
Bab 149. Guru Junior Chu Sying Chun Beraksi.
Pangeran Yang langsung turun dari punggung kuda karena tidak terima dipermalukan oleh seorang wanita yang lebih muda darinya. Dia menghampiri Lei Jianjing dan menendang kepalanya hingga terguling-guling.
Kemenangan perdana bagi Benua Timur, memicu semangat generasi muda untuk bertarung. Ketika Chu Sying keluar dari garis arena pertandingan, Ji Daotai dari Sekolah Surga Kesembilan segera menggantikannya.
Ji Daotai salah satu Murid Inti yang dikalahkan oleh Cao Tian Jun ketika turnamen di Kuil Atas Awan. Dia beruntung masih hidup karena memiliki jimat perlindungan.
Sebagai rival abadi, Ji Daotai jelas tidak mau kalah dari Akademi Merpati Putih kelas dua, apalagi kalah dari Chu Sying.
"Bodoh! Melawan wanita saja tidak becus?!" bentakan Pangeran Yang kepada Lei Jianjing, lalu dia melihat Chu Sying yang keluar dari garis arena.
"Kau, siapa yang memerintahkan keluar dari arena?" Pangeran Yang ingin membalas perlakuan Chu Sying yang telah membuatnya malu dimuka umum.
"Masih banyak yang sanggup melawan kalian!" sela Ji Daotai yang tidak terima diabaikan oleh Pangeran Yang
Chu Sying tersenyum tipis tanpa memperdulikan ucapan Pangeran Yang, ia berkumpul kembali dengan Tim Phoenix yang memberikan acungan jempol kepadanya.
"Kalahkan budak itu! Dan jangan mempermalukan Dinasti Cao!" perintah Pangeran Yang yang segera duduk saat anak buahnya telah menyediakan kursi.
Setelah duduk, Pangeran Yang melihat Chu Sying dengan tatapan penuh kebencian. Dia pasti akan membalas perbuatannya, apapun caranya.
Segera salah satu pria muda usia 20 memasuki arena, dia adalah Lim Kanjiang dari Akademi Cahaya Suci, Murid Inti dengan kekuatan di tingkat Profound Immortal level 7, setara dengan Lei Jianjing.
Kemenangan Chu Sying dianggap kecerobohan Lei Jianjing yang tidak siap. Memasuki medan pertempuran, siapapun orangnya harus selalu waspada dan siap bertarung.
Melihat kekuatan generasi muda dari Dinasti Cao setara dengan Guru Senior dan Junior di Benua Timur, sudah dipastikan bahwa Benua Barat memiliki banyak sumber daya alam.
Ji Daotai yang awalnya bersemangat, seketika ciut nyalinya, sebab lawannya yang dengan sengaja mengeluarkan basis kultivasi untuk mengintimidasi lawan. Dari pada mati konyol, dia segera keluar dari garis arena.
"Aku menyerah! Berikan kompensasinya!" ucap Ji Daotai sambil menyodorkan telapak tangannya kepada ajudan Pangeran Yang.
Seketika Pangeran Yang dan rombongannya terlihat bodoh karena telah membuat lubang untuk mempermalukan diri sendiri. Karena tidak ingin terus-menerus dibuat malu pihak lawan, Pangeran Yang memerintahkan ajudannya untuk memberikan kompensasi kepada Ji Daotai.
"Untuk kedepannya, sebelum bertarung dilarang menyerah! Untuk hadiah bagi pemenang akan diberikan setelah tidak ada lagi petarung. Juara pertama dan seterusnya ditentukan dari jumlah lawan yang dikalahkan. Semakin banyak lawan yang dikalahkan, semakin besar potensinya sebagai juara pertama!" ucap Pangeran Yang yang segera membuat aturan baru agar tidak dipermainkan oleh pihak lawan.
Aturan baru ini membuat pihak Benua Timur tertawa, karena baru pertama kali melihat Dinasti Cao dipermalukan sehingga merubah aturan di saat pertandingan telah berlangsung. Jika aturan tidak diubah, maka generasi muda dari Benua Timur akan mengikuti jejak Ji Daotai, menyerah sebelum bertarung.
Ji Daotai menerima kantong spasial yang berisi koin emas. Setelah ditimbang dengan tangan, dia mengerutkan kening karena kompensasi tidak sesuai.
"Ini kurang 250 ribu koin emas!" protes Ji Daotai kepada ajudan Pangeran Yang.
"Kau menyerah sebelum bertarung. Untung-untungan Yang Mulia Pangeran bermurah hati memberikan kompensasi kepada pengemis sepertimu!?" bentakan ajudan itu mewakili Pangeran Yang.
Ji Daotai tersenyum sinis, lalu berkata sambil berjalan meninggalkan ajudan, "lumayan tanpa usaha!"
Sekolah Surga Kesembilan tertawa senang karena Ji Daotai membuat pihak lawan menelan kerugian. Banyak orang yang bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi terhadap tindakan Ji Daotai.
__ADS_1
Leluhur Xia sedikit terhibur karena generasi muda membuat malu musuhnya, dia masih khawatir akan keselamatan cucunya. Berharap Wall Moon segera menghilang agar bisa berburu Naga Hitam.
"Apakah tidak ada yang berani bertarung? Apakah generasi muda Benua Timur hanya bisa berpikiran licik?" ucap Lim Kanjiang yang sengaja memprovokasi lawannya.
Kemudian, maju Guru Junior dari Perguruan Hitam Kelam yang kekuatannya setara dengan Lim Kanjiang. Tanpa berbasa-basi, dia segera menyerang lawannya. Lim Kanjiang yang sudah siap bertarung juga menyerang.
Bertarung mereka sangat sengit karena seimbang. Guru Junior itu mengeluarkan semua kemampuannya, dia menggunakan jurus Es Api Penggempur Langit yang menjadi andalan Perguruan Hitam Kelam.
Lim Kanjiang juga mengeluarkan jurus andalan Akademi Cahaya Suci, yaitu Pedang Dewa Cahaya. Karena kalah dalam pengalaman dengan Guru Junior, Lim Kanjiang perlahan mulai kewalahan.
Ketika Guru Junior itu mengeluarkan jurus pamungkas Es Api Hitam Kelam, Lim Kanjiang seketika dengan mudah dikalahkan. Kekalahan ini jelas membuat Pangeran Yang semakin marah, dan memerintahkan kepada Guru Junior untuk menghadapi lawan yang masih berdiri kokoh di arena.
Mengetahui lawannya kali ini jauh lebih kuat, Guru Junior dari Perguruan Hitam Kelam segera keluar dari arena. Baginya, kemenangan sekali sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kehebatannya.
Dengan turunnya Guru Junior dari pihak Dinasti Cao, yang kekuatannya berada di tingkat Supreme Immortal level 3, setara dengan Guru Senior dari Benua Timur, satu per satu pihak Benua Timur dikalahkan oleh satu Guru Junior dari Akademi Cahaya Suci. Hal ini membuat kemarahan Pangeran Yang sedikit terobati, dia selalu tertawa puas dan sesekali menghina lawan.
Pihak Benua Timur tidak sedikitpun kecewa dengan hasil ini, sebab sudah tahu hasilnya. Tidak mungkin Guru Junior yang memiliki kekuatan tingkat Golden Immortal mampu mengalahkan tingkat Supreme Immortal.
Sayangnya, Guru Senior dari Benua Timur kebanyakan usianya lebih dari 30 tahun, tidak masuk dalam kategori generasi muda. Seandainya diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pertarungan ini, pihak lawan sudah pasti akan mengirimkan Guru Senior melawan Guru Senior. Dan, sudah dipastikan pihak Benua Timur akan kalah.
"Apa hanya segini saja Kehebatan kalian!" ejekan Guru Junior itu yang bernama Lim Kaibo, kakak dari Lim Kanjiang.
Dia puas membalas kekalahan adiknya dengan Guru Junior dari Perguruan Hitam Kelam. Satu kali kekalahan, dibalas dengan lima kali kekalahan di pihak lawan.
"Kau wanita tolol! Maju!" tantangan Pangeran Yang ditujukan kepada Chu Sying.
"Idiot! Sudah tahu kesenjangan kekuatan masih saja ditantang!" balasan Chu Sying yang tidak kalah pedas ucapannya.
"Kakak!" sapaan Pangeran Yang kepada kakaknya - Cao Liang Shi, Pangeran Shi.
Segera semua orang dari Dinasti Cao memberikan hormat kepada Pangeran Shi yang akhirnya datang juga. Pangeran Shi terlambat sehari karena perlu menyelesaikan masalah penting sehingga tidak bisa bergabung dalam rombongan Kaisar Cao.
"Jangan mempermalukan diri lagi!" teguran Pangeran Shi.
Pangeran Shi jauh lebih berkat dari adiknya yang malas untuk berkultivasi. Diusianya saat ini - 28 tahun, dia telah mencapai tingkat Deity level 6. Seandainya Pangeran Yang tidak berfoya-foya dan bermain wanita, sudah pasti lebih berbakat dari kakaknya, perbedaan usia hanya 3 tahun.
"Mereka yang terlebih dahulu mempermalukan kita!" alasan Pangeran Yang, dia tidak mau ditegur oleh kakaknya.
"Sudah, diam! Kita nikmati pertarungan ini!" teguran Pangeran Shi dengan tegas karena tahu karakter adiknya ini.
Seketika Pangeran Yang duduk dengan wajah ditekuk karena malu dan kesal. Pangeran Shi juga duduk sambil melihat ke arah Tim Phoenix yang wajahnya tertutup topeng. Perhatiannya bukan tertuju kepada kecantikan, melainkan sosok pria yang duduk diapit oleh dua wanita dewasa..
Pangeran Shi melihat Cao Tian Jun karena semenjak datang tanpa diketahui oleh siapapun, hanya Cao Tian Jun yang tahu kehadirannya. Teknik persembunyiannya bisa diketahui oleh Cao Tian Jun, jelas membuktikan bahwa pria itu bukan sembarang.
Pangeran Shi lebih teliti terhadap lingkungan karena hidupnya selalu ditempa dengan kekacauan. Sebelum menginjakkan kaki di tempat yang baru, dia selalu mencari tahu lawan yang terkuat sebelum bertindak.
Di tempat ini, wilayah base camp Kekaisaran Xia, hanya Cao Tian Jun yang dianggapnya berbahaya. Pengalaman hidupnya tidak pernah membohongi nalurinya sebagai petarung dan pewaris tahta kekaisaran.
__ADS_1
Di balik topengnya, Cao Tian Jun menyunggingkan senyum mengejek karena Pangeran Shi selalu menatapnya. Pangeran Shi juga masuk ke dalam daftar orang yang akan dieksekusi.
"Jika tidak ada yang maju lagi, berarti kalian telah kalah! Ingat kesepakatan kita, pihak yang kalah tidak diperbolehkan berpatisipasi dalam perburuan!" ucap Lim Kaibo yang kesal karena tidak ada pihak dari Benua Timur yang berani melawannya.
Setelah Lim Kaibo berbicara, datang seorang wanita bertopeng yang penampilannya sama dengan Chu Sying, wanita itu tidak lain adalah Guru Junior Chu Sying Chun.
Semua mata pria memandang Chu Sying Chun karena tubuhnya yang lebih padat berisi, daripada Chu Sying yang kecil dan imut. Namun, jika dinilai, adik dan kakak itu tidak jauh berbeda dalam segi kecantikan, hanya berbeda usia.
"Wow...! Wanita ini lebih mantap daripada gadis tolol itu!" pujian Pangeran Yang melihat Chu Sying Chun, dia semangat bersemangat untuk memiliki semua wanita dari Benua Timur.
"Kecantikan lambat laun akan menenggelamkan hidupmu ke dalam jurang kepedihan!" teguran Pangeran Shi.
"Sebelum tenggelam, alangkah baiknya menikmati hidup sepuas-puasnya!" sahut Pangeran Yang, dia selalu membantah setiap kali ditegur oleh kakaknya.
Pangeran Shi geleng-geleng kepala karena adiknya selalu seperti ini, susah untuk diatur. Dia melihat Chu Sying Chun yang sudah memasuki garis arena pertandingan. Lim Kaibo menjadi waspada terhadap lawan kali ini, sebab nalurinya mengatakan bahwa lawannya kali ini sangat berbahaya.
"Ladies first, maju!" tantangan Guru Junior Chu Sying Chun, dia tidak mengeluarkan senjata andalan karena sudah mempelajari kelemahan lawan.
Ucapannya membuat pihak Benua Timur tertawa, sebab penampilan Lim Kaibo sebagai seorang pria lebih suka memakai hiasan rambut seperti wanita.
Anehnya, Lim Kaibo tidak sedikitpun tersinggung karena ejekan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Baginya, prestasi akan membungkam mulut mereka yang selalu mengejeknya.
Lim Kaibo mengayunkan pedangnya ke arah Chu Sying Chun. Namun, dia kaget karena melihat musuhnya mengeluarkan Teknik Bayangan Merpati Putih, ada empat bayangan. Dia menebas bayangan di depannya, dan seketika menjadi asap putih berbentuk merpati. Dia segera menebasnya semua bayangan itu dengan sangat cepat.
Ketika bayangan terakhir menjadi asap putih berbentuk merpati, dia dikejutkan oleh serangan dari belakang. Sebelum pukulan tangan kanan mengenai kepala, Lim Kaibo segera melompat ke depan.
Bang...
Sayangnya, Chu Sying Chun lebih cepat membuat gerakan tubuh memutar dan menendang pinggang kiri Lim Kaibo sehingga terpental ke kanan. saking kuatnya tendangan itu, dia keluar dari arena pertandingan.
Semua orang yang melihat kecepatan Guru Junior Chu Chu Sying sampai dibuat melongo, mereka baru sadar ketika Tim Phoenix bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi terhadap kemenangan ini.
Pangeran Shi yang biasa bersikap tenang sampai dibuat berdiri, dia tidak menyangka ada wanita yang lebih muda darinya memiliki kekuatan tingkat Supreme Immortal level 9, dan akan menjalani Kesengsaraan Petir.
Walaupun Chu Sying Chun tidak mengeluarkan aura kekuatannya, dengan kecepatan dan kekuatan tendangan itu mudah untuk diketahui oleh siapapun.
Bai Guan, Chu Xing-fu dan semua orang dari Akademi Merpati Putih kelas dua juga terkejut. Mereka melihat Cao Tian Jun yang pasti menjadi pendukung pencapaian Guru Junior Chu Chu Sying.
Yang menjadi pertanyaan besar dibenak mereka, ketika berada di Laut Besar perjalanan menuju Mystical Beast Mountain, mereka masih dengan jelas melihat kekuatan Chu Chu Sying berada di tingkat Golden Immortal level 9.
Hal yang mustahil dalam waktu 8 hari meningkatkan kekuatan sebanyak dua tingkat. Otak mereka seakan-akan ingin meledak memikirkan pencapaian Guru Junior Chu Sying Chun.
"Aku tidak memiliki banyak waktu! Segera masuk ke arena!" ucap Guru Junior Chu Chu Sying sambil menatap semua musuhnya.
Seseorang pria melompat dan mendarat di depan Guru Junior Chu Chu Sying, dia adalah Guru Junior dari Perguruan Jalur Langit, namanya Oey Yong Dae, kekuatannya setara.
Tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk berbicara, Chu Sying Chun mengeluarkan Teknik Bayangan Merpati Putih, muncul empat bayangan yang mengepung lawan.
__ADS_1
Oey Yong Dae tidak segera menyerang bayangan itu, tetapi mencari persembunyian musuhnya. Dia belum tahu bahwa Chu Sying Chun bersembunyi di bayangan tubuhnya.
Pangeran Shi dan semua pihaknya juga mencari persembunyian Chu Sying Chun. Ketika mengeluarkan Teknik Bayangan Merpati Putih, mereka melihat tubuh Chu Sying Chun berubah menjadi hitam, setelah itu mereka melihat empat bayangan yang muncul dengan Formasi penjuru mata angin.