti putrinya yang tiduran sambil membaca gulungan bambu pinjaman dari Cao Tian Jun, ia melihat ibunya yang tidak sungkan tiduran di sisi kiri kekasihnya, suatu keadaan yang membuat Yuan Zhen keheranan sekali lagi.
"Kenapa sifat ibu tidak seperti biasanya?" batin Yuan Zhen yang curiga jika ibunya tertarik dengan kekasihnya, ingin rasanya menegur tapi tidak berani.
Memang, Permaisuri Juan baru pertama kali mau tiduran di samping seorang pria lain selain suaminya si Raja Yuan, bahkan dengan saudara-saudara saja tidak mau. Yuan Zhen sedikit lega karena di dalam tenda tidak ada orang lain selain mereka.
Jika keadaan seperti ini diketahui orang luar, sudah dipastikan akan menjadi gunjingan negatif, dan pastinya membuat nama kerajaan menjadi sangat jelek di mata penduduk.
__ADS_1
"Jangan berpikir buruk tentang Ibu! Ibu sudah banyak belajar setelah kejadian ini!" ujar Permaisuri Juan saat melihat lirikan putrinya yang mencurigainya.
"Ti-tidak... Saya tidak berpikiran begitu!" sahut Yuan Zhen yang gelagapan pikirannya bisa dibaca oleh ibunya.
Yuan Zhen kembali fokus pada gulungan bambu, ia ingin bertanya tapi mulutnya sulit untuk terbuka. Akan tetapi, hatinya menjadi gelisah karena khawatir ibunya merebut calon suaminya, bahkan membuatnya kini gagal fokus menghafal tanaman.
"Ibu, tolong jangan ada niat untuk merebut satu-satunya pria yang kucintai!" batin Yuan Zhen dengan harapan, baginya Cao Tian Jun adalah cinta pertamanya.
Ia sekilas melirik ibunya yang membuat jantungnya berdebar-debar, ia melihat ibunya menyandarkan kepala pada telapak tangan kanan sambil memperhatikan wajah kekasihnya.
Sebenarnya, karena Teknik Dual Cultivation, Cao Tian Jun samar-samar mengeluarkan aroma afrodisiak dan pesona, yang membuat Permaisuri Juan dan putrinya selalu ingin dekat dengannya, apalagi jarak mereka sangatlah dekat dan jelas mudah terpengaruhi.
Seandainya, Cao Tian Jun tidak memiliki Teknik Dual Cultivation, dia masih dikatakan normal, hanya sedikit lebih unggul dari pria manapun di Benua Timur.
"Ibu...!" tegur Yuan Zhen yang tidak ingin ibunya melihat terus wajah calon suaminya.
"Jangan khawatir! Ibu hanya mengangumi sosok calon menantuku!" alasan Permaisuri Juan dan membaringkan tubuh dengan kepala bertumpu pada bantal empuk, ia menatap langit-langit sambil merenungi tindakannya.
"Aneh menantuku ini!" batin Permaisuri Juan yang kebingungan dengan dirinya sendiri, belum pernah dirinya seperti ini, bahkan dengan suaminya selalu bersikap dingin.
Alasan Permaisuri Juan membuat Yuan Zhen makin gelisah, sebab ia belum pernah mendengar pengakuan ibunya yang kagum terhadap pria lain. Karena tidak ingin kehilangan calon suami, ia segera menyimpan gulungan bambu, lalu merapatkan tubuhnya dan memeluk pinggang Cao Tian Jun sambil berpura-pura tidur.
Setelah hari akan gelap, dari luar tenda seorang pelayan berbicara kepada Permaisuri Juan, "Yang Mulia, makan malam telah siap."
Permaisuri Juan segera beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia menutup kelambu agar saat pelayan masuk tidak melihat Cao Tian Jun tidur di ranjangnya.
Permaisuri Juan duduk, lalu memberikan perintah, "bawa masuk hidangannya!"
Segera satu pelayan membuka pintu tenda, lalu masuk bersama pelayan lainnya yang membawa banyak hidangan. Sambil menata hidangan di meja, para pelayan melirik sekitarnya untuk mencari keberadaan Cao Tian Jun, tapi tidak menemukannya.
Lalu, lirikan mereka tertuju pada tempat tidur, dan menduga jika Cao Tian Jun ada di sana. Karena statusnya yang rendah, mereka jelas tidak berani bertanya, bahkan bernapas secara sembarang saja tidak berani.
"Silakan kalian keluar!" perintah Permaisuri Juan setelah para pelayannya selesai menata hidangan malam.
Tanpa banyak bicara semua pelayan keluar dan menutup pintu tenda rapat-rapat. Sesampainya di luar, para pelayan berbisik-bisik perihal hubungan Cao Tian Jun dan Putri Yuan Zhen. Selain itu, bisikan mereka terutama pada perilaku Permaisuri Juan yang tidak seperti biasanya.
"Putriku, ayo kita makan dulu. Biarkan dia nanti makan sendiri, kita hanya akan menemaninya!" ajakan Permaisuri Juan.
__ADS_1
Yuan Zhen mendengus kesal karena salah mengartikan ajakan ibunya, tetap saja ia beranjak dari tempat tidur. Tanpa melihat ibunya, dia segera menuju ke meja makan.
Permaisuri Yuan tersenyum karena tingkah putrinya yang cemburu, ia dan putrinya segera makan dengan santai tapi elegan.