
Hari ini seperti biasa Arka sudah bersiap - siap untuk pergi ke perusahaan.
" Sayang bisakah aku kembali bekerja? " Tanya Aluna yang sementara merapikan dasi suaminya. Arka menatapnya namun tidak menjawab pertanyaan Aluna.
" Aku bosan di rumah tiap hari. " Tambah Aluna.
"Kau bisa pergi jalan - jalan, shoping misalnya. " Ucap Arka mulai berjalan keluar kamar.
" Tapi sayang... " Belum juga Aluna melanjutkan kata - katanya Arka sudah pamitan kepada Aluna.
"Aku pergi dulu sayang. Tetaplah di rumah. Kau bisa pergi jalan - jalan bersama sahabatmu tapi kembalilah sebelum malam dan jangan lupa mintalah pengawal mengantar kalian. " Seru Arka mencium kening Aluna dan berlalu pergi meninggalkan Aluna yang masih berdiri didepan pintu rumah.
"Maafkan aku Luna, aku bukannya tidak ingin memenuhi keinginanmu. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. " Gumam Arka ketika mobil yang membawanya mulai meninggalkan rumahnya. Bahkan Arka masih bisa melihat raut wajah istrinya yang berharap.
"Frans, Aluna ingin kembali bekerja. Dia bilang dia bosan dirumah tiap hari. Bagaimana menurutmu? " Tanya Arka pada Frans yang tengah mengemudikan mobil.
" Sebaiknya tuan ijinkan saja. " Jawab Frans walaupun dia tahu jawabannya bertentangan dengan keinginan tuannya yang tidak mengijinkan istrinya bekerja.
"Tapi Frans aku tidak ingin kejadian yang lalu terjadi padanya. Kau ingat dia hampir berlutut dan mencium kaki klienku didepan mataku sendiri. Apakah kau juga lupa pertama kali kita menemukannya, dia hampir dilecehkan kedua pria itu dan lebih parahnya lagi dia hampir terbunuh oleh kedua pria yang menculiknya itu dan terakhir ada yang hendak mencelakainya dengan cara menabraknya. Aku tidak ingin semua itu terjadi padanya. " Arka ingat dengan jelas semua hal buruk yang pernah terjadi kepada Aluna sewaktu dia bekerja. Frans pun tidak berani membantah apa yang dikatakan Arka karena semuanya memang benar.
" Aku sudah menyuruhnya jalan - jalan dan shoping bersama sahabatnya, jika dia bosan dirumah. Aku tidak terlalu mencemaskan hal itu karena ada pengawal yang selalu bisa menjaganya dan di pusat perbelanjaan pasti sangat ramai, tidak akan ada yang berani mencelakainya. Kalau ditempat dia bekerja, pasti pengawalku tidak bisa menjaganya setiap saat dan pasti dia tidak mau diikuti terus oleh pengawalku selama dia bekerja. " Jelas Arka.
"Bagaimana kalau dia bekerja di hotel bersama sahabatnya itu? " Ucap Frans, sejenak membuat Arka berfikir.
"Tidak Frans. Aku tidak akan membiarkan istriku melayani tamu atau setiap saat harus bertemu banyak pria dihotel tersebut." Arka mulai berhayal, berhayal ketika ada pria hidung belang yang menyentuh istrinya, mengedipkan mata sambil menggigit bibir bawahnya mencoba menggoda istrinya selama bekerja. Arka menggeleng kepalanya berharap hal itu tidak akan dan tidak pernah terjadi.
Setelah berfikir keras sepertinya Arka telah menemukan dimana istrinya harus bekerja "Aku akan mengijinkannya bekerja dan Aku tahu dia harus kerja dimana. " Arka tersenyum.
__ADS_1
"Dimana tuan? " Tanya Frans penasaran.
"Kau tidak perlu tahu. " Ucapan Arka hanya membuat Frans menggelengkan kepalanya. Tadi Arka meminta pendapatnya, namun akhirnya Frans tidak didiberitahu tentang rencana Arka pada istrinya.
***
" San aku ingin kembali bekerja. " Kali ini Aluna memberitahu sahabatnya perihal tadi yang dia sampaikan kepada suaminya namun tidak direspon suaminya.
"Yah ampun Luna, kau ingin bekerja untuk apa? Uang bulanan yang dikasih suamimu emang kurang? " Ucap Santi menggeleng kepala.
"Aku tidak pernah dikasih apa itu namanya. " Aluna sejenak berfikir "uang bulanan atau apalah itu istilahnya. " Ingatnya. Santi yang mendengarnya tidak percaya.
"Apa? tuan Arka tidak memberimu uang bulanan? " Aluna hanya mengangguk.
"Tuan Arka kenapa pelit sekali. " Ucap Santi namun Aluna malah tertawa.
"Tega banget sama teman sendiri. " Ucap Santi memelas.
"Aku hanya bercanda San. " Aluna menepuk pundak sahabatnya itu. Santi hanya mengelus dadanya.
"Emang benar Lun, Arka tidak memberimu uang bulanan? " Santi yang masih penasaran.
"Iya. Arka hanya memberiku kartu debit dan beberapa kartu atmnya juga diberikan padaku. Arka bilang aku bisa memakainya sampai aku puas. " Walaupun Arka telah memberikan kartu tidak ada batasan limitnya kepada Aluna namun Aluna tidak pernah menggunakan kartu itu kecuali dulu waktu berbelanja dengan Frans.
"Aku tarik kata - kataku yang bilang tuan Arka pelit. Tuan Arka benar - benar sayang padamu Lun. Oh yah Lun lalu untuk apa kau ingin bekerja lagi? " Santi masih penasaran.
"Aku hanya bosan saja seharian dirumah dan aku juga ingin memiliki penghasilan sendiri." Ucap Aluna.
__ADS_1
"Apakah tuan Arka sudah tahu kau ingin bekerja? " Tanya Santi kembali.
"Aku memberitahunya tadi pagi. Tapi sepertinya dia tidak mengijinkanku bekerja."
Sahut Aluna mengingat suaminya yang tidak merespon perkataan Aluna tentang dirinya yang hendak bekerja.
"Wajarlah Lun, apa kata orang nanti kalau sampai mereka tahu kau istri pemilik perusahan nomor satu di negeri ini kemudian kau bekerja. " Aluna mulai berfikir yang dikatakan Santi mungkin ada benarnya. Setelah itu mereka tidak membahas lagi tentang pekerjaan. Mereka hanya santai - santai sampai malam mulai menghampiri.
***
" Sayang bagaimana harimu? Apa yang kau lakukan hari ini? " Tanya Arka ketika mereka tengah menikmati makan malam.
" Seperti biasa aku dan Santi mengobrol, makan, berenang dan nonton tv. " Semua yang dikatakan Aluna mengenai kesehariannya sebenarnya Arka sendiri sudah tahu karena Arka memantau istrinya setiap saat.
" Baguslah. Apa kau masih ingin bekerja? " Pertanyaan Arka membuat Aluna kaget. Karena Aluna bahkan sudah tidak ingin membahas tentang pekerjaan, Arka malah yang membahasnya sekarang.
" Kalau kau tidak mengijinkannya, aku tidak... " Kata - kata Aluna terpotong dengan ucapan Arka.
"Aku mengijinkannya. " Aluna berbinar, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Aluna meraih tangan suaminya.
"Benarkah sayang? " Tanyanya memastikan.
"Kalau kau sesenang itu, mana bisa aku melarangmu. " Ucap Arka Santai.
"Asyik terima kasih sayangku. " Aluna tersenyum senang.
"Tapi aku yang akan menentukkan dimana kau harus bekerja. " Ucap Arka kembali. Aluna sepertinya tidak keberatan dengan usulan suaminya.
__ADS_1
"Baiklah yang penting aku bisa bekerja dan menghasilkan uang. " Arka bahkan tidak percaya dengan jalan pikiran istrinya. Namun yang pasti Arka bahagia bisa menikah dengan Aluna yang tidak maruk dengan harta ataupun kedudukan.