
Bab 144. Perburuan Dimulai.
Di atas Pegunungan Lima Jari, Cao Tian Jun menatap ke langit, yang mana dirinya akan menerima sambaran petir terakhir. Buru-buru dia melihat Ratu Ular Surgawi yang gelisah karenanya, lalu melihat Xue Delun Hai yang siap kapanpun untuk menyelamatkannya.
"Seperti aku pernah mengalami hal ini, tetapi kapan?" gumam Cao Tian Jun yang kebingungan karena situasinya saat ini seakan-akan sudah pernah dijalani.
Dia melihat ke bawah, di mana semua kekasihnya berkumpul bersama Bai Guan. Entah kenapa hatinya menjadi sakit melihat raut wajah mereka yang khawatir karenanya.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja!" ucap Cao Tian Jun kepada semua kekasihnya, lalu terbang ke langit untuk menyambut kedatangan Kesengsaraan Petir Api yang terakhir.
Sebelum waktu berulang, dia tidak terbang menantang Kesengsaraan Petir, melainkan tetap berada di tengah teratai es api petir.
Semua orang melihatnya dengan jantung berdebar-debar karena Kesengsaraan Petir kali ini sangat mengerikan. Apalagi Cao Tian Jun kali ini tidak berdiam diri seperti sebelumnya, justru datang menantang.
"Tinju Naga 12 Elemen!" teriakan Cao Tian Jun yang sangat keras sambil kedua tangannya melepaskan pukulan berenergi sebanyak 12 kali.
Semua orang melihat tinjunya berubah menjadi 12 naga energi yang berbeda. Naga itu melesat ke atas dengan raungan yang keras. Bersamaan dengan Kesengsaraan Petir yang berubah menjadi tornado api petir yang melesat ke arah Cao Tian Jun.
Boom...
Ledakan energi ketika Tinju Naga 12 Elemen berbenturan dengan tornado api petir. Lalu disusul dengan suara letupan energi yang menciptakan riak-riak gelombang kejut.
Namun yang mengejutkan Cao Tian Jun dan semua orang, awan hitam api itu membentuk ribuan spiral yang menukik ke arah sasarannya. Segera Cao Tian Jun mengendalikan teratai es api petir yang berada di bawahnya.
Teratai itu terbang sangat cepat ke arah Cao Tian Jun dan berhenti di atasnya, membentuknya seperti payung untuk melindunginya. Kemudian, ribuan spiral meliuk-liuk tampak hidup layaknya ular itu, menerjang Cao Tian Jun.
Teratai es api petir muncul retakan karena tidak mampu menahan tekanan kuat dari ribuan spiral yang akan mendekat. Cao Tian Jun baru sadar jika Kekuatan Jiwanya jatuh ke tingkat Danau tahap rendah, hal ini mengakibatkan teratai es api petir tidak sekuat seperti sebelumnya.
Belum sempat memikirkan penyebab Kekuatan Jiwanya menurun sambil terus menahan tekanan kuat dari Kesengsaraan Petir, ribuan spiral itu menghujani teratai es api petir.
Boom boom boom boom...
Rentetan ledakan energi ketika teratai es api petir dihantam ribuan spiral Kesengsaraan Petir. Setiap sekali ledakan, percikan petir menghujani tubuh Cao Tian Jun, pakaian tidak lagi utuh. Dia menahan diri agar mampu menahan hantaman Kesengsaraan Petir.
Karena Kekuatan Jiwanya menurun, daya serap pada pori-pori tubuhnya tidak secepat sebelum. Dampaknya, serat-serat petir merobeknya kulitnya, lalu memasuki tubuh dan menghantam seluruh tulangnya.
"Arghhh...!" teriakan Cao Tian Jun yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Ratu Ular Surgawi dan Xue Delun Hai segera melesat ke arah Cao Tian Jun untuk menyelamatkannya, mereka tahu Kesengsaraan Petir sambaran terakhir lebih dahsyat dari sebelumnya.
Akan tetapi, ribuan spiral yang terus berdatangan dari langit menyerang Ratu Ular Surgawi dan Xue Delun Hai. Mereka segera melepaskan pukulan berenergi ke arah datangnya ribuan spiral. Akan tetapi...
Boom boom boom boom...
Ledakan hebat ketika pukulan berenergi berbenturan dengan ribuan spiral Kesengsaraan Petir. Ratu Ular Surgawi dan Xue Delun Hai terpental ke bawah karena terlalu kuatnya Kesengsaraan Petir itu.
Mereka melihat Cao Tian Jun yang mengeluarkan semua kemampuannya untuk menahan gempuran Kesengsaraan Petir. Mereka segera menyetabilkan tubuhnya dan melesat ke langit.
__ADS_1
Namun sekali lagi, Kesengsaraan Petir tidak mengijinkan kedua orang itu ikut mendekati Cao Tian Jun. Mereka kembali dihujani ribuan spiral yang lebih kuat dari sebelumnya.
Ratu Ular Surgawi dan Xue Delun Hai kembali terpental ke bawah karena dihantam Kesengsaraan Petir. Mereka semakin merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Dhummm...
Dentuman besar ketika Cao Tian Jun dihantam spiral raksasa dari Kesengsaraan Petir yang marah karena Ratu Ular Surgawi dan Xue Delun Hai ikut campur.
"Cao Tian Jun...!!" teriakan Ratu Ular Surgawi dan semua kasihnya ketika tubuh Cao Tian Jun dihantam Kesengsaraan Petir.
Anehnya, gelombang kejut energi yang telah menyebar ke segala arah tiba-tiba terhisap ke dalam kehampaan, tempat terakhir Cao Tian Jun sebelum dihantam oleh Kesengsaraan Petir. Seketika awan hitam api petir dan gelombang kejut energi itu lenyap.
Semua orang hanya melihat pakaian Cao Tian Jun yang menjadi robekan melayang di udara jatuh ke tanah. Dan, Cao Tian Jun juga ikut menghilang, bahkan tidak ada dagingnya setelah dihantam begitu kuatnya.
Ratu Ular Surgawi dan semua kekasihnya meraih robekan pakaiannya. Menangis sambil memeluk robekan pakaian. Semua orang tahu bahwa Cao Tian Jun tidak mampu menahan Kesengsaraan Petir, dengan kata lain telah tewas.
Kejadian seperti ini sudah sering terjadi setiap kali kultivator yang tidak berhasil menyelesaikan Kesengsaraan Petir. Sekali lagi, Cao Tian Jun tewas kembali dihadapan mata semua orang.
Xue Delun Hai merasa bersalah dengan menunduk wajahnya karena tidak mampu melindungi Cao Tian Jun. Padahal sebelumnya dia dengan percaya diri mampu melindunginya.
"Semesta tidak menginginkan seseorang yang jenius terlahir untuk mengguncang dunia!" gumam Xue Delun Hai dengan nada sedih karena Benua Timur kehilangan seorang pria muda yang jenius.
Xia Junsu yang sebelumnya bangga melihat putranya lebih hebat dari suaminya, seketika rasa bangganya luntur. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk robekan pakaian milik putranya.
Bai Guan, Wang Mei, Chu Sying Chun, pemimpin akademi Chu Xing-fu, Patriark Wang Liang, Jie Liangyi, dan semua orang yang bangga akan prestasi Cao Tian Jun, tidak lagi bisa menahan kesedihannya.
Kaisar Xia berkomunikasi telepati dengan Leluhur Xia, "kurasa kita tidak perlu lagi menyewa jasa Paviliun Bunga Kematian!"
"Iya, menghemat pengeluaran. Hahaha!" tawa Leluhur Xia di dalam hatinya setelah membalas perkataan cucunya.
Kaisar Xia dan pemimpin akademi pusat menghampiri Bai Guan, mereka mengucapkan berbelasungkawa atas kematian Cao Tian Jun yang menjadi andalan Bai Guan. Namun, di hati mereka jelas bahagia karena tidak ada lagi jenius yang berpotensi membahayakan kekuasaan mereka di Benua Timur.
Leluhur Xia tersenyum sinis melihat Ratu Ular Surgawi yang terkenal kejam, tegas dan kuat menjadi seperti orang gila, yang menangisi kepergian Cao Tian Jun.
Kemudian, Kaisar Xia, Leluhur Xia dan rombongannya meninggalkan Pegunungan Lima Jari yang kembali tenang. Sebelum pergi, mereka memberikan sejumlah uang kepada Bai Guan, uang itu sebagai bentuk penghormatan kepada Cao Tian Jun yang telah menyelamatkan Benua Timur dari serangan Pasukan Kegelapan.
Ratu Ular Surgawi melihat semua orang dengan kebencian, lalu kedua matanya tertuju kepada rombongan Kaisar Xia. "Kalian bersenang-senanglah untuk sesaat ...!" ancamnya di dalam hati.
Biksu Lao menghampiri Bai Guan, dia mengucapkan belasungkawa, "murid Anda sangat luar biasa hebatnya! Semoga jiwanya diterima oleh cahaya! Amitabha...!"
Setelah Biksu Lao pergi, Xue Delun Hai juga mengucapkan belasungkawa dengan penuh penyesalan, "maaf, saya tidak bisa menyelamatkannya!"
Bai Guan yang sebelumnya diam saja ketika orang-orang penting mengucapkan belasungkawa, dia kali ini angkat bicara karena Xue Delun Hai telah berusaha untuk menyelamatkan Cao Tian Jun.
"Saya yang seharusnya berterima kasih!" ucapnya yang tidak menyalahkan Xue Delun Hai.
Xia Junsu, Ao Zhen Juan, Yuan Zhen dan Yi Panyun berlutut sambil melihat robekan pakaian yang dipegang, air matanya menetes deras membasahi robekan pakaian itu...
__ADS_1
...****************...
Yang tidak diketahui oleh semua orang, Cao Tian Jun belum tewas. Dia diselamatkan oleh Batu Keabadian setelah dihantam oleh Kesengsaraan Petir Api. Sebelum tubuhnya benar-benar hancur, Batu Keabadian segera bertindak dengan memasukkannya ke dalam Dunia Jiwa.
Ketika proses penyelamatan itu, gelombang kejut energi dan awan hitam juga ikut masuk ke dalam Dunia Jiwa. Semua orang yang melihatnya seakan-akan masuk ke dalam kehampaan, padahal tidak.
Saat ini, Cao Tian Jun memang terluka parah. Namun itu hanya sesaat, sebab di Dunia Jiwa mampu memulihkan luka fisiknya karena adanya Energy Primordial. Suburnya Dunia Jiwa juga karena energi itu.
Energy Primordial juga mampu meningkatkan kekuatan seseorang yang berkultivasi di dalam dengan cepat, sebab adanya perbedaan waktu yang signifikan. Waktu di Dunia Jiwa lebih cepat dari dunia luar. Ketika orang yang melihat ke luar Dunia Jiwa, maka dunia luar seolah-olah menjadi lambat.
Saat Cao Tian Jun mendapatkan Sacral Stone dari Ratu Ular Surgawi, dia tahu bahwa Law Stone telah terbangun. Dia ingin berkomunikasi, tetapi tidak sempat karena adanya Kesengsaraan Petir.
Yang perlu dilakukan oleh Cao Tian setelah waktu berulang, hanya perlu penyesuaian diri terhadap dampak kejadian ini. Dia akan perlahan mengingat masa lalu sebelum pembantaian malam itu. Apapun yang dijelaskan oleh Batu Keabadian mengenai Dunia Jiwa juga akan diingatnya.
Cao Tian Jun terbaring di ranjang di dalam kamarnya, kamar yang berada di dalam Istana Dewa Binatang Yang Abadi. Tubuhnya telanjang bulat, luka di sekujur tubuhnya secara perlahan mulai pulih
Karena waktu berulang, peristiwa pembantaian yang diotaki oleh penguasa Kekaisaran Xia tidak akan terjadi, tidak ada satupun orang yang akan tewas.
Misinya untuk mencapai prestasi juga telah sukses, dan tetap mendapatkan dua misi baru dari gurunya...
...****************...
Di Akademi Merpati Putih kelas dua. Tiga hari telah berlalu setelah kematian Cao Tian Jun.
Saat ini, akademi itu menjadi ramai dikunjungi karena ingin mengucapkan belasungkawa atas kematian murid jenius. Banyak karangan bunga bertabur di lukisannya, dan dupa wewangian untuk menghormati jasa Cao Tian Jun yang telah menyelamatkan Benua Timur.
Tim Phoenix, Guru Junior Chu Chu, Wang dan semua orang yang menyayangi Cao Tian Jun mengenakan pakaian berkabung berwarna serba putih. Kecuali Ratu Ular Surgawi yang tidak ada di akademi, pergi entah kemana setelah kematian Cao Tian Jun.
Oleh Kaisar Xia, Cao Tian Jun diberikan gelar pahlawan nasional karena jasanya. Walaupun dia jahat, dia masih menghormati jasa kepahlawanannya yang patut diapresiasi. Jika Cao Tian Jun tidak mempertaruhkan nyawanya melawan Pasukan Kegelapan, Benua Timur sudah pasti akan tinggal sejarah.
Guru Junior Dōng Jian sebagai seorang ahli Pandai Besi, secara khusus membuat patung Cao Tian Jun, dia membuatnya dengan penuh kasih dan ketelitian. Dia dibantu oleh para guru dan murid...
Setelah 7 hari berlalu. Kaisar Xia melalui para Kasim istana, mewartakan kabar gembira bagi semua orang yang berminat untuk bergabung dalam perburuan harta di wilayah Mystical Beast Mountain.
Dengan antusias yang besar, jelas banyak orang yang berpartisipasi dalam perburuan ini. Mereka mendapatkan cincin dimensi dan pin identitas saat mendaftarkan diri.
Tim Phoenix dan semua wanita yang mencintai Cao Tian Jun enggan mengikuti perburuan ini. Mereka tidak bersemangat karena tidak adanya Cao Tian Jun. Seandainya Cao Tian Jun masih hidup, mereka sudah pasti bersemangat, dan pastinya akan memperoleh banyak harta di wilayah Mystical Beast Mountain.
Namun, Bai Guan dan pihak keluarga meminta mereka untuk melupakan Cao Tian Jun, melanjutkan hidup seperti sebelum mengenalnya. Dengan terpaksa, Tim Phoenix, Guru Junior Chu Sying Chun, Wang Mei mendaftarkan diri.
Demikian juga dengan Xia Junsu, Ao Zhen Juan, Yuan Zhen, Yi Panyun, mereka ikut serta dalam perburuan ini, bergabung dengan Akademi Merpati Putih kelas dua. Mereka membutuhkan banyak biaya untuk membangun Kerajaan Bintang Laut, sebab itu kesempatan ini tidak akan disia-siakan.
Setelah 40 hari kematian Cao Tian. Ekspedisi ke Mystical Beast Mountain pun dimulai. Banyak orang yang telah berangkat dari tempatnya masing-masing, dan akan bertemu di Mystical Beast Mountain, di tempat yang telah ditentukan.
Ternyata, Fang Yin dan ayahnya juga mengetahui kematian Cao Tian Jun. Mereka melihat kehebatannya melalui Cermin Sihir. Mereka jelas menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Cao Tian karena lokasinya yang sangat jauh dari Benua Timur.
Fang Yin dan ayahnya juga pergi ke Mystical Beast Mountain. Khususnya Fang Yin, matanya memerah karena terlalu banyak menangis. Dia sebenarnya enggan berpartisipasi. Karena perburuan ini sangatlah penting, dia pun dengan berat hati ikut karena dipaksa oleh keluarganya.
__ADS_1