Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MENIKAH


__ADS_3

Setelah sampai di sebuah cafe dekat rumah sakit. Arka memesan kopi sedangkan Aluna memesan jus Alpukat kesukaannya dan juga beberapa kue. Setelah beberapa menit akhirnya pesanan mereka datang dan terlihat keduanya mulai minum minuman yang mereka pesan.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu dan kurasa ini penting untukmu" Ucap Arka menatap Aluna.


" Dia yang mau bicara tapi katanya ini penting untukku. Apa maksudnya?" Gumam Aluna dalam hati.


"Bicaralah ." Sahut Aluna.


" Ayo kita menikah." Aluna yang mendengar perkataan Arka kembali batuk - batuk karena tersedak kue coklat yang baru saja dia masukkan kedalam mulutnya.


Aluna meraih jus Alpukat dimeja dan meminumnya.


" Apa kamu tidak bisa makan dengan baik?"


Arka memandang Aluna dengan kesal.


"Atau kau terlalu senang mendengar perkataanku barusan?" Arka kembali berucap tingkat kepedeannya mulai kambuh. Walaupun benar sih, semua wanita yang mendengar apa yang barusan di ucapkannya pasti akan melompat dan berteriak histeris bahkan mungkin sampe ada yang pingsan. Secara Pemimpin perusahaan no 1 di negara ini mengajak menikah. Walaupun mungkin tidak bagi Aluna.


"Tuan bisakah tuan jangan terlalu kepedean?" Ucap Aluna sambil tersenyum memutar kedua bola matanya.


"Sialan dia bilang aku kepedean. Mungkin wanita lain yang mendengar perkataanku barusan langsung pingsan. Ini mala aku dikatain terlalu kepedean. " Gumam Arka dalam hati. Dia mulai geram kepada Aluna.


"Hei nona kalau bukan karena permintaan ayah, Aku mana mau menikah dengan gadis kayak kamu. " Arka berdecak sambil memandang Aluna dari atas sampe bawah dan tersenyum menyeringai seperti mengejek.


"Aku juga tidak sudi menikah dengan pria angkuh, sombong dan kepedean seperti anda tuan." Sahut Aluna juga menirukan gaya Arka dan melihat Arka dari atas hingga bawah. Sedangkan Arka wajahnya sudah kelihatan menahan amarah. Karena baru kali ini ada wanita yang menolaknya. Biasanya Arka yang menolak wanita - wanita yang mendekatinya. Bahkan Arka pernah dilamar oleh seorang model, tetapi Arka menolaknya. Karena Arka tidak suka dengan wanita yang suka mengejar - ngejar pria. Terus saat ini, Aluna gadis yang biasa saja mampu menolaknya. Arka benar - benar seperti ingin menelan Aluna hidup - hidup.


"Apa yang barusan kamu bilang?" Tanya Arka dengan suara lantang dan mulai memelototi Aluna. Sedangkan Aluna tidak menggubris apa yang ditanyakan Arka padanya.


"Apa kau tuli." Gumam Aluna dalam hati.


"Kalau aku tahu kau kurang ajar seperti ini, maka waktu di cafe aku biarkan kedua pria itu menyentuhmu. Bahkan aku sendiri yang akan menjadi penontonnya." Arka tertawa sinis. Sedangkan Aluna menelan salivanya gugup, sepertinya dia telah menyinggung Arka.


"Atau kau mau aku menyuruh kedua orang itu untuk menikahi mu?" Arka memandang Aluna dan terlihat Aluna mulai gemetar mendengar apa yang diucapkan Arka. Aluna kembali mengingat bagaimana kedua laki - laki itu bersikap kurang ajar dan hendak menyentuhnya waktu di cafe. Seketika Aluna menggeleng - geleng kepalanya. Dia tidak ingin hal yang sama terulang lagi.

__ADS_1


"Apa aku sudah keterlaluan bicara kepadanya? Apa dia hanya mengancam ku. Tidak ... Tidak mungkin dia hanya menakutiku. Tapi kedua pria itu bahkan berlutut kepadanya dan terlihat takut kepadanya. Apa sebenarnya dia ini penjahat atau seorang pembunuh berdarah dingin. Apa dia benar - benar akan menyuruh kedua pria itu untuk menikahi ku?" Aluna bicara dalam hatinya dan kembali menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu mulai takut?" Arka tersenyum bahkan bibir atasnya sedikit naik.


" ti dak." Bahkan dari gaya bicaranya Arka sudah bisa menebak kalau Aluna takut dengan ancamannya.


"Ataukah aku memberitahu ibumu bahwa kamu hampir dinodai dua orang pria di tempatmu bekerja?" Mendengar ucapan Arka kali ini membuat Aluna semakin takut.


"Dari mana kau tahu tentang ibuku?" Aluna semakin gemetar.


"Siapa sebenarnya pria ini? Apa dia hanya menduga - duga dan mengatakan tentang ibu. Mungkin karena dia juga memiliki ibu dan kelemahannya juga terletak pada ibunya. Makanya dia menakuti ku dengan nama ibu, karena dia pikir aku juga sama sepertinya takut membuat ibu kuatir." Aluna dan mulai berdebat dengan pikirannya sendiri.


"Kau hanya menakuti ku sajabkan? Padahal kamu tidak tahu tentang ibuku. Lagi pula bagaimana kamu memberitahu ibuku? Kamu sendiri bahkan tidak punya nomor teleponnya." Aluna mulai tersenyum karena pikirnya apa yang dibilangnya barusan adalah benar.


Tiba - tiba sekertaris Frans muncul seperti hantu dan menyerahkan ponsel yang sementara menyambungkan telepon kepada seseorang dan terdengar seseorang menerima panggilan itu.


"Hallo." Ucap seorang wanita diujung telpon.


"Hallo apa betul saya berbicara dengan ibu Asmita ibunya Aluna ?" Arka memandang Aluna sementara Aluna terkejut, karena pria yang ada dihadapannya bahkan tahu nama ibunya dan Aluna mengenal suara wanita yang ada diujung telepon itu. Itu benar - benar ibunya.


"Iya betul. Ini siapa yah?" Tanya ibu Aluna karena nomor yang meneleponnya tidak ada didaftar kontak teleponnya.


"Saya teman Aluna." Jawab Arka sedangkan Aluna menggelengkan kepalanya berharap Arka tidak akan memberitahu tentang kejadian di cafe kepada ibunya.


"Oh teman Aluna. Ada apa nak? Apa terjadi sesuatu dengan Aluna di kota?" Tanya ibu Asmita dengan suara terdengar seperti kuatir dengan putrinya. Aluna sudah mulai mengangkat kedua tangannya menyatukannya di dada sembari memohon kepada Arka untuk tidak memberitahu ibunya.


"Aluna baik - baik saja. Saya hanya sekedar menelepon ibu dari teman saya." Mendengar perkataan Arka, Aluna menghela nafas lega. Karena pria dihadapannya masih memiliki sedikit perasaan.


"Oh begitu." Ucap ibu Aluna.


"Iya ibu, saya tutup dulu teleponnya nanti saya hubungi jika ada perlu lagi." Arka tersenyum seperti mengejek kepada Aluna.


"Iya nak." Mereka sama - sama mengakhiri telepon.

__ADS_1


"Gimana aktingku?" Tanya Arka kepada Aluna. Pria itu bahkan tersenyum manis.


Sedangkan Aluna rasanya dia ingin membungkam mulut pria dihadapannya.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Aluna. Keberaniannya yang 100% tadi hilang lenyap seperti uap.


"Sepertinya kamu sudah paham apa yang aku inginkan. Apa perlu aku menanyakan kembali kepada ibumu kalau apa yang aku inginkan? Sahut Arka dengan penuh kemenangan.


"Baiklah aku akan menikah denganmu." Aluna akhirnya mengalah. Bukankah itu yang diinginkan pria itu.


"Sepertinya kau tidak tulus mengatakannya?" sahut Arka menatap kembali Aluna.


"Lalu aku harus berkata seperti apa?" Aluna mulai kesal dengan sikap Arka.


"Katakan kepadaku bahwa kau ingin aku menikahi mu?" Arka menahan senyumnya Melihat Aluna yang mulai marah padanya tetapi tetap tersenyum kepada Arka.


"Mimpi apa aku, harus ketemu pria gila seperti dia. Bukankah tadi dia yang meminta aku menikah dengannya tapi sekarang kenapa jadi aku yang meminta dia menikahi ku. Dia benar - benar mempermainkan aku." Andai Aluna bisa memiliki kembali keberaniannya untuk bicara seperti itu.


"Baiklah Tuan apakah kau mau menikahi ku?" Aluna akhirnya menuruti kemauan Arka bahkan dengan tersenyum dia mengatakannya.


"Baiklah jika kamu memaksa." Ucap Arka yang membuat Aluna mengepalkan tangannya.


"Aku memaksanya dasar pria sinting. Kalau kamu tidak mengancam ku, dengan nama ibuku aku tidak akan mendengarkan kata - katamu." Gumam, Aluna namun masih bisa didengar Arka.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Arka kembali bertanya.


"Tidak tuan. " Jawab Aluna.


"Baiklah kalau begitu urusan kita sudah selesai. Besok jam 5 Sore datanglah ke perusahaan ku. Ini alamatnya. " Arka menyodorkan kartu namanya sekaligus didalamnya sudah ada alamat perusahaannya.


"Tapi jam segitu saya masih kerja tuan?" Jawab Aluna. Mengingat jam 5 sore dia masih bekerja di cafe.


"Aku tunggu jam 5 tepat. Jika kau berani terlambat kau tahu sendiri resikonya." Arka mulai beranjak dari duduknya dan meninggalkan Aluna yang menatapnya dengan tatapan kesal.

__ADS_1


__ADS_2