Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
INDRA WIJAYA


__ADS_3

Kediaman Indra Wijaya.


Ningsi mendekati suaminya dan berusaha menahan tubuh suaminya yang hampir terjatuh setelah menerima panggilan yang masuk lewat sambungan telpon rumahnya.


Ningsi berteriak kepada pelayan rumahnya untuk membawa air dan dengan setengah berlari pelayan itu menyerahkan sebuah gelas yang berisi air kepada majikannya. Pelayan itu sekilas melirik Indra Wijaya yang seperti meringis memegang bagian dadanya.


Pelayan rumah tersebut tidak kembali melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan di dapur. Ia masih berdiri tidak jauh dari majikannya karena dia tahu majikannya masih membutuhkannya disini.


"Bi, tolong suruh sopir menyiapkan mobil, kita akan membawa bapak ke rumah sakit." Belum juga pelayan itu beranjak, Indra Wijaya menggelengkan kepalanya. Mengatakan dengan bahasa tubuhnya bahwa dia tidak perlu dibawah ke rumah sakit.


Ningsi akhirnya mengajak suaminya untuk istirahat dikamar mereka. Setelah dirasanya suaminya sudah mulai baik dan mengatur nafas normal, Ningsi pun mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Perusahaan hampir saja bangkrut." Kalimat utama yang keluar dari bibir Indra Wijaya, membuat Ningsi hampir saja menjatuhkan obat yang akan diserahkannya pada suaminya.


" Kenapa? Bukankah selama ini perusahaan kita baik - baik saja? " Ningsi memilih duduk dekat ranjang. Masih berharap bahwa semuanya baik - baik saja.


" Produk hasil kerjasama dengan perusahaan Trijaya yang baru akan dirilis minggu depan, mungkin tidak akan laku dipasaran. Karena sudah ada produk yang hampir sama dengan produk kita, dan produk mereka hari ini sudah dipasaran. Produk mereka sangat berkualitas, namun dijual dengan harga yang bisa dijangkau ekonomi menengah. Sedangkan produk yang akan kita tawarkan, harganya lebih tinggi dan kualitas produknya hampir sama dengan produk mereka. Pemilik perusahaan yang mengeluarkan produk ini, benar - benar gila. Dia bahkan tidak mempertimbangkan untung dan ruginya." Ningsi dapat menangkap guratan kekecewaan diwajah suaminya.

__ADS_1


" Sabarlah sayang mungkin ini bukan rejeki kita." Ningsi memberikan harapan kepada suaminya bahwa semuanya akan kembali baik - baik saja. Karena semua yang ada dikolong langit ini semuanya sudah ada yang mengatur. Bahkan rejeki masing - masing orang sudah ada yang mengaturnya.


"Kau tidak tahu, aku sudah menanamkan hampir seluruh modalku untuk produk ini. Jika produk ini tidak laku dipasaran maka kita akan rugi besar dan selama ini keuangan perusahaan sudah hampir tak tersisa. Itulah sebabnya aku tetap bersikeras menikahkan Bryan dengan Fiona karena hanya pak Hendra yang bisa membantuh kita keluar dari krisis ini." Indra Wijaya meraih gelas minuman yang ada dinakas, meminumnya tanpa sisa.


" Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang sayang." tanya Ningsi yang tidak terlalu paham dengan masalah perusahaan suaminya.


" Aku akan ke kembali ke Jakarta besok. Aku akan membicarakan masalah ini kepada Hendra. " Itu yang ada dipikiran Indra Wijaya. Membicarakan jalan keluar untuk masalah ini dengan Hendra patner kerja sekaligus besannya.


***


Arka terlihat tampan dengan baju santainya. Walaupun luka ditangannya masih sedikit sakit namun dirinya harus memenuhi janjinya kepada wanita cantik yang masih terlelap tidur dibawah selimutnya.


"Morning sayang." Ucap Arka yang mendekatinya dan mencium keningnya.


"Mau kemana? " Tanyanya ketika melihat suaminya yang sudah terlihat tampan dengan memakai kaos putih dengan bahawan celana kain selutut.


" Bukankah dari kemarin ada yang merengek minta ke pantai? " Aluna bahkan lupa keinginannya untuk bisa bermain seharian dipantai karena masalah semalam. Kalau Arka tidak mengingatkannya mungkin dia mau saja dikurung seharian dikamar bersama suaminya.

__ADS_1


" Masih mau ? atau kita bisa menghabiskan seharian ini didalam kamar. Kau tahu sayang karena tidur bersama setelah bertengkar rasanya jauh lebih ..." Belum juga Arka meneruskan kata - katanya, Aluna sudah memotongnya.


"Dari mana kamu tahu hal - hal semacam itu? Apakah kau pernah bertengkar dengan wanita lain dan tidur bersama? " Aluna menuding suaminya yang hanya bisa tertawa dengan tuduhan istrinya.


" Bukankah setelah kita bertengkar kita selalu berakhir diatas ranjang? dan kalau aku ingat - ingat lagi kamu yang berinisiatif dan kamu yang mulai menyentuh tubuh tanpa dosa ini. " Arka menunjuk bagian tubuhnya, senyum diujung bibirnya muncul melihat wajah merona istrinya.


"Aku tidak seperti itu." Protes Aluna dengan memajukan bibirnya beberapa senti.


"Kemarin siapa yang mulai membuka bajuku dan menempelkan bibirnya disini? " Tunjuk Arka pada lehernya. Aluna yang ingat kejadian kemarin tambah memerah. Tidak ada bantahan karena apa yang dikatakan suaminya semuanya benar walaupun sebenarnya dia tidak sepenuhnya bersalah, pikirnya.


"Kenapa wajahmu memerah sayang dan dimana keberanianmu membantah kata - kataku? Apakah kau sadar sekarang betapa maniaknya dirimu ingin menyentuhku." Tambah Arka yang puas dengan kemenangannnya.


"Baiklah kamu yang menang tuan Arka sayang dan mulai hari ini, aku akan menyembuhkan maniakku dengan cara tidur menjauh darimu bila perlu aku akan tidur dikamar lainnya." Senyum mengembang diwajah Aluna karena melihat perubahan wajah suaminya. Aluna mulai berdiri dari ranjang namun suaminya mendekatinya seperti anak kecil yang ketakutan karena melakukan kesalahan.


" Aku hanya bercanda sayang haha" Arka memeluk Aluna.


"Hei tuan pergi sana, aku tidak akan menyentuh tubuh tanpa dosamu." Giliran Aluna yang menunjuk bagian tubuh Arka tanpa menyentuhnya.

__ADS_1


Dia bahkan sudah mengalahkanku. Dulu aku selalu menang main kata dengannya tapi sekarang aku bukannya kalah main kata dengannya tapi karena aku tidak ingin dia menjauh dariku. Oh cinta kenapa kau merubahku seperti ini jika bersamanya. Arka


Arka masih terus memeluk istrinya sampai Aluna berjanji tidak akan tidur dikamar lainnya.


__ADS_2