
Bab 132. Anak Dan Ibu Sama Saja.
Ketua Wang Wen yang mendapatkan jawaban dari Patriark Wang Liang, jelas tidak menerimanya. Berhubungan melihat Cao Tian Jun, Guru Junior Chu Chu Sying, dan melihat beberapa putri dari orang penting, dia menjadi waspada terhadap mereka karena takut dengan pihak keluarga terpandang.
"Kalian orang luar jangan ikut campur!" penegasan Ketua Wang Wen yang tidak ingin pihak luar ikut campur dalam urusan keluarganya.
"Siapa yang orang luar, aku suami dari Wang Mei, bukan hanya sekedar calon!" sahut Cao Tian Jun dengan nada ketus.
Wang Mei tersipu malu karena paham dengan perkataan Cao Tian Jun, yang mana maksudnya sudah berhubungan intim sebelum menikah.
"Cao Tian Jun adalah suami kita. Jadi, jelas kami juga bagian dari keluarga besar Patriark Wang Liang!" imbuh Guru Junior Chu Chu Sying.
Ketua Wang Wen dan pendukungnya tertawa karena ucapan mereka seperti omong kosong belaka. Tanpa adanya pernikahan secara resmi dan melakukan ritual sebagimana mestinya, maka belum dinyatakan sah sebagai suami-istri.
"Terserah apa status kalian, aku sudah memberikan peringatkan! Jadi, jangan salah kami jika nanti terjadi sesuatu kepada kalian!" ancaman Ketua Wang Wen kepada Cao Tian Jun dan kekasihnya, dia tidak peduli jika harus terpaksa melukai putri dari orang terpandang di Benua Timur.
"Urusanmu denganku, tidak perlu melibatkan mereka!" sela Patriark Wang Liang yang tidak ingin situasinya semakin runyam.
Urusan internal keluarga sudah merepotkan, apalagi harus berusaha dengan keluarga besar lainnya yang statusnya tidak bisa dipandang sebelah mata, pikir Patriark Wang Liang yang tidak ingin berurusan dengan keluarga besar dari Mu Bingyun.
Keluarga Besar Mu merupakan para ahli Alkemis yang disegani oleh Kaisar Xia, dan sesama Alkemis memiliki hubungan yang sangat kuat. Jika salah satu Alkemis disinggung, maka mereka bisa menggerakkan banyak kultivator untuk melampiaskan kemarahannya kepada orang yang bersangkutan. Hal ini yang tidak diinginkan oleh Patriark Wang Liang.
Belum lagi berusaha dengan Keluarga Besar Chu, yang merupakan keluarga besar ahli bela diri. Keluarga Besar Li - Li Jiancheng yang ahli dalam bidang sihir. Xiao Yu berasal dari keluarga besar yang juga sama-sama ahli Smelting. Xue Yue berasal dari keluarga besar ahli Formasi Array.
Dengan adanya mereka, jelas Patriark Wang Liang tidak ingin menambah masalah keluarga. Oleh sebab itu, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk meredam situasi ini.
"Kalau begitu serahkan Giok Singa, maka semuanya akan beres!" pinta Ketua Wang Wen yang bersikukuh untuk mendapatkan Stempel Giok Singa, dia tahu kekhwatiran kakaknya yang tidak ingin berurusan dengan keluarga besar lainnya.
"Begini saja. Besok aku bertarung denganmu tanpa melibatkan siapapun. Jika aku kalah, kuserahkan Giok Singa kepadamu!" keputusan Patriark Wang Liang yang tidak ingin malam ini terjadi pertumpahan darah sesama keluarga.
Keputusan ini dikarenakan Cao Tian Jun yang memberikan Pil Kultivasi tingkat Peri Benua. Rencananya, malam ini dia akan meningkatkan kekuatan dengan dukungan pil. Seandainya Cao Tian Jun tidak datang, dan tidak memberikan pil, sudah pasti malam ini atau lusa akan terjadi pertumpahan darah.
"Hahaha...!!" Ketua Wang Wen tertawa karena ditantang oleh kakaknya, dia pikir kakaknya ini bodoh, padahal sudah jelas tahu kekuatan masing-masing. Perbedaan 1 level dengan kitab bela diri yang sama, sudah dipastikan bahwa kemenangan menjadi miliknya.
__ADS_1
Selama ini, Ketua Wang Wen selalu memata-matai pergerakan Patriark Wang Liang, dia tidak ingin kakaknya meningkatkan kekuatan sebelum dia menyusulnya.
"Baiklah, baiklah! Aku menerima tantanganmu. Besok pagi sebelum menjelang siang, kita bertarung di arena. Aku juga akan mengundang para tetua sebagai saksi. Ucapanmu didengar oleh banyak orang!"
Ketua Wang Wen sangat bersemangat untuk melawan kakak kandungnya. Dia melihat kakaknya yang geleng-geleng kepala tak berdaya. Tanpa berpamitan, dia dan pendukungnya meninggalkan kediaman Patriark Wang Liang.
"Maafkan kami!" ucap Patriark Wang Liang kepada Guru Junior Chu Sying Chun dan Tim Phoenix.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, hal seperti ini sudah sering terjadi!" sahut Guru Junior Chu Chu Sying.
"Menantu, terima kasih sudah memberikan pil ini! Tanpa pil ini, aku sudah pasti tidak akan berani mengambil keputusan sepihak. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih!" ucap Patriark Wang Liang sambil menangkupkan kedua tangannya sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Cao Tian Jun.
Buru-buru Cao Tian Jun menghentikan tindakan ayah mertuanya, sebab pemberiannya murni karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang suami dari Wang Mei.
"Ayah mertua, segeralah berkultivasi!" pinta Cao Tian Jun yang tidak ingin Patriark Wang Liang membuang waktu untuknya.
Kemudian, Patriark Wang Liang segera meninggalkan Cao Tian Jun untuk berkultivasi. Jie Liangyi menggantikan posisi suaminya untuk menemani Cao Tian Jun dan Tim Phoenix. Wang Lee juga berpamitan kepada Cao Tian Jun, dia juga ingin meningkatkan kekuatannya.
Ketika hari tengah malam, Cao Tian Jun undur diri untuk beristirahat. Jie Liangyi sudah menyiapkan kamar untuk Tim Phoenix, namun Tim Phoenix menolak untuk tidur sendirian karena berniat berisitirahat di dalam Cincin Dimensi, tetap mereka tidak memberitahukan kepada Jie Liangyi.
Ketika Cao Tian Jun dan kekasihnya sudah masuk ke dalam kamar tamu, Jie Liangyi mengikutinya tapi berhenti di depan pintu. Karena penasaran, ia mengintip dari celah pintu, tetap di dalam kamar itu gelap gulita.
Dan anehnya, ia tidak mendengar suara apapun. Seharusnya dengan banyaknya orang, sudah pasti akan ada suara. Hal ini semakin membuat Jie Liangyi penasaran, ia melihat ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya sebelum masuk ke kamar tamu.
Setelah aman, Jie Liangyi segera masuk dan menutup pintu kamar dengan perlahan-lahan, jantungnya berdebar-debar karena khawatir menantunya dan Tim Phoenix mengetahui.
Keadaan kamar gelap gulita dan tidak mendengar suara apapun. Dia mengendap-endap mendekati tempat tidur. Semakin dekat dengan tempat tidur, dia masih tidak mendengar apapun, bahkan tidak melihat pergerakan satu orangpun.
"Aneh, ke mana mereka?" batin Jie Liangyi, ia menjentikkan jarinya, lalu muncul api di ujung jari telunjuknya, seketika kamar yang gelap menjadi terang.
Dia tidak melihat siapapun di dalam kamar, dan tempat tidur masih tertata rapi, sungguh membuatnya heran. Dia juga melihat pintu jendela yang masih tertutup dan terkunci.
Jie Liangyi menghela nafas panjang karena keheranan, sambil menghidupkan lilin yang sudah ada di atas meja. Dia jelas tidak tahu jika Cao Tian Jun dan Tim Phoenix berada di dalam cincin dimensi.
__ADS_1
Saat berada di dalam cincin dimensi, Tim Phoenix, Chu Sying Chun dan Wang Mei segera berkultivasi dengan dukungan pil pemberian dari Cao Tian Jun. Mereka ingin segera meningkatkan kekuatan agar tidak tertinggal jauh dari Cao Tian Jun.
Sedangkan Cao Tian Jun yang ingin berhubungan intim jelas cemberut karena semua kekasihnya memilih untuk berkultivasi. Lalu dia melihat di luar Cincin Dimensinya, melihat ibu mertuanya yang menyelinap masuk ke kamarnya seperti Wang Mei.
"Perilaku anak dan ibu sama saja!" gerutu Cao Tian Jun.
Awalnya cemberut, namun berubah menjadi senyuman jahat saat melihat Jie Liangyi yang wajahnya masih segar dan bertubuh montok, penampilan tidak mau kalah dari gadis muda. Dia segera berubah menjadi udara dan keluar dari Cincin Dimensinya.
"Besok aku akan tanya putriku!" gumam Jie Liangyi sambil melangkah ke arah pintu kamar untuk keluar, ia tidak khawatir jika hal buruk terjadi kepada putrinya. Dia yakin Cao Tian Jun adalah pria yang bertanggung jawab.
Saat akan membuka pintu, tiba-tiba lilin padam. Jie Liangyi segera membalikkan badan sambil menjentikkan jari. Namun, sebelum api keluar dari ujung jarinya, mulutnya dibekap oleh Cao Tian Jun dengan tangan kanan, dan tangan kirinya melingkar diperut Jie Liangyi agar tidak meronta-ronta.
Jelas Jie Liangyi kaget dan spontan melawan. Dia ingin berteriak namun mulutnya dibekap, jadi hanya bisa mengeluarkan suara teriakan teredam. Ingin lepas dari dekapan juga tidak mampu karena kalah kuat. Dia belum tahu jika pria ini adalah menantunya.
Ketika merasakan benda besar, keras dan panjang menempel di pantatnya, Jie Liangyi semakin kuat untuk lepas dari dekapan, dia khawatir mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh. Namun, upayanya sia-sia.
Tenaga terkuras karena berusaha lepas. Tetapi anehnya, nafasnya memburu, jantungnya berdebar-debar, perasaan aneh menjalari di seluruh tubuhnya. Perasaan ini seperti dirinya yang sedang bercinta.
Jie Liangyi belum menyadari jika dirinya telah mengirup aroma feromon afrodisiak yang keluar dari tubuh Cao Tian Jun. Aroma afrodisiak memenuhi ruangan.
Cao Tian Jun melepaskan dekapannya, lalu segera menuju ke ranjang dan berpura-pura tertidur pulas. Gerakannya sangat cepat seperti halnya angin.
Dan, seketika Jie Liangyi mengeluarkan api di ujung jarinya dan syok melihat menantunya tidur di ranjang seorang diri, tidur telentang. Ada rasa malu di hatinya karena masuk ke kamar tamu secara diam-diam. Namun, karena telah terpengaruh oleh aroma afrodisiak, pikiran menjadi kacau.
Perlahan dia mendekati Cao Tian Jun, api di ujung jarinya dimatikan, lalu melepaskan pakaiannya satu per satu.
"Ada apa denganku?" batin Jie Liangyi yang merasakan keanehan pada diri sendiri, dia berusaha untuk menolak keinginan untuk berhubungan intim, namun tidak kuasa.
Keringat semakin bercucuran karena gejolak batin antara menolak dan menginginkan hubungan intim. Tubuhnya juga gemetaran. Dia makin malu karena Cao Tian melihatnya dengan tatapan aneh. Rasa malu tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Ibu mertua, kenapa Anda di sini, apakah ada hal yang penting?" tanya Cao Tian Jun sambil duduk, dia melihat Jie Liangyi yang sudah melepas seluruh pakaian.
Tubuhnya benar-benar halus, putih, dan terawat. Walaupun sudah memiliki dua anak, dadanya masih membusung indah, gua surganya juga terawat bersih dengan rambut tipis yang tertata rapi, tidak ada lemak diperutnya.
__ADS_1
"Aku... Ini... Jangan... Salah paham!" Jie Liangyi terbata-bata saat ingin memberikan penjelasan, namun justru membuat keinginannya semakin besar, dia benar-benar kesulitan untuk berbicara normal.
Tiba-tiba Jie Liangyi menerjang Cao Tian Jun seperti binatang buas yang ingin kawin. Ia mencium bibir menantunya dengan ganas, kedua tangannya berusaha melepaskan pakaian menantunya dengan tergesa-gesa. Jie Liangyi telah kehilangan akal sehatnya akibat pengaruh aroma afrodisiak...