8 Batu Keabadian

8 Batu Keabadian
Merpati Putih.


__ADS_3

Bab 177. Munculnya Merpati Putih Raksasa.


Rombongan Patriark Fang telah memasuki Lembah Ular. Butuh waktu setengah hari perjalanan menuju ke wilayah Kerajaan Sihir.


Cao Tian Jun dan Tim Phoenix yang berada di dalam kamar, sedang menikmati hidup bersama dengan kekasihnya. Namun, dia merasakan seseorang sedang mengawasinya sehingga berhenti mencium bibir Ao Fengying.


Ao Fengying tersenyum bahagia karena kekasihnya sangat tangguh di ranjang, sampai-sampai membuatnya kewalahan dan menyerah. Akhirnya dia tahu kenapa kekasihnya banyak, dan tidak ada satupun yang sanggup melayani keganasan kekasihnya di ranjang.


Dia belum pernah melihat Xia Junsu bercinta dengan Tian Jun. Sedangkan Xia Junsu hanya melihat Tian Jun memuaskan Tim Phoenix, dan selalu mengalihkan perhatian untuk melakukan aktivasi lain.


"Energi sihir!" gumam Tian Jun saat merasakan energi sihir hitam yang sedang mengawasinya.


"Aktifkan Winged Golden Armor Ring!" pintanya kepada Tim Phoenix.


Tim Phoenix, Miao Miao, Dìyù Nuan dan Ao Fengying mendengar gumaman Tian Jun. Mereka dengan segera mengaktifkan zirah perang bersayap agar tidak terpengaruh oleh energi sihir hitam...


"Ada bola api sihir hitam!" teriakan salah satu pengawas yang berada di atas tiang layar kapal angkasa.


Bola api itu seperti mata berapi-api, melesat ke arah kapal angkasa milik Fang Yin. Melihat bola api itu, beberapa orang segera mengangkat tongkat sihir untuk menangkis serangan itu. Ujung tongkat sihir mengeluarkan sinar yang melesat ke arah bola api.


Boom boom...


Ledakan energi ketika dua kekuatan sihir saling berbenturan. Setelah itu, semua orang yang baru keluar dari dalam kabin kapal melihat lima Burung Gagak yang berterbangan di atas kapal angkasa milik Fang Yin, dan menduga jika sasarannya adalah Tian Jun karena memiliki Stempel Giok Maharaja.


Lima Gagak itu memuntahkan bola-bola api ke arah kapal angkasa sasarannya. Namun, anak buah dari Fang Guotin segera memblokir serangan Burung Gagak. Fang Guotin memerintahkan kepada Tian Jun dan Tim Phoenix agar tidak keluar dari kamar.


Setelah itu, Fang Guotin segera membantu anak buahnya. Patriark Fang dan para tetua segera berkumpul di kapal angkasa milik Fang Yin untuk menetralisir serangan Burung Gagak.


Setiap kali serangan dari Burung Gagak berhasil diblokir, Burung Gagak kembali memuntahkan bola-bola api tanpa henti. Namun, tetap saja berhasil diblokir oleh para Penyihir Putih dari Akademi Sihir Yin Yang.


Walaupun berada di dalam kamar, Tian Jun mengetahui kejadian di luar kabin kapal, dia sebenarnya sangat dengan mudah mengalahkan kelima Burung Gagak itu. Berhubung Fang Guotin memintanya untuk tetap berada di dalam dan menjaga Tim Phoenix, ia mematuhinya, dan sekaligus melihat kehebatan Penyihir Putih.


Perang sihir terus terjadi. Burung Gagak memutari kapal angkasa sasarannya sembari memuntahkan bola-bola api, namun selalu saja dengan mudah diblokir oleh Penyihir Putih.


Walaupun diserang, kapal angkasa terus melaju, bahkan mempercepat lajunya. Saat mendekati Jembatan Ming Yao penghubung antara Kerajaan Ming dan Kekaisaran Yao, tiba-tiba kapal angkasa milik Fang Yin diserang dari bawah, tetapi bukan serangan sihir hitam, melainkan serangan dari kultivator.


Serangan mendadak dari bawah jelas tidak diantisipasi oleh pengawas jalur kapal angkasa. Badan bagian bawah dihantam oleh serangan jarak jauh sehingga berlubang.


Mau tidak mau, Tian Jun dan Tim Phoenix keluar dari kabin kapal, lalu terbang sebelum kapal angkasa jatuh. Fang Guotin dan anak buahnya yang selalu bertahan melawan lima Burung Gagak, akhirnya menyerang balik Burung Gagak dengan sihir putih.


Sedangkan Patriark Fang dan rombongannya melawan musuh yang menyerang dari bawah. Mereka adalah orang-orang yang memburu kepala Tian Jun, dan sudah menunggu kedatangan rombongan Patriark Fang.


Tidak jauh dari lokasi pertempuran itu, Long Yung berdiri di atas puncak pohon di atas dinding Lembah Ular, dia melihat Tian Jun yang dikelilingi oleh Tim Phoenix.


Long Yung masih memburu Tian Jun dikarenakan Bao Dong tidak mencuri hartanya. Dia telah memeriksa cincin dimensi dan kantong spasial milik mereka bertiga (Bao, Dong dan Dongxi).


Setelah membuktikan bahwa Bao Dong dan Dongxi tidak mencuri, Long Yung memutuskan untuk tetap memburu Tian Jun, sebab dia yakin karena Tian Jun adalah satu-satunya orang yang dekat dengan lokasi persembunyian hartanya.

__ADS_1


Long Yung mengepalkan tangan kanannya, lalu mengeluarkan energi kekuatan tingkat Half Alfa level 14. Lalu dia terbang sambil melepaskan pukulan berenergi tinggi ke arah Tian Jun yang dikelilingi oleh Tim Phoenix.


Aura kekuatan tingkat Half Alfa level 14, jelas dirasakan oleh banyak orang yang bertarung. Namun, karena saling bertarung, mereka tidak sempat untuk melihat siapa musuh barunya.


Sedangkan Tian Jun yang diincar oleh Long Yung, jelas merasakan aura niat membunuh yang berasal dari Long Yung. Dia tercengang melihat pukulan berenergi melesat ke arah Mu Bingyun yang dekat dengan serangan itu.


Saking cepatnya serangan itu, Mu Bingyun dan Tim Phoenix terlambat untuk memblokir serangan Long Yung.


Boom...


Ledakan keras ketika pukulan berenergi mengenai dada Mu Bingyun sehingga terpental ke belakang. Untung saja Tian Jun segera menahan tubuh mungil Mu Bingyun.


Yang mengejutkan Tim Phoenix dan semua orang, Mu Bingyun baik-baik saja terkena pukulan itu. Dan melihat zirah perang bersayap tidak sedikitpun tergores.


Long Yung segera berhenti karena syok pukulannya tidak sedikitpun melukai Mu Bingyun yang menghalangi serangannya. Tidak ingin membuang kesempatan karena Tim Phoenix membuka celah, Long Yung segera menyerang Tian Jun.


Akan tetapi, Long Yung kembali berhenti saat melihat awan hitam berdatangan dari segala penjuru mata angin, berkumpul di atas kepala orang yang bertarung. Lalu dia tercengang melihat Tian Jun yang mengeluarkan cahaya pelangi.


Tian Jun jelas sangat marah karena Long Yung menyerang Mu Bingyun, dia mengaktifkan Kekuatan Jiwa Semesta. Namun kali ini berbeda, bermunculan banyak bola-bola energi kunang-kunang di atas kepala semua orang.


Semua orang yang bertarung segera berhenti karena merasakan sakit kepala yang teramat. Kecuali Tim Phoenix yang dilindungi oleh Winged Golden Armor Ring, semua orang menjauhi Tian Jun yang sangat marah.


"Kalian boleh saja mengincarku, tetapi jangan sekali-kali melukai orang yang kukasihi! Sekali menyerang kekasihku, tidak hanya kau yang aku bunuh, seluruh keluargamu akan kumusnahkan!" suara Tian Jun menggelegar keras hingga terdengar sampai sejauh 3 km.


Kemudian, awan hitam mengeluarkan serat-serat petir yang belum pernah terjadi di Continent Twins Moon selama ini. Mereka jelas tidak mengetahui bahwa serat-serat petir itu adalah Kuasi Petir Semesta, petir yang sangat ditakuti oleh kultivator di zaman Dewa Abadi.


Setelah itu, bola-bola kunang-kunang melesat sangat cepat dengan kecepatan cahaya, melesat ke arah semua orang yang menyerang rombongan Patriark Fang.


Dengan panik, semua musuh lari terbirit-birit, terbang secepat mungkin untuk menghindari serangan bola energi kunang-kunang. Namun, kecepatan mereka melambat karena sakit kepala. Lima Gagak segera ke kabur ke arah Hutan Niao, namun...


Boom boom boom boom...


Rentetan suara ledakan energi ketika bola-bola energi kunang-kunang meledakkan Lima Gagak dan tubuh setiap musuh. Mereka jelas tidak mungkin bisa kabur dari serangan bola-bola energi kunang-kunang karena kalah cepat, walaupun kondisinya normal, mereka masih tidak akan bisa kabur.


Dari semua musuh yang diserang oleh Tian Jun, dia memfokuskan serangan kepada Long Yung, ribuan bola-bola energi kunang-kunang melesat ke arahnya dengan sangat cepat.


Long Yung juga merasakan sakit kepala akibat aktifnya Kekuatan Jiwa Semesta milik Tian Jun, dia segera kabur karena tahu ribuan bola energi kunang-kunang itu sangat mengerikan. Sayangnya...


Boom boom boom...


Tubuh Long Yung dihujani bola energi kunang-kunang, dia terjatuh dan menghantam tanah dengan sangat keras. Namun, karena banyaknya bola energi kunang-kunang, dia terus dihujani serangan itu.


Boom...


Ledakan terakhir yang sangat keras, lalu Merpati Putih raksasa tiba-tiba menghilang, awan hitam juga menghilang, demikian juga dengan serat-serat petir. Suasana menjadi tenang, tetap menjadi hening seketika, semua orang gemetaran melihat kemarahan Tian Jun yang mengerikan.


Tim Phoenix yang berada di dekatnya, wajahnya pucat dan tubuh gemetaran saking takutnya terhadap Tian Jun. Patriark Fang, Fang Guotin dan rombongannya juga sama, tubuh mereka membeku, mulut terkunci, dan wajah pucat.

__ADS_1


Mereka tidak menyangka Tian Jun mampu mengeluarkan kekuatan yang sangat mengerikan seperti ini, kekuatan yang tidak pernah dilihatnya selama perjalanan hidup.


Tubuh Tian Jun kembali normal. Tetapi, tubuhnya menjadi lemas, matanya menjadi sangat berat. Dia terhuyung-huyung dan memejamkan mata.


Xia Junsu segera melesat untuk menopang tubuh Tian Jun yang pingsan. Lalu dibantu oleh Chu Sying Chun, Wang Mei dan Ao Fengying.


Karena Tian Jun sangat marah, tubuh dikendalikan oleh Merpati Putih. Oleh karena itu, dia mampu mengeluarkan Kuasi Petir Semesta yang bersamaan dengan bola-bola energi kunang-kunang.


Jika Tian Jun dalam pikiran normal, dia hanya akan mampu mengeluarkan Kekuatan Jiwa Semesta dan bola energi kunang-kunang yang jumlahnya tidak banyak, tidak sampai mencapai ribuan bola.


Dampak dikendalikan oleh Merpati Putih, energi Kekuatan Jiwa milik Tian Jun terkuras habis, demikian juga dengan energi spiritualnya. Karena kehabisan energi, Tian Jun akhirnya pingsan karena tidak memiliki energi sedikitpun.


Li Jiancheng terkejut melihat Long Yung masih hidup setelah diserang secara bertubi-tubi. Pakaiannya terbakar habis sehingga tubuh wanita dengan jelas terlihat.


Karena kasihan dan tahu sejarahnya, Li Jiancheng segera menolongnya, membungkus tubuh telanjangnya dengan kain besar. Lalu dia dibantu oleh Yin Yenih membopong tubuh Long Yung yang pingsan dengan kondisi terluka parah, bisa dikatakan sekarat.


Patriark Fang geleng-geleng kepala karena melihat dampak kemarahan menantunya sangat mengerikan, dinding batu dari Lembah Ular sampai hancur. Untung saja tidak seluruhnya dihancurkan.


Seandainya kekuatan Tian Jun lebih tinggi dari Patriark Fang atau setara, kemungkinan besar dampak kemarahannya menghancurkan Benua Tengah. Hal yang sangat mengerikan di benak Patriark Fang.


Dia segera memerintahkan kepada semua orang untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kapal angkasa segera melesat dengan kecepatan maksimal agar tidak mendapatkan halangan lagi...


...****************...


Niao Wushi memuntahkan darah hitam karena dampak kematian Lima Gagak, tubuhnya juga gemetaran. Melihat itu, Pangeran Zeming yang sedang melayani Niao Wushi, segera turun dari tubuhnya.


Tongkatnya langsung menjadi lemas karena melihat Niao Wushi semakin mengerikan, lalu dia muntah-muntah karena mencium aroma bau bangkai yang keluar dari tubuh Niao Wushi.


Walaupun Energi Yang milik Pangeran Zeming diserap oleh Niao Wushi, dia dengan sekuat tenaga segera keluar dari kediaman nenek tua ini, tanpa mengenakan sehelai pakaian.


Melihat Pangeran Zeming, semua murid Niao Wushi membalikkan badan, dan mengumpat berkali-kali karena tindakannya yang memalukan. Mereka tahu apa yang dilakukan oleh gurunya dan Pangeran Zeming. Mereka kesal karena Pangeran Zeming tidak menghargai kebaikan gurunya.


Niao Wushi yang terkena dampak kemarahan Tian Jun, dengan susah payah turun dari ranjangnya, lalu dia mengambil kendi berisi darah manusia yang masih segar. Dia meminum darah untuk memulihkan kondisinya yang lemah.


Tubuhnya yang gemetaran perlahan mulai stabil, nafas mulai teratur. Niao Wushi duduk di lantai dengan lemas. "Mengerikan!" gumamnya yang masih terbayang-bayang Kekuatan Jiwa dan bola energi kunang-kunang.


Melalui pengelihatan Lima Gagak, dia melihat apa yang terjadi di Lembah Ular, melihat kemarahan Tian Jun. Jika tahu musuhnya memiliki kekuatan sangat mengerikan, dia jelas menolak keinginan Pangeran Zeming.


Berhubungan karena tidak tahu, serta karena keinginannya untuk bercinta dengan Pangeran Zeming, dia menganggap sasarannya hanya anak-anak yang lemah, bukan lawan yang sepadan.


Baru kali ini dia gagal memenuhi keinginan pelanggan, dan lebih memalukan karena gagal memenuhi keinginan keluarga Kekaisaran Yao. Dia sudah merasakan kenikmatan, justru gagal memenuhi kewajibannya.


"Maafkan Gurumu ini!" gumam Niao Wushi karena tidak bisa melindungi Lima Gagak, murid kesayangannya.


Karena kehebatan Tian Jun, dia bertekad untuk menaklukkan hatinya.


Setelah kondisinya pulih, Niao Wushi segera keluar dari kamar, dan menendang cawan berisi air yang telah bercampur dengan abu mayat. Dia bergegas menyusul Pangeran Zeming untuk meminta maaf.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2