
Bab 22. Teman Semasa Kecil, Yan Yan.
Sang Kapten kapal angkasa merpati tiba-tiba menghentikan laju kapalnya, ketika baru saja memasuki wilayah Pegunungan Lima Jari, dia melihat kapal angkasa dari Sekolah Surga Kesembilan mendapatkan halangan.
Kebetulan Guru Senior Dong Jian dan Zhan Bowen berada di ruang kendali kapal, mereka juga melihat Kelelawar Penghisap Darah menyerang dari segala penjuru.
"Senior, apakah kita membantu mereka?" tanya Sang Kapten kapal kepada Guru Senior Zhan Bowen.
"Tidak perlu, mereka bisa mengatasinya! Jikalau pun kita membantu mereka, kita juga akan mendapatkan cemoohan!" jawab Guru Senior Zhan Bowen.
Semenjak dulu, sekolah Surga Kesembilan dan Akademi Merpati Putih tidak pernah akur, perseteruan antar murid sering kali terjadi, bahkan tidak jarang kedua belah pihak harus kehilangan muridnya. Akan tetapi, pihak Akademi Merpati Putih yang paling sering dirugikan.
Oleh karena itu, Guru Senior Zhan Bowen enggan membantu mereka untuk mengalahkan Kelelawar Penghisap Darah.
Beberapa Murid Dalam dan Murid Inti yang berada di dek kapal juga melihatnya, mereka terlihat senyuman bahagia dengan rivalnya yang mendapatkan serangan.
Kurang dari waktu satu batang dupa, Sekolah Surga Kesembilan mampu mengusir Kelelawar Penghisap Darah, dan mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tujuan yang sama. Kapal angkasa merpati juga kembali melanjutkan perjalanan, tetapi tetap menjaga jarak dengan rivalnya.
Serangan Kelelawar Penghisap Darah sudah sering terjadi dan bukan hal yang mengherankan. Namun, semenjak kejadian 16 tahun lalu, serangan binatang mistik sering terjadi, dan hampir setiap hari selalu ada.
Oleh karena itu, setiap organisasi darimana pun selalu menggunakan kapal angkasa sebagai sarana transportasi, sebab jalur darat lebih sering terjadi serangan binatang mistik daripada jalur udara.
Saat baru saja melanjutkan perjalanan, kini giliran pihak Akademi Merpati Putih yang dihalangi oleh Kelelawar Penghisap Darah dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya.
Tampaknya Kelelawar Penghisap Darah mundur untuk memanggil bala bantuan, dan mereka mengira kapal angkasa merpati adalah musuhnya sesaat yang lalu.
"Persiapkan diri kalian, dan jangan keluar dari kapal angkasa!" perintah Guru Senior Dong Jian saat keluar dari ruang kendali kapal.
Para Murid Dalam dan Murid Inti mengeluarkan senjata andalannya untuk melawan Kelelawar Penghisap Darah. Fang Yin dan Chu Sying keluar dari kamar saat ada masalah di luar, tapi mereka tidak membangunkan Cao Tian Jun yang masih tertidur.
Saat keluar dari kamar, mereka berdua bertemu dengan Guru Junior Chu Sying Chun dan yang lainnya. Mereka pun menuju ke dek kapal untuk membantu mengalahkan Kelelawar Penghisap Darah.
Guru Junior Chu Sying Chun baru sadar jika Cao Tian Jun tidak ada di antara mereka, dia pun bertanya kepada adiknya, "ke mana dia?"
"Dia tidur, mungkin kelelahan setelah bertarung tadi!" jawab Chu Sying yang kesannya membela Cao Tian Jun.
Guru Junior Chu Sying Chun mengangguk paham, lalu dia mengeluarkan pedangnya. Tim Phoenix juga mengeluarkan senjata andalannya dan bersiap untuk mengalahkan Kelelawar Penghisap Darah yang akan tiba.
Anehnya, Kelelawar Penghisap Darah tidak segera menyerang, melainkan hanya mengepung kapal angkasa. Di saat salah satu murid dalam berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu, Guru Senior Dong Jian menghentikannya.
"Jangan keluar dari kapal!" perintahnya.
__ADS_1
Setelah peringatan Guru Senior Dong Jian, barisan Kelelawar Penghisap Darah memisahkan diri untuk memberikan jalan kepada seseorang. Setelah itu, terlihat sosok Kelelawar Penghisap Darah yang wujudnya menyerupai manusia, dan dia adalah Raja Kelelawar Penghisap Darah yang terkenal.
"Kembalikan putriku yang kalian culik, atau kalian semua tidak akan selamat hari ini!" pinta Raja Kelelawar dengan ancaman nyata.
Perkataan Raja Kelelawar jelas membuat para guru kebingungan, sebab merasa tidak menculik putrinya. Semua orang saling bertukar pandangan dan melihat sekitarnya.
Guru Senior Zhan Bowen mendekati Raja Kelelawar, tapi tidak sampai keluar dari perlindungan kapal angkasa, dia berkata, "kami tidak menculik putrimu, dan jangan menuduh sembarangan! Mungkin, kapal angkasa dari Sekolah Surga Kesembilan yang membawa putrimu!"
Raja Kelelawar melihat anak buahnya, tampaknya sedang berkomunikasi. Setelah beberapa saat berkomunikasi, dia melihat Guru Senior Zhan Bowen.
"Sampai tahu kamu berbohong, kupastikan Akademi Merpati Putih tinggal sejarah!" ancamnya, lalu membalikkan badan dan mengepakkan sayapnya dengan kecepatan tinggi, Raja Kelelawar berniat mengejar kapal angkasa milik Sekolah Surga Kesembilan, dan segera pasukannya pun mengikuti.
Semua orang menatap kepergian Raja Kelelawar bersama pasukannya. Di dalam benak semua orang, apa yang sedang terjadi sehingga Raja Kelelawar Penghisap Darah sampai kecolongan? Diculiknya putri kerajaan jelas sangat memalukan.
Lalu Guru Junior Chu Sying Chun bertanya kepada Guru Senior Zhan Bowen, "apakah benar salah satu anggota Sekolah Surga Kesembilan menculik Putri Su?"
Ya, Raja Kelelawar itu bermarga Yan, Raja Yan. Putrinya yang diculik itu dikenal dengan sebutan Putri Su, dan nama lengkapnya adalah Yan Su Yan. Semenjak usia 10 tahun, Putri Su selalu saja keluar dari kediamannya, ia lebih suka berpetualang daripada tinggal di Istana sebagai status Putri.
"Entahlah, yang penting kita tidak mencari masalah dengan mereka!" jawab Guru Senior Zhan Bowen.
Kemudian, kapal angkasa kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda, dan semua orang kembali ke tempatnya masing-masing. Tetapi sebagian murid masih berada di dek kapal.
Ketika Fang Yin baru masuk kamar, ia melihat Cao Tian Jun yang terbangun, tampaknya akan keluar dari kamar. Sedangkan Chu Sying berada di kamar kakaknya untuk mengobrol.
"Raja Kelelawar kehilangan putrinya, dia menuduh kita telah menculiknya. Saat ini dia mengejar kapal angkasa milik Sekolah Surga Kesembilan setelah kita tidak terbukti menculik Putri Su!" terang Fang Yin.
Cao Tian Jun mengangguk sebagai respon, lalu dia berkata, "aku mau mencari angin, apa kamu mau ikut?"
"Tidak, aku masih kurang sedikit memahami Kitab Sutera Langit, dan butuh waktu untuk mempelajarinya!" tolak Fang Yin.
Cao Tian Jun meninggalkan Fang Yin, dia keluar dari kamarnya. Sesampainya di dek kapal, dia melihat banyak murid yang sedang berbincang-bincang tentang Putri Su. Lalu dia menuju ke dek belakang yang sepi, dia berhenti di ujung belakang kapal dan melihat Pegunungan Lima Jari yang sangat lebat.
"Aku tahu kamu ada di sini, pantas saja saat aku cari di Lembah Naga Hitam kamu tidak ada!" teguran seseorang wanita cantik yang tiba-tiba muncul di belakangnya, ia menggunakan pakaian serba hitam.
Cao Tian Jun membalikkan badan, dan melihat seorang wanita yang bukan dari Akademi Merpati Putih. Wanita itu memiliki tinggi badan 175 cm, tubuh ramping terlihat jelas dengan pakaian yang ketat. Rambutnya panjang berwarna biru, pupil matanya berwarna merah darah dan kulitnya putih.
Kecantikan sebanding dengan Fang Yin, dan wanita di hadapan Cao Tian Jun mengeluarkan aura seorang gadis yang lincah penuh semangat.
Cao Tian Jun mengembangkan senyuman hangat saat tahu siapa wanita itu.
"Yan Yan, lama kamu tidak menemuiku!" sapaan akrabnya, dia tahu wanita itu adalah Yan Yan dari bola matanya.
__ADS_1
Ya, Yan Yan adalah teman kecilnya sewaktu berada di Lembah Naga Hitam. Waktu itu, ketika Cao Tian Jun terjatuh karena kelelahan naik turun bukit dengan membawa dua balok kayu, sosok Yan Yan yang menolongnya.
Setelah itu, mereka berteman dan bertemu sebanyak dua kali. Walaupun hanya dua kali bertemu, mereka berdua begitu sangat akrab. Semenjak itu, Mereka berdua tidak bertemu lagi selama 5 tahun, dan Cao Tian Jun masih terus menunggu Yan Yan di tempat biasanya.
Cao Tian Jun menghampiri Yan Yan, lalu dia memeluknya erat, dan Yan Yan juga membalas pelukannya. Setelah beberapa saat berpelukan untuk melepaskan rindu, mereka berdua saling berpandangan.
"Aku tidak diizinkan orang tuaku keluar dari rumah, padahal aku tidak betah berlama-lama di rumah!" alasan Yan Yan yang tidak menemui Cao Tian.
"Siapapun orang tuanya, sudah pasti tidak akan membiarkan putrinya keluar seorang diri, apalagi kamu sangat cantik!" pujian Cao Tian Jun dengan tulus.
Sosok Yan Yan sedikit berbeda dengan masa kecilnya, saat ini lebih terlihat jelas kecantikannya dibandingkan semasa kecil. Dulu, Yan Yan belum mengetahui caranya seorang wanita merawat diri, setelah dewasa jelas berbeda penampilannya.
"Dulu kupikir kamu tidak bisa setinggi ini karena membawa balok kayu besar. Ternyata, kamu bisa setinggi ini dan juga tampan!" balas Yan Yan yang tidak menduga Cao Tian Jun setampan ini.
Demikian juga dengan Yan yang, dia pikir Cao Tian Jun tidak bisa tumbuh dengan baik karena terlalu sering membawa beban berat. Penampilannya juga dulu jauh berbeda; jelek, dekil dan wajahnya tertutup arang.
Yan Yan bisa mengetahui keberadaan Cao Tian Jun karena aroma khasnya, dan juga telah memberikan tanda tanpa sepengetahuannya. Oleh sebab itu, dia bisa mengetahui keberadaan Cao Tian Jun di kapal angkasa merpati.
Seandainya Cao Tian Jun tidak keluar dari akademi, maka Yan Yan tidak akan mengetahuinya.
"Pujianmu terlalu berlebihan, aku dan sekarang tidak jauh berbeda!" ucap Cao Tian Jun yang tidak merasa diri menarik perhatian wanita, karena dia bukan satu-satunya pria di dunia ini.
Sebelum Yan Yan berbicara, Cao Tian Jun kembali bertanya, "kamu datang hanya untuk menemuiku atau ada keperluan lain?"
"Kamu dan rombongan mau ke mana?" tanya balik Yan Yan sebelum menjawab.
"Ke Desa Bunga, katanya sering mendapatkan serangan binatang mistik. Aku sekarang menempuh pendidikan di Akademi Merpati Putih, hari ini adalah salah satu misi pertamaku!" jawab Cao Tian Jun dengan jujur.
"Bolehkah aku mengikutimu? Aku janji tidak akan menunjukkan diri kepada siapapun tanpa seizinmu!" harap Yan Yan yang ingin bersama Cao Tian Jun.
Cao Tian Jun garuk-garuk kepala yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa, sebab dia tidak tahu caranya menyembunyikan Yan Yan agar tidak diketahui oleh pihak akademi.
"Bagaimana caranya kamu secantik ini tidak diketahui orang lain? Apakah mau aku sembunyikanmu di kantong spasial khusus tempat binatang?" tanya Cao Tian Jun dengan polosnya.
Yan Yan tertawa mendengarnya, ia mencubit perutnya. Cao Tian Jun berpura-pura kesakitan dengan memegang tangan Yan Yan yang terasa lembut dan halus.
"Tenang saja, aku memiliki Teknik Perubahan Wujud ...." Setelah Yan Yan berbicara, dia tiba-tiba berubah menjadi seekor burung berwarna hitam, dan mirip dengan seekor gagak hitam, hanya saja pupilnya masih berwarna merah dengan beberapa helai bulu yang berwarna biru.
Yan Yan terbang memutari kepala Cao Tian Jun. Sedangkan Cao Tian Jun berdecak kagum dengan tertawa riang. Lalu Yan Yan hinggap di bahu kirinya.
"Bagaimana, apakah sekarang kamu masih khawatir akan diketahui oleh orang lain?" tanya Yan Yan sambil mengelus pipi kiri Cao Tian Jun dengan kepalanya.
__ADS_1
"Hebat... ini hebat! Baiklah, kamu bisa selalu bersamaku...," jawab Cao Tian Jun, lalu dia kembali berbicara, "teknikmu ini luar biasa, bolehkah aku mempelajarinya?"
"Boleh! Ini teknik pasif yang sangat berharga, dan kamu harus janji tidak menggunakannya dihadapan orang lain dengan sembarang!" jawab Yan Yan dan meminta Cao Tian Jun tidak ceroboh seperti sewaktu kecil dulu.