
Bab 170. Pulau Paus Biru.
Di dalam kamar pribadi, Xia Junsu tersenyum bahagia karena pencapaian putranya, walaupun tidak ikut melihat putranya, cukup merasakan aura putranya yang meningkat dratis. Dia kembali fokus pada kultivasinya untuk meningkatkan kekuatan secepat mungkin.
Xia Junsu tidak ingin menjadi beban bagi putranya yang telah melebihi kekuatannya. Ia juga merasa malu karena belum sempat membalas dendam, tetapi musuhnya satu demi satu terbunuh di tangan pihak lain.
Akan tetapi, pikiran terganggu saat mengingat suaminya. "Di mana dia sekarang? Apakah benar masih hidup atau ...!" batinnya yang selalu bertanya-tanya.
Seandainya Cao Tian Jun tidak memutar waktu, ia akan mengetahuinya kebenaran dari mulut Kaisar Xia, yang mana Tian Sun masih hidup. Dia segera membuang pikirannya, lalu kembali fokus berkultivasi...
...****************...
Di wilayah Kekaisaran Yao, di dalam area pemakaman khusus keluarga kekaisaran.
Leluhur Yao ternyata masih hidup, tapi berbaring di dalam peti mati yang terbuat dari balok es. Di dalam peti itu terdapat banyak ramuan herbal untuk memperpanjang umur, dan juga banyak Batu Roh sebagai sumber energinya. Nama aslinya adalah Yao Han Kiew.
Lalu, di samping peti mati itu muncul kabut hitam yang berubah menjadi manusia. Kabut hitam itu adalah Yao Lao yang masih menggunakan wajah milik Tian Sun.
"Bangun!" perintah Yao Lao kepada Leluhur Yao.
Secara perlahan, Leluhur Yao membuka matanya saat mendengar suara yang telah lama ditunggu-tunggu. Namun, saat melihat wajah Yao Lao, dia tidak sedikitpun mengenalinya.
"Siapa Anda?" tanya Leluhur Yao yang segera duduk, lalu keluar dari dalam peti mati es.
"Aku Ayahmu!" ungkap Yao Lao yang segera merubah menjadi penampilan aslinya, seorang pria tua dengan rambut memutih, jenggot panjang yang juga telah memutih, dengan perut membuncit, dan tinggi badan mencapai 169 cm.
Melihat itu adalah ayahnya, Leluhur Yao segera berlutut, namun dicegah oleh Yao Lao dengan menahan kedua bahu putranya ini.
"Apakah kamu ingin hidup abadi?" tanya Yao Lao.
"Tentu, Ayah, tentu saya menginginkan hidup abadi. Tidak seperti ini, selalu tertidur di peti mati!" jawab Leluhur Yao dengan segera.
Dia ingin bertanya kepada ayahnya yang selama ini telah lama berpisah. Tapi, melihat raut wajah ayahnya yang serius, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kembalilah tidur di peti mati!" perintah Yao Lao.
Segera Leluhur Yao masuk kembali ke dalam peti mati es. Kemudian, dia terkejut melihat ayahnya berubah menjadi kabut hitam. Kabut hitam itu masuk ke seluruh lubang di tubuhnya.
Leluhur Yao berteriak kesakitan karena kabut hitam merubah seluruh organ dalam tubuhnya. Darah merah dengan cepat berubah menjadi hitam, demikian juga seluruh organ tubuhnya yang berubah menjadi hitam, seperti terkena racun.
Rasa sakit itu membuat Leluhur Yao pingsan. Wajahnya yang awalnya tua, kini perlahan berubah menjadi muda, seluruh kulit yang mengeriput menjadi kencang. Rambut yang putih juga berubah menjadi hitam.
Boom...
Letupan energi keluar dari tubuh Leluhur Yao saat meningkatkan kekuatannya, kekuatan pemberian dari Yao Lao. Kekuatan awalnya berada di tingkat Almighty God, melejit hingga berada di tingkat Half Alfa level 10.
Kemudian, Leluhur Yao mendapatkan informasi tentang tujuan ayahnya yang ingin menguasai Continent Twins Moon, mendapatkan Hati Dunia, menjadikan semua orang sebagai Pasukan Kegelapan, dan membunuh Cao Tian Jun.
"Saat ini kamu telah menjadi bawahan Dewa Perusak, beliau adalah guruku. Ayah akan selalu tinggal di dalam tubuhmu karena apa yang kamu dapatkan adalah milikku. Kamu telah mengetahui tujuan Ayahmu ini. Mulai saat ini, lanjutkan rencanaku. Berhasil atau tidak, itu tergantung upayamu. Kuharap, jangan pernah ada kata gagal!"
Setelah Yao Lao memberikan pesan sebelum hibernasi, Leluhur Yao segera membuka matanya. Kemudian, ia tertawa terbahak-bahak karena telah mendapatkan kesempatan kedua untuk menikmati hidup. Menjadi abadi adalah keinginannya.
"Ingat, jangan pernah gagal!" pesan terakhir dari Yao Lao membuat putranya seketika berhenti tertawa.
Leluhur Yao memejamkan matanya untuk melihat keadaan ayahnya. Dia melihat ayahnya yang tertidur pulas di dalam jantungnya. Kemudian, kabut hitam menyelimuti tubuh ayahnya hingga menjadi sebuah telur.
"Ayah, apakah Anda sudah tidur?" tanya Leluhur Yao yang ingin bertanya.
Tapi, Yao Lao tidak membalas ucapannya, benar-benar telah tertidur pulas. Mengetahui itu, Leluhur Yao menghela nafas panjang karena tidak bisa mengobrol.
__ADS_1
Kemudian, dia melihat peta mati es lain, peti mati milik istrinya yang telah lama tutup usia. Di dalam peti itu, Leluhur Yao melihat wajah keriput istrinya yang masih memancarkan pesona kecantikan masa muda.
Karena telah mendapatkan kekuatan kabut hitam, dia ingin membangkitkan istrinya. Dia meletakkan jari telunjuk ke dahi istrinya yang bernama Fang He Mei. Seluruh tubuh istrinya yang awalnya tinggal kulit dan tulang, perlahan mulai berubah.
Leluhur Yao menatap perubahan istrinya seperti yang dialaminya. Perbedaannya, istrinya telah tiada sehingga tidak merasakan kesakitan. Dengan kecepatan mata memandang, istrinya kini telah menjadi muda kembali.
Ketika istrinya membuka mata, Leluhur Yao terkejut melihat kedua matanya yang berwarna merah, padahal seingatnya dulu pupil mata istrinya berwarna kecoklatan. Tatapannya juga kosong, seakan-akan seperti mayat hidup dengan penampilan menarik.
Fang He Mei segera keluar dari peti mati, lalu berlutut di hadapan suaminya. Leluhur Yao menghela nafas berat karena istrinya ini tidak memiliki jiwa.
"Aku akan mencarikan Buah Dao untukmu," kata Leluhur Yao kepada istrinya.
Hanya dengan Buah Dao istrinya bisa hidup sebagaimana mestinya seperti dahulu, bukan seperti saat ini yang menjadi mayat hidup. Inilah salah satu kelebihan Buah Dao yang mampu membangkitkan jiwa yang telah mati.
Cara lain untuk membangkitkan jiwa Fang He Mei, dengan memberikannya energi kekuatan jiwa di tingkat Api tahap puncak. Kecuali Cao Tian Jun, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki energi kekuatan jiwa.
Sedangkan para ahli Alkemis, Formasi Array dan yang lainnya, tidak memiliki basis kultivasi Kekuatan Jiwa, sehingga kemampuan mereka hanya berada di tingkat dasar, yaitu tingkat Danau tahap rendah. Jikalau pun ada yang lebih tinggi, kekuatan jiwa mereka hanya berada di puncak.
"Kembalilah tidur!" perintah Leluhur Yao kepada istrinya yang segera dipatuhi.
Setelah istrinya kembali berada di dalam peti mati es, dia segera keluar dari area pemakaman khusus keluarga besar Xia. Waktunya untuk memenuhi janji kepada ayahnya. Setelah diberikan kehidupan baru ini, dia tidak akan menyia-nyiakan.
Langkah pertama, menjadikan seluruh penghuni Benua Tengah sebagai Pasukan Kegelapan untuk menguasai seluruh wilayah di Continent Twins Moon. Langkah ini harus dilakukannya sendiri, sebab hanya dirinya yang memiliki kekuatan kabut hitam.
Setelah menguasai Continent Twins Moon dan membunuh Cao Tian Jun, langkah kedua adalah menemukan Hati Dunia. Leluhur Yao tidak tahu apa itu Hati Dunia, tapi akan tetap mencari demi ayahnya.
Leluhur Yao melayang di atas pemakaman, menghirup udara segar yang sudah lama tidak dirasakannya. Kemudian, ia melihat sekelilingnya yang telah banyak perubahan.
Saat melihat dua orang pria yang sedang melewati pemakaman, Leluhur Yao muncul di belakang mereka tanpa diketahui. Kemudian, dari jari-jari tangannya mengeluarkan kabut hitam yang menyelimuti kedua orang itu.
Kedua orang itu jelas kaget tubuhnya tiba-tiba diselimuti kabut hitam, dan tanpa sadar menghirupnya. Yang mengejutkan lagi, kabut hitam itu masuk ke pori-pori kulit. Setelah kabut masuk ke dalam tubuh, mereka berdua seperti halnya Leluhur Yao, merasakan kesakitan.
"Hahaha!!" Leluhur Yao tertawa puas melihat kekuatannya yang sekarang, kekuatan yang dulu hanya bisa dibayangkan saja.
Karena belum puas melihat kehebatannya sendiri, dan untuk memahami kekuatan barunya, ia mencari mangsa baru. Dengan pikirannya sendiri, dia merubah tubuhnya menjadi kabut hitam. Kemudian, melesat ke arah Ibu Kota Kekaisaran Yao...
...****************...
Di Pulau Paus Biru, berkumpul tiga penguasa, mereka adalah Kaisar Yao, Kaisar Dao dan Kaisar Cao. Mereka membahas mengenai Cao Tian Jun yang memiliki Stempel Giok Maharaja, serta membahas tantangannya.
Selain mereka, ada juga Conglin pemimpin Paviliun Bunga Kematian dan beberapa pangeran. Conglin hanya mendengarkan rencana mereka tanpa memberikan masukan, sebab tugasnya hanya mengumpulkan informasi dari penguasa itu.
Tantangan Cao Tian Jun dianggap serius oleh mereka, sebab Ratu Ular Surgawi mendukungnya. Dan tantangan Cao Tian Jun dianggap mewakili Benua Timur.
Mereka banyak membahas masalah ini, dan mendapatkan beberapa poin penting. Poin pertama, menyewa jasa Paviliun Bunga Kematian untuk membunuh Cao Tian Jun, dan mengambil Stempel Giok Maharaja.
Awalnya, Kaisar Cao memberikan masukan agar membunuh siapapun yang berdekatan dengan Cao Tian Jun, tujuannya agar melemahkan mental target.
Namun, saran itu ditolak oleh Kaisar Yao dan Kaisar Dao, alasannya biaya yang dikeluarkan akan membengkak. Dengan terfokus kepada Cao Tian Jun, maka hasilnya akan lebih baik dan tidak mengeluarkan banyak biaya.
Dengan menyewa jasa Paviliun Bunga Kematian, mereka tidak akan menjadi sasaran balas dendam pihak Cao Tian Jun, terutama tidak ingin berurusan dengan Ratu Shima. Biarkan Paviliun Bunga Kematian yang menjadi samsak kemarahan Ratu Shima.
Conglin tidak sedikitpun tersinggung karena dijadikan tempat kemarahan Ratu Shima jika Cao Tian Jun tewas, sebab hal ini merupakan bagian konsekuensi dari profesinya.
Poin kedua, setelah mendapatkan Stempel Giok Maharaja, maka mereka memutuskan untuk dilelang agar lebih adil. Poin ketiga, menyerang Benua Timur untuk mendapatkan Batu Keabadian.
Setelah itu, baru menyerang habis-habisan Benua Selatan yang dipimpin oleh Ratu Shima. Hanya Ratu Shima yang menjadi musuh terbesar bagi ketiga penguasa itu.
Ketiga poin penting itu sudah banyak mengeluarkan banyak biaya besar untuk meruntuhkan dominasi Ratu Shima dan mengalahkan bocah kemarin sore.
__ADS_1
Di dalam hati, Conglin menertawakan mereka, sebab hanya karena Cao Tian Jun yang mampu membuat mereka begitu serius, padahal yang dihadapinya adalah anak kecil.
Jika dirinya, sudah pasti hanya terfokus kepada Cao Tian Jun karena memiliki Stempel Giok Maharaja dan banyak harta, tidak perlu memikirkan Ratu Shima. Conglin lebih mendukung saran Kaisar Cao yang tidak diterima oleh Kaisar Yao dan Kaisar Dao.
"Saudara Conglin, berapa biaya untuk kepala bocah itu?" tanya Kaisar Dao.
Conglin tidak segera menjawab karena sedang mengeluarkan buku daftar target. Kemudian, dia meletakkan di meja dan membuka lembaran pertama, semua orang melihatnya.
Di lembaran kedua, merupakan daftar utama target pembunuhan. Semua orang melihat daftar-daftar nama itu. Nama Cao Tian Jun berada di urutan kedua setelah Ratu Shima yang berada di urutan pertama. Mengidentifikasi bahwa Ratu Shima dan Cao Tian Jun dianggap sangat berbahaya.
Ratu Shima berada di daftar teratas karena merupakan hambatan terbesar bagi Kuil Tangan Setan dan Paviliun Bunga Kematian. Sedangkan Cao Tian Jun yang berada di urutan kedua karena telah menjarah Mystical Beast Mountain, mencuri kekayaan Kuil Tangan Setan, dan juga memiliki Stempel Giok Maharaja.
Yang mengejutkan semua orang adalah nama di urutan ketiga, yaitu seorang pria yang sangat terkenal di Continent Twins Moon, dia dijuluki sebagai Pendekar Pedang, namanya adalah Ling Dao Kai.
Ling Dao Kai adalah seorang kultivator ahli pedang, telah banyak mengalahkan para ahli senjata pedang, tombak dan siapapun orangnya yang dianggapnya hebat di Continent Twins Moon. Walaupun banyak mengalahkan kultivator hebat, dia tidak pernah membunuh lawannya, hanya mengambil harta lawan sebagai hadiahnya.
Usia 35 tahun, seorang yang terfokus kepada ilmu pedang, tidak memiliki kekasih karena dianggap sebagai beban yang menghambat pencapaiannya. Ling Dao Kai merupakan kerabat jauh dari Kaisar Dao, dan juga musuhnya karena pernah melukai Pangeran Lin Gan.
Di urutan keempat, kelima dan keenam, semua orang tidak lagi terkejut, sebab daftar nama itu adalah mereka. Wajar jika menjadi target musuhnya.
"Siapa yang menginginkan Pendekar Pedang mati?" selidik Kaisar Dao karena tidak merasa menyewa jasa Paviliun Bunga Kematian untuk membunuh Ling Dao Kai.
"Yang penting ada!" jawab Conglin yang jelas tidak akan membuka identitas si penyewa jasa Paviliun Bunga Kematian.
"Apakah harga kepala bocah itu tidak bisa di nego?" harapan Kaisar Yao karena untuk membunuh Cao Tian Jun sangat besar biayanya, nilainya mencapai angka dua ton emas (lebih dari satu triliun jika di rupiahkan).
Nilai kepala Ratu Shima jelas lebih tinggi daripada Cao Tian Jun, tiga kali lipatnya. Mahalnya membunuh Ratu Shima dikarenakan memiliki peta yang menyembunyikan Hati Dunia. Hal ini, hanya diketahui oleh pihak Kuil Tangan Setan dan Paviliun Bunga Kematian.
"Nilai segitu bagi Anda bertiga bukanlah sesuatu yang berat. Saranku, daripada dilelang, lebih baik Stempel Giok Maharaja dipergunakan bersama-sama. Dengan begitu, koalisi ini tidak hanya sementara!" jawab Conglin, dan sedikit memberikan saran.
Seandainya Stempel Giok Maharaja dilelang, dan dimenangkan oleh satu orang, maka akan memicu kecemburuan pihak lain, hal ini akan sangat merugikan hubungan ini. Jarang-jarang tiga penguasa itu berkumpul seperti ini jika bukan karena Cao Tian Jun.
Namun, yang tidak diketahui oleh tiga penguasa itu, justru yang lebih diuntungkan adalah pihak Paviliun Bunga Kematian seandainya berhasil membunuh Cao Tian Jun, yaitu mendapatkan semua kekayaannya, dan juga mendapatkan biaya jasa senilai satu ton emas.
Dengan kekayaannya itu, untuk meningkatkan kekuatan sebanyak dua tingkat bahkan lebih merupakan hal yang mudah, cukup menyewa semua Alkemis, dan memonopoli perdagangan tanaman langka dan obat.
Ketiga penguasa itu mengumpulkan semua koin emas yang dibawa, senilai seperempat dari nilai satu ton emas. Kemudian, mereka memberikannya kepada Conglin sebagai biaya awal. Sisanya akan diberikan setelah berhasil membunuh Cao Tian Jun dan mengambil Stempel Giok Maharaja.
Conglin dengan senang hati menerima pembayaran. Lalu berkata kepada mereka dengan nada meyakinkan, "berikan aku waktu paling lama 30 hari. 90% dijamin berhasil!"
Angka 90% tingkat keberhasilan merupakan hal yang luar biasa bagi mereka, dan tidak meragukan kemampuan Paviliun Bunga Kematian. Dengan nilai itu, sudah pasti Conglin akan mengerahkan seluruh pembunuh bayaran yang terbaik.
Setelah berpamitan, Conglin menghilang dari hadapan mereka. Kemudian, para penguasa itu meninggalkan Pulau Paus Biru, kembali ke tempatnya masing-masing...
...****************...
Setelah kepergian mereka, rombongan Patriark Fang sudah dekat dengan Pulau Paus Biru. Mereka tidak segera singgah karena mendapatkan informasi bahwa banyak musuh berkumpul di Pulau Paus Biru.
Selang sehari, Patriark Fang memerintahkan armada kapal angkasa untuk bersandar di pelabuhan. Di Pulau Paus Biru, merupakan tempat transaksi bebas, segala barang yang aneh, unik dan misterius banyak diperjualbelikan di sana.
Karena merupakan tempat transaksi bebas, maka segala kejahatan jelas sudah pasti ada, banyak perampok laut yang juga menjual hasil rampokannya. Segala kebutuhan yang tidak ada ditempat asalnya, di Pulau Paus Biru sudah pasti ada.
Motto di Pulau Paus Biru sangat sederhana, yaitu ada uang ada barang. Anda penipu, kami ahlinya menipu. Intinya, siapapun yang berada di Pulau Paus Biru harus berhati-hati, setiap hari nyawa manusia tidak dihargai.
Patriark Fang singgah karena perlu membeli bekal perjalanan yang masih 3 hari lagi baru sampai di wilayah Kerajaan Sihir.
Cao Tian Jun keluar dari dalam Dunia Jiwanya dengan wajah berseri-seri, sebab berkat Pil Kultivasi Maharaja dan Buah Dao, kekuatannya meningkat pesat, melebihi ekspektasinya. Demikian juga dengan semua kekasihnya yang ikut bahagia.
Saat kapal angkasa rombongan Patriark Fang bersandar di pelabuhan, Cao Tian Jun mendengar kebisingan di dermaga. Dengan Mata Surgawi, ia melihat keseluruhan Pulau Paus Biru yang sangat ramai, penduduk yang padat dan sibuk bertransaksi.
__ADS_1