Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MAKAN MALAM 2


__ADS_3

Disinilah mereka sekarang, dimeja makan yang sama dengan Alka dan Vio. Pasalnya tadi Vio mengajak mereka untuk makan malam bersama, semeja tepatnya dan Rama mengiyakan.


"Oh yah Ra, kamu mau makan apa? " Tanya Rama.


"Ra? " Ini Alka yang bertanya.


"Maura maksud aku Al, supaya lebih akrab. " Jawabnya dengan tersenyum. Kalimat terakhirnya juga terdengar bercanda.


"Samain sama kak Rama aja. "


"Makanan penutupnya, kamu mau salad buah atau dessert puding coklat? " Rama memberi pilihan.


" Dia suka dessert puding. " Alka yang menjawab. Sedangkan Vio, mulai menatap Alka. Mungkin gadis butuh penjelasan Alka. Pasalnya, Maura sedari tadi belum diperkenalkan padanya. Baik itu oleh Rama maupun Alka sendiri. Semenjak Rama dan Maura datang dan bergabung dengan mereka, Alka bahkan tidak lagi menatap dirinya. Karena Vio sungguh bisa melihat kalau Alka sesekali menatap gadis yang ada disamping Rama saat ini. Apa hubungan Alka dengan gadis itu? Itu yang terlintas dipikiran Vio.


"Salad buah aja kak Rama, aku udah nggak suka sama dessert puding. " Alka menatap tidak percaya pada ucapan Maura tadi. Sejak kapan gadis itu sudah tidak suka dengan dessert puding. Bukankan dessert puding sangat disukainya semenjak kecil. Bahkan karenanya, Alka juga menjadikan dessert puding sebagai menu yang harus ada disetiap makanan yang dipesannya.


Setelah beberapa saat, makanan Rama dan Maura pun datang.


"Ram, kamu pesan makanan yang pedas? Maura itu tidak bisa makan yang pedas. " Alka lagi - lagi angkat suara.

__ADS_1


"Benar itu Ra? Maaf aku nggak tahu. Kamu bisa pesan lagi. Itu tidak usah kamu makan. " Rama merasa bersalah dan mulai menjauhkan makanan yang dipesannya tadi untuk Maura. Namun Maura mengambil kembali makanan itu. "Aku makan ini aja kak. Lagian aku pengen nyobain hal baru. Siapa tahu rasanya lebih seru. " Alka benar - benar tidak habis pikir dengan Maura. "Siapa tahu aja, Maura jadi suka makanan pedas. " Tambah Maura meyakinkan Rama.


" Hhmm. " Vio berdehem, mengalihkan pandangan Alka padanya. "Kamu sepertinya tahu banyak tentang gadis itu Al. Emang kamu kenal dia? " Vio berucap tidak suka.


"Apa kamu tidak tahu kalau Maura ini sepupunya Alka. " Bukan Alka yang menjawab, melainkan Rama. Vio yang mendengarnya, merasa tidak enak.


"Oh maaf aku nggak tahu. Habisnya sedari tadi kami nggak dikenalin. " Ucap Vio. Kemudian menyodorkan tangannya kearah Maura. "Aku Vio, pacarnya Alka. " Maura menatap gadis itu sesaat, sebelum dia membalas uluran tangan Vio dan menyebutkan namanya.


" Pantas Abang Al lupain Maura. Pacarnya cantik dan manis."


"Oh iya, kalian pacaran? " Tanya Vio antusias.


" Kamu kenapa sih keras kepala kayak gitu. " Suara Alka meninggi, melihat Maura yang mulai kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya. "Iya Ra, kalau kamu nggak bisa makan pedas, jangan dipaksain. Entar kamu sakit perut. " Tambah Rama.


" Memang sesuatu yang dipaksakan itu ujung - ujungnya bahkal sakit. " Maura menjawab, sambil menatap Alka. Alka tahu maksud dan ucapan Maura barusan.


"Aku nggak bahkal sakit hanya karena makanan ini kak. Kak Rama tenang aja. " Maura kali ini menggenggam tangan Rama. Gadis itu tersenyum meyakinkan Rama bahwa dia akan baik - baik saja. Sedangkan Alka, menatap tidak suka.


"Apa Al tidak suka sepupunya, dekat dengan sahabatnya. " Vio menatap Alka lekat, mulai menyadari ketidaksukaan Alka dengan kebersamaan Rama dan Maura.

__ADS_1


***


Mereka sudah selesai dengan makan malam mereka, Maura bahkan menghabiskan makanannya.


"Maura kamu ikut Abang Al yah. Bunda pengen ketemu kamu. " Saat bertemu Maura dihotel tadi, Alka langsung menghubungi sang bunda, mengatakan bahwa Maura masih ada dikota itu dan akhirnya Aluna menyuruh Alka mengajak Maura pulang lagi kerumah mereka.


" Besok aja. Ini udah malam. " Jawab Maura kesal. Kesal karena Alka memberitahu Aluna tentang dirinya yang masih ada di kota itu.


" Yah udah, kamu biar Abang Al yang antar. Ini udah malam. " Alka menawarkan.


"Biar aku yang antarin dia Al. " Alka menganguk mengiyakan. Maura kemudian masuk kedalam mobil milik Rama. Rama yang mengantar gadis itu ke hotel dimana dia menginap.


Alka mengantar Vio ke apartemennya.


"Kamu nggak mampir dulu sayang. " Alka menggeleng. "Ini udah malam, nggak baik laki - laki sama perempuan berada disatu ruangan. " Setiap Vio mengajak Alka kedalam apartemennya, selalu itu alasan yang diucapkan Alka padanya.


" Yah sudah, masuk sana. Udah malam. " Vio hendak menciumnya, namun lagi - lagi Alka memalingkan wajahnya. "Kamu kenapa sih Al? Selama kita pacaran, kamu itu paling nggak suka aku mencium kamu. Kamu juga nggak pernah cium aku. " Alka tersenyum dan mendaratkan satu ciuman didahi gadis itu. Yah maksud Vio itu, Alka hanya menciumnya didahi, tidak pernah sekalipun Alka mencium bibirnya ataupun sebaliknya. Alka selalu menghindar jika Vio hendak mencium bibirnya.


" Sekarang kamu masuk, terus istirahat. Aku harus pergi, bunda udah nungguin aku. " Vio akhirnya masuk kedalam apartemennya. Sedangkan Alka langsung pergi meninggalkan apartemen pacarnya itu.

__ADS_1


__ADS_2