
Alka melajukan mobilnya menuju hotel dimana Maura menginap. Bukan karena dia takut Maura bersama Rama di hotel itu. Namun Alka yakin, Maura tidak baik - baik saja sekarang.
Mengetuk pintu hotel berulang - ulang. namun gadis itu tidak kunjung membuka pintu kamarnya. Membuka pintu kamar Maura dari luar, Alka mencari keberadaan Maura. Gadis itu tidak ada diranjangnya.
"Apa Maura belum pulang. " Berpikir jika Rama belum mengantar Maura pulang. Disaat Alka hendak keluar dari kamar hotel, dia mendengar suara air dari dalam kamar mandi, Itu artinya Maura sudah pulang.
Maura keluar dari dalam kamar mandi, sambil memegang perutnya. Tubuhnya lemas, badannya keringat dingin. Sudah 4 kali ia bolak balik toilet selama 30 menit terakhir. Benar kata Alka gadis itu sebenarnya tidak bisa makan, makanan pedas.
"Kamu. " Terkejut melihat Alka yang sedang menunggunya disalah satu kursi yang ada dikamarnya. "Kenapa kamu ada disini? " Bertanya dan berpura - pura tidak kesakitan.
"Aku ingin melihat keadaanmu " Alka berdiri dari duduknya, menghampiri Maura. Belum sampai Alka menaruh punggung tangannya, didahi Maura, gadis itu menepisnya. "Aku baik - baik saja. " Ucap Maura datar.
" Kamu kenapa sih, keras kepala. " Alka benar - benar membuat Maura bingung dengan sikapnya. Maura berusaha menjauhinya, tapi kenapa dia malah datang dan selalu ikut campur urusan Maura.
" Aku mau istirahat. Lebih baik kamu pulang saja. " Tidak disangka Alka benar - benar keluar dari kamar Maura. Apa Alka tidak bisa melihat kalau Maura tidak baik - baik saja sekarang. Apa dia tidak bisa membujuk Maura dan bertahan sebentar saja, walau Maura mengusirnya.
Setelah kepergiaan Alka, Maura memilih rebahan diranjang. Mengelus perutnya yang terasa sakit. Perutnya benar - benar tidak nyaman sekarang.
Beberapa menit berlalu, Maura belum juga bisa memejamkan matanya. Bukan hanya perutnya yang sakit, tapi bagian dadanya juga mulai sakit. Maura bangun dari tidurnya, mencari dompet dalam tas yang dibawanya tadi. Setidaknya dia harus membeli obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun belum dia sampai didepan pintu kamar hotel, lagi - lagi pintu itu terbuka dari luar. Alka datang lagi dengan menenteng sebuah bungkusan.
__ADS_1
"Kamu mau kemana jam segini? " Tanyanya pada Maura.
"Kamu sendiri kenapa balik lagi? " Bukannya menjawab Maura bertanya balik. Alka tidak menjawab. Yang dilakukannya adalah menarik pergelangan tangan Maura, mendudukan gadis itu ditepi ranjang.
"Makan ini. " Menyodorkan semangkuk bubur yang dia bawah tadi. " Kamu habisin. Setelah itu kamu minum obat. " Mengeluarkan bungkusan obat yang dibelinya diapotik. Sebelumnya dia meminta sang bunda untuk menghubungi Santi, menanyakan obat apa yang biasa dipakai Maura saat dia sakit perut. Awalnya sang bunda kuatir mendengar Alka mengatakan bahwa Maura sakit perut. Bundanya itu bahkan ingin ikut. Alka melarangnya, Alka hanya meminta sang bunda membuatkan bubur dan berjanji pada sang bunda, akan mengajak Maura kembali ke rumah mereka.
"Sudah kubilang aku baik - baik saja." Maura memalingkan wajahnya, tidak menerima mangkuk bubur yang diberikan Alka padanya.
" Aku tahu semua tentang kamu Maura. Seperti saat ini, kamu tidak baik - baik saja."
Tersenyum kecut, Maura kali ini menatap Alka lekat. " Kalau kamu tahu semua tentang aku, tentu kamu tahu, aku udah nunggu kamu selama ini. Kalau kamu tahu tentang aku, kamu pasti tahu aku itu cinta sama kamu." Alka berusaha memalingkan wajahnya.
Maura kali ini tertawa. "Kamu tahu Al, tapi kamu pura - pura tidak tahu. Aku bahkan sudah beberapa kali mengatakannya. "
"Sekarang kamu makan buburnya dan minum obatnya. Aku tidak mau kalau kamu sampai sakit. " Mengalihkan pembicaraan, Alka tidak ingin membahas masalah perasaan.
"Ada sakit yang jauh lebih sakit dari ini Al. Bubur dan obat yang kau bawa pun tidak akan mampu mengobatinya."
"Kamu ngomong apa sih, cepat makan buburmu dan minum obat. " Alka menaruh mangkuk bubur itu ditangan Maura. Setelah itu dia pergi kearah meja, mengambil air untuk Maura.
__ADS_1
Maura berdiri dari duduknya, melempar mangkuk tadi kelantai kamar. Alka begitu terkejut mendengar dentungan mangkuk dan juga sendok yang berserahkan dilantai.
"Kamu apa - apain sih. " Menatap kesal kearah Maura. "Kamu itu..." Alka bahkan tidak tahu harus berkata apa. Maura benar - benar menguji kesabarannya.
"Kenapa kamu perduli sama aku Al. Aku pergi dari rumah karena aku benar - benar akan berusaha melepaskanmu. Setelah aku pulang nanti, aku berharap perasaanku sudah tidak ada lagi untukmu. Tapi apa yang kau lakukan sekarang, kamu datang dan mengacuhkan semua usaha aku untuk lupain kamu. " Alka tidak ingin mendengar ini. Dia memilih pergi dan menghindar.
" Jika kamu pergi, aku akan mengangap bahwa kamu tidak pernah mencintaiku Al. " Alka tidak menghentikan langkahnya, dia terus berjalan kearah pintu. "Dan mulai malam ini, aku tidak akan memiliki perasaan yang sama lagi untukmu Al. Aku akan berhenti mencintaimu. " Teriaknya diakhir kalimat yang dia ucapkan. Kali ini Alka menghentikan langkahnya. Sudah cukup, dia tidak mampu berpura - pura lagi. Membalikan tubuhnya, Alka bergegas menghampiri Maura. Memeluk tubuh mungil itu, lalu yang dia lakukan berikutnya adalah mencium bibir Maura dengan penuh perasaan."Jangan pernah berhenti mencintaiku. " Ucapnya setelah ciuman itu lepas. Alka masih menatap Maura lekat, bahkan wajah mereka masih sangat dekat. Hembusan nafasnya yang memburu, dapat Maura rasakan menerpa kulit wajahnya. Setelah Alka bisa lagi menguasai perasaannya, dia mengajak Maura kembali duduk ditepi ranjang. Menghubungi salah satu karyawan hotel untuk menyiapkan bubur yang baru untuk Maura.
"Tolong jangan tanya alasannya Ra. Aku belum siap menjelaskan semua ini padamu. " Arka mendahului Maura yang ingin bertanya tentang maksud ucapan dan ciuman Alka tadi.
***
"Sekarang kamu makan, aku suapin. " Maura mengikuti apa yang dikatakan Alka. Memakan bubur yang dibawakan karyawan hotel tadi dan setelahnya meminum obat yang diberikan Alka padanya.
"Sekarang kamu istirahat. Pagi - pagi kita tinggalin hotel ini. " Kita? Itu artinya Alka akan menginap dengannya dihotel ini. Maura bergerak gugup, Alka bisa melihat itu.
"Aku tidur dikamar sebelah. " Maura lupa kalau Alka pemilik hotel ini.
"Kalau kamu perlu sesuatu, kamu bisa telpon aku. " Alka menyelimuti Maura dengan selimut. Kemudian dia keluar dari kamar Maura.
__ADS_1